
Bandung Medical, Tasya segera berlari memasuki rumah sakit. Dia yakin kalau Radit akan membawa papanya ke sini, karena ini adalah rumah sakit terdekat. Tak perlu berlama-lama Tasya sampai di depan ruang unit gawat darurat. Terlihat Radit yang sedang cemas menunggu di depan pintu UGD. Dengan kaki yang lemas, Tasya menghampiri Radit.
Radit yang sedang terisak frustrasi menyadari kehadiran Tasya dan langsung menatapnya tajam.
"Mau apa lu ke sini?" ketusnya.
"M-maafin gue, Bang. Gue bener-bener gak tau semuanya bakalan kaya gini." Tasya kini tak dapat membendung tangisannya, sungguh ini membuatnya dalam rasa bersalah yang begitu besar.
Radit menatap adiknya itu dengan tatapan tajam, tangannya mencengkram tangan Tasya dengan penuh amarah.
"Ngapain lu ke sini? Bahagia kan lu? Kalau sampai terjadi apa-apa sama papa, gua benci banget sama lu." Radit pun mehempaskan cengkramannya. Tasya dibuatnya semakin menangis dan ketakutan. Dia benar-benar tidak bisa menjawab apapun sekarang, perasaannya semakin terpukul.
Tak selang beberapa lama, seseorang dengan jubah putihnya keluar menemui Tasya dan Radit. Mereka berdua langsung menghampiri dokter tersebut.
"Keluarga pasien yang bernama Tasya, ada di sini?"
"S-saya, Dok. Saya Tasya. Bagaimana keadaan papa saya?" tanya Tasya dengan gemetar.
"Silahkan masuk ke dalam, pasien ingin bertemu dengan anda."
Tanpa intruksi Tasya pun langsung memasuki ruangan dan menemui papanya dan diikuti Radit dari belakang. Tangisannya semakin pecah saat banyaknya alat yang menempel pada tubuh papanya. Ya, penyakit jantung papanya memang sudah kronis.
"Paaa, maafin Tasya. Tasya selama ini udah jadi anak yang kurang ajar sama papa. Maaf Tasya udah benci sama papa. Tapi papa harus sembuh ya. Tasya gak mau liat papa kaya gini." Tasya menggenggam erat tangan papanya dan menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Sejak kamu lahir, kamu selalu menjadi putri kecil papa. Papa sayang sekali sama kamu, Nak. Papa selalu ingin dekat dengan kalian berdua. Maafin papa karena menjaukan kalian dengan mama kalian
Jonathan berbicara dengan tersenggal-senggal sambil menahan rasa sakitnya.
"Papa udah maafin kamu. Terus tersenyum yaa. Apapun yang terjadi di kehidupan ini, harus selalu disyukuri." Jonathan menggengam tangan Tasya dan Radit.
"Tolong jaga adik kamu dengan baik ya, papa sayang K-ka arghhtt—" napasnya semakin melemah dan genggaman tangan mereka pun terlepas.
"Paa, papaaaaa," teriak mereka bersamaan.
"DOKTER, SUSTER! TOLONG PAPA SAYA," teriak Radit.
"Paaa, papa gak boleh tinggalin Tasya. Papaa bangun!!" Tasya yang histeris tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini.
Dengan sigap dokter dan suster masuk ke ruangan. Mereka langsung mengambil defibrilator untuk memicu denyut jantung.
Tasya tak henti-hentinya menangis, sedangkan Radit mengepalkan tangannya dengan khawatir.
__ADS_1
"Dok selamatin papa saya," ucap Tasya dengan gemetar.
Dokter beberapa kali menempelkan alat tersebut, berusaha untuk menyelamatkan pasiennya semaximal mungkin, sampai akhirnya ....
"Maaf, kami sudah berusaha semaximal mungkin. Tapi pasien sudah tidak bisa diselamatkan," ucap dokter.
Seketika tubuh mereka melemas, ini adalah hal yang tidak pernah terduga. Dunia seakan berhenti sejenak. Dokter pun keluar ruangan untuk mengurus data pasiennya.
Tasya langsung memeluk jenazah papanya. Rasa bersalah dalam dirinya semakin besar. Radit yang dipojok ruangan mengerang frustrasi. Dia meninju tembok yang ada di hadapannya sambil terisak. Kepergian papanya adalah hal terburuk yang dia alami selama ini.
"Paaaaaa, papa gak boleh tinggalin Tasya. PAPA BANGUN. PAPA." Tasya yang berteriak histeris terus mengguncangkan tubuh papanya yang sudah terbaring kaku.
Radit yang dikuasain emosi kini menghampiri Tasya dan menjauhkan Tasya dari papanya.
"PUAS LU?! SENENG KAN LU SEKARANG?! INI SEMUA SALAH LU! GUA BENCI SAMA LU." Radit tidak peduli kalau mereka sedang berada di rumah sakit, dia sangat marah pada Tasya sekarang.
Tasya berjalan mundur, dia tidak bisa mengelak perkataan Radit. Semua kejadian ini adalah kesalahannya. Dia terus berjalan mendekati dinding, hingga akhirnya dia menjatuhkan diri ke lantai sambil menutup kedua telinganya.
"Maafin Tasya, Paa. Semua ini salah Tasya." Tasya tidak peduli bagaimana matanya sembab saat ini, bahkan beberapa panggilan dari ponsel di saku jaketnya pun dia abaikan.
Radit merutuki dirinya sendiri. Pertahanannya runtuh, seolah dunia terasa hancur. Orang tua yang selama ini menjaganya dengan penuh kasih sayang, sekarang sudah meninggalkanya. Trauma masa lalunya kembali mencuat, ketika ibunya pergi meninggalkanny sewaktu masih kecil.
"Percuma lu nangis, gak akan bikin papa kembali," sinis Radit.
"Bang, tolong biarin gue di sini. Lo kenapa sihh? Gue tau gue salah, gue nyesel tapi jangan kaya gini." Tasya berusaha menahan tubuhnya, namun tenaga Radit lebih kuat.
"Gak butuh. Gua gak mau liat lu di sini. Tolong, ngerti." Radit terus menyeret Tasya untuk keluar tiba-tiba ....
Seseorang melepaskan tangan Radit dari Tasya. Dan memeluknya dengan erat.
"Lu apa-apaan dah. Gua tau lu emosi. Kendaliin emosi lu," ucap Viko melerai mereka. Tasya hanya bisa tetap berada di pelukan Viko karena takut jika Radit akan memaksanya untuk pergi lagi.
"Gua ga butuh ceramah lu, tolong bawa dia pergi dari sini," titah Radit dengan ketus.
"Tapi dia adek lu, Bang. Anak dari bapak lu juga. Lu gak bisa kaya gini, lu—"
"GUA BILANG PERGI, YA PERGI." Radit yang sudah habis kesabaran kini mulai membentak mereka.
Viko sebenarnya ingin membantu Tasya tetapi kondisinya tidak memungkinkan, sehingga dia membawa Tasya pergi dari sana.
"Syaa mending lu ikut gua dulu, tunggu sampai keadaannya stabil. Gak baik berantem di depan jenazah bapak lu kaya gini." Viko melembutkan bicaranya pada Tasya, sehingga dia mengikuti apa yang Viko katakan.
...~ • ~...
__ADS_1
"Halo, Vik. Tolong susul Tasya ke rumah sakit medica. Gua gak tau pasti mereka ada di sana atau ngga, tapi itu rumah sakit terdekat di sini," ucap Chandra dengan nada khawatir.
"Tunggu, ada apa? Kok lu tiba-tiba hubungin gua. Tasya kenapa? Sakit?"
"Jangan banyak bacot, gua gak bisa jelasin. Cuma lu yang bisa nemenin dia sekarang. Gua mohon ya, Vik. Tolong." Chandra menegaskan.
Tanpa basa-basi lagi Viko mematikan panggilan dan mengambil kunci motornya. Sebenarnya dia tidak paham dengan apa yang terjadi. Yang dia pikirkan hanya Tasya sekarang.
Chandra :
Coba lu langsung ke UGD buat cheknya.
Satu pesan dari Chandra yang membuat Viko mengangguk perlahan. Dia langsung menaiki motornya dan pergi menuju Bandung Medical. Entah perasaan apa yang terjadi padanya sekarang, semuanya seperti bercampur aduk menjadi satu. Yang dia tau adalah, dia harus sampai di sana secepat mungkin.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Viko sampai di sana. Dia langsung berlari menuju Unit Gawat Darurat seperti aap yang diperintahkan oleh Chandra.
"Argh di mana sih ruangannya," geram Viko.
Rumah sakit yang cukup besar, ditambah rasa panik, membuatnya kehilangan arah. Hingga akhirnya dia menemukan ruangan itu.
"Percuma lu nangis, gak akan bikin papa kembali."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam sana.
"Bang, tolong biarin gue di sini. Lo kenapa sihh? Gue tau gue salah, gue nyesel tapi jangan kaya gini."
"Gak butuh. Gua gak mau liat lu di sini. Tolong, ngerti."
Viko yang melihat kejadian itu langsung menarik tubuh Tasya.
^^^To Sherli :^^^
^^^Tolong ajak temen-temen lu ke rumah Tasya sekarang^^^
Viko melihat ke arah Tasya, tatapannya kosong dan dia tidak berhenti menangis. Sejujurnya dia tak tega melihat orang yang dia cintai seperti ini. Hatinya seakan ikut merasakan. Viko mendekap Tasya dengan erat, membiarkan gadis itu menumpahkan segala kesedihannya.
"Lu gak harus selalu terlihat kuat, lu boleh nangis, boleh kecewa sama diri lu sendiri, lu boleh gak baik-baik aja karena lu manusia yang masih punya perasaan. Tapi inget, jangan berlarut-larut. Di dunia ini ada yang harus diperbaiki dengan action dan bukan hanya berpasrah."
"Tapi, Vik. Gue yang udah bikin papa meninggal. Gue bahkan belum sempet jadi anak yang baik. Gue—"
Tasya tidak sanggup menahan tangisannya, yang dia ingin lakukan sekarang hanyalah menangis, tidak ada yang lain.
"Udah, jangan bicara dulu. Nangis sampe lu lega. Gua ada di sini buat lu. Setelah lu lega, gua anterin lu pulang ya." Viko pun semakin mengeratkan dekapannya.
__ADS_1