Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Hadiah kecil


__ADS_3


Tasya dan teman-temannya sibuk melihat katalog make up sambil mencoba menggesekkan tangan ke katalog untuk mencoba beberapa wangi parfumnya. Apa lagi yang disukai para wanita kalau bukan make up dan skincare. Sesekali mereka tertawa saat ada hal lucu terjadi, sementara Viko dan kawan-kawannnya tengah asik mabar mobile legend.


Tiba-tiba ketua kelas masuk dan mulai membagikan lembaran kertas. Ya mereka sudah pasti menduga, kalau bukan pemberitahuan sumbangan ya rapat orang tua.


Tasya mengambil selembaran tersebut dan membacanya. Dengan spontan Tasya menggebrak mejanya sambil berteriak.


"WIHHH BUKAN SUMBANGAN, TAPI STUDY TOUR GAIS," teriak Tasya yang disambut sorak soray seisi kelas.


Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh mereka, kapan lagi kan bisa pergi berlibur bersama satu sekolah. Ya walaupun bertema belajar, tapi pasti lebih banyak liburannya di sana.


"Wihh pangandaran anjirr, 3 bulan lagi acaranya," kata Sherli kegirangan.


"3 hari 2 malam, gila sih gila ini keren. Biasanya sehari doang," lanjut Sarah.


"Fix sih kita harus ikut, kita harus beli baju, make up, skincare dari sekarang," sambung Niken.


"Aaaaaaaaa." mereka bertiga heboh dengan imajinasi mereka sendiri, sedangkan yang lainnya hanya terdiam cengo sambil memandangi keempat cewek itu.


"Udah-udah, pokoknya kita siapin dari sekarang. Kita nge-Mall bareng, nyalon bareng. Eh eh nanti pas mau berangkat kalian nginep di rumah gue ya," kata Tasya dengan antusias.


"Aaaaa boleh-boleh, kaya tahun lalu. Fix itu seru abis," kata Sherli tak kalah antusias.


"Kalian mau study tour apa konser dah, ribet banget cewek," ceplos Viko.


"Hehhhhh, diam ya kaum adam. Kalian mana paham sih sama cewek, pantes aja jomblo," nyinyir Tasya.


"Eh malah menghina nih jomblo, ngaca ya pantes aja lu jomblo, orang ribet," balas Viko.


"Bodo, wlek," kata Tasya sambil menjulurkan lidahnya.


"Eh tapi, Vik. Harus disiapin dari sekarang. Bener tuh si Tasya." Bagus kini berbicara.


"Halah pangandaran doang, deket anjir. Gausah ribet." Viko yang acuh kembali mengambil ponselnya dan bermain game.


Tasya yang tak acuh, kembali sibuk membolak balikan katalog, memilih apa saja yang akan mereka pesan.


"Ini bagus deh, wangi juga," tunjuk Tasya pada salah satu produk.


'"ih iya ini wangi, kita pesen 4 aja coba, Sar," kata Sherli.


Sarah pun mengetik beberapa kalimat di ponselnya.


"Terus apalagi?" tanya Sarah.


"Mau beli lipcream yang ini," tunjuk Niken.


"Ihh iya baguss, gue nomor 4," tunjuk Sherli.

__ADS_1


"Gue nomor 2," tunjuk Tasya.


"Gue juga 2 deh," tunjuk Sarah.


"Ih jangan sama, biar kita bisa saling cobain," kata Niken.


"Oh iya, yaudah gue nomor 3," tunjuk Sarah.


"Okeee emmm gue nomor 7," tunjuk Niken.


"Keterangan!!!" Protes mereka bertiga.


"Ihh terus yang mana dong," kata Niken sambil memajukan bibirnya lucu.


"Udah lo ambil nomor 5 aja, itu ga terlalu terang, agak ke pink peach gitu gak sih, lucu," saran Tasya.


"Yaudah oke yang itu," ucap Niken.


Mereka pun tertawa bersama, sedangkan Viko dan kawan-kawannya hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Tasya and the genk.


...~ • ~...


Pulang sekolah Tasya mengambil uang dulu di ATM, dia tidak mau merepotkan abangnya, karena tabungan Tasya pun bisa membantunya membayar administrasi Study tour.


Tasya mengambil beberapa lembar uang, lalu memasukannya ke dompet. Sepertinya sudah cukup untuk pembayaran dan semua keperluan yang akan dia beli. Tasya kembali ke sekolah dan menuju ruang Tata usaha, setelah selesai membayar Tasya berjalan ke luar sambil menatap puas kwitansi dan nametag yang sudah ia dapatkan.


Viko yang melihat Tasya dari lapangan basket langsung melempar bolanya dan berlari menghampiri Tasya.


"Woyyy!!" Viko pun mengagetkan Tasya


"Setan!! Kaget najis," kesal Tasya sambil memegang dadanya yang kini berdetak kencang karena Viko.


Sementara si pelaku hanya ketawa sambil cengar-cengir tanpa dosa. Dengan penasaran Viko merebut nametag dan kwitansi milik Tasya.


"Widihhh semangat amat mau liburan," kata Viko meledek.


"Iyalah, kan cuma setahun sekali. Jadi harus antusias dan sebagai ketua OSIS, gue harus menjadi pelopor kalian supaya kalian juga antusias buat ikut," ucap Tasya dengan bangga.


"Helehhh lu kan sering liburan, bahkan ke luar negeri juga pernah. Kaya gak pernah liburan aja lu," celetuk Viko.


"Hehhh beda yaa. Mau gue sering liburan atau engga, tapi kan momentnya ga sama, jarang-jarang tau kita liburannya satu sekolah. Lebih seru, lebih rame, lebih banyak kenangan," kata Tasya dengan bangga.


"Iya ya, bener juga kata lu. Bisa berduaan juga nanti kita di sana," ucap Viko spontan.


"Hahh? A-aapaa? Lo bilang apa tadi?" tanya Tasya.


"Bilang apa?"


"Ihhhh tadi lo bilang apa bambank!!" paksa Tasya.

__ADS_1


"Loh emang tadi gua ngomong?" tanya Viko sambil tertawa dan menggoda Tasya.


"IHHHH TADI LO BILANG APA, NGAKU GA?!" Tasya yang mulai kesal pun memukuli lengan Viko.


"Aduhh ahh-awww sakit, hhahaha. Kepo kan." Viko pun berlari menghindari Tasya.


Tak kalah cepat kini Tasya berlari mengejar Viko dengan kekesalannya.


"Vikooooooo jangan kabur loo!! Jawab dulu ihhh," teriak Tasya sambil berlari.


Seperti anak kecil yang sedang berebut mainan, adegan kejar-kejaran itu sukses membuat orang mengalihkan fokus pada mereka. Mungkin ada sebagian yang menatap mereka gemas karena dianggap sedang PDKT. Hingga Viko dan Tasya sampai di parkiran.


"Makanya jadi orang jangan kepoan, kesiksa sendiri kan lu," Viko pun menghentikan langkahnya dan kembali menertawakan Tasya.


"Bodo amat, nyebelin banget kan gue kepo." Tasya yang kini mengerucutkan bibirnya hanya ditatap gemas oleh Viko.


"Dihhh ngambek, gimana kalau kita jalan? Mau beli baju kan buat nanti?" tawar Viko.


"Tapi kan gue mau barengan sama temen-temen gue," kata Tasya.


"Lah emang gua bukan temen lu? Terus gua apa anjir, setan?"


"Ya ga gitu, yaudah ayok," kata Tasya sambil menarik pergelangan tangan Viko, sementara si pemilik hanya senyam-senyum melihat genggaman tangannya dengan Tasya.


...~ • ~...


Tasya dan Viko pun sampai di salah satu Mall, setelah membeli boba, mereka pun berkeliling untuk mencari kebutuhan Tasya. Tasya menuju salah satu toko yang menarik perhatiannya, warna serba pastel yang menjadi kesukaan Tasya. Tentu dia akan betah berlama-lama di sana.


Tasya memilih beberapa pakaian yang dipajang di sana dan mencobanya satu persatu. Wanita itu memang ribet, apalagi kalau belanja. Tapi tidak untuk yang mengantarnya, apalagi dia adalah pria. Viko sedari tadi hanya mengikuti Tasya serta mendengarkan ocehannya. Untung sih Viko suka sama Tasya, mungkin kalau tidak dia sudah meninggalkannya di sana.


Mata Viko tertuju pada sepasang hoodie berwarna abu-abu dengan motif couple yang simpel, Viko pun mengambilnya dan berjalan ke arah kasir untuk membayarnya. Setelah selesai dia kembali menghampiri Tasya.


"Nih, buat lu," Viko memberikan satu paper bag nya kepada Tasya.


"Ini apa?" tanya Tasya sambil menerima paper bag dari Viko.


"Hoodie couple, satu buat gua, satunya lagi buat lu," jawab Viko.


"Lo serius mau pake ini bareng gue?" tanya Tasya.


"Serius lah, kalau gakk ngapain juga gua beli."


"Oiya juga sih, tapi kan kita bukan pacaran?" ucap Tasya cuek, tidak tau saja kalau pertanyaannya berimbas pada jantung Viko.


"E-emm y-ya kan kita temen, emang harus pacaran doang apa yang bisa pake samaan," elaknya.


"Oiya juga, yaudah makasih ya," ucap Tasya yang tersenyum menerima hadiah dari Viko.


Setelah itu mereka ke kasir untuk membayar belanjaan Tasya dan segera kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2