
Sudah dua Minggu Tasya tidak masuk sekolah, keadaannya bertambah parah setiap harinya. Dia selalu meraung seperti orang yang kesakitan, susah makan, tidak mau berinteraksi dengan siapapun, dia selalu mengurung diri di kamar. Tak jarang dia dia berbicara sendiri, memaki dirinya , bahkan mengutuk. Amara kesulitan untuk mengajak Tasya berbicara, pasalnya ketika diajak berbicara, Tasya selalu menjawabnya dengan santai, kalau dia tidak apa-apa dan dia hanya terganggu oleh suara-suara yang selalu mengganggunya setiap hari.
Amara pun menghubungi Viko, dia meminta bantuan agar Viko datang hari ini. Dia sangat khawatir karena Tasya tak mau keluar kamar sejak semalam. Apalagi dia belum makan beberapa hari. Dengan cepat, Viko mengiyakan tanpa basa-basi. Dia ikut khawatir, bagaimana tidak? Tasya yang sering dia temui adalah Tasya yang berbeda dengan sekarang, seperti hal-hal yang berwarna pada dirinya, diselimuti kegelapan. Tidak ada canda tawanya lagi, yang ada hanyalah wajah sendu Tasya setiap kali Viko menemuinya ke rumah.
Tak selang berapa lama, Viko sudah berada di rumah Tasya. Dia sedikit berbincang dengan Amara soal kenalan mamanya yang berprofesi sebagai psikiater.
"Gini, Tan. Viko khawatir kalau keadaan Tasya semakin memburuk. Jadi Viko cerita ke mama, kebetulan beliau punya kenalan dengan salah satu psikiater terbaik di kota Bandung. Dan lagi kita bisa panggil kesini, takutnya kalau kita ajak Tasya, dia berpikir yang aneh-aneh, Tan. Jadi biar lebih enak aja," tutur Viko.
"Aduh makasih ya Viko, Tante emang kepikiran buat bawa Tasya ke psikiater, karena keadaanya semakin parah. Tante takut kalau terjadi hal buruk sama Tasya." Amara sedikit menghembuskan napasnya perlahan.
"Tenang, Tan. Tasya pasti bakalan baik-baik aja, dia cuma lagi diselimuti sama kehilangan yang begitu dalam, Viko yakin kalau Tasya cuma butuh ruangnya dia sendiri untuk kembali pulih."
Viko dan Amara berbincang, mencoba mencari solusi terbaik untuk Tasya, sementara Tasya sekarang sedang berdiri menatap dirinya sendiri di cermin meja riasnya yang besar.
Dari semalam dia terus bersamanya, bersama dirinya sendiri yang tidak pernah lelah untuk memaki, bahkan mengutuknya.
Hai anak bodoh!
Tasya melihat dirinya di pantulan kaca, dia tersenyum miris, bahkan dirinya sendiri pun mengutuknya.
"Lo belum cape?" tanyanya pada bayangannya sendiri.
Gak, sampai lo mati! Ayok mati, tunggu apa lagi? Tebus semua kesalahan lo sama papa dan abang lo!
Tasya hanya bergeming, tatapannya kosong, memikirkan kata-kata yang terus terngiang dari semalam. Bahkan suara-suara yang sering mengganggunya setiap malam pun menginginkannya mati.
Kenapa diem? Takut? Pengecut!
"Gue bukan pengecut!" Teriak Tasya dan mengecam dirinya di cermin.
Bayangan dia pun tertawa, sungguh Tasya membencinya, bahkan bayangannya sendiri pun dia benci.
Hahaha lo bukan pengecut sih, tapi pembunuh!
"Gakk gue gak bunuh papa, itu udah takdir!"
Mau lo gimana pun, lo itu tetep pembunuh! P E M B U N U H!
"GAK! GUE BUKAN PEMBUNUH!" teriak Tasya dengan emosinya yang mulai tidak terkontrol.
PEMBUNUH! LO HARUS MATI!
"AAAAAAAARGHT, " Tasnya mengambil botol parfum dan melemparnya ke kaca besar miliknya itu.
PRANG ...
Suara pecahan kaca terdengar, Viko dan Amara pun panik dan segera menuju kamar Tasya. Tasya menangis sejadi-jadinya, kamarnya sudah dipenuhi dengan kaca yang berserakan.
"Kenapa kalian mau gue mati? Tanpa kalian suruh pun gue bakalan lakuin," ucap Tasya yang kini duduk terisak.
Sebuah gedoran pintu terdengar, Tasya melirik sekilas ke arah pintu, namun dia abaikan. Dia sudah lelah dengan dirinya sendiri.
"Tasya ini Tante sayang, ayok buka pintunya, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Syaaa buka Syaa, lu ngapain?"
Tasya mengabaikan panggilan tersebut, di kepalanya hanya terngiang suara-suara itu. Suara untuk mengakhiri hidupnya sekarang juga.
"SYA!! JANGAN MACEM-MACEM!" Viko mulai panik dan mencoba mendobrak pintu kamar Tasya.
Perlahan Tasya mengambil salah satu pecahan sambil terus terisak.
"Ini kan? Yang kalian mau?" ucapnya sambil menyayat pergelangan tangan kirinya tanpa ragu.
Tubuh Tasya seketika ambruk, darahnya mengalir di lantai bertepatan dengan Viko yang berhasil mendobrak pintu kamar Tasya.
"TASYA!" Viko berlari dan segera mengangkat tubuh Tasya perlahan, dibuangya kaca yang masih berada digenggaman tangan Tasya.
"Astagfirullah, Sya. Kamu kenapa kaya gini." Amara mulai histeris melihat darah yang terus mengalir dari pergelangan tangan Tasya.
"Ayok, Tan cepet kita ke rumah sakit." Tanpa berpikir lagi Viko langsung ngangkat tubuh Tasya dan berlari dan memasuki mobil, disusul dengan Amara yang panik.
Mereka pun segera menuju Rumah Sakit.
...~ • ~...
Radit berlari dengan cepat, mengitari setiap sudut rumah sakit mencari Instalasi Gawat Darurat. Amara memberi tahunya kalau Tasya melakukan percobaan bunuh diri, Radit meredam egonya, ternyata Tasya lebih penting dari apapun. Radit tidak bisa membiarkan Tasya dengan kondisi seperti ini.
Sesampainya di sana, Radit melihat Viko dan Tantenya sedang cemas di depan ruang IGD.
"Tasya di mana?" tanya Radit saat berhadapan dengan Amara.
"Ta-Tasya masih di dalam, Dit. Maafin Tante gak bisa jagain Tasya." Amara langsung memeluk keponakannya itu.
Sementara Viko larut dalam kecemasannya, dia takut jika Tasya pergi meninggalkan dia. Bahkan dia mengabaikan panggilan dari Sherli, Sarah dan Niken.
Seseorang perawat keluar dari ruangan. Viko ingat kalau tadi perawat itulah yang ikut serta menangani Tasya.
"Sus, gimana keadaan Tasya? " tanya Viko dengan panik.
"Pasien sudah ditangani, untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan kepada dokter ya. Saya permisi dulu," ucap suster itu dan kembali berjalan meninggalkan ruangan itu.
Viko terdiam lemas, entah apa yang terjadi kepada Tasya di dalam sana. Tak lama kemudian, seorang dokter pun keluar dari dalam ruangan.
"Keluarga Tasya Aurell?" Panggilnya.
Radit, Amara dan Viko langsung menghampiri dokter itu.
"Iya, Dok. Kami keluarganya, gimana keadaan Tasya?" tanya Radit panik.
"Bisa ikut ke ruangan saya? Mari," ucap dokter itu.
Tanpa basa-basi mereka pun mengikuti dokter ke ruangannya. Mereka takut kalau hal-hal lain terjadi kepada Tasya. Sesampainya di ruangan, dokter menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Jadi gimana keadaan Tasya?" tanya Radit.
"Begini, Alhamdulillah nyawa pasien masih bisa diselamatkan. Lukanya tidak terlalu dalam, hanya saja tadi kekurangan banyak darah."
"Lalu keadaannya sekarang gimana, Dok?" tanya Viko.
__ADS_1
"Pasien masih belum sadar mudah-mudahan segera dan sekarang sudah bisa dipindahkan keruang perawatan."
"Syukurlah, tapi ada komplikasi tertentu gitu tidak, Dok? " tanya Amara.
"Tidak, tapi kami perlu mengevaluasi tentang kondisi mental pasien. Takut ada kondisi pemicu pasien melakukan percobaan bunuh diri. Mungkin setelah kondisinya membaik, akan kami evaluasi. Kalau dibutuhkan penanganan yang lebih serius, akan kami rujuk ke psikiater."
"Oh begitu, gapapa, Dok. Kami juga khawatir kalau ada yang menganggu mental Tasya. Dilakukan saja."
"Baik kalau begitu, sekarang selesaikan saja berkas dan administrasinya. Pasien bisa langsung dipindahkan dan untuk sekarang mohon untuk dijaga saja agar pasien tenang dan nyaman. Supaya tidak membuatnya semakin tertekan."
...~ • ~...
Tasya mengerjapkan matanya berkali-kali, ruangan serba putih yang mendominasi ini cukup dia kenali, terutama suara butiran air dari selang infus yang terdengar. Dilihatnya Amara dan Viko tertidur di sofa. Dia melirik ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan jam setengah 7 pagi. Dia lupa apa yang terjadi padanya, kepalanya berat sekali dan terasa pusing, ditambah pergelangan tangannya yang diperban terasa sedikit ngilu.
"Gue kenapa ya?" gumamnya sambil terus memegangi belakang kepalanya.
Amara terbangun, dilihatnya Tasya yang sudah sadar pagi ini. Semalaman dia, Radit dan Viko bergadang menunggu Tasya sadar.
"Tasya, kamu udah sadar sayang?" Amara menghampiri Tasya, mencoba mengecek keadaan Tasya, kalau-kalau ada yang membuatnya kesakitan.
Suara itu refleks membuat Viko, dengan cekatan dia langsung ikut menghampiri Tasya.
"Sya? Ada yang sakit?" tanya Viko.
Tasya hanya menggelengkan kepala. Dia tidak tau cara mengungkapkannya.
"Udah-udah, jangan pikirin hal berat dulu. Kamu mau sarapan? Biar Tante cari makanan dulu ke depan ya," ucap Amara. Sementara Viko membantu menaikan kasur agar Tasya bisa bersandar.
"Udah sini, senderan. Jangan dipaksain kalau pusing," ucap Viko yang dibalas anggukan oleh Tasya.
"Gak usah, Tan. Radit udah beli bubur buat Tasya," ucap Radit yang tiba-tiba muncul dari pintu.
Tasya kaget, seketika dia berteriak saat melihat Radit memasuki ruangannya.
"Pergii!! Gakkk, jangan ganggu gue!!! Tasya yang ketakutan menutup kedua telinganya tanpa mempedulikan luka dan infusan yang ada ditangannya.
Radit kaget, dia langsung menghampiri Tasya dan menaruh buburnya di atas meja.
"Dek, lu kenapa? Lu marah aja sama gua. Gua gak becus jagain lu gua tau. Jangan kaya gini." Radit semakin mendekat ke arah Tasya.
"Gue bukan pembunuh!!! Gue, gue bukan pembunuh!!" Tasya menangis Viko berusaha menenangkannya namun nihil. Akhirnya Amara menelfon suster agar datang ke ruangan.
"Sayang, ini abang kamu Radit," ucap Amara sembari kembali menenangkam Tasya.
"Syaa tenang. Lu kuat, lu gak salah. Lu gak salah," ucap Viko sembari memegang kedua pipi Tasya dan menatapnya dalam.
"PERGI!! TINGGALIN GUE SENDIRI! GUE BUKAN PEMBUNUH, STOPP!!!" Tasya menyingkirkan tangan Viko dan kembali menutup telinganya. Dia ketakutan saat melihat Radit, dia bahkan seperti bukan menatap Radit, tapi seperti orang asing. Ditambah suara-suara yang kembali terdengar, membuat Tasya semakin ketakutan.
Radit meneluk Tasya, mencoba membuat nyaman agar tidak ketakutan. Tasya terus menangis, dia berpikir kenapa dia tidak mati saja.
"Lepasin!!! Gue mau mati! Jangan suruh gue terus, gue pasti bakalan lakuin," teriak Tasya dalam isakannya.
"Engga, Sya. Gua gak akan lepasin lu. Dek, lu harus bertahan. Jangan mati, lu harus bertahan. Kita sayang sama lu." Radit tidak kuat menahan tangisannya.
Perlahan Tasya mulai menenang, karena suster datang dan memberikan dia obat penenang. Dia terdiam dalam pelukan Radit. Napasnya mula teratur dan tatapannya kosong.
__ADS_1
"Maafin gua, Sya. Gua abang yang buruk buat lu." gumam Radit yang tak tega melihat adiknya dengan kondisi seperti ini.