Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Sebuah Perasaan Aneh


__ADS_3


📍Desa Sidokumpul


Setelah acara pembukaan selesai, mulai besok mereka sudah resmi menjadi Mahasiswa KKN di Desa Sidokumpul. Desa ini masih asri dan banyak pesawahan, warganya ramah dan menerima mereka semua dengan sangat baik.


Mereka tinggal di salah satu rumah milik warga yang jarang dihuni. Ya bagusnya seperti itu, jadi mereka tidak perlu menyewa kamar kost dan bisa hemat. Di sana ada 4 kamar, jadi mereka bisa bertiga dalam 1 kamar.


Di saat yang lain sedang di luar, Tasya baru selesai mandi dan keluar dari kamar. Al berdecak dengan pakaian yang Tasya gunakan. Kaos putih bermotif kupu-kupu, dengan celana hot pants pendek. Al menarik lengan Tasya dengan lembut dan memasukannya kembali ke kamar. "Ganti celana lu."


Tasya kaget dan menyerngitkan dahinya. "Lohh kenapa? Ada yang salah kah?"


"Ck, jangan pake hot pants jeans yang sependek itu. Ganti yang selutut gak ada?" Tanya Al.


"Gak ada kalau yang selutut tapi mendekati ada. Tapi ya kan biasanya gue di rumah gini, Al? Emang kenapa sih?" Tasya tidak mengerti.


"Iya kan di rumah, di sini banyak cowok. Baru lu kenal lagi, ganti yang agak panjangan. Gak ada tapi-tapian," peringat Al sembari menutup pintunya.


Al bukannya posesif, tapi dia harus menjaga anggotanya agar tidak terjadi yang iya-iya. Banyak kasus saat KKN yang mengakibatkan putus ditengah jalan dan lain sebagainya. Terlebih dia adalah Tasya, orang yang paling berharga.


Tasya kembali keluar dari kamarnya dan membawa dompet, Al mengangguk saja. Meskipun masih terlihat pendek tapi ini jauh lebih baik. "Udah tuh yaa, jangan marah-marah lagi."


"Iyaa, sini," panggil Al dan menepuk-nepuk tempat sebelahnya.


Tasya pun menurut untuk duduk di sebelah Al dan melihat ke arah Al yang sedang fokus pada laptopnya. Matanya tertuju pada piring-piring makanan yang sepertinya diberikan oleh warga setempat.


"Al ini apa?" Tunjuk Tasya pada salah satu makanan.


"Itu namanya kue tok, kue khas Surabaya. Biasanya di pedesaan kaya gini banyak yang suka buat dan dijual ke pasar," jelas Al.


"Mau ya?" Tanya Tasya yang dihadiahi anggukan oleh Al.


"Gue gak ngerti tau sebenernya pas di tanya sama ibu-ibu tadi. Gue mana bisa bahasa Jawa," ucap Tasya.

__ADS_1


"Lu tinggal bilang gak bisa aja padahal, mereka juga bisa pake bahasa indonesia. Itu kenapa lu jangan malu-malu, biasanya juga percaya diri," kata Al.


"Ya gue gak ngerti bilangnya gimana jadi gue cuma senyum-senyum doang. Kalau dipikir kaya orang dongo, untung aja gue tadi cuma jaga buku tamu," rutuk Tasya pada dirinya sendiri.


Al terkekeh, wajar sih Tasya kebingungan. Sama seperti orang Jawa Barat yang tinggal di pedesaan, mayoritasnya pasti memakai bahasa daerah. Begitu pun di Jawa Timur ini.


"Al, keliling-keliling yu? Kita cari apa gitu jajan," pinta Tasya sembari memakan kue yang dia pegang.


Al menyimpan laptopnya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan pada Tasya. "Ayok."


Tasya jika diiyakan tentu akan kesenangan, dia pun menerima uluran tangan Al dan langsung mengikutinya. Saat mereka keluar, yang lain langsung menatap ke arah mereka.


"Mau kemana lo berdua?" Tanya Belva.


"Gak kemana-mana, mau keliling aja cari makanan. Pada mau ikut?" Tanya Tasya.


Angkasa langsung memberi kode pada mereka agar tidak ikut dengan gelengan kecil dan sorot matanya. Mereka yang di kode pun mengerti.


"Gak, males. Kalau ada makanan ya nitip aja, iya gak?" Tanya Belva pada yang lainnya.


"Oh yaudah, gue sama Al keluar dulu ya. Yuk Al," ajak Tasya sembari menarik tangan Al.


Al dan Tasya pun berlalu, mereka berdua hanya bisa jalan kaki karena tidak membawa kendaraan. Menurut Tasya ini sangat lucu karena biasanya mereka hidup serba mudah dan sekarang sepertinya kalau mau apa-apa mereka harus berusaha dulu.


Di desa ini masih asri, masih banyak sawah dan jalanan pun tidak macet karena jarang sekali motor yang lewat, Tasya senang sekali rasanya di sini. Lebih tenang daripada tinggal di kota besar, walaupun susah sinyal.


"Seneng banget, kenapa?" Tanya Al sambil memperhatikan Tasya yang berada di sampingnya.


"Ya seneng aja di sini tenang gitu bawaannya. Lebih tenang karena gue udah terbebas dari perasaan yang menghantui gue selama setahunan kemarin," jawab Tasya.


"Udah bener-bener move on emangnya?"


"Udah, karena gue udah ngerasa biasa aja. Kaya apa ya, gue udah menuntaskan perasaan gue ke Viko. Menurut gue kalau ucapin nama dia udah gak ada rasanya, itu artinya kita udah move on kan?"

__ADS_1


Al mengangguk sambil tersenyum. "Kenapa cepet banget dewasanya sih, Sya? Perasaan kemarin baru aja kayanya lu jadiin gua tameng saat lu nangis digangguin anak komplek sebelah."


"Gue bakalan selalu butuh lo, Al. Kan udah gue bilang, mau gue udah gede atau belum juga lo bakalan selalu gue jadiin tameng. Soalnya gue ceroboh," ucap Tasya sambil tersenyum.


Mereka berhenti di salah satu tempat jual telur gulung. Tasya senang sekali melihatnya, rasanya sudah lama sekali dia tidak makan makanan SD. Al memperhatikan banyak sekali bujangan di sana yang melirik ke arah Tasya dengan tatapan liar.


Cantik woii.


Pahanya mulus


Itu siapa, gua baru liat dia di desa kita.


Yang di sebelah pacarnya? Kalau bukan gas!


Tasya memilih bodo amat, namun Al yang risih mendengarnya. Dia tidak mungkin juga membuat keributan di desa ini, apalagi tujuan mereka untuk KKN. Al melepas kemeja miliknya dan berdiri di belakang Tasya, perlahan dia mengalungkan lengan kemejanya ke pinggang Tasya lalu mengikatnya agar kemejanya melindungi bagian yang terbuka.


"Pake biar kamu gak kedinginan, Sayang," ucap Al sambil tersenyum.


Tasya agak mengadahkan sedikit wajahnya ke belakang dan menatap Al. "Hah?"


Al melirik pemuda-pemuda itu dengan matanya dan seketika Tasya mengangguk. "O-ohh hehehe i-iya, Sayang. Makasih ya gantengku."


Setelah mengetahui kalau Al pacar Tasya, mereka pun mulai mengalihkan padangannya. Melihat tubuh Al yang cukup atletis juga membuat mereka sedikit bergidik ngeri.


Al mengusap puncak kepala Tasya lembut, lalu kembali menggengam tangannya. Jujur, entah kenapa semenjak Radit membicarakan soal Al beberapa bulan lalu, Tasya selalu merasa deg-degan ketika Al melakukan sesuatu yang menurutnya manis. Namun, dengan cepat dia selalu bisa menyangkalnya. Bagaimana pun mereka bedua bersahabat sejak kecil.


Tasya melirik ke arah pria jangkung yang ada di sampingnya. Wangi khas Al yang tidak berubah, gaya casual yang menjadi andalannya, siapa juga yang tidak akan jatuh hati pada sahabatnya ini? Ditambah dia memperlakukan wanita dengan sangat baik, bahkan Tasya merasakannya


Satu hal yang ada di benak Tasya adalah : Kenapa persahabatan yang terjalin lama dengan Al mendadak membuatnya kepikiran untuk lebih dari hal itu. Apa ini yang dinamakan tidak ada persahabatan yang benar-benar murni tanpa perasaan?


"Gak boleh baper, Tasya," gumamnya dalam hati.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Al lembut.

__ADS_1


Tasya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Dia kembali fokus menatap ke depan, jantungnya berdetak dengan kencang kali ini. Kenapa Al semakin terlihat manis, padahal dia tau kalau Al melakukannya untuk melindungi dirinya dari berandalan. Bukan untuk hal lain.


Al mengulum tawanya. Entah Tasya sadar atau tidak, kini pipinya merona. Membuat Al rasanya gemas ingin menarik pipi Tasya. Semoga saja ini awal yang baik untuk mereka berdua, itu harapan Al.


__ADS_2