
Monik dan Belva saling berpelukan, akhirnya hari ini datang juga. Niken menatap ke arah mereka berdua, dia tidak ada teman sekarang. "Emm boleh ikut pelukan gak?"
Belva dan Monik pun menarik Niken dalam pelukan mereka. "Boleh dong!" Niken pun senang dan membalas pelukan mereka. Ternyata covernya saja yang garang, tapi ternyata mereka baik juga.
Sekarang giliran pemasangan cincin. Amara, Diana, Radit dan juga Haris berdiri di depan bersama Tasya dan Al.
Perlahan Dia mengambil cincin dan memasangkannya di jari Tasya, setelah itu mereka berdua saling memeluk, Diana senang sekali. Bayi perempuan yang dulu dia gendong dan dia beri ASI kini malah bisa menjadi anaknya sekaligus pendamping untuk putranya kelak. "Semoga kalian bahagia ya, Bunda berharap kalian akan bisa menikah dan kamu benar-benar menjadi anak Bunda."
"Aamiin, terima kasih Bunda," ucap Tasya sambil tersenyum.
Selanjutnya giliran Amara yang memasangkan cincin di jari Al. "Tolong jaga Tasya dengan baik ya ,Al. Tante percaya sekali sama kamu."
Al mengangguk dan tersenyum. "Pasti, Tan. Tante bisa percaya Al."
Semua yang ada di sana bertepuk tangan melihat kebahagiaan pasangan itu, akhirnya mereka resmi bertunangan. Satu tahap berhasil mereka lewati.
Setelah rangkaian acara selesai semua orang berbondong-bondong mengucapkan selamat. Tasya dan Al merasa senang mendapat banyak doa baik dan menyalami dengan ramah. Ya semoga saja doa baik itu menjadi sebuah berkat dalam perjalanan mereka.
Rena memeluk Tasya sembari menciumi kedua pipinya. "Selamat ya, Sayang. Satu tahap sudah dilewati, Tante doakan agar kalian bisa terus bersama-sama. Nak, Al, Tasya sudah Tante anggap sebagai anak sendiri. Tolong jangan sakiti dia seperti apa yang pernah anak Tante lakukan ya?"
Al mengangguk dan tersenyum. "Pasti, Tante. Terima kasih sudah hadir."
Rena dan Beni pun berlalu, kini tinggal Bella. Dia sendiri tanpa Viko yang menemaninya. Bella menyalami Tasya terlebih dahulu, Tasya mencoba membalasnya dengan ramah.
"Selamat ya, Sya, Al. Kalian pantas buat ada di titik ini. Maaf untuk kesalahan yang pernah gue lakuin," ucap Bella yang kini menyalami Al juga.
Tasya terkekeh dan menghela napasnya. "Gak perlu minta maaf, gue yang berterima kasih. Karena berkat lo gue bisa sadar sama perasaan Al."
__ADS_1
Bella terhenyuk, Tasya tidak salah jika bilang begitu. Tidak mungkin juga Tasya bisa melupakan masalah mereka begitu saja. Jadi dia tidak marah atau tersinggung, karena itu wajar. Setelahnya dia berlalu pergi dari sana.
Di saat sedang menyalami tamu-tamu, Tasya berpikir. Kenapa Sarah dan Sherli tidak menemuinya? Padahal mereka tadi ada di sini dan lagi kalau mereka seperti Niken pasti Tasya akan menerima mereka begitu saja.
"Nyari Sarah sama Sherli ya?" Tanya Al yang peka dengan kondisi Tasya.
Tasya mengangguk pelan. "Mereka kayanya udah gak bisa temenan sama aku? Gak tau deh."
"Yaudah jangan dipikirin, fokus aja dulu sama acara. Soal mereka, kita masih ada waktu seminggu buat memperbaiki ini," ucap Al menenangkan.
Tasya tersenyum, Al benar kalau sekarang dia harus fokus pada acara. Selain menerima tamu dan doanya, masih ada photoshoot yang harus mereka lakukan.
"Kamu bahagia?" Tanya Al seraya mengelus pipi Tasya."
"Apa senyum aku ini kurang mencerminkan rasa bahagia aku ya, Al?" Tanya Tasya yang membalas tatapan Al.
"Senyum kamu cantik banget, mau bikin aku nikahin sekarang juga ya?" Tanya Al sambil terkekeh.
"Oh iya, bener kali ya ucapan adalah doa," balas Al.
Moment itu tidak disia-siakan photographer. Moment manis yang akan mereka abadikan untuk menjadi bahan pembicaraan masa depan. Tasya dan Al diminta menghadap kamera dan mereka pun bergaya dengan memamerkan cincin pertunangan mereka. Semoga ini awal baik untuk mereka.
...~ • ~...
Viko meninju tiang yang ada di depannya. "KENAPA TASYA BISA CINTA SAMA AL?!"
Semua bungkam, jika kambuh emosi Viko memang tidak bisa dikontrol. Mereka cemas jika Viko sudah seperti ini, pasalnya pasti Bella yang akan menjadi sasarannya. Meskipun mereka juga tidak menyukai Bella, tapi tetap saja kasihan.
"Gue udah coba bilang sama Tasya malam itu, tapi dugaan gue salah. Dia udah dewasa sekarang, Vik. Dia bukan Tasya yang labil waktu kita SMA. Dia sekarang tau apa yang harus dia pilih untuk jadi jalannya. Saran gue mending lo harus berusaha buat move on," ucap Sarah.
__ADS_1
"GIMANA GUA BISA MOVE ON SEMENTARA GUA GAK PERNAH MENGINGINKAN ITU, HAH?!"
Tiba-tiba Arka datang dan melihat itu semua. "Lu egois, Vik."
"Ada hak apa lu bilang kaya gitu?" Viko mencengeram kerah baju Arka.
"Ada, gua temen lu dan gua gak mau lu terobsesi sama seseorang yang bukan milik lu. Sadar!! Lu udah nyakitin dia, salah lu sendiri yang ngebiarin dia pergi dari hidup lu!" Tegas Arka.
"Gua sama Bella sejak awal gak pernah lebih dari sekedar hubungan dengan keuntungan yang sama-sama butuh, sialnya aja dia hamil. Gak pernah gua cinta sama dia! Tapi dia hancurin semua dan bikin Tasya pergi!!" Bentak Viko dengan nada paraunya.
"Bangsat! Lu masih gak sadar juga kalau lu salah di sini?! Mau lu gak cinta atau gimana pun lu udah sakitin dia anjing!" Arka tanpa ragu meninju wajah Viko.
Arka beralih menatap Sarah dan Sherli. "Dan buat kalian berdua, kalian bener-bener temen terburuk buat Tasya. Tasya cuma nunggu permintaan maaf, atau minimal klian sadar lah sama kelakuan kalian. Sekarang kalian cuma diem di sini dan gak nemuin dia? Temen macam apa lu semua? Jangan karena bucin kalian jadi belain si bajingan ini, kita emang temen tapi temen bukan berarti mendukung kelakuan bejat temennya sendiri. Mulai sekarang gua memutuskan hubungan sama kalian semua!"
Arka sudah kepalang emosi, sudah lama dia memendam ini semua dan sekarang dia baru mempunyai keberanian. Dia pun meninggalkan mereka semua yang mematung di sana. Tidak peduli seberapa kesal mereka.
Tasya dan Al melihat itu semua, tapi mereka tidak menghampiri karena sedang melakukan pemotretan. Tasya menatap Al dan kemudian Al tersenyum menenangkan Tasya. Di hari bahagia mereka ini tidak akan Al biarkan siapapun mengacaukan acaranya apalagi merusak mood gadisnya.
"Udah jangan dipikirin, kita ke sini mau pemotretan. Bukan buat liat drama. Senyum, mau nyesel seumur hidup kalau hasilnya jelek?" Tanya Al.
Tasya menggeleng, benar juga. Hasil pemotretan ini akan ada seumur hidup mereka. Jadi harus terlihat bagus. "Iyaa, Sayang." Tasya tersenyum lembut ke arah Al.
"Jangan manggil sayang tiba-tiba, kamu gak tau aja kalau jantung aku gak aman rasanya," ucap Al.
"Oh jadi sama tunanganku gak boleh bilang sayang? Oh yaudah gak akan lagi," kata Tasya tak acuh.
"Gak gitu jelekkk, boleh lah. Boleh banget, ngambekan." Al memeluk Tasya dan menciumi pipi gadis itu, niatnya ingin langsung mencium di bibir tapi dia harus bersabar, tidak mungkin langsung begitu saja. Dia masih belum berani lebih tepatnya.
Mereka berdua pun melanjutkan pemotretan dengan senyum bahagia. Viko yang baru sadar akan kehadiran Tasya dan Al di sana menjadi geram dan pergi dari sana membawa beban emosional.
__ADS_1
Sarah, Sherli, Bagas dan Reza pun mengejar Viko. Mereka tidak bisa tegas seperti Arka. Mereka sudah sangat jauh melangkah untuk tetap bersama Viko. Sudah tidak bisa maju atau mundur.