Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
One Month Later


__ADS_3


Sudah satu bulan sejak kejadian itu berlangsung. Tasya sudah bisa melakukan rutinitasnya dengan normal. Meskipun harus berdampingan dengan obat-obatan dan melakukan terapi.


Seperti tadi, Tasya mengerjakan ujian tengah semesternya dengan lancar. Bahkan keluar lebih dahulu bersama Al. Jangan tanya soal Viko, tentunya dia berkutat dengan soal-soal yang membuat kepalanya ingin pecah.


"Gila, pak Darmo kalau ngasih tugas fisika gak ngotak anjir," gerutu Viko.


"Asli gua tobat liat soalnya, keleyengan gini. Butuh paramex 5," timpal Bagus.


"Fisika itu gampang, asal lu tau rumus mau cari apapun tinggal lu ulik itu rumus bakalan ketemu jawabannya," kata Al.


"Ya gampang, Al kalau lu diberkati otak yang baik dan benar. Otak gua disuruh itung uang kembalian jajan aja udah nge-lag," kata Arka yang sudah terlihat sangat stress.


"Benerr sumpah gue juga mikir keras. Gimana besok matematika? Udahlah gue pasrah," timpal Sherli.


"Bener, kayanya gue harus belajar ekstra deh malam ini buat matematika. Gue gak mau remedial, ngulangnya bikin pusing dua kali," kata Sarah.


"Gini, sebenernya kalian bisa paham kalau kalian suka sama gurunya lebih dulu, kalau kalian udah suka sama gurunya, jalanin pelajarannya juga gampang. Kan kalian gak suka sama pak Darmo," ujar Tasya.


"Ya gimana mau suka orang apa-apa main test soal. Nunjuk ini ditanya soal, dikit-dikit poin. Ah gila lama-lama sama fisika," kesal Niken.


"Apa kabar gua yang pernah dapet minus karena dijelasin beberapa kali tapi gak ngerti?" Reza berucap pasrah.


Al dan Tasya tertawa melihat mereka. Padahal kemarin Al dan Tasya sudah ekstra keras mengajarkan mereka fisika, namun mereka tetap susah dalam mengimplementasikan.


"Heran kenapa Al bisa pinter banget kaya Tasya. Biasanya cowok males malesan kaya 4 curut ini," kata Sherli yang menyindir ke arah Viko dan kawan-kawan.


"Al tuh emang pinter, gue sama dia suka belajar bareng waktu SMP. Suka tuker pikiran juga. Soalnya cita-cita dia jadi dokter," jawab Tasya sambil menyenggol lengan Al yang ada di sampingnya.


"Loh kemarin bukannya lo mau ke UNESA ya, Al. Di Sana gak ada fakultas kedokteran, kan?" tanya Niken.


"Iya gua mau ambil jurusan Fisika tadinya di UNESA. Tapi sayang juga kalau relain cita-cita, jadi gua mau coba UNAIR," jawab Al.


"Gila dia udah mikirin kuliah aja, kita mah boro-boro," kata Bagus.


"Bagus lah kalau dia punya perencanaan matang, tapi kalau gua lebih milih menikmati hidup," ucap Viko bangga pada dirinya sendiri.


"Bener, gak harus sama kaya orang. Jalanin hidup sesuai yang lu mau, yang pasti setiap orang pasti punya perencanaannya sendiri," kata Al bijak.

__ADS_1


"Nah itu maksud gua," timpal Viko.


"Tapi bener sih kita harus punya perencanaan, beberapa bulan lagi udah kelas 12. Pasti harus ekstra usahanya," kata Tasya.


"Gak kerasa ya udah mau kelas 12 lagi. Perasaan kemarin baru masuk," ucap Sherli.


"Iyaa gak kerasa, makanya harus dipersiapkan dari sekarang." Tasya tersenyum ke arah Sherli. Sherli memang terkadang bingung akan melanjutkan hidupnya bagaimana, bahkan dia sering bertanya pada Tasya.


"Yang harus dipersiapkan itu kita habis UTS mau ke Pangandaran. Mending pikirin dulu itu. 10 harian lagi," cetus Sarah.


"Nah betull!! Gak sabarr!!" Niken antusias sekali dengan acara ini.


"Eh btw lo ikut kan, Sya?" Tanya Sherli.


"Gimana nanti, gue udah bayar. Tinggal nunggu izin dari bang Radit sama tante Amara aja." Tasya tersenyum.


"Gampang tar gua urus." Al menepuk nepuk punggung Tasya lembut sambil tersenyum.


...~ • ~...


Tasya kini menatap nisan ayahnya dengan perasaan rindu. Belasan tahun dia membenci ayahnya dan rasa bersalahnya masih bersarang sampai saat ini.


Bunga mawar putih, lambang dari ketulusan dan cinta yang murni. Bunga kesukaan Tasya. Dulu ayahnya selalu memberikan bunga itu setiap Tasya berulang tahun. Meskipun Tasya selalu membuangnya, tapi Tasya masih mengingatnya.


"Papa, gimana kabarnya? Tasya baik-baik aja, jauh lebih baik dari sebelumnya. Maaf ya, Pa. Tasya baru bisa kesini, kemarin-kemarin Tasya harus pemulihan jadi gak boleh kemana-mana. Pa, makasih ya udah ajarin Tasya tentang artinya ketulusan." Tasya mengembuskan napasnya perlahan.


"Iya, Papa tulus banget sayang sama Tasya meskipun Tasya selalu menolak kehadiran Papa da gak perna anggap papa ada di kehidupan Tasya."


"Pa, Tasya udah bisa jalani hari dan lakuin rutinitas kaya biasanya. Emang agak berat, tapi bang Radit sama tante Amara ada sama Tasya. Papa jangan khawatir ya, Tasya bakalan baik-baik aja."


Tasya terkekeh. "Emang ya, Pa. Kita bakalan ngerasa seseorang itu berharga kalau dia udah gak ada, dan itu yang lagi Tasya rasain. Bahkan Tasya belum sempat bikin Papa bangga sama Tasya. Tasya terlalu gak peduli akan kehadiran Papa kemarin."


Tasya mengelus nisan Ayahnya, lalu memeluknya. "Pa, untuk semua yang terjadi kemarin Tasya bersalah. Meskipun semua orang bilang itu bukan salah Tasya. Mungkin selamanya rasa bersalah itu akan tetap ada. Tapi, Pa ... Tasya janji akan melanjutkan hidup untuk kedepannya. Biar bisa banggain Papa di sana. Doain Tasya ya, Pa."


Meski telah beberapa jam di sana, Tasya sepertinya masih belum mau beranjak. Radit melihat Tasya dari kejauhan. Sepulang sekolah tadi Tasya meminta izin untuk keluar, walaupun dia tau Tasya sudah bisa kemana-mana sendiri, Radit tetap khawatir jika terjadi sesuatu pada Tasya. Jadi, dia mengikuti Tasya diam-diam.


"Gua seneng lu bisa deket sama papa, Dek. Walaupun emang terlambat, tapi gua selaku berharap lu bisa kaya gitu sama papa. Papa juga pasti seneng liat putri kecilnya bisa manggil dia papa," gumam Radit penuh haru.


Tasya tersenyum, dia harus pulang sekarang. Dia takut membuat Radit khawatir kalau dia terlalu lama pergi.

__ADS_1


"Pa, Tasya pulang dulu ya. Nanti kalau ada waktu Tasya kesini lagi. Papa, Tasya sayang sama papa. Sayang banget. See u." Tasya mencium nisan ayahnya lalu beranjak pergi meninggalkan pemakaman.


...~ • ~...


Tasya memasuki gerbang rumahnya, terlihat seseorang sedang bertengger di motor sport merah miliknya, siapa lagi kalau bukan Viko Narendra.


Tasya menghampiri Viko perlahan. "Viko? Dari kapan lo di sini?"


"Baru, ko belum lama. Nih, lu lagi mau kue balok lumer, kan?" Tanya Viko sambil menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan kresek berisi satu kotak kue balok.


"Tau dari mana?" Tasya heran, pasalnya dia hanya memberitahu pada Radit tadi.


"Biasa orang dalem," jawab Viko santai. Memang abangnya ini bikin malu saja.


"Makasih ya, iya tadi gue emang bm banget mau kue balok," ucap Tasya terkekeh.


"Sama-sama, gimana sekarang keadaan lu?  Udah mendingan? Kita jarang bicara kaya gini lagi, jadi gua baru bisa nanya sekarang," kata Viko.


"Udah, ya lebih baik daripada kemarin-kemarin. Gapapa santai aja kali, itu kan berkat kalian juga. Terutama lo dan Al." Tasya tersenyum lembut, senyum yang selalu Viko rindukan belakangan ini.


"Nanti kalau lu bisa, kita jalan mau gak?" Tanya Viko ragu.


"Boleh, anytime. Tapi gue juga harus bilang kalau mau kemana-mana sama bang Radit. Kalau mau nanti bilang aja," jawab Tasya.


Viko menurutnya lucu, karena sangat terlihat jelas kalau sekarang dia sedang gugup. Terlihat sedikit lebih manis dari Viko as bad boy sekolah.


"Serius?" Tanya Viko memastikan.


Tasya mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. Lagi pula dia juga sudah lama tidak jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama seseorang, bahkan dengan Al pun mereka hanya di rumah.


"Mau masuk dulu? Gak enak ngobrol di luar gini," kata Tasya.


"Engga, di rumah ada bokap jadi gua harus cepet-cepet balik," tolak Viko.


"Yaudah, jangan lupa belajar. Besok ulangan matematika, jangan sampe kaya tadi," peringat Tasya.


"Iya kalau inget, yaudah gua balik dulu ya. Jangan lupa minum obat." Viko mengusak rambut Tasya pelan, dan Tasya pun tertawa kecil saat Viko melakukannya.


Viko pun melajukan motornya dengan rasa bahagia. Akhirnya dia bisa mendapatkan senyum gadis itu lagi setelah sekian lama. Iya, senyum yang hanya dia berikan hanya di depan Viko.

__ADS_1


__ADS_2