
Pagi ini semua murid di SMA Veteran mendapat anugrah. Pasalnya guru-guru sedang mengadakan rapat sekolah dan mereka mendapatkan kelas kosong tanpa tugas.
Seperti biasa, anak OSIS seperti tidak diberi rehat karena harus berkumpul di ruangan sesuai perintah Chandra. Mereka sedang melakukan perencanaan untuk mengadakan pekan olahraga guru yang akan di lakukan Minggu depan, tentunya mereka sebagai panitia.
Chandra merasa sepi tanpa kehadiran Tasya. Berdebat dengan Tasya adalah hal yang dia rindukan. Tak hanya Chandra, tapi semua anggota pun merasakannya. Mereka merindukan Tasya, meskipun cerewet tapi dia bisa membangun suasana ini lebih asik.
"Keadaan Tasya gimana ya? Apa kita gak ke rumah Tasya aja?" tanya Ayu.
"Tapi Viko bilang Tasya butuh ruang dulu. Dia aja baru kemarin ketemu Tasya lagi," ucap Aul.
"Lo tau dari mana?" tanya Vio.
"Tadi pagi gue tanya. Gue gak nanya gimana-gimana sih. Tapi emang kayanya kita belum bisa liat keadaan Tasya," ucap Aul.
Chandra terdiam, dia merasa turut andil karena membuat kondisi Tasya semakin memburuk. Tak ada yang tau kalau semuanya berawal dari pertemuan hari itu.
"Chan, lu kenapa?" Tanya Ivan.
Chandra mencoba mengembalikan fokusnya dan memperhatikan perbincangan mereka.
"Ya kenapa? Gua gapapa," kata Chandra.
"Menurut lo sekarang kita baiknya gimana?" tanya Ayu yang rupanya sedari tadi bertanya kepada Chandra.
"Biar dia pulih dulu. Takut kalau kita dateng malah bikin kacau. Gua bakalan pantau kondisinya, kalau udah tepat baru kita ke sana. Sementara semuanya bisa gua handle, kita saling backup aja. Sampai Tasya bisa kembali lagi buat ngurus OSIS," tutu Chandra.
"Iya sih gue setuju," ucap Linda.
Dan semuanya pun mengangguk tanda setuju, mereka hanya berharap kalau Tasya bisa secepatnya pulih dan kembali berkumpul bersama mereka.
Sementara di kelas Sherli, Sarah dan Niken sedang mengaduk-aduk makanannya. Mereka tampak tidak berselera makan. Bagus, Arka dan Reza sedang memainkan pulpen mereka dan Viko sedang asik sambil memutar-mutar ponselnya.
"Kangen Tasya," rengek Niken.
"Samaa, gue juga kangen Tasya," ucap Sarah sambil memeluk Niken.
"Gak ada dia tuh sepi banget. Biasanya kalau sama Tasya, ada aja gitu yang dia ceritain. Walaupun kadang dengerinnya sampe kepala mau pecah karena kebanyakan," kata Sherli.
"Iyaa, kapan ya Tasya sembuh." Niken tampak semakin murung sekarang.
"Vik, kita boleh ke sana gak?" tanya Sherli sambil setengah berbisik.
Viko dan ketiga temannya pun menggabungkan meja mereka, seperti akan mengadakan diskusi di gedung DPR.
"Kaya mau gosip aja lo sampe bikin meja begini," dengus Sarah.
"Lu emang mau genggong si Rosa julidin Tasya?" Tanya Bagus.
"Ya iya juga sih." Sherli menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi keadaan Tasya gimana?" tanya Sarah.
"Hmmm gini," ucap Viko sambil melipat tangannya serius.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Niken.
"Hmmm bentar, gini-gini." Viko menyatukan kedua telapak tangannya di meja dengan wajah yang serius.
"Gimana?" tanya Reza.
"Hmmm—"
Arka menggeplak kepala Viko sekenanya dan dihadiahi ringisisan Viko sambil memegangi kepalanya.
"Sakit anjir, lama-lama gua geger otak kena geplak mulu."
"Bacot! Cepet anjirr gimana, dari tadi ham hem ham hem mulu," kesal Sherli.
"Tasya butuh penanganan psikiater," ucap Viko dengan nada yang dibuat sepelan mungkin.
"Hah?? Separah itu?" tanya Sarah.
"Iya, kemarin liat bang Radit juga kaya orang asing. Gua belum tau lagi keadaannya, tapi yang pasti hari ini bakalan ada konsultasi sama psikiater," tutur Viko.
"Gue takut deh kalau Tasya keadaanya kaya gitu, gue pingin ke sana." Niken kini memeluk sarah sambil merengek seperti anak kecil.
"Gue juga sama kali, tapi kalau liat bang Radit aja kaya gitu, apalagi kita?" tanya Sherli.
"Dia depresi berat kayanya makanya gitu," kata Reza.
"Bisa jadi, jelas lah siapa yang gak trauma kalau kita jadi Tasya," sambung Bagus.
"Gue aja gak bisa bayangin kalau di posisi Tasya," gumam sarah.
"Iya tapi jangan sekarang, tunggu dia stabil dulu dah. Sampai kita juga tau Tasya kenapa, terus kita juga tau gimana cara bikin dia bangkit sama bantu dia sembuh," cetus Viko.
"Oke deh gua setuju gitu, daripada kita ke sana sekarang malah buat semakin rumit," kata Sherli.
"Hmm oke deh." Niken terlihat pasrah, benar apa kata mereka. Lebih baik menunggu Tasya stabil terlebih dahulu.
...~ • ~...
Viko keluar dari ruang guru, dia k esana untuk mencatat semua tugas yang sudah dilewatkan Tasya. Dia tau sekali kalau Tasya selalu meminta list tugas dan catatan ketika dia masuk sekolah. Memang orang aneh, di saat semua murid sangat tidak menyukai tugas, Tasya malah dengan giat mengerjakannya.
Beberapa guru bertanya mengenai keadaan Tasya, tapi Viko tidak bisa memberikan secara detail, karena menurutnya itu privasi Tasya. Lebih baik kalau keluarga Tasya yang menjelaskan.
Sekolah ini ramai, tapi jika tidak ada Tasya rasanya seperti tidak ada kehidupan. Dia jadi teringat ketika selalu berdebat dengan Tasya, Tasya yang mengejarnya dengan sapu keliling sekolah, ocehan Tasya, semuanya. Iya, Viko merindukan semuanya.
"Gua kangen lu," ucap Viko perlahan.
"Hah? Gue?" tanya seorang pria di hadapannya.
"Anjir, gausah ngadi-ngadi. Bukan lu!" Viko yang kaget langsung menjauh.
"Ihhhh Viko kenapa sih, php banget," ucap Indra manja.
Viko tidak sadar kalau dia sekarang berhenti di hadapan Indra, si penari jaipong sekolah. Mendengar Viko yang mengucapkan rindu padanya, membuat Indra salting. Sudah banyak yang tau kalau Indra adalah pria kemayu di SMAVEN. Viko yang merasa geli pun langsung berlari meninggalkan Indra.
"GELII, NEPI LU!" Viko berlari dan mencoba menetralkan pikirannya. Bisa-bisanya dia berpapasan dengan dia.
__ADS_1
Sementara Indra hanya cemberut dibuatnya.
Viko berjalan ke arah kantin, dia butuh penyegaran setelah kejadian barusan.
"Eh si Tasya itu depresi kali ya, makanya gak masuk-masuk?" tanya Nadin kepada Rosa.
"Katanya sih sakit, tapi semoga aja sakit jiwa," ucap Rosa sambil tertawa.
"Ih tapi kasian anjir kalau sampe depresi," tungkas Dera.
"Ya gue sih gak peduli, bagusnya sih gak usah masuk lagi. Muak aja liatnya," ungkap Nadin.
"Bener, gue juga muak banget sama dia. Udah sok cantik, sok pinter, sok paling paling deh. Jijik," cedih Rosa.
"Bener-bener, si paling wah banget ahahaha." Dera tertawa sampai akhirnya Viko menyumpal mulutnya dengan jambu yang di petiknya di belakang sekolah tadi.
"Dia emang cantik, emang pinter, paling waw juga," sela Viko.
"Apasi Viko, lo nyerobot aja kaya bemo," kesal Rosa.
"Oh satu lagi, dia lebih baik dari kalian," lanjut Viko tanpa mempedulikan Rosa.
"Vik, lo dipelet apa sih sama si Tasya? Bukanya dulu lo gak suka banget ya sama dia?" tanya Nadin.
"Lu tau kenapa dia lebih baik daripada kalian? Dia beretika, berempati, dia juga gak pernah iri dengki jadi orang. Gua tanya, Tasya lakuin apa sih ke kalian? Perasaan sibuk mulu gangguin dia. Kalau lu pada iri, jadi lebih baik lah dari Tasya. Bukan makin buruk. Satu lagi, perbanyak ngaca." Viko meninggalkan mereka yang melongo karena ucapan Viko.
Jujur saja Viko sudah jengah melihat kelakuan mereka yang tidak memiliki hati nurani. Semoga saja Tasya bisa menghadapi mereka jika sudah kembali ke sekolah.
"Vik," panggil Chandra dari belakang. Dengan spontan Viko membalikkan tubuhnya.
"Oy," sahut Viko.
"Gua mau bicara," ucap Chandra.
"Tinggal," kata Viko santai.
"Gimana keadaan Tasya?"
"Gak baik, mending daripada lu nanya keadaan dia, lu tolong kasih tau keadaan Tasya ke nyokap lu. "
"Kenapa?"
"Lu sebenernya punya tanggung jawab buat meluruskan hal yang salah, Chan. Dan seharusnya lu tau kalau kelakuan nyokap lu itu salah."
"Nyokap gua udah sadar, tapi dia nunggu Tasya siap."
"Bro, kalau emang nyokap lu mau perbaiki semua. Minimal dia berusaha bicara sama tante Amara atau bang Radit," sinis Viko.
"Vik, jaga ya omongan lu, lu gak tau apa-apa," geram Chandra.
"Apa yang gak gua tau? Gua yang gak tau atau lu yang terlalu tutup mata?"
"Denger, nyokap gua udah nemuin Tasya minggu lalu. Tapi apa? Dia belum bisa nerima, dia perlu waktu. Satu lagi, jangan pernah lu menjudge nyokap gua, karena lu itu cuma orang asing!" Chandra yang sudah dikuasai emosi lebih memilih untuk meninggalkan Viko, dia tidak ingin jika dia nantinya di luar kendali.
"Kapan bu Lidya nemuin Tasya?" gumam Viko perlahan.
__ADS_1
Daripada bingung dengan isi pikirannya, Viko memilih untuk kembali ke kelas.