
Saat ini, Viko dan kawan-kawannya sedang berkumpul di markas mereka. Di mana lagi kalau bukan di rumah Reza. Menurut mereka, rumah Reza sangat cocok untuk dijadikan markas. Kenapa? Karena di rumah Reza, tersedia banyak makanan untuk mereka.
Apalagi ini sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Waktunya cacing-cacing perut meminta untuk diisi makanan. Mereka adalah orang-orang yang mudah lapar namun irit.
Viko memainkan ponselnya, lalu membuka aplikasi LINE. Viko melihat isi timeline nya ternyata, ada notifikasi kalau Tasya mengubah display picturenya. Iseng-iseng, Viko melihat photo Tasya.
Cantik. Satu kata yang ada di benaknya. Namun, secepat kilat dia singkirkan kata itu dari benaknya. Sadar atau tidak sadar Viko langsung mengechat Tasya.
...Tasya Aurel...
^^^Ava lu alay. :p^^^
Tak selang beberapa lama, Tasya pun membalasnya.
Tasya Aurel : apa lo, hah? Lo stalk gue ya.
^^^Dih, siapa juga yang stalk lu.^^^
Tasya Aurel : buktinya lo komen ava gue.
^^^Ya elah, muncul di TL gua, bego.^^^
Tasya Aurel : ya terus kenapa lo komen-komen dichat gue.
Benar juga apa yang dikatakan Tasya. Mengapa dia tiba-tiba mengechat Tasya. Viko merutuki perbuatannya dan segera mencari alibi yang tepat.
^^^Ya soalnya ava lu bikin sakit mata. Tadinya gua mau minta lu gak usah pake ava.^^^
Tasya Aurel : heh! Sekata-kata ya lo. Cantik gini, juga.
^^^Cantikan si Mimi penjaga kantin. :v^^^
Tasya Aurel : najong lo.
^^^Udah ah, daripada debat. Mending kita taruhan.^^^
Saat sedang asik chat, tiba-tiba Reza mengagetkan Viko.
"Serius amat lu, njirr!"
"Ngagetin gua aja lu!" kata Viko sambil menyentil dahi Reza.
"Sakit bego, lagi chat sama siapa sih lu, Jomblo?" tanya Reza penasaran.
"Iya, dari tadi gua ngomong gak diwaro," kata Bagus.
"Sini-sini gua liat," kata Arka yang merebut ponsel Viko.
"Acieee," ledek Arka.
"Paan sih," kata Viko yang merebut kembali posnselnya dari tangan Arka.
"Sama sapa, Ka?" tanya Bagus penasaran.
"Sama ibu ketua osis, cie cie," ledek Arka lagi.
"Gua cuma protes avanya dia doang, njirr!" elak Viko.
"Kayaknya lu kemakan omongan lu sendiri, Ko," kata Bagus.
"Apaan?"
"Lu mulai suka sama Tasya, 'kan?" tanya Bagus jahil.
"Kagak, gua suka aja jailin dia gitu," elak Viko lagi.
__ADS_1
"Awal-awal cinta emang kaya gitu, Ko," sambung Reza.
"Kagak, gua kagak suka sama Tasya anjirr," elak Viko lagi.
"Yakin?" tanya Bagus.
"Yakin, lah!" jawab Viko mantap.
"Kok gua gak yakin ya." kata Arka.
"Serah lu pada," kata Viko yang kembali fokus pada ponselnya.
Ternyata Tasya sudah membalas pesannya Viko.
Tasya Aurel : taruhan apa?
^^^Kita Chat, yang duluan tidur harus traktir bembeng 2.^^^
Tasya Aurel : dih ogah.
^^^Lemah lu.^^^
Tasya Aurel : najong, ayok! Siapa takut. Lo pasti kalah sama gue.
^^^Kita liat aja, pasti gue yang menang^^^
Tasya Aurel : gue yang menang. Tasya ga akan kalah dari makhluk astral kayak lo.
^^^Lu makhluk astral. Gua pangeran.^^^
Tasya Aurel : heh, kalau pangeran bentukannya kayak lo, gue jamin anak-anak takut nonton film barbie.
^^^Emang gua kaya pangeran. Lu aja yang gengsi ngakuin.^^^
Tasya Aurel : pede amat lo.
Viko dan Tasya terus berbalas pesan. Hingga tak terasa sudah hampir 2 jam mereka chatting.
^^^Lu udah tidur? Ah lemah amat lu, masa udah tidur.^^^
Namun, tak ada balasan lagi dari Tasya. Viko yakini kalau Tasya sudah tertidur.
^^^Fix, lu kalah ya. Jangan lupa besok bembeng 2. Nitemare.^^^
Viko pun, menaruh ponselnya dan menatap teman-temannya yang ternyata masih begulat dalam pertarungan PS.
...~ • ~...
Tasya memasuki gerbang sekolah. Tak lupa dia mampir dulu ke kantin untuk membeli bembeng.
"Nyusahin bener dah itu orang," gerutu tasya.
Tasya memasuki kelasnya, ternyata Viko sudah ada di bangkunya bersama ketiga temannya. Tasya mengembuskan napasnya kasar. Tumben sekali Viko sudah datang, apa mungkin gara-gara bembeng? Tapi mana mungkin, segitu terobsesikah Viko dengan bembeng? Mustahil.
Tasya lalu menghampiri Viko.
"Nih, bembeng dua, 'kan? Selesai," kata Tasya.
"Thanks, sering-sering aja lo taruhan sama gua. Lumayan bembeng setiap hari," kata Viko santai.
"Najong lo," kata Tasya.
"Cie cie, gua gak dikasih nih, Sya?" tanya Arka setengah meledek.
"Gue kan taruhannya sama Viko doang," jawab Tasya polos.
"Jadi buat Viko doang? Curiga gua," kata Bagus.
__ADS_1
"Curiga apaan, sih?" Tanya Tasya Bingung.
"Jangan-jangan kalian .... "
"Gua sama dia gak pacaran," sanggah Viko.
"Reza kan gak bilang kalian pacaran, atau ada rencana kesana ya?" sambung Sarah.
"Ciee ciee," kata mereka serempak.
"Enggak ih, tadi malem itu kita cuma taruhan di chat," kata Tasya memperjelas.
"Jadi kalian suka chat?" tanya Niken.
"Cie cie," ledek mereka lagi.
"Ya enggak, baru sekarang doang kok. Udah ih ngapain sih, gak jelas banget kalian," kata Tasya.
"Ah lo mah mengalihkan pembicaraan," kata Sherli.
"Enggak ya ampun, kalian kok gitu sama gue," kata Tasya.
"Muka lu kok merah gitu, Sya?" tanya Arka meledek.
"Yakkkk gak merahhhhh!" teriak Tasya.
Viko yang melihat adegan blushing Tasya pun terkekeh. Itu sangat lucu sekali.
"Viko, bantuin gue napa!" pinta Tasya.
"Cieee minta bantuin," ledek Reza.
"Aihhh serba salah gue, udah ah. Gue mau nulis aja," kata Tasya yang langsung duduk di bangkunya tanpa memperdulikan lagi sekitarnya.
Tasya suka menulis novel online. Menuangkan segala pengalamannya. Tidak semua, hanya sebagian saja yang menurutnya menarik untuk dijadikan cerita.
"Lo suka banget sih nulis," kata Niken yang duduk di sebelahnya.
"Biarin. Lebih baik gue nulis. Menjadikan kehidupan nyata dalam novel, bukan novel yang dijadiin kehidupan nyata. Drama queen banget," kata Tasya.
"Iya sih, tapi gak asik."
"Asik aja kok, dapet vote, komen, dan pembaca setia, itu pengalaman yang paling seneng buat gue," kata Tasya.
"Ya jangan keasikan nulis juga lo. Bikin tokoh-tokoh bersatu. Sedangkan lo sendiri masih jomblo," kata Niken.
"Gue mah ga jomblo. Ada cogan-cogan novel yang selalu nemenin gue di setiap saat," kata Tasya.
"Mereka kan fiksi."
"Walaupun mereka fiksi, tapi udah bikin gue jatuh hati sama mereka. Karena cowok kaya gitu tuh cuma ada satu dari lima ribu cowok di dunia," kata Tasya.
"Banyak amat lima ribu," kata Niken.
"Ya karena saking langkanya itu," kata Tasya menjelaskan panjang lebar pada Niken.
"Tetep aja khayalan," kata Niken.
"Ya walaupun khayalan, gue sih berharap nyata. Berharap suatu saat nanti cowok gue kaya cogan di novel," kata Tasya.
"Alay lo, orang mah sukanya ke mall. Ini malah suka buku sama novel," kata Niken.
"Dih setiap orang berbeda selera, Ken," kata Tasya.
"Iya serah lo deh, gue dukung lo pokoknya."
"Timaciw."
__ADS_1
Tanpa sadar, Viko memperhatikan percakapan mereka. Mencoba mengolah dan mencerna percakapan mereka.
'Cewek unik,' batin Viko.