
"Sya, maafin gua ya?" ucap Viko sambil tersenyum tulus.
"Gapapa, santai. Ayok masuk dulu, baju lo basah. Nanti masuk angin," ajak Tasya.
Viko pun mengangguk dan mengikuti arahan Tasya untuk masuk ke rumahnya. Tasya mengambil kunci dari tasnya, sepertinya memang sedang tidak ada orang di rumah Tasya.
"Bentar tunggu di sini," kata Tasya sambil berlari masuk ke dalam kamar milik Abangnya.
Tasya mengambil handuk dari lemari Radit dan berlari ke arah Viko. Tasya mengeringkan badan Viko, sejenak Viko tersenyum melihat perhatian Tasya padanya.
"Lo basah kaya gini, kalau sakit gimana. Maaf ya, karena gue lo jadi basah gini," ucap Tasya sambil terus mengeringkan Tubuh dan Rambut Viko.
Viko memegang pergelangan tangan Tasya dan mengambil handuk dari tangan Tasya sambil tersenyum.
"Gua bisa sendiri, liat diri lu juga basah. Sana ambil handuk sama ganti baju, yang ada nanti lu yang masuk angin," ujar Viko.
"Yaudah ayok masuk, biar gue cariin baju bang Radit buat lo pake nanti. Mandi air hangat dulu biar gak masuk angin, gue mandi di kamar gue, lo bisa pake kamar mandi bawah." Tasya mulai mengintruksi Viko.
Viko pun melepas sepatunya dan berjalan memasuki rumah Tasya. Terlihat suasana rumah yang bernuansa kontemporer dan sangat rapi. Namun tidak ada siapa-siapa. Pertama dan terakhir Viko ke sini karena kerja kelompok waktu itu.
"Bentar," ucap Tasya lalu berlari ke kamar mandi membawa pakaian yang bisa dipake untuk Viko dan kembali kepada Viko.
"Nih, pake," kata Tasya sambil memberikan pakaian kepada Viko. Itu baju Radit, nanti jika Radit pulang dia akan langsung izin pada Abangnya itu.
"Makasih, sana mandi," ucap Viko pada Tasya.
"Yaudah gue tinggal ya, nanti gue turun kalau udah beres," ucap Tasya.
"Iya, Tuan Putri." Viko mengacak rambut Tasya pelan tanpa berpikir kalau sekarang ada ribuan kupu-kupu dalam tubuh Tasya. Rasanya Tasya ingin teriak saja tapi dia malu melakukan itu.
Tasya pun berlari ke kamarnya, mungkin kalau Viko liat sekarang pipinya sudah merah seperti tomat. Sungguh, Tasya baru merasakan hal itu sekarang.
Viko pun hanya tertawa gemas melihat ekspresi Tasya yang seperti itu. Baru beberapa hari saja Viko rasanya sudah merindukan Tasya. Maklum lah, namanya juga cinta pertama, pasti rasanya indah banget.
Viko pun memasuki kamar mandi dan membilas tubuhnya, sementara Tasya kini sedang di kamar mandi sambil memegang kedua pipinya yang sudah memanas.
__ADS_1
"Apa katanya? Tuan Putri? Aaaaa kenapa Viko gemes banget sih. Kaya ada di novel-novel gue," gumamnya.
"Emm oke oke, tenang. Tenang, Tasya. Lo harus bersikap biasa aja. Bisa aja tadi lo salah denger atau dia salah bicara. Mending sekarang lo mandi abis itu ke bawah lagi," lanjut Tasya.
Beberapa menit berlalu, setelah selesai mandi Tasya pun kembali ke kamar. Mencari baju yang cocok untuk dia kenakan sekarang. Setelah berlama-lama berkutat dengan baju-bajunya, Tasya memutuskan memakai kaos lengan pendek berwarna putih serta celana jeans selutut.
Tak lupa Tasya memoles make up tipis pada wajahnya dan sedikit parfum serta minyak telon pada tubuhnya. Rambutnya yang masih belum terlalu kering dibiarkan tergerai indah. Setelah selesai dia menuju ke lantai bawah untuk menemui Viko.
Terlihat Viko sedang duduk di sofa sambil menunggu Tasya.
"Lama ya, Vik?" tanya Tasya saat sudah sampai di sampin Viko.
Viko pun sontak melihat ke arah Tasya. Dilihatnya Tasya sangat cantik dengan penampilannya sekarang.
"Engga kok, santai aja," kata Viko tak berkedip.
Tiba-tiba saja suara perut Viko berbunyi dan terdengar oleh Tasya. Tasya pun tertawa sambil melihat ke arah Viko.
"Lo laper ya? Gue juga laper kok. Mau gue buatin mie instan?" tawar Tasya.
"Yaudah lo tunggu di sini, nonton aja," kata Tasya, lalu berjalan ke arah dapur.
"Mau ikut," kata Viko sambil menyusul Tasya ke dapur.
Tasya mengambil dua mie instan kuah, telur, sayuran, bakso dan sosis untuk dia masak kali ini. Dia pun menaruhnya di atas meja lalu memotongnya kecil-kecil.
"Sini biar gua aja yang potongin,"kata Viko mengambil pisau dan sosisnya dari tangan Tasya.
Tasya pun menyerahkan pekerjaannya pada Viko, melihat Viko seperti itu, membuatnya melting sendiri. Liat cowok masak itu rasanya gak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Tasya memanaskan air untuk merebus mienya, setelah itu membuka mie, telur dan memasukannya ke dalam panci. Setelah selesai memotong Viko pun menghampiri Tasya dan memasukan sosis, bakso, serta sayuran yang sudah dipotong tadi.
Tasya mengambil dua gelas lalu menuangkan coklat sashet ke dalam gelas dan menyiramnya dengan air panas, lalu mengaduknya.
"Widiihh tau aja gua suka coklat panas," ucap Viko.
"Gak tau, orang gue bikin karena gue mau, bukan karena lo suka," ketus Tasya.
__ADS_1
"Si anjir," dengus Viko.
Tasya dan Viko pun sama-sama menunggu mienya matang. Menurut mereka ini sangat lama, sementara mungkin untuk menghabiskannya butuh waktu hanya 5 menit saja.
"Vik, kok lama yaaa .... " kata Tasya sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Iya anjir kok lama, gua udah laper," sahut Viko.
Jika dilihat ekspresi keduanya sangat lucu. Setelah beberapa menit, akhirnya mie mereka pun matang. Tasya membaginya ke dalam mangkok. Lalu mengaduk dengan bumbunya.
"Emmm wangii," kata Tasya.
Tasya pun membawa dua mangkok mie sementara Viko membawa dua gelas coklat panas untuk mereka makan di ruang TV.
Mereka pun fokus menonton sambil memakan mienya. Memang kalau hujan-hujan begini tuh enaknya makan mie, apalagi makannya ditemenin sama gebetan.
"Lu kenapa suka banget sih sama drama korea, kaya ngerti aja," ucap Viko sambil melihat ke arah Tasya.
"Ngerti kok, kan pake subtitle, lagian ya. Lebih enak nonton drama korea. Mereka itu punya kisah yang ga sekedar manis aja, tapi ngasih kita beberapa pelajaran dalam kehidupan," ujar Tasya.
"Tapi drama korea bisa bikin orang makin halu, contohnya lu," ketus Viko.
"Eh halu itu kenikmatan yang hakiki, apalagi coba kerjaan jomblo kaya gue kalau bukan ngehalu?" kata Tasya mencoba untuk membela dirinya.
Viko menaruh mangkoknya sejenak, lalu beralih menatap Tasya dan menangkup pipi Tasya.
"Mending lu liat yang nyata aja, yang bisa lu tatap dan lu genggam. Walaupun gak semanis aktor di drama atau novel kesayangan lu itu, tapi perasaan yang dia punya tulus buat lu, bisa lu rasakan dan lu lihat juga." Viko menatap Tasya dengan lembut.
Tasya pun membalas tatapannya pada Viko. Pipinya mulai bersemu merah saat mendengarkan kata-kata Viko, jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya. Segera iya melepaskan tangan Viko dari pipinya.
"E-ehh mie gue, mie gue keburu dingin," kata Tasya mengalihkan sambil mengambil kembali mangkoknya.
"Pipi lu kenapa, Sya? Udah mirip tomat begitu," kata Viko sambil terkekeh.
"H-haahh? E-enggak kok. A-apaan sih loooooooo," teriak Tasya sembari memakan mienya kembali.
Viko pun tertawa melihat Tasya yang seperti malu-malu kucing tersebut. Sangat lucu dan membuatnya gemas. Perasaan Viko begitu senang hari ini, ternyata dia masih bisa berusaha untuk mendapatkan Tasya.
__ADS_1