
Tasya pun memasuki ruang OSIS, sementara teman-temannya menunggu di lapangan sambil bermain gitar. Perlahan dia melangkahkan kaki ke Arah Vio dan Aul yang ada di sana sedang membereskan beberapa berkas.
"Welcomeback Ibu Ketos," sambut Vio dan Aul sambil memeluk Tasya.
"Makasih yaa kalian, gimana OSIS lancar?" tanya Tasya pada keduanya.
"Aman, lo gak usah pikirin apapun semuanya terkendali," jawab Vio.
"Ini anak-anak pada kemana?" Tasya keheranan karena tidak ada orang selain mereka bertiga di sana. Biasanya ada materi hari ini untuk para anggota OSIS baru.
"Oh kita di lapangan sekarang mereka lagi ganti baju pake baju olahraga, jadi gak materi di dalem," jawab Aul.
"Oh gitu, yaudah ayok kita ke sana juga. Udah lama gue gak ketemu mereka," ajak Tasya.
"Udah baikan emangnya?" tanya Vio memastikan.
"Aman, yukk!" ajak Tasya sekali lagi.
Mereka bertiga pun menuju ke lapangan, dilihat Ayu, Yudish dan Ivan sedang menjelaskan materi. Sinta, Linda, dan Riana membawa beberapa ember berisi balon kecil. Sementara Chandra entah kemana.
"Chandra kemana?" tanya Tasya.
"Oh dia izin tadi, katanya kurang enak badan," bohong Aul.
"Ohh gitu." Tasya hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa tidak bermasalah dengan Chandra jadi dia pikir kalau semuanya baik-baik saja.
Tasya tersenyum, dia jadi ingat dulu saat dia pertama kali masuk OSIS dan kakak kelas membuat permainan seperti ini. Dia bahkan menjadi pemenangnya bersama Vio, karena permainannya dibentuk perkelompok.
"Eh dulu kita menang ya, Sya," kata Vio bangga.
"Iyaa, dulu kita berdua sekelompok," balas Tasya.
"Aaaaaa Tasyaaaa," kata Ayu yang menyapanya dari depan sana.
Tasya pun melambaikan tangannya sambil tersenyum. Semua orang tampak ceria hari ini, membawa energi positif sekali untuk Tasya.
"Oke ini permainannya individu, kalian bakalan dipasangin balon di kaki kiri kalian dan kalian harus pertahankan balon kalian seperti nyawa. Nanti kalian harus saling targetin balon lawan buat diinjek. Kalau balon kalian pecah, kalian langsung out ya dan yang bertahan sampai akhir itu dia yang menang," jelas Yudish.
"Oke siap, Kak!" semuanya antusias untuk mengikuti permainan ini.
Mereka takjub, karena Yudish bisa berbicara sepanjang itu. Sungguh keajaiban dunia.
"Boleh ikut gak?" tiba-tiba Viko menghampiri anak-anak OSIS.
"lu mau ikutan?" tanya Ivan.
"Boleh gak? Gua sama temen-temen gua gabut kalau cuma liatin kalian," ucap Viko.
"Boleh masuk barisan aja," kata Ayu ramah.
"Asikk jadi OSIS sehari," kata Niken senang.
"Yayyyy," teriak Sherli dan Sarah sambil berlari.
Mereka pun mengikuti instruksi masuk ke dalam barisan.
"Oh iya, karena Ketua OSIS kita udah kembali ke sekolah, semua kakak OSISnya juga ikut yaa. Jurinya cuma kita bertiga," kata Ayu.
"Dan lu juga ikut." Yudish menunjuk Tasya sambil tersenyum jahil.
"Gue?" tanya Tasya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lu juga, sebagai pemenang game ini tahun lalu, gak mau pertahanin?" tantang Ivan.
"Oke siapa takut." Tasya pun menyimpan jas OSISnya di DPR dan memasuki barisan. Mereka sudah dipasangi balon di setiap kakinya.
__ADS_1
"Oke permainan kita mulai ya!" seru Ayu.
"Siappppp," teriak mereka bersamaan.
"Oke ya 1 ... 2 ... 3!" Ayu berteriak, semua berhamburan dan menghindari satu sama lain.
"Aaaaaa, yah pecah!" teriak salah satu dari mereka.
"Ahaahaa mau kemana lu?" Bagus menghalangi jalan Sarah.
"Eh jangan macem-macem lo, anjirrrrr awasss," kata Sarah yang mencoba kabur dari Bagus.
Dan ....
Dorr! Balon Sarah berhasil diinjak Bagus. Lelaki itu menertawakan Sarah sampai terbahak-bahak. Sementara Sarah kesal dibuatnya. Sarah menahan Bagus agar dia di tempatnya lalu berteriak kepada salah satu anak OSIS.
"Dekkk cepett injek balon dia, buru teteh bantuin," kata Sarah bersemangat. Terlihat anak itu seperti sedikit takut untuk mengikuti perintah Sarah.
"WOYYY CURANG LU AH, lepasin gua, Sar!" teriak Bagus.
"Gak bisa, cepet sini dek injek aja gapapa gak usah takut kan ada teteh," ucap Sarah menyemangati.
"M-maaf ya, Kak," cicit gadis itu sambil menginjak balon Bagus. Setelah itu dia berlari menjauhi Bagus dan Sarah yang tertawa karena berhasil membalaskan dendam pada bagus.
"Ah curang lu, kesel," gerutu Bagus.
"Ahahahahah lo gak tau aja kalau gue dendaman," ejek Sarah.
Mereka pun menepi karena sudah sama-sama kalah. Kini giliran pertarungan sengit antara Arka dan juga Sherli.
"Ett mau kemana?" tanya Arka.
"Oh gitu ya lo, batal pdkt nih!" ancam Sherli.
"Anjing, kok bawa-bawa pdkt sih?" protes Arka.
perintah Sherli.
"Anjir, yaudah nih ah," Arka menyodorkan kakinya dan Sherli pun menginjak balon milik Arka. Sherli tertawa puas sampai dia tidak sadar kalau Viko menginjak balon miliknya juga.
"Mampus mati lu berdua," ejek Viko.
"VIKO BABIIIII!" teriak Sherli kesal.
"Emang ya karma datangnya cepet hahahaha," kata Arka sambil terbahak.
"Anak setan," kesal Sherli.
Arka menertawakan Sherli yang sudah terlihat bete karena Viko. Sementara Sherli menahan emosi sambil mengatur napasnya karena lelah berlari. Mereka pun menghampiri Sarah dan Bagus yang sudah di pinggir lapangan dengan anggota OSIS lainnya.
"Itu Niken sama Reza ngapain dah anjing idiot," tunjuk Arka dan mereka pun melihat ke arah Reza dan Niken yang terdiam seperti diskusi di tengah lapangan.
"Ini diinjek kan?" tanya Niken.
"Iya keknya, gua lari aja dari tadi," jawab Reza.
"Eh iya diinjek, tuh liat yang lain," kata Niken.
"Yang balonnya pecah menang apa mati?" tanya Reza.
"Mati lah." Niken berusaha menginjak balon milik Reza, namun Reza menjauhkan kakinya.
"Kok ngincer punya gua, kita kan tim," kata Reza.
"Oh iya." Niken tertawa.
Dan ... Dorr! Balon mereka berdua pecah akibat ulah anak OSIS.
__ADS_1
"Permainannya individu, Kak. Ahahahaha," kata mereka sambil tertawa meninggalkan Reza dan Niken.
"Yah mati." Niken mengerucutkan bibirnya.
Arka dan yang lainnya tertawa geli melihat kelakuan Niken dan Bagus.
"Anjir bisa-bisanya mereka begitu," kata Bagus.
"Udah gua bilang idiot," kata Arka lagi.
"Hehhh kalian buru kesini udah mati," panggil Sherli.
Niken dan Reza pun ke pinggir lapangan, terlihat masih ada beberapa orang di tengah lapangan yang masih berkejaran. Termasuk Viko dan Tasya, keduanya tampak aktif untuk mencari korban.
Tanpa sadar kini hanya tersisa Viko dan Tasya. Mereka saling menatap sengit, Tasya berlari mengejar Viko dan Viko berusaha menginjak balon Tasya.
"Vikoooo sini lo," teriak Tasya.
"Ettt gua yang bakalan menang," kata Viko berusaha menginjak balon Tasya.
"Gak bisaaa gue yang bakalan injek lo duluan," ucap Tasya yang membalas menginjak balon Viko, namun mental.
"Ahhh sayang mental," ejek Viko sambil menahan kedua tangan Tasya.
Tasya terus berusaha menginjak balon Viko namun tenaga Viko lebih kuat darinya.
"Keuwuan macam apa ini anjirr," kata Reza.
"Sumpah mereka kenapa kaya pacaran," timpal Sarah.
Viko sudah menargetkan balon Tasya dengan tepat, lalu saat dia akan menginjak balonnya ....
Viko malah menyerahkan diri kepada Tasya.
"Nih, injek lah punya gua," ucap Viko sambil tersenyum manis kepada Tasya.
Tasya menatap Viko, senyumannya membuat jantung Tasya tidak aman. Namun, dia tentunya tidak akan menghilangkan kesempatan ini. Tasya pun menginjak balon Viko hingga pecah.
"Yess gue menang," kata Tasya kegirangan.
"Manis banget mereka berdua," gumam Sherli.
"Kenapa lu mau juga?" tanya Arka.
"Apasih jelek," ketus Sherli.
"Pemenangnya Tasyaaa!!" ucap Ayu meneriaki.
"Gila ya juara bertahan," kata Ivan sambil tos dengan Tasya.
Tasya pun terlihat senang, sekali lagi Viko yang membuat Tasya tersenyum hari ini. Viko pun mengacak rambut Tasya pelan.
"Selamattt," ucapnya.
"Makasih kayanya, karena lo yang ngalah," kata Tasya.
Viko hanya menganguk kecil, dia salting sekali di depan Tasya seperti ini. Tanpa disadari dari sudut lapangan Chandra ikut tersenyum karena melihat Tasya bisa tertawa. Dia yang merencanakan ini semua, tapi dia tidak bisa ikut di sana karena demi kesehatan Tasya. Chandra akan memberinya ruang dulu sebelum dia bisa benar-benar bicara empat mata dengan Tasya.
Setelah selesai, mereka pun ber-photo bersama. Kegiatan rutin yang sering dilakukan setelah kumpul agar bisa diposting di instagram dan tentunya menjadi kenang-kenangan.
Tasya tersenyum simpul, dia bahagia sekali hari ini. Meskipun cukup sulit, namun orang-orag disekitarnya mempermudah itu semua. Semuanya membantu Tasya agar bisa kembali menjalani hari-harinya seperti biasa dan mereka yakin kalau Tasya akan cepat sembuh jika terus dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
"Kita semua sayang kak Tasya," ucap mereka sambil memeluk Tasya, mereka mengelilingi Tasya dan saling memeluk.
"Iya kita sayang lo, Sya," kata Vio.
Sekarang mereka seperti teletubis, berpelukan. Diiringi rasa bahagia karena kebersamaan mereka.
__ADS_1