
Taxi berhenti di depan salah satu rumah elite di perumahan itu. Setelah selesai membayar, Tasya pun turun dari sana. Dia menghentikan langkahnya, bagaimana dia memberitahukan hal ini kepada teman-temannya? Belum lagi mobil Radit dan Amara sudah terlihat dari luar pagar.
Rasanya sesak, sesak sekali mengingat apa yang barusan terjadi padanya. Perlahan dia membuka heels yang cukup lama juga menyiksanya malam ini. Dia berjongkok sembari membenamkan wajah di telapak tangannya. Air mata yang sudah sejak tadi dia tahan kini berhamburan keluar bagaikan dibuka palangnya.
Tasya merasa benar-benar hancur, dia tidak pernah menduga kalau hubungannya bersama Viko akan berakhir seperti ini. Dia tidak tau bagaimana kalau Radit mengetahui hal ini, tentu dia tidak akan tinggal diam mengetahui adiknya dipermainkan oleh pria bajingan yang selama ini dia percaya.
Sebuah motor berhenti di hadapannya. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu. Dengan segera dia pun menghampirinya.
"Tasya," panggil Al.
Namun tidak ada sahutan dari gadis itu, dia masih menangis. Al tau, melihat tubuhnya yang gemetar seperti itu Al tau kalau Tasya sedang menangis. Perlahan Al membantunya berdiri, matanya tidak bisa berbohong pada Al kalau sekarang dia sangat terluka.
"Kenapa? Apa yang terjadi sama lo selama gua tinggal tadi?" Tanya Al. Dia merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Tasya dan mematikan ponselnya.
"G-gue sama dia udah berakhir," ucap Tasya dengan susah payah yang akhirnya membuat air matanya semakin deras.
"Kenapa?" Tanya Al sembari menundukkan sedikit kepalanya dan memegang kedua bahu Tasya.
Tasya menggeleng pelan, dia takut Al akan bertambah marah mendengar hal ini. Dia takut kalau Al mengadu pada Radit. Tapi dia tidak bisa berbohong pada Al.
"Kenapa Tasya jawab gua!" Tanpa sadar Al meninggikan suaranya.
Tasya lagi-lagi tidak menjawab, dia hanya memeluk Al sembari meremas kemeja yang Al pakai. Al yang memahami kondisi Tasya berusaha menahan berbagai pertanyaan dan membiarkan Tasya untuk lega terlebih dahulu lalu memeluknya erat.
"Marah kalau lu lagi ingin marah, jangan ditahan semuanya," ucap Al lembut.
"Gue benci sama Viko, Al gue benci!"
"Dia jahat sama gue, padahal gue selalu tulus sama dia!" Tasya memukul-mukul dada Al. Sementara Al tidak masalah dengan itu, dia tau kalau Tasya menahan amarahnya.
"Dia selingkuhin gue sama Bella, gue marah sama dia sekarang!" Entah kenapa tangisnya kini berbalut dengan emosi, semuanya seolah keluar begitu saja tanpa Tasya sadari.
__ADS_1
Al terdiam, Tasya sudah mengetahui hal ini? Tapi bagaimana bisa? Al semakin merasa bersalah karena tidak ada saat Tasya membutuhkannya.
"Lo tau, hari ini mama papanya Viko ngelamar gue, tapi yang dilakuin sama dia bikin gue bener-bener hancur, Al. Kenapa dia jahat sama gue, KENAPA?!"
"Gue benci karena gue gak bisa marah sama Viko, gue benci dia hancurin hari ulang tahun gue dengan cara yang kaya gini, GUE BENCI VIKO, Al! GUE BENCI SAMA SEMUANYA!" Kali ini Tasya benar-benar meluapkan emosinya.
Tasya benar-benar membutuhkan pelampiasan sekarang, dia butuh seseorang untuk dimaki-maki karena tadi dia bisa melakukannya.Al mengeratkan pelukannya pada Tasya, jujur melihatnya seperti ini membuatnya hancur dua kali lipat dari apa yang Tasya rasakan. Kalau tujuan Bella adalah membuatnya hancur, ya kali ini dia berhasil melakukannya.
Perlahan Tasya menarik sesuatu dari dalam tasnya, dia memberikannya pada Al. Mata Al memanas, darahnya seolah mendidih melihat apa yang ada di hadapannya. Rasanya Al ingin menemui Viko detik ini juga dan menghajarnya.
"KENAPA AL? KENAPA DIA JAHAT SANA GUE KENAPA?!"
Al meremas foto itu dan kembali memeluk Tasya dengan erat, dia berjanji akan memberikan pelajaran pada Viko, tapi sekarang yang dia harus lakukan adalah menenangkan Tasya.
Al mengelus punggung Tasya, membisikkan kata-kata agar dia tenang. "Nangis kalau masih mau nangis, tapi lu harus inget kalau cowok kaya gitu gak pantes buat lu tangisin. Ada gua, gua akan pastiin dia nyesel udah ngelakuin itu sama lu."
"Kenapa?" Tanya Radit yang tiba-tiba saja ada di luar gerbang bersamaan dengan teman-temannya.
Al hanya terdiam, dia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Sementara Tasya kini masih menangis di pelukan pria itu.
"Ini urusan gua, di mana dia sekarang?!" Tanya Radit yang sudah termakan emosi.
Baik Al dan Tasya tidak ada yang menjawab, karena hanya Tasya yang tau dimana Viko berada, namun dia tidak mau memberitahu Radit.
"DIMANA?! Oke kalau kalian berdua diem, biar gua cari sendiri." Radit membalikkan tubuhnya untuk mengambil mobil, namun tiba-tiba Tasya menahan tangan Radit dengan kedua tangannya.
"Jangan halangin gua, Tasya! Dia udah nyakitin adek gua!" Ucap Radit dengan nada yang meninggi.
Namun Tasya menggeleng pelan, tangisnya semakin pecah melihat Radit marah seperti itu. "Jangan, gue mohon jangan sakitin dia."
"TAPI DIA NYAKITIN LU! DEK, GUA ABANG LU DAN GUA GAK BISA TERIMA INI!" Bentak Radit.
Tasya tidak peduli dengan kemarahan Radit kali ini, dia benar-benar tidak mau siapapun menemui Viko apalagi untuk membelanya, dia tidak mau.
__ADS_1
Radi mengepal tangannya, melihat Tasya yang menangis membuatnya meluluh dan langsung memeluknya. "Kenapa lu masih belain dia sih?"
Tasya menggeleng, dia hanya membalas pelukan Radit. Hanya itu yang dia butuhkan sekarang.
...~ • ~...
Radit masih menemani Tasya di kamarnya, gadis itu terlelap setelah beberapa jam menangis dalam pelukan Radit. Sementara Al sedang berdiskusi dengan teman-temannya di bawah.
"Kejadiannya gimana sih?" Tanya Monik tak paham, karena mereka datang di saat mendengar teriakan Tasya saja.
"Gua gak tau pastinya, dia cuma bilang tadi dilamar keluarga Viko tapi ada kejadian itu," jawab Al yang sesekali mengecek ponselnya.
Belva menatap foto yang ada di tangannya. Sungguh menjijikan melihat mantan sahabatnya kini berubah menjadi melata. "Dia bukan sahabat kita yang kita kenal beberapa tahun lalu."
"Gila ya si Bella, gua gak nyangka kalau dia bisa senekad ini," ucap Yoda.
"Lebih gila lagi si Viko brengsek itu yang ngeladenin Bella. Cowok yang masih bisa manis-manis di depan ternyata sebusuk itu, sumpah gue gedek," kesal Belva.
"Gue yakin sih dia mau bales dendam sama Al. Mana mungkin dia gak tau Viko pacar Tasya. Kita sering bicarain Tasya dulu. Bener-bener itu anak gak tau malu! Sumpah gue jijik liatnya," geram Monik.
"Pasti lah, ingatan dia ga seburuk itu. Diluar dugaan, tadi di parkiran aja gua sedih pas air mata Tasya jatuh ke tangan gua, gak bisa diem aja kita di sini!" Kini Angkasa yang kehilangan kesabarannya.
"Kalau dia mau balas dendam ke gua, dia berhasil sih. Gua gak bisa liat Tasya kaya gini. Gua gak heran juga kalau dia berubah, gua lebih heran sama Viko. Karena gua tau secinta apa dia sama Tasya sampai gua milih buat mengalah." Al mengepalkan tangannya, dia benar-benar gatal ingin memukuli sasarannya detik ini juga.
"Kita gak bisa diem aja sih, lu gak mau bergerak?" Tanya Angkasa pada Al.
"Bentar lagi kita cabut," jawab Al dingin.
"Hah, kemana?" Tanya Monik yang bingung dengan perkataan Al.
Viko Narendra :
📍Viko Narendra Share Location
__ADS_1
"Dia ada di Nasution." Al berdiri dan menyimpan ponselnya di saku. Dia pastikan hari ini akan memberi pelajaran untuk siapapun yang menyakiti Tasya, itu janjinya pada Tasya.