
Beberapa bulan berkutat dengan laporan dan ujian, kini mereka bisa menikmati liburan akhir semester. Karena 1 minggu lagi adalah acara Pernikahan Radit dan Pertunangan Tasya, mereka memutuskan untuk pergi 2 minggu sebelumnya.
Para orang tua tentunya di mobil yang berbeda. Tasya dan Al membawa semua teman-temannya ke Bandung dengan mobil Alphard milik Al, selain untuk acara pertunangan keduanya, mereka juga ingin sekalian liburan di sana.
Tasya menyuapkan roti sandwich pada Al, pria itu pasti capek karena sudah beberapa jam menyetir. "Pelan-pelan aja, lagian kita gak dikejar deadline."
"Tetep aja gua mau cepet-cepet sampe, Sya," balas Al lalu mengunyah makanannya.
"Lo kaya gak pernah ke Bandung aja, kenapa coba harus cepet-cepet. Harusnya mereka yang gak sabaran," balas Tasya sembari menyuapkan rotinya lagi.
"Bukan gitu, tapi cape juga kalau kelamaan di jalan," ka Al sembari menerima suapannya lagi.
"Yaudah tar kita tukeran nyetir gimana?" Tawar Tasya.
"Apaan, gak boleh. Biar gua aja. Masa iya biarin my baby nyetir. Jangan." Al tersenyum dan mengusap puncak rambut Tasya dengan lembut.
"Kalian gak bisa romantisan dikit apa? Lu gua, lu gua. Emang kalian mau kalau nanti nikah anaknya manggil lu gua juga ke mama papanya?" Tanya Yoda.
"Yaaa susahhhh, orang udah kebiasaan kaya gitu," timpal Tasya.
"Emang harus aku kamuan? Selagi komunikasi lancar ya mau pake apapun ya oke oke aja," timpal Al.
"Tapi serius, kalian harus mulai belajar pake aku kamu deh, bener kata Yoda. Kebayang kalian punya anak, pas keluar dia bilang 'hey whatsup bro! Gua lahir ke dunia neh papa bro, mama bro' Hahahaha," sahut Angkasa.
"Anjir gak gitu konsepnya," kata Al sembari tertawa.
Memang kelakuan mereka ada-ada saja, Tasya tersenyum. Sebenarnya ada rasa cemas kembali ke kota itu. Kota di mana dia dilahirkan dan menyimpan banyak kenangan. Bukan takut membuatnya goyah, tapi ada tempat di mana dia pernah jatuh dan terpuruk karena seseorang yang dia sebut mama. Entah bagaimana kabarnya sekarang Tasya tidak pernah tau.
"Rencana awal lo di Bandung mau ngapain, Sya?" Tanya Belva.
"Ke makam papa paling," jawabnya.
__ADS_1
"Gak ada niat liat nyokap ke penjara?" Tanya Al, ya bagaimana pun Tasya masih mempunyai orang tua, bukan? Sebagai calon pendampingnya kelak Al harus mengingatkan hal baik untuk Tasya.
"Gak tau, gimana nanti aja kalau mau," jawab Tasya sambil tersenyum. Tujuannya ke sana adalah untuk hal yang baik, jadi dia hanya berharap kalau semuanya berujung baik.
Monik tau kalau situasinya menjadi canggung seketika. Jadi dia berusaha mencairkannya. "Oh terus mau kemana lagi, Sya?"
"Nemuin temen-temen gue di Bandung, kaya Sarah, Sherli, sama Niken. Udah lama banget gue gak ketemu mereka. Nanti gue ajak kalian ketemu mereka," ucap Tasya sambil terkekeh.
Sebenarnya mereka tidak keberatan, tapi mendengar perlakuan teman-temannya pada Tasya membuat mereka juga kesal. Padahal menurut mereka Tasya adalah orang yang sangat baik dan menjalankan perannya dengan baik juga.
"Oh iya nanti kita juga ada fitting baju, gaun sama jas kalian juga udah on proses. Gue gak sabar deh jadi pager ayu sama kalian di acara abang gue. Setelah itu nanti ganti look ke setelan pertunangan. Agak lucu sama gemes gitu," lanjut Tasya.
"Bukan lucu, tapi cantik, lo pasti bakalan keliatan cantik banget nanti," ucap Belva.
"Kalian juga pasti cantik sama ganteng banget, nanti gue ajak kalian keliling Bandung, mau nunjukin temen gue yang oke ini hahahaha. Banyak tempat-tempat yang rekomen buat kalian tau. Cuma gak ada pantai aja," ucap Tasya
"Ya gapapa, di sana banyak wisata alam, kan?" Tanya Angkasa.
Tasya mengangguk, tentu. Apalagi Tasya memang senang menjelajah, dia akan membuat mereka senang di sana. "Iyaa, pokoknya kita bakalan seneng-seneng dulu sebelum kita skripsian."
Setelah hampir 18 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Bandung. Mereka sampai pada sore hari sekitar pukul 4. Tasya menuruni mobil saat mereka sampai di pekarangan. Rumah ini memang tidak seluas di Surabaya, namun banyak kisah di dalamnya.
"Gila, banyak pepohonan ya di sini. Bagus banget," ucap Yoda yang melihat ke sekitar rumah Tasya.
"Dingin juga, ini gue doang yang ngerasa apa gimana?" Tanya Monik.
"Ya emang di sini suhunya lebih rendah dari Surabaya, kayanya kalian harus beradaptasi 2 minggu ke depan," ucap Al sambil terkekeh.
"Terus rumah lu di sini di mana?" Tanya Angkasa.
"Dari luar gerbang sini ada jalan kan, ya di seberangnya itu rumah gua," jawab Al.
"Bener-bener jodoh, pantesan aja kalian deket banget. Gue gak sabar mau keliling Bandung, tapi nanti kan ya? Gue cape banget pingin rebahan," kata Belva.
__ADS_1
"Ya udah, ayok masuk. Yang lain belum sampe karena mereka mau ke WO dulu katanya. Bentar." Tasya berlari ke sudut taman, kebiasaan dia bersama Radit adalah menyimpan kunci cadangan di sana. Untungnya lagi rumah ini rutin dibersihkan.
Tasya membuka pintu rumahnya. Aroma yang tidak pernah berubah, teh bercampur dengan kopi. Sangat menenangkan, ayahnya selalu suka aroma seperti ini, ah dia jadi merindukan ayahnya.
Saat masuk mereka sudah disambut oleh photo keluarga Tasya, memang terlihat formal sekali. Karena dulu Tasya hanya menganggapnya sebuah pencitraan. Susunan dan tata letak yang rapi. Memang tidak salah sih, ayahnya adalah arsitektur yang lumayan ternama, tentu setiap rumah yang mereka huni ditata dengan sedemikian rupa.
Mereka memutuskan untuk menginap di satu rumah saja, tentunya di rumah Tasya. Karena mereka juga harus membantu persiapan pernikahan Radit. Lagi pula kamar di sini ada banyak, jadi mereka bisa memilih untuk tidur di mana saja.
"Kalian mau tidur di mana aja boleh, di sana kamar tamu semua atau mau tidur sama gue juga boleh yang cewek," ucap Tasya sambil menunjukkan lorong kamar.
"Ntar deh kalau mau tidur sama lo gue naik ke atas," balas Belva.
"Yaudah gue ke kamar dulu ya naro barang," pamit Tasya yang dihadiahi anggukan oleh yang lainnya.
Perlahan, Tasya membuka knop pintu kamarnya. Hiasan yang masih serba pink dan ungu dan juga bergaya putri kerajaan, Tasya jadi merasa kalau dirinya dulu sekanak-kanakan itu. Wanginya pun masih sama, wangi parfum lamanya. Entah kenapa bisa bertahun-tahun tetap seperti ini.
Tasya duduk di ranjang dan mengambil bingkai photo yang masih tertata rapi di mejanya. Sherli, Sarah, dan Niken. Jujur saja dia merindukan mereka. Pokoknya secepatnya dia harus bertemu dengan mereka.
Monik dan Belva berkeliling. Mereka masuk ke kamar Tasya, benar apa yang Tasya ceritakan. Kamarnya memang dibuat seperti princess.
"Gue kira lo bohong kalau kamarnya like princess," ucap Monik.
"Engga, emang kaya gini. Dulu gue bisa habisin berjam-jam di kamar karena saking nyamannya, ya gitu deh," kata Tasya sambil terkekeh.
Belva melihat bingkai yang Tasya pegang. "Lo kangen banget sama mereka ya?"
"Hmm, gimana pun juga kita bertahun-tahun habisin waktu bersama. Gak semudah itu gue lupain mereka. Ya sama kaya kalian aja. Tapi bedanya malah kalian sekarang yang lebih deket." Tasya tersenyum dan menyimpan kembali photonya.
Dia mengeluarkan sebuah photo booth bersama Monik, Belva, Al, Angkasa dan Yoda. Perlahan dia memasukan photo itu kedalam sebuah bingkai kosong yang selalu dia simpan di laci. "Lengkap deh kamar gue."
"Kenapa sih manis banget ini anak?" Monik dan Belva memeluk Tasya. Mereka tidak habis pikir kalau Tasya akan se peka itu kalau mereka cemburu.
"Hahahaha, gue tau kalian cemburu. Jadi udah gue siapin dari kemarin," ucap Tasya.
__ADS_1
Mereka pun tertawa. Sudah bertahun-tahun mereka bersahabat tidak mungkin tidak mengenal satu sama lain. Mereka pikir Tasya hanya akan menjadi tokoh cerita yang Al selalu ceritakan, tapi ternyata Tasya sekarang menjadi tokoh tambahan dalam kehidupan mereka.