Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Gue Gila Kah?


__ADS_3


Anna memeriksa beberapa hasil tes yang dilakukan oleh Tasya. Sementara Radit sedikit cemas dengan hasilnya, dia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Tasya.


"Fungsi otaknya normal, tidak ada kelainan di otaknya. Tasya bisa fokus dan berkonstrasi dengan baik, pola pikir teratur, hasil tes darah dan urin juga baik tidak terdeteksi obat-obatan berbahaya," jelas Anna sambil kembali memeriksa lembaran demi lembaran.


"Dari hasil menunjukkan kalau Tasya mengidap skizofrenia paranoid tahap awal, pada tahap ini pasien lebih cepat untuk pulih. Tasya bisa melakukan aktivitasnya dengan normal, namun obat-obatannya tidak boleh putus," lanjut Anna.


"Jadi Tasya haru meminum obatnya seumur hidup, Dok?" tanya Radit.


"Memang begitu dalam prosedurnya. Obat yang saya berikan kemarin akan diuji dari 3-6 minggu untuk melihat efektifitasnya. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa sampai 12 minggu, tergantung tubuh pasien meresponnya berapa lama. Setelah itu pasien harus rutin mengikuti psikoterapi 2 minggu sekali sesuai yang sudah dijadwalkan. Perlahan kami akan menekan penggunaan obat sampai seminimal mungkin. Meskipun tidak bisa lepas obat, memungkinkan sekali pasien akan bisa terlepas, tergantung keinginan untuk sembuh seperti apa, beberapa kasus seperti itu. Lalu saya sarankan untuk memberi tau Tasya perlahan dari sekarang, semakin dia bisa mengetahui dan menerima kondisinya, akan semakin baik untuk pemulihannya," jelas Anna sambil tersenyum.


"Tapi saya takut kalau Tasya akan down saat tau kebenarannya, Dok," ucap Radit perlahan.


"Tidak perlu takut, beri Tasya dukungan dan perhatian lebih. Kelilingi dia dengan orang-orang yang mencintai dia, berikan rasa nyaman dan keyakinan kalau dia bisa melewatinya dengan baik. Tidak hanya keluarga dan teman terdekatnya, kami di sini akan membantu semaksimal mungkin agar Tasya bisa kembali pulih," kata Anna mencoba meyakinkan Radit.


"Baik dok, akan saya usahakan. Terima kasih untuk jadwal hari ini, Dok. Semoga Tasya bisa secepatnya pulih," kata Radit.


"Iya sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter." Anna tersenyum sambil memberikan berkas kesehatan Tasya pada Radit.


"Kalau begitu saya pamit, Dok. Permisi," ucap Radit.


"Silahkan." Anna mempersilakan Radit dengan Ramah.


Radit menatap hasil pemeriksaan Tasya, dia berpikir: bagaimana caranya untuk memberitahu Tasya soal ini. Dia tidak mau Tasya merasa dirinya aneh atau gila. Melihat Tasya menangis membuatnya hancur.


"Gua harus bisa, demi Tasya," gumam Radit.


Radit menarik napasnya perlahan, lalu menghembuskan nya dengan perlahan. Lalu dia berjalan ke arah taman, iya Radit menyuruh Tasya agar menunggunya di sana. Tak lupa dia membeli eskrim vanilla kesukaan Tasya.


Sesampainya di sana, terlihat Tasya yang sedang asik menatap air mancur yang ada di depannya. Sesekali dia tersenyum, entah apa yang Tasya pikirkan.


"Dek." Radit duduk di sebelah Tasya sambil memberikan 1 cup eskrim yang dibelinya tadi.


Tasya melihat ke arah Radit dan mengambil eskrimnya. Dia senang, sudah 1 bulan ini dia tidak memakan eskrim.


"Makasih, Bang," ucap Tasya sambil tersenyum.


"Sama-sama bocil," ucap Radit sambil mengelus rambut adiknya itu.


"Abang, kita kenapa lama banget?"


"Tadi bicara dulu sama dokternya. Kenapa? Ada yang gangguin?"


"Gakk, gue cuma nanya aja."


"Dikirain ada yang gangguin."

__ADS_1


"Gak ada kok. Oh iya bang .... " Tasya menghentikan ucapannya.


"Kenapa?"


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada dipikirannya. Tapi dia memilih untuk tidak jadi bertanya. Takut kalau akan membuat Radit kepikiran karena pertanyaan-pertanyaannya.


"Gak jadi deh." Tasya tersenyum.


"Ada yang sakit? Pusing? Bilang aja gapapa."


"Engga tadi mau nanya tapi lupa." Tasya berusaha mencari alasan dan hanya dibalas anggukan oleh Radit.


Tasya dan Radit menikmati eskrim yang mereka pegang. Hening, tidak ada percakapan saat ini. Tasya sibuk dengan pikirannya dan Radit sibuk memikirkan cara untuk memberitahu soal penyakitnya.


"Ekhmm, dek," panggil Radit memecahkan keheningan.


"Hmm? Kenapa?" tanya Tasya.


"Lu percaya sama Abang, kan?"


"Hmm, iya kenapa?"


Radit menaruh berkas dan eskrim miliknya di kursi, perlahan Radit berlutut, menaruh eskrim yang Tasya pegang dan menggenggam kedua tangan adiknya dengan lembut.


"Lu tau kan kalau abang sayang banget sama lu, Dek? Atas yang abang lakuin, abang masih ngerasa bersalah. Seharusnya abang gak biarin lu saat itu."


"Iyaa, abang mau bilang aja. Abang mau lu tau kalau abang sayang banget sama lu, Dek. Lu pasti bingung kenapa lu di bawa kesini, iya kan?" tanya Radit.


Tasya pun hanya mengangguk, psikiater adalah tempat yang aneh menurutnya. Dia merasa Radit menganggapnya gila tanpa sebab.


"Coba apa yang lu pikirin?"


"Lo anggap gue gila kah karena luka ini?" tanya Tasya menunjukan pergelangan tangannya.


Deghh ....


Satu pertanyaan yang sebenarnya tak ingin Radit dengar. Dia tidak mau Tasya menganggap dirinya seperti itu. Keringat dingin mulai bercucuran, Radit berusaha untuk tetap pada posisinya, meskipun sangat lemas rasanya.


"Engga, gua gak anggap lu begitu. Lu percaya gua kan, Dek?" tanya Radit memastikan.


"Gue percaya, tapi gue gak paham."


Radit menghela napas sejenak. Dia harus bisa memberitahu Tasya sekarang. Radit memberikan berkas kesehatan Tasya. Tasya pun membukanya dan membaca hasil diagnosis yang tertera di sana.


Dia menggigit ujung kukunya dan sesekali menatap Radit. Tanpa sadar air matanya mulai jatuh, semuanya bercampur aduk, entah harus bagaimana dia mendeskripsikannya. Bagaimana rasanya ketika kalian dinyatakan memiliki penyakit mental, bahkan nyaris gila?


"Jadi gue gila ya?" Gumamnya yang tak bisa membendung lagi air matanya.

__ADS_1


"Engga, jangan ngomong gitu. Gakk, lu gak gila. Lu cuma lagi sakit dan itu akan segera sembuh." Radit menaruh berkas itu dan kembali menggenggam erat tangan Tasya.


"Gue gak normal, gimana gue bisa sembuh? Gimana gue hadapin orang-orang? Gimana kalau—" Radit memeluk Tasya dengan erat. Dia tidak tega mendengar semua ketakutan yang Tasya.


"Ada gua, lu punya banyak orang di sini. Lu bakalan bisa lakuin kegiatan lu dengan baik. Lu bakalan baik-baik aja, Dek," ucap Radit dengan gemetar, dia tau kalau Tasya pasti berkutat dengan pikirannya sendiri.


Radit menatap Tasya, memegang bahu dan menatap matanya, "Lu bisa sembuh, lu percaya gua kan? Abang lu ini akan berusaha sebaik mungkin. Lu kuat, lu bisa hadapinnya."


Tasya hanya terisak, dia benar-benar tidak tau harus bagaimana. Yang dia rasakan hanya sesak karena kenyataan.


"Dekk, jangan gini. Lu kuat, gua tau."


Tasya mengusap air matanya, dia sedikit tersenyum. Dia tidak mau membuat Radit semakin khawatir apalagi merasa bersalah dan terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Tasya.


"Gue janji, gue bakalan sembuh. Meskipun gue gak tau gue bisa apa engga. I'll try my best," ucap Tasya.


Radit tersenyum mendengarnya, dia menghapus perlahan air mata Tasya. Dia berjanji akan selalu bersama Tasya dan menemaninya untuk melewati skizofrenia.


"Makasih karena lu udah mau berusaha. Lu bakalan baik-baik aja. Pegang janji gua, abang lu ini akan kerahin seluruh tenaganya buat selalu jagain adek kesayangannya," kata Radit dengan bersunguh-sungguh.


Tasya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia sangat beruntung memiliki Radit dalam hidupnya. Dia harus sembuh, apapun yang terjadi, dia harus berusaha.


Tringg ....


Satu pesan masuk ke ponsel Tasya.


Sejenak dia membuka dan membacanya. Dia terdiam, sebenarnya dia belum siap untuk bertemu siapapun. Dia takut dengan penolakan orang-orang jika mereka tau apa yang dia alami. Tasya terdiam, Radit melihat itu pun keheranan.


"Kenapa?" tanya Radit.


"Viko sama temen-temen mau ke rumah," jawab Tasya perlahan.


"Loh bagus kan? Jadi lu gak kesepian."


"Gue takut mereka gak mau temenan sama gue kalau tau kondisi gue. Gue takut kalau gue tanpa sadar nyakitin mereka."


Radit kembali menggenggam tangan adiknya itu.


"Mereka udah tau, jadi lu gak usah khawatir. Bahkan mereka mau selalu ada buat lu."


"Mereka??"


"Iyaa, jadi lu jangan mikir apapun. Udah gua bilang, banyak yang sayang lu di sini. Sekarang cukup minum obat teratur dan taat sama jadwal terapinya ya?"


"Iya abang."


"Anak pinter." Radit mengelus Rambut Tasya lembut, Radit senang kalau Tasya bisa menerima kenyataan ini. Tidak seburuk yang dipikirkan Radit.

__ADS_1


__ADS_2