Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Pengumuman SNMPTN


__ADS_3


Tasya bolak-balik mengecek ponselnya, menatap countdown yang terus berjalan. Sesekali dia menggigit ujung kukunya, menunggu itu tidak enak apalagi menunggu yang tidak pasti. Maksudnya, belum pasti lulus atau tidak.


Beberapa panggilan dari Viko dia abaikan, panggilan dari Radit di bawah sana jiga dia abaikan. Pokoknya dia akan langsung keluar jika sudah mengetahui hasilnya.


30 detik lagi dan saat itu juga jantungnya semakin tidak karuan. Rasanya dia ingin melarikan diri saja sekarang. Perutnya sakit, keringat dingin, mual, batuk, semuanya menjadi satu.


"Gila 30 detik, tadi mau cepet-cepet sekarang malah kaya gak mau buka aja rasanya," gumam Tasya.


Waktu tepat pukul 15.00, dia mencoba memberanikan diri untuk membuka hasil pengumumannya. Tasya menutup matanya rapat-rapat, saat dia membuka matanya ....


"Ah sial pasti servernya ngebug," geram Tasya.


Drrrt ... Drrttt


Ponsel Tasya berbunyi, ternyata itu panggilan dari Al. Tasya ingin menanyakan sesuatu dan akhirnya mengangkat panggilan dari Al.


"Al lo udah tau hasilnya?" Tanya Tasya.


"Belum, ngebug servernya. Katanya coba beberapa menit soalnya banyak yang akses," jawab Al dari seberang sana.


"Gue deg-degan tau, pokoknya kalau gue lolos. Gue langsung teriak di jalan sambil loncat-loncat," tekadnya.


"Oke gua juga, deal?" Tanya Al.


"Oke deal, tapi kalau gue gak lolos. Bakalan diem aja di kamar gak mau keluar," ucap Tasya.


"Aduh gue sakit perut ini," gerutu Tasya.


"Tenang-tenang. Gua aja ini ambil makan indomie. Lu tuh terlalu dipikirin. Santai aja, kalau kita gak lolos, kita daftar SBM."


"Tapi gak bisa gue tuh, udah overthinking duluan tau. Gue malah udah mikir gini. Gimana kalau gue gak lolos SN terus gak lulus SB, abis itu seleksi mandiri juga gak lolos, terus Swasta juga gal lolos ujian saringan masuknya? Gimana?" Oceh Tasya.


"Yakin dulu, yukk kita coba sekarang. Kita buka bareng bareng," ajak Al meyakinkan. Pikiran Tasya sudah sangat jauh.


"Oke gue hitung, 1 ... 2 ... 3."

__ADS_1


Tasya memberanikan diri membuka pengumuman itu. Tidak ada suara juga dari ponselnya, entah apa yang terjadi pada Al. Setelah mengetahui itu dia terkejut. Tanpa basa-basi dia langsung keluar kamar dan berlari keluar.


Radit dan Amara yang sedang di ruang keluarga pun bingung dan langsung menyusul Tasya. Mereka takut kalau Tasya kambuh atau kenapa-kenapa.


Detik yang sama Al juga keluar dari rumahnya. Mereka saling menatap dengan wajah yang sumringah.


"KITA LOLOS!" Teriak mereka bersamaan.


Tasya dan Al pun bersorak sambil lompat-lompat di jalan. Radit yang melihat ke jalan pun tertawa tapi sedikit malu karena tingkah mereka dilihat oleh orang-orang yang lewat.


"Lu lulus apa? Jurusan apa?" Tanya Al kegirangan.


"Kedokteran, Al. Gue masuk fakultas kedokteran," jawab Tasya gembira.


"SAMA!!!"


Mereka pun berpelukan sambil terus melompat-lompat. Seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah, begitulah ekspresi keduanya. Amara yang melihat itu pun tersenyum bersama Radit. Akhirnya Tasya bisa lega setelah beberapa hari ini stress memikirkan hasil pengumumannya.


"Tante seneng deh liat mereka kaya gitu," ucap Amara.


"Radit juga, tapi Radit dari awal juga udah yakin sih Tasya pasti keterima. Dan sekarang kita bisa fokus buat kedepannya tinggal di Surabaya," kata Radit.


"Iya, Tan. Nanti Radit coba cari kampus di sana. Mulai sekarang Radit akan berusaha ekstra keras buat kebahagian Tasya."


"Iya itu harus, Tante bangga sama kamu, Dit."


Radit pun mengangguk. Kedepannya dia dan Tasya akan memulai hidup yang baru di Surabaya. Meninggalkan beberapa luka lama yang tercipta di kota ini.


Bahkan sampai saat ini dia dan Tasya belum pernah menemui Lidya di penjara. Luka yang tercipta begitu menyakitkan, sehingga Radit tidak mau peduli lagi pada orang yang di sebut mamanya itu.


...~ • ~...


Tasya menatap nisan Ayahnya sambil tersenyum. Ditemani Al, dia memang sudah bertekad kalau lulus akan langsung menemui Ayahnya.


"Paa, Tasya lulus SNMPTN. Tasya juga bakalan menuhin keinginan papa buat tinggal di Surabaya dan bantuin bang Radit. Papa bangga gak sama Tasya?"


"Papa tenang aja ya, meskipun kita jauh nanti Tasya bakalan sering kesini. Bakalan sering-sering pulang ke Bandung. Tasya gak akan tinggalin papa gitu aja di sini," lanjut Tasya.

__ADS_1


"Sya, Om Jo pasti bangga liat lu udah ada di posisi ini," ucap Al perlahan.


"Iyakah?" Tanyanya Ragu.


Al melirik ke arah Tasya yang sudah meneteskan air matanya. Al tau, kalau kini air mata Tasya adalah air mata kebahagiaannya. Al mengelus punggung Tasya lembut membuatnya agar lebih tegar.


"Jelas, Om Jo pasti bangga sama lu. Putri kecilnya sebentar lagi bakalan jadi dokter. Itu cita-cita bokap lu yang gak pernah kesampaian dan sekarang lu wujudin impian beliau," ucap Al.


Tasya mengangguk dan memeluk nisan Ayahnya. Rasanya dia rindu sekali, dulu dia jarang atau bahkan tidak pernah memeluk ayahnya seperti ini.


"Dan sekarang bokap lu pasti lagi meluk lu balik. Dia seneng karena anaknya perlahan berjalan menuju masa depannya. Makanya lu harus lebih rajin, lebih sering doain nya. Biar bokap lu seneng ya, Sya." Al mengelus rambut Tasya perlahan.


"Iya, Al gue janji bakalan ngelakuin hal terbaik dalam hidup gue. Biar nanti gue bisa nunjukin seragam dokter gue ke papa," kata Tasya sambil tersenyum ke arah Al.


"Pinter, yaudah taburin dulu bunganya gih. Sama air doanya," kata Al.


Tasya pun mengangguk, mereka berdua menaburkan bunga di makam Jonathan. Tidak lupa menyiramnya dengan air doa. Tasya hari ini begitu senang bisa ke sini dengan membawa kabar bahagia.


"Ayok kita pulang," ajak Tasya yang beranjak dari tempat duduknya.


"Lu duluan gih, sekalian beli eskrim di depan gerbang sana," ucap Al seraya memberikan dompetnya pada Tasya.


"Tapi lo mau ngapain di sini? Tanya Tasya heran.


"Gapapa, ada yang mau gue bilang aja ke Om Jo. Rahasia lu gak boleh tau," jawab Al cepat.


"Main rahasia-rahasiaan." Tasya memajukan bibirnya.


"Engga-engga, gua mau berdoa. Disuruh sama kakek gua. Nih mau gak? Jarang-jarang gua kasihin dompet gua dengan suka rela," tawar Al lagi.


"Yaudah, berdoa yang bener." Tasya mengambil dompet Al dan berlalu meninggalkan Al di tempat itu. Tentu moment ini tidak boleh disia-siakan. Menguras dompet Al adalah kebahagiannya.


Al kembali duduk di samping makan Jonathan. Perlahan dia mengeluarkan kalung liontin miliknya. Kalung yang diberikan oleh ayah dan bundanya.


Al menghela napasnya, sambil menatap liontin itu. "Om, ini Al. Om Ingat kalung ini, Kan?"


"Di depan Om sekarang, Al mau bilang. Kalau Al akan berusaha menepati janji Al sama Om. Entah apa yang terjadi kedepannya Al gak tau. Tapi, kalau kesempatan itu datang pasti bakalan Al tepatin. Om jangan khawatir Al bakalan langgar itu, Al cuma menunggu waktu yang tepat."

__ADS_1


Al menatap liontin itu, dia tidak pernah memakainya. Saat mendapatkannya pun Al selalu menyimpannya di kamar, tapi ini sudah saatnya Al mulai menepati janjinya pada kedua orang tuanya dan juga pada Jonathan.


Al memasangkan kalung itu di lehernya. Al tersenyum dan bangkit dari tempatnya. "Al pamit dulu ya, Om. Assalamualaikum."


__ADS_2