Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kerja Kelompok


__ADS_3


"Buat kelompok delapan orang, lalu kerjakan tugasnya," kata Bu Tanti sambil keluar dari kelas.


"Kita mau sekelompok sama siapa, Sya?" tanya Niken.


"Kenapa kalau kelompok-kelompok kaya gini nanya ke gue? Gue kan suka bingung," kata Tasya.


"Ya kan lo yang pinter, tergantung lo nyamannya sama siapa," sambung Sarah.


"Gak ada hubungannya ih, kan ini kerja kelompok," sanggah Tasya.


"Intinya, lo mau kita sekelompok sama siapa?" tegas Sherli.


"Intinya juga, gue bingung mau sekelompok sama siapa," tegas Tasya.


"Intinya, gue terserah kalian," kata Sarah.


"Intinya, kenapa kalian jadi intinya-intinya," kata Niken sambil tertawa.


Mereka pun ikut tertawa, ini adalah moment konyol yang pernah mereka lakukan.


Tiba-tiba Bagus menghampiri mereka.


"Sarah, sekelompok sama gua yuk?" ajak Bagus.


Sarah sih mau-mau aja. Apalagi dia dan Bagus memang sedang dekat, tapi tak tau dengan Tasya.


"Sya, gimana?" tanya Sarah.


"Yaudah sih, tapi jangan sama Viko," kata Tasya.


"Lah, gimana ceritanya. Gua sama mereka mah udah paket komplit, Sya," kata Bagus.


"Gak apa aja, Sya. Sekali aja, Sarah itu lagi deket sama Bagus. Emang lo gak mau bantuin mereka?" bisik Niken pada Tasya.


"Kalian bisik-bisik apaan sih?" tanya Sherli.


"Gak apa. Oke deh, kita sekelompok. Tapi awas kalian bikin rusuh!" ancam Tasya pada Bagus.


"Gak akan elah, btw mau kerkom di mana? Kapan?" tanya Bagus.


"Pulang sekolah di rumah Tasya," kata Sarah.


"Tugasnya masih lama ini, kenapa dikerjain sekarang?" tanya Bagus lagi.


"Tasya mah orangnya perfeksionis, gak pernah nunda-nunda tugas," kata Sherli.


"Ihh ya bukan gitu juga, Sher. Gue mah pelupa."


"Ya udah pulang sekolah, thanks," kata Bagus.


"Hmm." Tasya pasrah saja, daripada merusak suasana hati sahabat-sahabatnya.


...~ • ~...


Setelah pulang sekolah, mereka memang langsung kerja kelompok. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi, Tasya mengerjakan tugas persentasi dan yang lainnya ber-selfie riang. Menurut mereka, rumah Tasya itu selfieable.


"Kalau kerja kelompok emang kaya gini?" tanya Viko.

__ADS_1


"Ya emang, gue gak mau ngeribetin. Yang terpenting tugas selesai," jawab Tasya.


"Kalau gini sih namanya bukan tugas kelompok, tapi tugas lu doang," kata Viko.


"Hmm ya kan namanya tetep kelompok," kata Tasya.


"Oh iya, nyokap lu ke mana?" tanya Reza dan spontan membuat semuanya terdiam.


"H-ha?"


"Nyokap lu mana, Sya dari tadi gak keliatan. Takutnya kita ngeberisikin," kata Reza.


Sarah yang melihat itu, dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ehhh Reza ayokk ikut fotbar," kata Sarah sambil menarik Reza.


Reza pun tertawa dan mengikuti Sarah serta teman-temannya yang lain berphoto bersama.


"Sini biar gua bantu," kata Viko sembari menarik laptop dari Tasya


Tasya pun melirik ke arah Viko, dia baru sadar ternyata Viko tidak semalas itu dalam mengerjakan tugas.


"Bentar ya gue ambil makanan dulu ke dalem," kata Tasya pada Viko.


Tasya pun memasuki rumahnya, dia menyiapkan beberapa kue manis dan jus untuk temannya. Pertanyaan Reza tadi sedikit mengganggu pikirannya, pasalnya sudah sejak lama tidak ada yang menanyakan hal itu.


Akhirnya setetes air mata kembali terjatuh di pipinya, entahlah akhir-akhir ini dia begitu sensitif, semenjak Radit memarahinya waktu itu, dia selalu memikirkan hal ini. Setelah selesai, Tasya pun kembali kepada mereka dengan nampan yang ia bawa sambil tersenyum.


"Maaf gue lama, gue bawa cemilan lagi. Kasian udah pada minta diisi itu toplesnya, hehe," kata Tasya.


"Ah peka banget emang lu, Sya," kata Arka.


Tasya kembali bergulat pada layar laptop.


"Tadi udah gua selesain," kata Viko.


"Oh, o-oke thanks," kata Tasya.


"Lu kenapa?" tanya Viko.


"Kenapa apanya?" jawab Tasya bingung.


"Lu abis nangis ya?" tanya Viko.


"E-enggak kok. Tadi kelilipan aja," jawab Tasya berbohong.


"Iyain aja, biar yang bohong seneng," kata Viko tak acuh dan kembali memasang headset nya.


Tasya tak menjawabnya, karena dia akui, kalau dia berbohong sekarang.


"Eh, Sya, Vik," panggil Niken.


"Apa," sahut mereka berbarengan.


"Lo harus poto juga sama Viko berdua. Kan tugasnya tentang seni photography."


"Berdua?" tanya Viko.


"Ya iya, kita kan tadi udah."

__ADS_1


"Yaudah," kata Tasya.


Dengan terpaksa Tasya mengiyakan. Moodnya sedang tidak baik, mungkin kalau moodnya baik dia tentu akan menolaknya.


"Lebih deket lagi dong," kata Niken.


"Udah deket ih," kata Tasya.


"Kurang, dikit lagi," kata Reza.


"Senyum dong, Sya," kata Sherli.


"Iya, Sya. Biasanya juga lo narsis," kata Sarah.


"Gaya dong, Vik," kata Arka.


"Iya, biasaya lu juga narsis," kata Bagus.


Dengan terpaksa mereka mengikuti arahan teman-temannya itu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Oke, 1, 2, 3."


"Nah, udah bagus," kata Niken.


...~ • ~...


Setelah selesai kerja kelompok, mereka pun pulang. Namun, sebelum pulang Viko malah ikut ke kamar mandi karena sakit perut. Dan teman-temannya memilih untuk pulang duluan.


Tiba-tiba seseorang memasuki pintu. Ternyata itu adalah Jonathan, Papahnya Tasya.


Mood Tasya yang sedang tidak baik bertambah. Dia sungguh sangat membenci orang itu. Dia tak ingin melihatnya untuk saat ini. Tasya bergegas ke kamarnya dan mengambil tasnya.


Saat sampai di bawah ternyata Viko sedang mengobrol dengan Papahnya. Tasya langsung menghampiri mereka tanpa menatap Jonathan.


"Vik, katanya lo mau pulang," ketus Tasya.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Jonathan dengan penuh perhatian.


"Bukan urusan anda." Tasya langsung menarik tangan Viko dan memaksa Viko mengikutinya.


Entah sadar atau tidak sadar. Yang jelas Tasya ingin pergi dari sini. Menjauhi semua hal yang akan memperparah keadaan moodnya. Sementara Viko bingung dan menebak-nebak apa yang terjadi pada Tasya dan orang tuanya.


"Sya, kenapa lu bersikap kaya gitu sama bokap lu," kata Viko menghentikan langkahnya.


"Terlalu panjang buat dijelasin, bawa gue ke mana pun. Sekali ini aja gue minta tolong lagi sama lo," pinta Tasya sambil memelas.


"Oke, tapi lu harus jelasin ke gua. Lu kenapa," kata Viko.


"Yang penting, bawa gue pergi dari sini, gue bener-bener gak ada mood," kata Tasya yang mematung di tempatnya.


Kini giliran Viko yang menarik tangan Tasya untuk memasuki mobilnya. Menggenggam tangan Tasya yang berkeringat dan sangat dingin. Viko tak bisa menebak isi hati Tasya. Dia hanya mengikuti kemauan Tasya untuk membawanya pergi.


Tasya pun duduk dan memasang seatbell nya. Yang dia bisa lakukan hanya menangis, karena dia sudah menahannya dari tadi.


Viko yang melihat Tasya seperti itu hanya terdiam, dia membiarkan Tasya tenang dulu. Setelah Tasya tenang, Viko akan mencoba bicara pada Tasya.


"Kita mau ke mana?" tanya Viko perlahan.


"Ke mana pun, yang jauh dari keramaian," jawab Tasya.

__ADS_1


Viko menganggukkan kepalanya. Mungkin dia akan membawa Tasya ke tempat yang selalu dia kunjungi saat butuh ketenangan.


__ADS_2