
Pagi ini Tasya dan Viko pergi ke sekolah bersama. Rutinitas yang akhir-akhir ini mereka lakukan sebagai seorang pasangan. Meskipun Viko harus rela mengubah kebiasaannya dari yang sering telat menjadi si rajin yang pagi-pagi buta sudah berangkat ke sekolah.
"Mana helm?" Tanya Tasya sembari merapikan rambutnya.
"Udah jangan dirapihin mulu, udah cantik juga," kata Viko yang memasangkan helm pada Tasya.
"Aku belum mandi aja kata kamu cantik," ucap Tasya mencubit lengan Viko.
"Hahaha itu bener, suka banget kamu cubit-cubit aku. Dikira pacarnya bantal kali ya," kata Viko seraya mengelus lengannya.
"Ini tuh namanya love language, physical attack hahahaha," jawab Tasya tertawa.
"Dih kalau itu namanya kekerasan, kekerasan terhadap pacar harus dikasih hukuman," kata Viko.
"Gabisa, kamu gak bisa hukum aku Viko. Karena aku yang biasa hukum kamu. Tumben kan Viko Narendra pakaiannya rapi gini?"
"Yaitu karena kamu ngomel terus, daripada kena amuk pacar mending nurut aja dah. Gak mau cari perkara," ucap Viko pasrah.
Tasya menepuk-nepuk helm Viko. "Bagus, pinter-pinter. Jadi anak yang baik ya."
"Iya, Bu suwun," balas Viko. Keduanya pun tertawa, memang hubungan mereka banyak kerandoman yang selalu muncul di saat mereka sedang bersama.
"Yaudah ayokk naik, nanti telat," ucap Viko seraya mengulurkan tangannya.
"Iya ayokk." Tasya pun memegang tangan Viko lalu naik ke atas motornya. Setelah siap Viko pun melajukan motornya ke luar gerbang.
Saat di depan pagar Tasya melambaikan tangan ke arah Al dan Bunda Diana yang sedang membantu Al bersiap.
"Al, Bunda, Tasya duluan ya!" Ucapnya setengah teriak sambil melambaikan tangan penuh senyum pada keduanya.
"Iya hati-hati yaa, sayang," balas Diana sambil tersenyum
"Yoo hati-hati. Vik jangan ngebut!" Ucap Al.
"Aman." Viko pun mengacungkan jempolnya dan kembali melajukan motornya.
Diana menatap ke arah Al, Al yang sadar pun kini membalas menatap Bundanya. "Kenapa, Bund?"
"Itu siapa, Al? Yang nganter Tasya sekolah?" Tanya Diana pada putra bungsunya itu.
"Pacarnya Tasya, Viko. Kenapa, Bund?" Tanya Al balik.
"Ohh gapapa, Sayang. Yaudah berangkat gih, nanti telat. Yang rajin belajarnya ya," ucap Diana sambil mengelus rambut putranya.
"Iya, Bund. Yaudah kalau gitu Al berangkat dulu. Bunda hati-hati di rumah. Assalamualaikum," pamit Al seraya menyalami Bundanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," balas Diana.
Al pun melajukan motornya dan bergegas ke sekolah. Diana menatap punggung putranya sambil tersenyum. Dia baru menyadari kalau Al sekarang sudah tumbuh dewasa dengan pikiran yang dewasa juga.
...~ • ~...
Di kelas hari ini sedang ricuh pasalnya guru matematika memberikan mereka 50 soal dalam buku. Yang benar saja? Mengerjakan 5 soal saja rasanya ingin mengumpat apalagi ditambah 0 di belakangnya.
Tasya kini sudah beralih tempat duduk di samping Al. Sesekali mereka berdebat mempermasalahkan jawaban yang tidak sinkron antara mereka.
"Al lo coba itung lagi, gue itung hasilnya segini loh," kata Tasya.
"Ya itu udah gua bilang, cari bentuk yang paling sederhana. Itu belum tuntas punya lu," jawab Al.
"Masa sih, emang bisa diperkecil lagi?" Tanya Tasya.
Al pun mencoret-coret buku Tasya. Gadis itu memperhatikan tulisan-tulisan yang Al tulis. Lalu dia nyengir bagai orang tanpa dosa. "Oh iyaa hehehe."
Al hanya menggeleng melihat kelakuan Tasya, terkadang dia kukuh pada pendirian dan akan terus begitu sampai dibuktikan kebenarannya.
"Eh sumpah kalian udah nomor 20 lagi, nomor 10 aja belum beres anjir," kata Sherli yang duduk berhadapan dengan mereka.
"Jangan lo samaain otak bego lo sama mereka, jelas jauh," timpal Sarah polos.
"Yeuu sialan, tapi emang bener sih. Gila sih bisa-bisanya 50 soal. Dikira otak kita mampu apa?!" Kesal Sherli.
"Udah mending lo kerjain daripada ngedumel, Sher. Gue aja yang baru isi satu soal anteng-anteng aja," kata Niken santai.
Al dan Tasya hanya tertawa melihat tingkah mereka. Sedangkan Viko dan Kawan-kawannya masih setia di tempatnya. Bermain game tanpa mempedulikan tugas yang memungkinkan mereka akan dihukum jika tidak mengerjakan.
"Portal woi portal," kata Arka yang fokus dengan gamenya.
"Anjir lu ngapain bego, bunuh diri!" Kini Viko yang mengumpat.
"Backup gua woii tolong," teriak Bagus.
"Anjir tunggu gua ke sana, babi banget lu ah nub!" Reza mengubah posisi duduknya, dia tida bisa diam saat fokus bermain.
Sherli yang melihat kelakuan ajaib mereka hanya menghela napas panjang. "Bisa-bisanya ya cowok lo sama temen-temenya begitu."
"Udah biarin aja, percuma gue omongin juga gak mempan," jawab Tasya pelan.
"Masa sih, Sya? Gue kira dia nurut banget sama lo," kata Sarah.
"Gue gak masalahin soal prinsip dan hal yang mau dia lakuin atau engga. Yang terpenting dia bertanggung jawab sama masa depannya sendiri. Selebihnya gue cuma bisa ingetin dan suport dia terus," kata Tasya bijak.
"Iya sih, yaudahlah biarin aja," celetuk Niken.
__ADS_1
Mereka pun kembali fokus pada tugas mereka dan membiarkan Viko dkk fokus pada dunianya.
Sejenak Viko melengkungkan senyumnya, meskipun pelan tapi dia tau apa yang Tasya ucapkan. Itu kenapa dia sangat menyayangi Tasya. Hanya Tasya yang bisa mengerti apa yang dia inginkan. Memberi nasehat tanpa memaksa. Dan Viko sangat butuh itu.
...~ • ~...
Kopi Tentang Rasa. Setelah pulang sekolah Tasya dan Viko memilih untuk minum kopi bersama. Tasya sangat suka menikmati es kopi di sore hari, menurutnya itu akan membuat perasaannya membaik setelah berkutat pada rutinitas yang melelahkan.
"Aku denger loh tadi di sekolah kamu bilang apa sama Sherli," ucap Viko tiba-tiba.
"Ngomong apa? Aku sama dia ngomongin banyak hal," kata Tasya bingung.
"Yang waktu ngerjain soal matematika, yang kamu belain aku." Viko melipat tangannya di meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Tasya.
"Oh itu, aku gak belain kamu. Aku cuma jelasin kalau gak semua hal bisa aku atur meskipun kamu pacar aku." Tasya membalas tatapan Viko seraya meminum kopinya.
"Iya sama aja belain." Viko menatap Tasya dalam.
"Karena aku percaya kamu, apapun yang kamu lakuin udah pasti ada resikonya dan kamu tau itu. Yang terpenting kamu bisa bertanggung jawab sama masa depan kamu. Karena kamu tau apa?" Tanya Tasya.
"Apa?" Tanya Viko balik.
"Karena kehidupan yang sebenernya itu adalah saat kita lulus dari sekolah. Mau kerja ataupun kuliah mereka udah jauh lebih menuntut dari ini. Makanya, tanpa aku ingetin kamu harus udah punya pemikiran ke sana ya?" Tasya tersenyum lembut
Viko menggenggam tangan gadis itu dan mengelus punggung tangannya. "Iya, makasih ya kamu udah ngasih tau aku tanpa memaksa apapun. Aku beruntung banget bisa punya kamu."
"Iyaa, aku juga beruntung punya kamu, Sayang," jawab Tasya lembut.
"Apa? Sekali lagi coba bilang," kata Viko yang kaget saat Tasya memanggilnya dengan panggilan yang romantis.
"Sayang," ucap Tasya lagi. Wajahnya kini sudah bersemu merah dan Viko gemas dibuatnya.
"Ohh jadi sekarang udah berani ya manggil aku sayang?" Goda Viko.
"Jangan digodain, gak jadi bilang nihh. Skip - skip!" Protes Tasya.
"Ettt gak bisa di skip, ya lagian kamu tiba-tiba bilang gitu kan kaget. Bikin orang seneng aja. Oh gini ya rasanya dipanggil sayang sama pacar sendiri? Ahh jantung aku gak aman." Viko memegang dada kirinya dan dibuat sedrama mungkin.
"Alay."
Tasya tertawa melihat tingkah Viko. Sekarang Viko selalu memenuhi hari-harinya dengan kebahagiaan dan Tasya bersyukur akan hal itu.
"Sya, ayok kita bareng-bareng selamanya," ucap Viko.
"Jangan bilang gitu, berani-beraninya kamu bicara soal selamanya. Padahal umur manusia aja gak ada sepersekian persen dari umur bumi. Yang bener itu, ayok kita jalanin semuanya dalam waktu yang lama, sampai kita nemu titik bahagia," ucap Tasya sambil tersenyum.
"Ayokk, kita jalanin semuanya ya. Kalau ada masalah kita bicarain, kalau kamu kesel sama aku jangan dipendem. Aku sayang banget sama kamu, Sya." Viko mengeratkan genggamannya pada tangan Tasya. Tasya tau kalau sorot mata Viko memancarkan ketulusan, dia juga tau kalau Viko bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
__ADS_1
"Aku juga sayang kamu, Viko Narendra," Tasya pun tersenyum.
Mulai hari ini mereka berjanji satu sama lain akan selalu menjaga hubungan mereka berbekal kepercayaan satu sama lain. Hari ini juga adalah awal mula harapan-harapan yang bermunculan tanpa mereka sadari.