
Membiarkan Tasya tenang adalah hal yang pertama kali harus dilakukan. Keadaannya tadi kacau sekali. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Perlahan dokter mengambil tempat duduk sambil membawa catatannya. Menanyakan beberapa hal yang Tasya rasakan dan Tasya pun bisa menjelaskannya meskipun sedikit kesulitan. Mencatat semua keluhan Tasya penting untuk observasi selanjutnya di tahap psikiater. Agar Tasya bisa segera ditangani.
Dokter keluar ruangan setelah berhasil mendapatkan beberapa jawaban dari Tasya. Ya, keadaan Tasya bisa lebih parah jika dibiarkan terlalu lama.
"Dari hasil konsultasi saya dengan pasien, belum bisa kita pastikan. Tapi saya melihat tanda-tanda seperti, trauma, anxiety, dan halusinasi. Saya sudah membuat surat rujukan untuk ke psikiater. Agar pasien mendapatkan penanganan yang lebih serius dan tepat," ucap Dokter sambil memberikan map berisi lembaran hasil rekap kondisi Tasya kepada Amara.
Amara menerima berkas itu, perlahan dia mencoba memahami apa yang terjadi pada Tasya.
"Apakah penyakitnya berbahaya, Dok? Apakah Tasya bisa melakukan aktivitas seperti biasanya?" tanya Amara.
"Tergantung kemauan pasien, oleh sebab itu harus ditangani dengan segera dan sebagai keluarganya harus mensuport pasien agar bisa melalui pengobatannya dengan baik," tuturnya.
"Ah begitu, baik. Akan secepatnya kami bawa Tasya ke psikiater. Terima kasih atas bantuannya, Dok," ucap Radit.
"Baik, kalau begitu saya pamit dulu. Tasya nanti sore sudah bisa di bawa pulang ke rumah." Dokter pun tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Tan, saran Viko kemarin bisa dipertimbangkan? Viko khawatir kalau Tasya bisa lebih parah dari ini," ucap Viko.
"Saran apa?" tanya Radit tak mengerti.
"Nyokap gua punya kenalan psikiater, bisa dipanggil ke rumah. Takut kalau Tasya justru semakin tertekan kalau kita bawa ke klinik psikiater," ucap Viko.
"Boleh lu aturin buat besok? Dokter bilang, semakin cepat ditangani, bakalan semakin baik buat Tasya." Radit sedikit memohon kepada Viko.
"Boleh, nanti coba gua aturkan untuk besok pagi, Bang. Sekarang lu biarin Tasya dulu, setelah dia stabil lu coba deketin dia perlahan," ucap Viko sambil menepuk pundak Radit menguatkan.
"Gua ngerasa bersalah banget, di saat terpuruknya Tasya gua malah egois. Seandainya gua gak marah kemarin, dia gak akan kaya gini." Radit tertunduk lemas.
"Semua orang nyeselnya di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran, Bang. Hahaha canda, jangan pikirin kemarin dah, lu fokus perbaiki dan temenin Tasya aja. Gak akan bisa keulang."
"Makasih ya, Vik. Gua pasti bakalan lakuin ini. Btw, lu gak sekolah?" tanya Radit.
"Oh iya, kamu gak sekolah, Viko? Ini hari Senin, kan?" tanya Amara.
"Engga, demi Tasya. Lagian di sekolah gak ada yang cerewet kaya Tasya berasa sekolah angker dah," ceplos Viko.
"Yeuu, lu pikir adek gua badut apa? Ampe sekolah sepi kalau dia gak ngebadut." Radit menggeplak kepala Viko.
__ADS_1
"Aww anjir sakit. Abang sama adek kagak ada bedanya dah, sama-sama galak," celetuk Viko.
"Yeu, pantes aja Tasya suka kesel sama lu, orang bentukannya kaya gini," balas Radit.
"Maksud lu bentukan apa? Emang lu pikir gua makhluk halus?"
"Tuh nyadar."
"Ehh malah ribut, udah-udah. Sana kalian cari makan, kalian belum makan dari pagi. Biar Tante yang urus kepulangan Tasya nanti sore," ucap Amara.
"Yaudah, yok dah. Gua teraktir," ucap Radit.
"Ayok gas. Tan ke kantin dulu ya. Tiati diculik," ucap Viko asal dan mendapat satu geplakan lagi dari Radit.
Amara tertawa kecil melihat tingkah mereka, sungguh sepertu Tom and Jerry. Tapi dia bersyukur, karena Tasya memiliki orang-orang seperti mereka yang sangat peduli dan menyayangi Tasya di saat seperti ini.
...~ • ~...
Setelah pulang dari rumah sakit, Radit belum berani menemui Tasya di kamarnya. Dia takut jika Tasya akan kembali histeris jika melihat dirinya. Radit sakit melihat Tasya seperti tadi, seperti bukan Tasya yang dia kenal. Bahkan Radit berpikir, lebih baik kalau Tasya marah kepadanya dan silent treatment dibandingkan harus sakit seperti itu.
Radit tak bisa membayangkan bagaimana menjadi Tasya, menghadapi hari dengan kondisi seperti itu. Dia takut kalau itu akan berlangsung lama. Dia takut Tasya tidak bisa kembali ceria seperti dulu.
Sementara Tasya, dia hanya duduk termenung di kamarnya. Kepalanya selalu terasa pusing, tapi tidak seperti tadi. Sekilas, dia merindukan Sherli, Sarah dan Niken. Dia berpikir kalau mungkin besok dia akan kembali sekolah. Meskipun entah kenapa dia merasa tidak bersemangat seperti biasanya.
Setelah selesai merapikan bukunya, dia keluar kamarnya untuk membuat segelas susu. Satu persatu langkahnya menuruni anak tangga, terkadang dia berhenti sejenak. Dia merasa bingung apa yang akan dia lakukan. Lalu setelah selesai dengan pikirannya, dia kembali menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.
Langkahnya terhenti ketika melihat Radit sedang memakan mie instannya. Radit yang merasakan kehadiran Tasya langsung memperhatikannya dengan lekat. Tapi Tasya tidak bereaksi apapun, Radit yang merasa Tasya sudah stabil perlahan berdiri dari kursinya dan menuju ke Tasya.
"Lo udah pulang?" ucap Tasya sambil tersenyum, ya meskipun setitik.
Radit langsung memeluk Tasya erat, menciumi rambut adik kesayangannya. Dia senang Tasya sudah mau bicara padanya.
"Iya gua pulang, gua khawatir sama lu. Gua sayang sama lu, Dek," ucap Radit sambil terus memeluk adiknya.
"Abang," ucap Tasya perlahan.
"Kenapa? Lu butuh apa?" tanya Radit sambil memegang kedua bahu Tasya.
"Maafin gue ya," ucap Tasya.
"Udah lu gak usah pikirin itu lagi ya. Kita lupain semuanya, oke?"
__ADS_1
Tasya hanya mengangguk.
"Yaudah lu mau apa? Makan? Mau dibuatin apa?" tanya Radit.
"Engga gue bisa sendiri," ucap Tasya.
"Biar gua aja, lu jangan ngapa-ngapain dulu."
"Kenapa? Kan gue gak kenapa-kenapa?" tanya Tasya sambil berjalan ke kulkas dan mengambil susu.
Radit pun mencoba membiarkannya, dia tidak mau kalau sampai Tasya diperlakukan seperti orang aneh tau macam-macam.
Tasya menuangkan susu ke gelas. Dia merasa senang karena abangnya sudah pulang, tapi dia tidak bisa mengekspresikan itu semua. Seperti sulit rasanya, dia terkadang bingung harus bagaimana.
"Gak, abang gue udah maafin gue kok," ucap Tasya tiba-tiba.
"Hah, apa dek?" Tanya Radit.
"Lo udah maafin gue, 'kan?" tanya Tasya.
"Iya gua udah maafin lo."
"Tuh denger, abang udah maafin gue," ucap Tasya sambil meminum susunya.
Radit sebenarnya agak merinding karena sikap Tasya. Dia berpikir apakah Tasya menjadi anak indigo? Tapi dia tidak berani menanyakannya, hanya saja terlihat aneh baginya, meskipun tidak separah tadi pagi.
"Sya, habis ini tidur ya. Udah malem, lu juga kan baru pulang dari RS. Harus dijaga kesehatannya."
"Iyaaa abang."
"Gimana sekarang ada yang kerasa pusing gak?" tanya Radit.
"Sedikit tapi gapapa."
"Nanti di kamar minum obatnya ya? Jangan sampe lupa." Radit memperingatkan Tasya.
"Iya nanti diminum. Abang kenapa gak tidur?"
"Nunggu lu aja, lu tidur sana dek."
Tasya hanya mengangguk dan mengambil gelasnya. Setelah itu dia kembali menuju kamarnya. Tangannya terasa sedikit perih, namun Tasya mengabaikannya dan langsung berbaring di kasurnya.
__ADS_1
Dia merasa tidak nyaman dengan dirinya. Dia sering merasakan cemas tanpa alasan dan membuatnya tidak bisa tidur dengan pulas. Rasanya sepeti melayang dan tidak tenang. Sungguh menyiksa hari-harinya.
Jadi yang Tasya lakukan hanyalah berdiam diri, sambil menunggu matanya tertutup sendiri. Itu yang dirasakan Tasya kurang lebih dua minggu ini.