Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Buku Catatan Papa


__ADS_3


Setelah puas membeli beberapa barang, Tasya dan Viko pun sudah sampai di depan rumah Tasya. Keduanya tampak senang, seperti habis pulang berkencan. Viko pun memberhentikan motornya di depan rumah Tasya, sekilas Tasya melihat kalau mobil papanya bertengger di garasi.


"Makasih ya, Vik," ucap Tasya perlahan.


"Sama-sama, makasih juga udah mau gua ajak jalan," balas Viko.


"Mau mampir dulu lo?" tawar Tasya.


"Gak deh gua ada acara sama anak-anak," jawab Viko.


"Oh yaudah deh. Makasih juga buat ini," kata Tasya sembari mengacungkan paperbagnya.


"Iyaa sama-sama, makasih mulu lu. Gua cabut ya. Bye, Sya." Viko pun melajukan motornya dan segera menuju tempat tongkrongan.


Tasya pun melihat ke arah motor Viko dan menunggunya hingga menjauh. Setelah itu Tasya memasuki rumahnya, dilihatnya abang bersama papanya sedang berbicang di ruang keluarga. Tasya yang tidak peduli langsung menuju kamarnya dengan dihadiahi tatapan dari abang dan papanya


"Dek lo gak mau gabung?" panggil Radit.


"Gak minat," jawab Tasya tak peduli. Tasya pun memasuki kamarnya dan duduk di tepian kasur.


Radit yang pasrah pun sudah lelah jika harus berdebat dengan Tasya. Jonathan pun memberi pengertian kepada Radit agar tidak bertindak lagi seperti kemarin. Jonathan percaya, kalau suatu saat nanti Tasya akan mengerti dengan keadaan ini.


Sebenarnya Tasya sedang tidak mood, karena melihat papanya sedang berada di rumah. Namun isi paper bag dari Viko lebih menarik pikirannya daripada terus mempermasalahkan hal yang sama.


Perlahan dia kembali melihat hoodie couplenya. Sekilas dia senyum-senyum sendiri sambil mengingat kejadian di Mall tadi. Rasanya dia begitu senang, padahal hanya dibelikan hoodie.


"Apa Viko suka sama gue ya? Kok dia sweet banget beliin gue ini? Bisa bisanya ya lo, Vik bikin gue senyum-senyum," gumam Tasya sambil memeluk hoodie pemberian Viko.


Seperti remaja yang dimabuk asmara, Tasya terus memancarkan senyum tanpa henti. Mungkin kalau di depan Viko, Tasya tidak akan berani melakukan ini.


Tasya langsung berdiri dan mencobanya, terlihat sangat pas di tubuh Tasya walaupun sedikit kebesaran. Tasya terus meliuk-liuk di depan cermin sambil bersenandung.


"Ternyata gue cantik juga," ucap Tasya sambil bergaya di depan cermin.


"Ehhh engga dehh, cantik banget," sambung Tasya lalu kembali tertawa.


Tasya mengambil ponselnya dan mengambil beberapa bidikan pada cermin. Kebiasaan Tasya adalah, kalau sudah ber-selfie ria dia akan lupa waktu sampai mendapatkan gambar terbaik.


"Sekali lagi deh," ucapnya sambil mengambil gambarnya.

__ADS_1


"Haha perfect." Tasya pun mencari kontak Viko dan mengirimkan satu foto kepadanya.


...Viko Narendra...


^^^Tasya Aurell mengirim foto^^^


^^^Bagus gak?^^^


Tidak ada balasan, sepertinya Viko mematikan ponselnya. Tasya pun tidak begitu peduli, toh nanti pun akan dibalas. Tasya memilih kembali berfokus pada cerminnya.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari minggu, di mana waktunya Tasya untuk mengebo ria. Sudah jam 10 pagi namun rasanya masih berat untuk meninggalkan kasurnya. Hingga pintu pun terbuka, siapa lagi kalau bukan Radit. Radit hanya bisa berdecak melihat kelakuan Tasya yang masih bergelut dengan selimutnya, benar-benar minta diceramahi.


"Dek bangun, lo belum makan. Makan dulu cepet," panggil Radit sambil menarik selimut Tasya perlahan.


"Ihhh abang, gak mau. Ini masih pagi najis. Biarin gue ngebo dengan tenang." Tasya yang tidak peduli kembali menarik selimutnya.


"Papa lagi di ruang kerjanya, lu gak akan ketemu kalau sarapan. Makanya cepet bangun." Radit yang mengerti pikiran Tasya langsung kembali menyuruh adiknya ini untuk bangun.


Tasya pun mengubah posisinya menjadi duduk, dilihatnya abangnya lekat-lekat. Kali ini sepertinya Radit tidak berbohong. Jadi Tasya menurutin perintah Radit untuk sarapan di bawah.


"Ayokkk cepat gendong gue." Tasya langsung menaiki punggung dan memeluk leher Radit.


"Ih najis, lu udah gede masih aja manjaan kaya anak monyet gini," cibir Radit.


"Biarin, sama abang sendiri. Kalau sama abang lain nanti abang gue ini cemburu," kata Tasya sambil menarik pipi Radit.


"Heleh, gakk. Gue kasihin lu malahan, rela. Ikhlas banget. Paling 15 menit udah dibalikin karena gak kuat punya adik macam lu." Radit pun meledek Tasya yang dihadiahi pukulan dari Tasya. Setelah puas tertawa Radit menggendong Tasya ke luar kamar dan menuju dapur. Untung saja Radit sangat menyayangi Tasya.


Tasya pun kini tengah duduk menikmati sarapannya, nasi goreng kesukaan ditambah ayam goreng adalah sarapan yang paling enak untuk Tasya. Sesekali dia melihat ke arah ponselnya kalau-kalau ada notif pesan dari temannya.


"Dek, lu makan lama banget. Fokus makan, itu hp gak akan kemana-mana, gak usah dijagain. Lagian nungguin notif siapa sih, jomblo juga," kesal Radit.


"Hihh, bentar doang juga. Ni makan niii." Tasya langsung menyuapkan makanannya dengan gemas.

__ADS_1


Sementara Radit kembali menyiapkan beberapa obat dan vitamin untuk Tasya. Tasya memang pelupa, terkadang dia lupa untuk meminum obatnya. Itulah peran Radit di rumah ini, menggantikan peran seorang ibu untuk Tasya.


"Habis makan jangan lupa diminum obatnya. Gua mau main ps." Radit mengingatkan seraya berjalan menuju sofa dan berfokus kepada game.


Setelah selesai makan dan minum obat dan duduk di sofa, Tasya sibuk dengan pikirannya, sesekali Tasya melirik ke arah Radit yang sedang asik dengan dunianya. Sangat menyebalkan, apa enaknya sih main game berjam-jam seperti itu.


Tidak ada notif pesan pun bahkan dari Viko, dia tidak tau mau melakukan apa. Karena gabut, Tasya pun membuka laci di sebelah sofa dan mencari majalah untuk dia baca. Namun, matanya tertuju pada sebuah buku dan Tasya pun mengambilnya.


"Buku apa ya ini," batinnya.


Tasya mulai membuka lembaran demi lembaran, ternyata itu adalah buku catatan untuk menulis hal-hal penting. Terdapat beberapa tulisan Radit dan papanya. Matanya tertuju pada satu tulisan "Lidya Kafenya". Tasya melihat sebuah alamat di sana. Dia tersadar dengan satu hal bahwa, Lidya adalah nama ibu kandungnya. Tasya segera mengambil ponsel dan memfotonya.


"Tega lo, gak kasih tau gue soal ini." Tasya membantingkan buku itu ke hadapan Radit.


Radit menatap Tasya dengan keheranan, seolah meminta penjelasan.


"Itu alamatnya mama sekarang kan? Kenapa lo gak pernah kasih tau gue? Kenapa lo sembunyiin itu semua seolah lo gak mau gue nemuin mama? Lo selalu bilang gak tau mama kemana padahal mama ada di sekitar gue?" lanjut Tasya dengan emosi.


"Dek, gak gitu ...." Radit bingung mau menjelaskan apa kepada Tasya sambil menggaruk rambutnya frustrasi.


Jonathan yang mendengarkan keributan anak-anaknya, segera menemui mereka. Sesaat dia terkejut saat Tasya mengetahui catatan di buku itu.


"Tasya ...." Jonathan dengan lembut memanggil Tasya.


"Diem, Tasya gak butuh penjelasan apa-apa dari kalian. Tasya mau nemuin mama," ucap Tasya yang langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari ke luar rumah.


Radit dan Jonathan tak tinggal diam, mereka langsung mengejar tasya. Radit kini mengejar Tasya dan berhasil mencengkram lengannya.


"Tasya, jangan. Gua bilang jangan temuin mama!" Radit berkata penuh penekanan.


"Tasya, papa gak suka kalau kamu temuin mama kamu!" Jonathan kini mulai bersuara untuk melarang Tasya.


"Tasya gak peduli, emang kalian sengaja kan gak mau Tasya ketemu mama? Kalian egois tau gak? Kalau abang lebih memilih buat ada di pihak orang ini, maaf aja Tasya lebih ada di pihak mama karena mama udah disakitin, sampe mama ninggalin kita."


Tasya melepaskan cengkraman Radit, lalu dia memasuki mobilnya. Dengan perlahan tapi pasti dia mengeluarkan mobilnya dari pekarangan rumahnya lalu melajukan mobilnya secepat mungkin. Tasya kembali melihat ponselnya.


"Perumahan Nusa Indah, nomor 205," gumamnya dengan mantap.


Radit dan Jonathan pun mencoba menyusul Tasya dengan mobil mereka. Mereka kehilangan jejak Tasya karena jalanan cukup macet hari ini.


Sementara Tasya berusaha menahan tangisnya, karena sebentar lagi dia akan bertemu mamanya—orang yang sudah melahirkannya.

__ADS_1


"Maa, tunggu Tasya yaa. Kita bakalan ketemu hari ini. Pasti."


__ADS_2