Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Menjadi Guru Percintaan


__ADS_3


Setelah selesai menonton, Tasya dan Al kembali mengikuti Zea dan juga Fadil. Namun saat mereka menuruni tangga, tiba-tiba mereka kehilangan jejak keduanya.


"Loh, kok gak ada? Mereka lewat mana?" Tanya Tasya pada Al.


"Tadi lewat sini, orang aku juga liat," ucap Al kebingungan.


Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka dari balik tembok. "Bagus, jadi lo berdua ngikutin gue?" Tanya Zea yang kini menghampiri mereka berdua bersama Fadil.


Tasya dan Al saling menatap dan nyengir kuda seperti tidak ada rasa bersalah. "Engga, gak gitu. Tadi tuh kita apasih Al? Kan mau jalan-jalan gitu ya, terus pas keluar bioskop liat kalian berdua jadi kita rencananya itu?!" Tasya mengeratkan genggamannya pada Al seolah meminta bantuan.


"Rencananya itu kita mau ajak kalian makan bareng! Nah itu!" Lanjut Al.


"Boleh," jawab Fadil.


Al dan Tasya kembali saling menatap, sebenarnya ini bukan bagian dari rencana mereka. Namun tiba-tiba saja batin mereka terkoneksi, sehingga mereka tau apa yang harus mereka lakukan sekarang.


Zea menatap malas ke arah keduanya, dia sudah bosan dengan kencan tidak berguna ini, ditambah harus mengajak kedua adiknya yang mungkin saja semakin mengacaukan hari ini. Namun akhirnya dia mengalah pada pria yang berstatus calon suaminya itu dan kembali diam.


Mereka sudah memutuskan akan makan di mana, jadi Tasya dan Al jalan lebih dulu di depan Zea dan Fadil. Mereka saling melirik, setelah itu tersenyum jahil. "Ini kamu mau aku hilang kah?" Tanya Tasya pada Al.


"Oh iya lupa, maaf ya. Sini deketan, nanti kamu hilang." Al langsung menggenggam tangan Tasya.


"Nah gitu, kamu tuh harus peka gitu loh. Lain kali gak perlu diingetin lagi, masa iya jalan barengan tapi gak gandengan, kaya jalan sama musuh aja," cibir Tasya.


"Iya-iya, maaf."


Zea dan Fadil menelan ludah mereka dengan susah payah, apalagi Zea yang kini merasa geli melihat tingkah kedua adiknya, menyebalkan.


Mereka duduk di salah satu meja cafe dan memesan beberapa makanan. Setelah Zea dan Fadil memesan kini giliran Tasya dan Al.


"Spaghetti bolognese 1, Tenderloin steak medium 1, Sosis bakar 2, minumnya yang satu matcha latte dan yang satunya americano double shot," ucap Al.


Setelah selesai mencatat pelayan pun meninggalkan meja mereka. "Kenapa kamu tau aku mau makan pasta?" Tanya Tasya.


"Emang apa yang gak aku tau dari kamu?" Tanya Al berbalik.


"Oh iya juga."


"Aku selalu perhatiin kamu setiap kita jalan, apa yang kamu suka dan yang ngga. Apa yang paling seneng kamu pesen, apa yang sering kamu lakuin," ucap Al lagi.

__ADS_1


"Kamu jangan bilang gitu bisa gak? Cewek tuh paling suka kalau digituin," kata Tasya penuh penekanan.


"Gapapa biar kamu makin suka sama aku."


"Cewek tuh Al tanpa diminta juga dia bakalan suka sama cowoknya kalau dia buat nyaman. Suka kalau diajak bicara, diperhatiin hal-hal kecilnya, digenggam tangannya, ditatap matanya, dici-"


"Ekhm." Fadil berdeham, mendengar percakapan Tasya membuatnya mengkoreksi diri sendiri. Apalagi soal kencannya hari ini bersama Zea. Harus dia akui juga kalau mereka sangat kaku.


"Dokter kenapa?" Tanya Tasya.


"Ngga, saya gapapa," jawab Fadil sedikit tersenyum.


Tasya dan Al beradu tos di bawah meja, rencananya berhasil. Mereka akan tetap me-roasting pasangan kaku ini agar mereka sadar dan cepat belajar.


Tasya menaruh ponselnya di tengah, untuk apalagi kalau bukan berphoto bersama Al. Mereka melakukannya sampai beberapa kali. Zea menatap aneh pada keduanya, ini memang mereka sengaja pamer kebucinan atau bagaimana?


"Lagi-lagi," kata Tasya.


Tasya dan Al merubah pose mereka, sekekali Tasya mengambil ponsel dan mengambil photo mereka dari dekat. "Ini kayanya folder aku di laptop makin membludak sama foto kita dari kecil sampai sekarang."


"Gapapa bagus, biar ada bahan cerita buat anak-anak kita nanti," kata Al.


"Iyalah, nanti kan aku bisa cerita. Nak, ini mama sama papa waktu ngedate pertama kali. Masa iya sesuatu yang spesial gak diabadikan, kan flat banget," balas Tasya sambil terkekeh.


"Kalian kenapa? Mau diphotoin?" Tanya Al.


"Ngga," jawab mereka berbarengan.


"Gak usah malu-malu, ayok deketan. Biar aku ambilin," kata Tasya sambil mengarahkan kamera ke arah mereka.


Sedikit berdecak karena benar-benar kaku. Namun berusaha membujuk mereka tidak ada gunanya. Akhirnya Tasya mengambil saja seadanya. Ya setidaknya mereka memiliki moment pertama, kan?


"Kak Zea tumben diem aja, biasanya paling juga heboh. Kalau kata Al kaya ayam kena flu burung. Ayok dong bicara-bicara," ucap Tasya.


"Gapapa, emang gak ada yang mau dibicarain aja," jawab Zea sedikit tersenyum.


"Ya ayok kita bicarain banyak hal, kaya misalnya kak Fadil nanya kak Zea gitu. Atau kalian bicarain soal pernikahan juga gapapa, nanti kita bantuin," kata Tasya.


"Semuanya udah aku serahin sama ayah bunda, Sya. Jadi gak ada yang perlu dibicarain lagi. Mending bicarain pernikahan kalian, kapan kalian mau menikah?" Tanya Zea.


"Gua sama Tasya?" Tanya Al.

__ADS_1


"Siapa lagi? Masa iya Daffa sama Tasya," kesal Zea.


"Gimana Tasya aja, selesai koas kayanya. Kamu maunya kapan?" Tanya Al pada Tasya.


"Nanti aja kita bicarain, lagian koas kita juga masih lama. Baru juga beberapa bulan. Kalau direncanain dari jauh-jauh hari yang ada malah kerasa lama. Mending sibukin dulu aja biar gak kerasa," jawab Tasya santai.


"Oh jadi kamu mau cepet-cepet nikah sama aku?" Goda Al.


"Ih emang kamu engga?" Tanya Tasya kesal.


"Tumben ngakuin, biasanya gengsi banget," ucap Al.


"Ya setelah aku pikir-pikir bener juga kata Ayah, jangan ditunda-tunda. Tapi aku lebih gak mau kamu diambil pelakor sih," ucap Tasya jujur.


"Emang diambil siapa?"


"Tuh, yang dektin kamu di rumah sakit siapa sih? Ya itulah, deket-deket terus sama kamu, ngapain juga," cibir Tasya.


"Oh cemburu rupanya, yaudah iya maaf yaa. Gak akan deket-deket lagi kalau bukan karena kerjaan." Al tersenyum lalu mengusap puncak kepala Tasya lembut.


Setelah beberapa saat, makanan pun jadi. Ya apalagi agenda selanjutnya kalau bukan makan-makan. Tasya menyuapkan pasta pada mulutnya, setelah itu mencampurnya dengan sosis bakar. Kebiasaannya adalah selalu menggerakkan kepala ketika memakan sesuatu yang dia suka.


Fadil sedikit tersenyum melihat tingkah Tasya. Dia berpikir mungkin akan senang jika pasangan datenya itu adalah Tasya yang ceria seperti itu. Fadil itu kaku, jadi dia membutuhkan pasangan yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk berekspresi.


Al melirik ke depan, dia melihat Fadil yang menatap Tasya. Oh tentu tidak akan dia biarkan itu terjadi. Selain memang mengajari mereka caranya ngedate, Al tentu ingin membuat Fadil tau kalau Tasya adalah miliknya. Al mengambil tissue dan mengelap ujung bibir Tasya. "Kamu tuh kecil-kecil gini makannya banyak, sampe belepotan."


"Emang kalau banyak makannya kamu malu ya bawa aku makan sama kamu?" Tanya Tasya pada Al.


"Engga malu, tapi gemes liatnya."


"Gaboleh gombal." Tasya melilit pasta di piringnya, perlahan dia dekatkan garpu pada bibir Al. "Cobain."


Al tersenyum dan menerima suapan dari Tasya, setelah itu Tasya membersihkan bibir Al dengan Ibu jarinya. "Enak?"


Al mengangguk. "Enak, kamu harus coba punya aku." Al kini memotong steak dan menaruh beberapa sayuran di garpunya, setelahnya dia menyuapkan pada Tasya dan melakukan hal yang sama seperti yang Tasya lakukan.


"Enakk, makasih," ucap Tasya sambil tersenyum.


"Sama-sama Tuan Putri," balas Al dan kembali melanjutkan makannya.


"Bisa gak jangan bucin depan gue?" Kesal Zea.

__ADS_1


"Jangan iri, lu udah ada pasangan juga. Gak jadi nyamuk, makanya jadi cewek jangan cuek-cuek amat, kasian pasangannya dicuekin habis-habisan," cibir Al.


Zea menghela napasnya, dia tau kalau sekarang adik-adiknya sedang meledek dirinya karena jalan dengan pria kaku. Tapi Zea memang merasakannya sih, Fadil berbeda sekali dengan Daffa. Bahkan mereka berdua sangat bertolak belakang. Kalau begini rasanya Zea merindukan Daffa. Tapi yasudah lah.


__ADS_2