
Genggamn tangannya memang singkat, tapi membekas sampai ke hati.
Malam ini adalah acara api unggun, semua kelompok tampil untuk menampilkan yel-yel masing masing. Tasya tertawa sejenak melihat beberapa yel-yel yang ditampilkan. Sekiranya suasana hatinya itu tidak terlalu buruk saat ini.
Viko ikut tersenyum saat melihat Tasya tertawa sepertu itu. Viko pun menghampiri Tasya.
"Fokus banget lu," kata Viko yang sudah berada tepat di samping Tasya.
"Seru tau, tahun kemarin kelompok gue juaranya," ucap Tasya bangga.
"Kelompok gua juga waktu itu kagak kalah bagus," kata Viko.
"Grup cilok?" Tasya tertawa puas saat mendengarnya.
"Yeuu kenapa njir, bagus kan?"
"Bagus tapi abstrak, iyalah isinya lo," kata Tasya meledek.
"Wah parah penghinaan ini terhadap Viko," ucap Viko tak terima.
"Ngakak aja gue sih." Tasya kembali fokus melihat yel-yel mereka
Viko pun mengubah fokusnya pada penampilan mereka, tanpa sadar Viko menggenggam tangan Tasya saat penampilan akustik salah satu kelompok.
Tasya melihat ke arah genggaman tangan mereka, sejenak jantungnya berdebar lebih kencang, tanpa melepasnya sadar atau tidak Tasya kembali fokus menonton.
Tengah malam menjelang. Setelah acara api unggun dan selesai rapat, mereka bersiap untuk pos to pos malam.
"Alumni dan MPK di pos terakhir aja, biar kita penutup," kata Ghibran.
"Oh oke, siap," kata Tasya.
"Kita duluan ke pos ya, jauh juga jaraknya," kata Rein, dia adalah salah satu alumni juga.
"Oh iya, boleh kak."
Mereka pun meninggalkan Chandra, Viko, dan Tasya.
"Yang lain udah ke pos masing-masing. Lo nanti jam 12 tepat tiup aja peluitnya. Gue sama Viko di pos hampir terakhir, jadi harus ke sana sekarang," kata Tasya.
"Sip."
Sebenarnya ada rasa tak rela dalam diri Chandra. Tapi, sebagai korlap dia yang harus mengkondisikan semuanya.
Karena Sinta sakit, jadi Tasya terpaksa harus turun tangan menjaga pos.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol untuk menghilangkan sepinya tengah malam ini.
"Jadi lu udah ikut OSIS dari zaman SD?" tanya Viko.
"Ya gitu, bahkan temen gue bilang kalau gue pengabdi OSIS, wkwkw," jawab Tasya sambil terkekeh.
"Salut gua, tapi sayang .... "
"Sayang apa?"
"Lu tuh cerewet!"
"Nah karena cerewetnya itu yang bikin gue jadi ketua OSIS."
"Kalau gua sih mending nikmatin masa SMA gua dengan tanpa ikut organisasi kaya gini."
"Tapi, dari organisasi ini lo bakalan tau arti temen yang sebenernya," kata Tasya.
"Termasuk Chandra?"
__ADS_1
"Dia itu sebenernya baik, ya cuma gitu. Keras kepala," kata Tasya.
"Lu gak ngaca banget kalau ngomong," kata Viko sambil terkekeh.
"Ihh gue gak sekeras dia maksudnya," kata Tasya.
"Pacar lu emang gak marah kalau lu sibuk di organisasi?"
"Pacar?" Tasya tertawa mendengar pertanyaan Viko.
"Kok lu ketawa? Gua kan gak ngelawak?"
"Lagian lo nanyain pacaran. Gue mah anti pacaran. Tapi kalau mencintai diam-diam gue jagonya, emangnya lo," kata Tasya.
"Emang gua kenapa?"
"Play-boy!"
"Sotoy lu."
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Terus kita ngapain sekarang? Gua gak paham kenapa harus ada beginian," kata Viko.
"Nunggu kelompok yang bakalan kita tanya-tanya lah."
...~ • ~...
Sudah beberapa kelompok yang memasuki pos Tasya dan Viko. Namun, sebelum acara selesai semua panitia disuruh kembali ke arena camping yang jaraknya cukup jauh dari tempat pos mereka.
Tasya sudah mulai tak karuan. Karena dia yakin, ada yang tidak beres sekarang.
"Semuanya saya minta berbaris!" teriak Arga.
Semua peserta berbaris.
Panitia pun ikut berbaris. Karena kesal terpaksa Tasya bertanya.
"Izin bertanya," kata Tasya sambil mengangkat tangannya.
"Silakan," kata Radit mempersilakan.
"Maaf, kenapa acara dihentikan secara sepihak tanpa sepengetahuan saya?"
"Masih tanya kenapa?"
"Siap, karena saya tidak mengerti maksud Akang dan Teteh menghentikan acara ini kenapa," jawab Tasya hormat.
"Coba liat anggota kamu, Tasya. Memakai jaket, ber-selfie saat pos to pos. Kalian seharusnya mencontohkan yang baik kepada adik kelas kalian," bentak Radit.
"Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?" tanya kak Riska.
"Saya," ucap Tasya, Viko, dan Chandra sambil mengangkat tangan mereka.
"Kalian angkatan ter-buruk yang saya tau," bentak Arga.
"Instruksi, apa hak Akang untuk menilai kami? Bahkan Akang sama sekali tak memperhatikan progres OSIS dari tahun lalu?" bantah Tasya.
"Bahkan kamu berani mengelak depan kami?" tanya Resdi yang salah satu alumni juga.
"Maaf, kami bukan mengelak. Tapi kami membantah tuduhan. Kami memang melakukan kesalahan, dan itu di luar kendali kami," lanjut Chandra.
"Bukan berarti satu kesalahan, kalian memberhentikan planning yang telah kami buat," lanjut Viko yang masih berusaha sopan.
"Kamu bukan bagian dari OSIS, dan kamu sebenarnya tidak berhak mengatakan itu," kata Arga.
"Gua masih berusaha sopan sama lu, karena menghargai Tasya. Tapi lu bener-bener kelewatan. Gua, bukan OSIS. Tapi gua tau rasanya bikin planning capek-capek dan sekarang dirusak gitu aja! Apa susahnya sih tinggal tegur! Gua heran sama pemikiran lu semua, lu semua lebih tua dari gua, tapi otaknya dikit," kata Viko santai.
__ADS_1
"Anda bisa lebih sopan?!" bentak Radit.
"Maaf, seperti kata dia-" Viko mengantungkan ucapannya.
"Gua bukan OSIS, jadi gua bebas berpendapat di sini," lanjut Viko.
"Instruksi, untuk semua yang anggota saya lakukan. Saya sebagai Ketua Pelaksana meminta maaf atas ketidak nyamanan Akang dan Teteh semua. Saya hanya menyayangkan sikap sepihak kalian, tanpa melihat jerih payah kami."
"Dengan mudahnya kamu minta maaf? Liat adik-adik kalian! Kedinginan! Sementara teman kamu!" Arga melirik ke arah Vio dan Aul.
"Saya tau, maka dari itu saya meminta maaf atas mereka."
"Kamu–"
"Stop! Kalau lu masih mau nyalahin Tasya! Gak usah bawa urusan pribadi sama masalah OSIS. Bukannya semua disini harus profesional?"
Semua alumni mulai tau arah pembicaraan Viko. Karena tak bisa dipungkiri, kalau Arga yang mengacaukan dan mengusulkan semua kekacauan ini.
Arga mulai terpancing emosinya. Sebelum meledak-ledak Radit langsung membawa Viko dan Arga untuk menyelesaikannya di belakang.
Tasya masih mematung di sana. Semua tak ada yang berbicara.
"Apa ada yang ingin kalian sampaikan kembali pada kami?" tanya Tasya yang menahan kesalnya.
Semua tidak ada yang berbicara, termasuk alumni dan MPK.
"Terima kasih atas partisipasinya. Jika kalian bisa melanjutkan, silakan. Jika tidak, kami bisa melanjutkannya sendiri. Terima kasih." Tasya langsung berbalik.
"Panitia, semua kembali ke pos masing-masing. Kecuali Vio dan Aul."
Saat ini, tersisa Vio dan Aul. Tasya menatap mereka intens.
"Gue udah bilang kan sama kalian, kenapa kalian malah mancing keributan?" tanya Tasya.
"Maaf, Sya. Kita dingin, jadi kita pake jaket," jelas Vio.
"Kita suruh peserta pake jaket? Enggak, 'kan?"
"Maaf, Sya," kata Aul.
"Terus kenapa kalian selfie?"
"Lo kan tau, kita kaya gimana."
"Tapi kondisinya gak tepat, Ul. Kalian bisa ngerti gak sih!"
"Kita minta maaf," kata Vio.
"Nanti kita omongin lagi, balik ke pos kalian," kata Tasya.
Vio dan Aul pun meninggalkan Tasya. Tasya seperti dibuat frustasi dengan semuanya. Ketika dia sudah melakukan yang terbaik, tapi ada saja yang membuatnya cacat.
Tasya menuju tenda utama, di sana ada guru-guru yang bertugas.
"Maaf, Pak. Acaranya jadi kaya gini," kata Tasya pada Pak Taufik.
"Bukan salah kamu, jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Karena bapak tau, kamu sudah berkerja semampu kamu untuk mendapatkan yang terbaik," kata Pak Taufik.
"Tapi acaranya, Pak."
"Gak ada yang salah, semuanya berlanjut lagi kan? Ini yang bapak sering bilang, dalam organisasi tidak boleh berpacaran atau membawa masalah pribadi kedalamnya," kata Pak Taufik.
"Iya pak, Tasya ngerti," kata Tasya.
"Yasudah, kembali bertugas. Jika sudah, siapkan pelantikan untuk besok," perintah Pak Taufik.
"Siap, Pak," kata Tasya menyanggupi.
__ADS_1
Tasya kembali bertugas. Berharap dia dapat melupakan kejadian ini. Sebenarnya dia kesal, sangat kesal. Tapi mau bagaimana pun dia harus menerima resiko dan menerima kalau tidak ada yang sempurna dalam hal apapun.