Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kembali Ke Surabaya


__ADS_3


Malam ini Tasya tersenyum bisa kembali ke rumah meskipun dia berat juga harus kembali berpisah dengan Niken dan Arka. Mereka sangat membantu sekali kemarin, meskipun Sarah dan Sherli tidak bisa menjadi temannya lagi, sekiranya masih ada mereka berdua.


Amanda masuk ke kamar Tasya membawakan air serta obat untuk adik iparnya itu. Tasya sedikit menyergitkan dahinya, kenapa kakak iparnya melakukan itu? Dia jadi tidak enak.


"Kak, kenapa kakak yang anterin. Ih aku jadi gak enak," ucap Tasya.


Amanda duduk di tepi ranjang dan perlahan tersenyum. "Kenapa gak enak? Kan sekarang aku kakakmu juga, jadi gak boleh ada kata kaya gitu."


"Tetep aja ihh, Kak. Pasti bang Radit yang nyuruh ya? Bentar biar Tasya marahin." Tasya akan beranjak dari kasur, namun Amanda menahannya.


"Engga, Sayang. Aku yang mau, tadi Radit yang mau anter kesini. Tapi mulai sekarang aku aja, aku seneng tau punya adik perempuan," ucap Amanda.


Tasya tersenyum, lebih tepatnya dia terharu. Selain dipertemukan dengan orang-orang jahat, Tasya juga seolah dipertemukan dengan orang baik sebagai gantinya dan Amanda salah satunya.


"Gapapa, kan?" Tanya Amanda.


Tasya mengangguk. "Of course, why not? I'm soo happy."


Amanda tersenyum lalu mengelus pipi adik iparnya yang manis itu. "Mulai sekarang, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku ya. Ada aku, Tante Amara dan Radit yang akan jagain kamu. Walaupun aku cuma kakak ipar kamu, trust me aku udah sayang sama kamu semenjak pertama kali kita ketemu. Jadi jangan sungkan ya?"


Tasya memeluk kakak iparnya itu, kini bertambah satu lagi orang yang menyayanginya. "Makasih ya, Kak. Aku juga sayang sama kakak."


Amanda tersenyum mendengarnya. Radit pernah mengatakan padanya kalau Tasya memang memerlukan sosok ibu, selain itu dia juga takut jika Abangnya meninggalkan dia. Itu kenapa Amanda setuju untuk tinggal di Surabaya dan mengerti posisi pekerjaan serta adiknya. Amanda juga memang penyayang.


"Yaudah, sekarang kamu minum obat dulu. Biar cepet sembuh." Amanda membukakan beberapa obat yang harus diminum Tasya. Sementara Tasya masih memeluk kakak iparnya itu sambil senyum-senyum.


Radit masuk ke kamar Tasya dan melihat adik dan istrinya yang akur. "Apasih peluk-peluk istri orang."


Tasya mendelik. "Kenapa? Gak suka? Gak boleh?"


"Gak."


"Tuh kan, Kak. Abang itu kaya gitu, masa pelit sama adeknya sendiri. Padahal kata kakak aku manis dan menggemaskan," adu Tasya pada Amanda.


"Ngaduan, lagian kamu kenapa sih yang muji dia? Bayi monyet suka kepedean kalau udah dipuji kaya gitu," cibir Radit.


Tasya pun mengambil bantal dan melemparkannya pada Radit. "Apasih abang, bayi monyet bayi monyet. Gara-gara lo Al juga jadi manggil bayi monyet."


Radit tertawa dan menangkap bantal yang Tasya lemparkan. "Loh bener, apa-apaan tuh tadi gelayutan di istri Abang? Persis kaya bayi monyet, kan?"

__ADS_1


Tasya memajukan bibirnya, Abangnya ini memang menyebalkan. "Kak, marahin Abang!"


"Sayang, jangan kaya gitu ah. Kasian adik gemes aku," bela Amanda.


"Wlek!" Tasya meledek ke arah Abangnya, satu langkah lebih unggul sekarang.


"Ngaduan ngaduan," balas Radit meledek.


"Biarin!"


Amanda terkekeh mendengar pertengkaran adik kakak ini. Lalu dia pun memberikan obat pada Tasya. "Minum dulu obatnya, biarin Abang kamu nanti kakak cubit. Habis itu istirahat terus tidur ya. Kan cape habis perjalan jauh."


Tasya pun menerima obat dan meminumnya bersamaan. Amanda pun membantunya untuk minum. Radit yang berdiri melihat mereka jadi merasa senang. Ternyata Amanda sangat menyayangi Tasya, sama seperti dirinya.


Dua puluh menit berlalu akhirnya Tasya sudah tertidur lelap karena efek obat. Amanda menarik selimut dan mengusap kepala adik iparnya itu dengan lembut.


"Kamu kaya nidurin anak tau gak?" Ucap Radit sambil tersenyum.


"Soalnya Tasya gemes, masih anak-anak menurut aku," balas Amanda tersenyum.


"Makasih ya kamu udah sayang sama dia, dia seneng banget kayanya karena sekarang ada kamu," kata Radit.


"Aku juga seneng karena ada dia." Amanda bangkit. Sementara Radit menaruh bantal yang dia pegang lalu mencium kening adiknya lembut.


Setelah itu Radit dan Amanda keluar dari kamar Tasya. Mereka rasanya seperti orang tua muda yang sudah selesai menidurkan anak kalau begini.


...~ • ~...


Keesokan harinya Tasya terbangun di pagi hari. Dia mengerjapkan matanya lalu tersentak kaget saat seorang pria sudah ada di kamar dan menatap wajahnya yang sedang tertidur.


"Aaaallllll, ngagetin!" Teriak Tasya pelan.


Al tertawa melihat ekspresi Tasya yang seperti ini. "Emang gak boleh liat tunangan sendiri tidur?"


"Y-yaa boleh tapi kan aku kaget liat kamu tiba-tiba ada di depan wajah aku, mana deket lagi. Kaya jumpscare," kesal Tasya sembari mencepol rambutnya asal.


"Parah, calon suami sendiri dikatain kaya jumpscare. Kamu pikir aku hantu?" Protes Al.


"Mirip 1112. Lagian ngapain liatin aku tidur? Kamu kaya orang kurang kerjaan banget," kata Tasya.


"Soalnya kamu cantik kalau lagi tidur. Itung-itung membiasakan diri. Nanti kita kalau nikah yang kamu liat pertama kali juga aku," ucap Al.

__ADS_1


"Nikah-nikah, masih lama tau. Aku masih kicik," ucap Tasya.


"3 atau 4 tahunan lagi," peringat Al.


Tasya mendekat ke tepi kasur dan memeluk leher Al karena dia berada di bawah. "Masih lama sayangku, cintaku. gelar dokter dulu, oke?"


"S.Ked deh gimana?" Tanya Al menawarkan kesepakatan.


"Dokter."


"Lamaa, pingin cepet-cepet nikahin Tasya Aurell biar gak ada yang ngambil." Tegas Al.


"Gak ada yang mau ngambil ya Allah. Kalau ada juga aku maunya sama Aldo Prayoga. Yang lain gak menarik." Tasya menangkup dan mengelus pipi Al dengan lembut.


Ahh gemas sekali. Rasanya Al ingin mencium Tasya lagi. Tapi tidak boleh, cukup sekali saja untuk sekarang. Kalau terlalu sering bahaya.


"Yaudah iyaaa, sekarang ayok turun. Kamu belum sarapan, setelah itu minum vitamin. Tiga hari lagi udah masuk kuliah," peringat Al.


"Ih pake diingetin, padahal aku mau menikmati hari-hari libur dengan indah. Haduhh semester 7, kaya berat banget gak sih?" Tanya Tasya.


"Berat, tapi kita hadapin sama-sama. Biar gak terlalu berat, nikmati prosesnya, jangan dipikirin hal-hal yang bikin tertekan. Skripsi itu gak berat kok, kalau kamu patuhi dan simak dospem pasti mudah. Harus semangat ya, cantik?" Ucap Al sembari berdiri dan berbalik menangkup pipi Tasya.


"Kamu kenapa sih suka banget panggil aku cantik?" Tanya Tasya yang malah terfokus dengan kata terakhir yang Al ucapkan.


"Soalnya cewek suka overthingking, insecure. Aku gak mau cewek aku insecure terus ovt, jadi aku harus panggil cantik setiap hari biar kamu sadar kalau kamu emang cantik."


"Kamu bisa gak jangan manis-manis. Masih pagi tau, aku tuh jadi salting," ucap Tasya sembari terkekeh.


"Kenapa salting, kan emang bener cantik. Cewek aku paling cantik, yang suka banyak, tapi yang beruntung aku doang," kata Al bangga.


"Udahlah kamu gombal terus, mending kamu menghadap ke belakang," ucap Tasya.


"Ngapain?" Al pun mengikuti perintah Tasya.


"Jongkok," instruksi Tasya.


Al lalu berjongkok, Tasya tersenyum puas dan langsung naik ke punggung Al sembari mengalungkan tangan di leher Al. "Gendong aku ke bawah dong, Tunangan."


"Manjaa, kecil-kecil gini kamu berat tau," gerutu Al. Tapi meski begitu Al melakukannya.


"Biarin, manjanya sama tunangan aku sendiri bukan sama orang lain."

__ADS_1


"Gak boleh sama orang lain, aku aja!" Kata Al posesif.


Tasya tertawa mendengarnya, entah kenapa dia sangat suka jika Al mode posesif seperti itu. Dia merasa disayang dan amat dicintai oleh Al karena itu.


__ADS_2