Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Keputusan Tasya


__ADS_3


Sepulang sekolah Tasya pergi ke rumah Al. Dia dan Al sudah sepakat untuk mengisi formulir pendaftaran SNMPTN bersama. Mereka tampak anteng dengan ditemani film Cocomelon kesukaan Tasya.


"Udah beres punya lu?" Tanya Al.


"Belum, sertifikat gue kebanyakan gue harus pilih yang mana ya?" Tanya Tasya kebingungan.


"Yang tertinggi aja, kalau semuanya tinggi pilih aja yang sesuai dengan yang lo suka dan bangga banget buat cantuminnya. Tapi sertifikat sebagai Ketua Osis wajib lu cantumin. Soalnya itu tertinggi juga sih," jawab Al.


"Emm oke bentar." Tasya memilih beberapa sertifikat miliknya. Tak lupa dia men-scan data-datanya. Untung saja printer milik Al bisa sekalian scan, jadi mereka tidak perlu repot.


1 jam berlalu akhirnya semua data sudah lengkap. Mereka berdua saling menatap, lalu mengangguk dan menekan submit.


"Selesai," kata Tasya yang merasa lega.


"Lu udah yakin kan sama keputusan lu?" Tanya Al memastikan.


"Yakin lah makanya gue submit, kalaupun gue gak keterima nanti temenin gue belajar SBM atau daftar UBAYA ya?" Pinta Tasya.


"Pasti keterima, jangan pesimis dulu. Harus yakin, biar hasilnya juga meyakinkan," ucap Al menyemangati. Sebenarnya Tasya pintar tapi dia kurang percaya diri.


"Iya sih lo bener. Al ... " Panggil Tasya ragu.


"Kenapa? Muka lu kaya orang banyak beban tau gak," celetuk Al.


"Nanti di Surabaya ajakin gue main ya, gue gak kenal siapa-siapa tau di sana. Gue takut aja hari-hari gue bakalan gabut, udah tau gue orangnya gabutan," ucap Tasya.


"Gak akan elah, yakali gua diemin lu sendirian kaya orang dongo. Lagian nanti juga di sana lu dapet temen baru, lu juga mudah bergaul, temen-temen kampus lu juga nanti banyak," jelas Al.


"Bedaa, gue banyak temen emang tapi lo tau sendiri kalau gue tuh temenannya sama itu-itu lagi. Kaya Sherli, Sarah, Niken, iya kan?"


"Iyaa, tapi yang namanya kehidupan ya harus tetep jalan, Sya. Di mana pun lu berada, lu harus bisa beradaptasi atau lu akan tertinggal di belakang. Karena pada dasarnya kita semua punya cita-cita masing-masing dan pasti kita harus merelakan beberapanya demi mencapai itu. Ketika lu udah sukses dan bisa gapai cita-cita lu, lu pasti bakalan dipertemukan lagi sama temen-temen lu," kata Al bijak.


"Iya sihh, gue juga berpikir kesana. Cuma emang sedikit berat aja. Tapi kalau ada Aldo Prayoga kayanya gak seberat itu." Tasya memeluk Al erat dan menumpukan tubuhnya pada lengan kanan Al.


Al tersenyum seraya mengusap tangan Tasya lembut. "Iya gak berat, tapi gua yang berat. Lu kecil-kecil begini berat tau."

__ADS_1


"Biarin, udah lama gak peluk cabatku ini," kata Tasya gemas sambil menarik pipi Al.


Dia jadi ingat, dulu waktu kecil Al sangat tidak suka jika pipinya ditarik atau disentuh orang lain. Tapi Tasya sangat suka melakukannya, jika tidak dibolehkan maka dia akan merengek sampai ngambek. Jadi, semenjak itu Al pasrah saja daripada harus bertengkar dengan gadis itu.


"Al gue bosen, kita main timezone yuk!" Ajak Tasya.


"Ayok udah lama juga kita gak main timezone. Yaudah beresin dulu, mau siap-siap."


Tasya pun mengangguk, dia membantu Al membereskan bekas pekerjaan tadi. Tidak lupa Tasya izin pada Viko untuk bermain bersama Al. Setelah mendapatkan izin, dia pun mematikan data ponselnya. Akan lebih asik keluar bersamaan Al tanpa menyalakan data, agar bisa menikmati quality time mereka.


...~ • ~...


Tasya melempar bola basketnya dengan semangat, dia dan Al bertanding. Siapa yang paling banyak memasukan bola, pulangnya harus traktir membeli boba. Tasya begitu percaya diri karena dulu dia sering mengalahkan Al dalam bermain permainan.


"Lu salah sih kalau nantangin ketua tim basket main basket," kata Al sombong.


"Cih, kaptennya doang. Gue nih pawang bolanya," ucap Tasya tak kalah sombong.


5 ronde akhirnya mereka lewatkan dengan hasil akhir Al sebagai pemenangnya. Al tertawa melihat ekspresi kesal Tasya karena kalah bermain.


"Udah gua bilang lu salah kalau nantangin gua main basket, Sya. Itu udah jadi makanan sehari-hari," kata Al tertawa.


"Dapet keringet, biar lemak-lemak lu tuh luntur," ledek Al.


"Nyebelin banget sih lo, ya iya sih gue jarang olahraga. Paling seminggu sekali," kata Tasya terkekeh.


"Yaudah ayok lanjut main!" Ajak Al sambil menggandeng tangan Tasya.


Kini mereka sedang terdiam di permainan Gacha. Memang terlihat mudah hanya sekali tekan bola langsng keluar, namun memerlukan strategi agar mendapat banyak tiket.


"Gue yakin kali ini dapet jackpot 1000," ucap Tasya yakin.


"Ssstt diem gua lagi berkonsentrasi," kata Al sambil memperhatikan arah putar berisi lubang-lubang itu.


Mereka pun menekannya bersama sama. Dan Happ!!


"Yayy!!!!!! 100 tiket! Yeyeyeye uda gue bilang kali ini gue yang menang. Liat dong 100 tikett wlek!" Sorak Tasya.

__ADS_1


Al melipat tangannya di dada, tak ingin sombong. Dia hanya menatap Tasya dengan tatapan meledek.


"WOI ALLLL, jackpot dong," kata Tasya melongo melihat poin milik Al.


Al tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Tasya. Sedari tadi Tasya sibuk bertaruh tapi dia tidak menyadari kalau Al sudah jauh lebih jago darinya.


"Hahahaha aduh, udahlah gua bilang jangan taruh-taruhan. Bocil kaya lu mah kecil," kata Al meledek.


"Bicil kiyi li mih kicil, nyebelinn banget sih, Al," rengek Tasya sambil memukul lengan Al.


"Hahahaha aduh sakit, sakit Tasya. Nih nih, gua kasih tiketnya buat lu." Al pun memberikan semua tiket miliknya pada Tasya. Tasya yang melihat itu pun dengan senang hati mengambilnya. Seperti anak kecil yang senang dan semangat untuk menukar hadiahnya.


Setelah memainkan banyak permainan, kini mereka bermain mesin capit boneka. Tidak afdol rasanya kalau bermain timezone tidak mampir bermain mesin capit. Al menyusun strategi agar mendapatkan boneka berwarna coklat yang Tasya inginkan. Karena sudah 10 kali dia gagal.


"Yang pink aja ya? Itu jauh lebih deket, tinggal di ambil," kata Al membujuk Tasya.


"Gak mau, Al gue maunya yang coklat teddy bear itu," tunjuk Tasya yang kekeh pada keinginannya.


"Hadehhh bocil, bentar." Al kembali menggesek kartunya dan perlahan mengarahkan capitnya. Dia memutuskan mengambil boneka pink dulu dan berhasil.


"Ihhh Al yang coklat," teriak Tasya pelan.


"Sayang yang ini, lu pegang dulu." Al mengambil boneka pink itu dari mesin dan memberikannya pada Tasya.


Tasya menerimanya, namun dia mash ingin mendapatkan boneka tedy bear berwana coklat sebagai teman teddy bear pinknya itu.


"Sabar ya, Nak. Nanti mama cariin temen si teddy bear coklat," ucap Tasya pada bonekanya.


Al mengulum tawanya, menurut dia Tasya sangat lucu. Persis waktu dia masih kecil, saat meminta Al mengambilkan boneka pada mesin capit.


Sudah 3 kali akhirnya. "Yes dapet juga lu coklat." Al mengambil teddy bear coklat itu dan memberikannya pada Tasya.


"Yayyyy anak gue ada temennya, makasihhh Al!" Sorak Tasya.


"Anak gundulmu, yaudah kita tuker tiketnya. Habis itu kita pulang," kata Al.


"Okee, ayok ke kasir. "

__ADS_1


Tasya dan Al menuju ke kasir untuk menukar tiket. Tasya pun memilih beberapa jepitan dan pulpen sebagai hadiah yang bisa dia ambil. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang, tidak lupa dengan janji Tasya yang akan mentraktir Al membeli boba karena kalah bermain basket.


Al senang bisa membuat Tasya tertawa hari ini. Perasaan yang kerap kali dia rasakan saat Tasya bahagia. Perasaan yang tumbuh sejak kecil, tanpa Tasya sadari. Dan tentunya akan terus tersimpan entah sampai kapan. Yang pasti Al hanya ingin melihat Tasya selalu bahagia.


__ADS_2