Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Fokus Aldo


__ADS_3


"Udah lama ya Tante gak liat kamu, Al. Makin ganteng aja," ucap Amara.


"Oh iya dong, Tan. Al kemarin ikut papa ke Surabaya terus sekolah di sana," kata Al.


"Gimana enak di Surabaya?"


"Panas, Tan. Enakan di Bandung sejuk."


"Lagian gayaan banget ke Surabaya, udah di sini aja. Jauh bener lu main," kata Radit yang menyambung obrolan mereka.


"Al tuh seneng lah di Surabaya, orang dia udah jadi anak hits sana, dikerumunin banyak cewek," sindir Tasya sambil menyuapkan makanannya.


"Ahahaha kenapa? Cemburu? Lu tetep yang tercantik nomor satu kok," goda Al.


"Bokis banget," kata Tasya.


"Wihh anak hits, bagi lah cewek 1. Udah lama jomblo gua," kata Radit.


"Gampang, bisa diatur. Tar gua lelang lu ke temen-temen gua." Al mengacungkan jempol pada Radit.


"Yeu, dikira gua barang antik apa pake dilelang," protes Radit.


"Loh, lu kan fosil jomblo," ucap Al sambil tertawa.


Mereka pun tertawa mendengar percakapan Radit dan Al. Mereka juga dekat, karena dulu penghuni rumah mereka siapa lagi kalau bukan Al sebagai tambahan.


"Btw lu udah nentuin mau sekolah di mana?" tanya Radit.


"Belum, gua bingung sih mau sekolah dimana," jawab Al.


"Kenapa lo gak sekolah di sekolah gue aja? Sekolah gue juga gak kalah favorit kok,"  kata Tasya sambil melirik Al.


"Lu gak mau jauh-jauh dari gua ya?"


"Ih gak gitu, ah tau ah godain gue mulu," kesal Tasya.


"Wayoloh Tasyanya marah," kata Amara sambil tertawa.


"Ulululu, gemes. Nanti deh gua pikirin, sekalian konsul dulu ke mama," kata Al bijak.


"Tapi bagus sih kalau lu sekolah di sekolah Tasya," cetus Radit.


"Kenapa?" tanya Al.


"Kalian kan jadi bisa pergi bareng, punya jadwal yang sama, kalau beda sekolah bakalan beda jadwal dan punya kesibukan masing-masing. Kalian kan kemana-mana kaya upin ipin," jelas Radit.


"Setuju sih Tante, biar Tasya semangat juga sekolahnya."


"Yaudah biar gua pikirin, sekalian biar jagain Tasya," ucap Al sambil tersenyum.


"Gue harap sih lo pindah ya, gue janji deh hari pertama masuk, gue yang ajak lo keliling sekolah," kata Tasya.


"Janji loh?"


"Iyaaa, Al. Gue gak pernah ingkar janji."


Al pun mengangguk. Amara senang melihat Tasya semakin membaik. Datangnya Al kembali membuat Tasya senang dan semangatnya pun bertambah untuk sembuh. Amara berharap kalau Tasya bisa pulih dengan cepat.


Setelah selesai makan Tasya dan Al pun duduk di sofa sambil menonton drama Korea. Meskipun Al tidak mengerti, tapi demi Tasya pasti akan dia lakukan.


Mereka terlihat lucu, Al yang menyilakan kakinya sambil memegang cemilan dan Tasya yang menyender pada lengan Al. Hal yang sering mereka lakukan saat menonton bersama.


"Ini ceritanya tentang apa sih?" tanya Al yang fokus pada film sambil menyuapkan chiki pada mulutnya.


"Jadi ini tuh ceritanya tentang cowok yang deketin cewek itu karena dia ngiranya si cewek ini yang bunuh adeknya," jelas Tasya.

__ADS_1


"Jadi si ceweknya pembunuh?"


"Engga itu dia salah paham aja, bukan dia yang bunuh."


"Terus kenapa dia bisa dikira pembunuh?"


"Karena si cewek itu ada di tempat kejadian pas adeknya dia dibunuh."


"Harusnya dia ada bukti sih kalau mau nuduh, main nuduh sembarangan."


"Ya itu dia kan lagi nyari bukti." Tasya mulai kesal dengan Al yang banyak tanya.


"Tap—"


Tasya menyumpal mulut Al dengan cemilan, menurutnya Al sangat berisik. Tasya tidak suka orang yang banyak bertanya saat dia senang fokus menonton.


"Berisik tau ah, banyak nanya. Nonton aja."


Al pun tertawa melihat wajah kesal Tasya, dia memang senang membuat Tasya kesal, wajahnya akan jauh lebih lucu.


"Ngambekan," kata Al tertawa sambil memeluk leher Tasya dengan tangan satunya.


Mereka pun kembali asik menonton, Tanpa disadari kalau sedari tadi Viko mencoba menghubungi Tasya, namun ponsel Tasya mode silent dan Tasya sedang asik quality time bersama Al.


.


.


.


.


.


Hari ini cukup menguras pikiran, karena ada ulangan dadakan. Semua siswa sepertinya sudah pasrah dengan hasilnya, ulangan dadakan membuat mereka kesal karena hanya diberi kesempatan belajar 30 menit.


"Aduhhh gue pasrah deh sama nilainya, gila dadakan yang sungguh mendadak," kesal Sherli.


"Gapapa menguji kemampuan itu," jawab Tasya bijak.


"Tapi itu bukan menguji kemampuan, itu namanya menguji iman biar gak mengumpat," kata Niken yang dihadiahi gelak tawa mereka.


"Wiss lagi ngomongin apa nih," celetuk Viko yang tiba-tiba saja datang ke bangku mereka.


"Ngomongin orang galau sampai depresot tuhh," teriak Bagus.


"Waduhhh siapa tuh," sindir Sherli.


"Apaan dah, nih orang gua mau kasih ini ke Tasya." Viko meletakkan susu kotak coklat di hadapan Tasya.


"Ada angin apa?" tanya Tasya keheranan.


"Angin surga, ya gapapa lah gua ngasih gak perlu ada angin," jawab Viko asal.


"Makasih ya," kata Tasya sambil tersenyum.


"Sama sama."


"Btw siapa yang galau? Sherli?" tanya Tasya polos.


"Ahahahaahahahha ya Allah gua ketawa." tawa Arka pecah saat mendengar itu.


"Lucu banget nih tiktok ibu-ibu," lanjut Arkan. Viko tau kalau Arka menertawakannya.


"Tuh si Sherli, doinya fokus nonton tiktok ibu-ibu unfaedah jadi dia galau." Viko mempertegas.


"Lohh kok jadi gue anjirr," ucap Sherli tak terima.

__ADS_1


"Gapapa, cowok emang suka gak jelas. Tapi dia sayang sama lo kok," kata Tasya mencoba menenangkan Sherli.


"AHAHAHAHAHAHAHA kasian anjirr gak peka ini ceweknya," tawa Arka lagi.


"Asuu diem!" Viko melemparkan penghapus milik Sherli ke Arah Arka.


"Apasih anjir sewot, ganggu orang nonton tiktok aja brodi."


Viko pun kembali duduk di bangkunya, sementara Tasya dengan tanpa dosanya kembali berbincang dengan teman-temannya.


Viko membuka instagram miliknya dan mencari nama Aldo Prayoga di sana. Entahlah akun ini menarik perhatiannya dari kemarin.


Satu postingan kembali di posting, terlihat photo-photo kebersamaan Tasya dan Aldo kemarin malam saat menonton. Terlihat manis dengan caption : Si gemes. Iya,kemarin setelah menonton mereka sibuk berphoto ria.


Viko menarik napasnya perlahan,  lalu menyimpan ponselnya. Setelah itu dia memutuskan untuk pergi ke rooftop sekolah.


"Mau kemana boss?" tanya Bagus.


"Bolos," teriak Viko santai.


Tasya pun melirik punggung Viko yang berjalan ke luar kelas. Dia tidak berniat untuk menghentikannya, mungkin dia sedang pusing akibat ulangan tadi.


...~ • ~...


Tasya dan Sherli sedang menunggu jemputan di gerbang. Sementara yang lain sudah lebih dulu pulang. Viko? Entah kemana. Dia sudah tidak ada sejak pelajaran terakhir.


"Lo dijemput bang Radit?" tanya Sherli.


"Engga, sama Al," jawab Tasya enteng.


"Oh, sama Al. Deket banget kalian," kata Sherli.


"Orang ke seribu yang bilang gitu. Gue emang deket banget sama dia, makanya gue seneng dia balik lagi ke Bandung," ucap Tasya.


"Iya, keliatan banget lo seneng. Gue seneng juga liatnya kalau lo seneng," kata Sherli.


Sebenarnya dia ingin menanyakan soal hubungan Tasya dengan Al. Tapi dia tidak mau Tasya merasa diintrogasi. Jika dia ingin cerita, pasti nanti akan cerita.


Motor sport hitam berhenti di depan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Al.


"Hai," sapa Al.


"Eh iya hai juga," kata Sherli membalas sapaan Al.


"Lama banget," sindir Tasya.


"Maaf macet, ayok cepet naik," perintah Al.


Tasya pun mengambil helm dan menaiki motor Al. Dia melihat ke arah Sherli sambil tersenyum.


"Gue duluan ya, Sher," pamit Tasya.


"Hati-hati lu, gua sama Tasya duluan," ucap Al.


"Iya, kalian juga hati-hati. Jagain temen gue!"


"Iya pasti," kata Al sigap.


"Bye, Sher!" Tasya melambaikan tangan ke arah Sherli dan di sambut oleh Sherli.


Setelah itu Al melajukan motornya dan menjauh dari sekolah Tasya. Sambil menunggu keputusan sekolahnya kini dia berprofesi sebagai ojek langganan Tasya, alias tukang antar jemput.


"Cafe dulu yuk, gua lapar," kata Al.


"Cafe mana?" tanya Tasya sambil mendekatkan kepalanya.


"Ya lu yang tau cafe mana yang bagus di daerah sini. Gua ngikut."

__ADS_1


"Yaudah oke, tar gue arahin."


Mereka memang berencana pergi keluar setelah Tasya pulang sekolah. Lagi pula jika bersama Al tidak afdol rasanya jika tidak kemana-mana. Mereka sering hangout dan menghabiskan waktu seharian. Bahkan Radit pun sampai memaklumi jika adiknya pulang terlambat. Karena sudah pasti Al yang mengajaknya kemana mana.


__ADS_2