Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Menjalani Peran Suami Siaga


__ADS_3


Satu tahun lebih berlalu begitu cepat, kini Tasya dan Al sedang melakukan jaga malam di poli kandungan. Ya derita dari jaga malam adalah karena besok mereka langsung melakukan aktifitas koass juga, jadi tidak ada waktu tidur sampai besok sore atau bahkan malam.


Di poli ini mereka harus ekstra sih dibandingkan dengan poli lainnya, karena bisa saja ada orang yang tiba-tiba melahirkan dan mereka juga terkadang disuruh memeriksa keadaan bayi yang masih sangat kecil, tapi Tasya menyukainya. Menyukai bayi maksudnya.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka yang kini sedang memeriksa beberapa laporan pasien. "Dok, pasien sebelah kamar saya mau melahirkan."


Tasya dan Al dengan sigap menaruh buku dan beranjak dari tempatnya. "Baik tunggu sebentar ya, Pak."


Tasya dan Al saling bertatapan. Mereka saling membagi tugas seperti biasanya. Al yang menuju ruangan pasien dan Tasya yang memanggil dokter kandungan di ruangannya.


Al langsung mengikuti pria yang tadi menghampiri mereka, setelah sampai di sana Al memberikan pertolongan pertama agar pasien tenang dan memeriksa hal yang bisa dia periksa. Kasian sekali pasien ini tidak ada satu orang pun yang menemani, bahkan suaminya. Kalau begini biasanya para dokter muda yang mendadak menjadi suami siaga untuk membantunya.


Tak selang beberapa lama Tasya datang bersama dokter kandungan juga beberapa perawat. Dokter langsung memeriksa pembukaan dan ternyata pembukaannya hampir lengkap.


"Dokter muda Al dan juga Dokter muda Tasya, tolong bantu saya di ruang bersalin," ucap Dokter Elma.


Tasya dan Al mengangguk. Al dengan setia berada di samping pasiennya yang kini menggenggam tangannya erat. Tasya tidak cemburu tapi dia merasakan apa yang dirasakan pasiennya, pasti sakit sekali.


"Sus, bisa dibawa ke ruang bersalin," perintah Dokter Elma


"Baik, Dok." Suster-suster itu mulai mendorong ranjang dan membawanya ke ruang bersalin dengan Al yang tetap menjadi sasaran penyalur rasa sakit pasiennya. Al tetap tersenyum walaupun kelimpungan, karena biasanya dia hanya mengantar, mengikuti proses persalinan, selebihnya dilakukan oleh suami pasien.


Tasya mengikuti dokter Elma dari belakang, dia sedikit mengulum tawanya saat melihat Al mendadak menjadi seorang suami siaga. Apa jika nanti dia melahirkan Al akan seperti itu juga ya? Menjaga pasiennya saja telaten apalagi menjaga orang yang dia cintai?


Tasya menggeleng pelan, ini masih jam kerja. Masa dia menghalu di saat seperti ini. Aneh-aneh saja. Mereka akhirnya sampai di ruang bersalin dan juga bergantian dalam memakai bau hijau khas ruangan.

__ADS_1


Setelah steril barulah dokter dan dokter muda melakukan aksinya. Dokter Elma masih mengecek pembukaan. Al di sana menenangkan pasien dan memberi beberapa afirmasi positif agar pasiennya tenang. "Rileks, Bu. Jangan tegang, tidak sakit kok."


"Gak sakit gimana ini udah sakit, Dok?!" Bentak sang pasien sambil meringis dan mencengkeram lengan Al. Sungguh itu rasanya sakit tapi Al tetap harus profesional.


Tasya kembali mengulum tawanya, kenapa itu sangat lucu?


"Kalau sakit, Ibu bisa cakar atau jambak rambut saya tidak apa-apa. Ibu harus kuat, harus siap agar Ibu lahir dengan selamat. Anak Ibu pasti senang lahir ke dunia dari seorang Ibu yang tangguh."


Sambil membantu dokter Elma, Tasya pun mendengar ucapan Al. Ucapan tulus yang membuat siapapun merasa terharu, termasuk Tasya.


"Pembukaannya udah sempurna ya, Bu. Tarik napas dalam-dalam. Kalau saya bilang ngejan, mengejan yaa," ucap Dokter Elma yang sudah bersiap-siap di bawah sana.


"Ngejan, Bu."


"EMMMHHHHH, HUHH HUUHH, ENGHHHH!" Teriak sang pasien sambil mencakar lengan Al.


"Bagus, Bu. Lakukan lagi seperti itu ya. Ngejan, Bu."


Tapi Tasya pernah belajar kalau saat pembukaan, bagian bawah itu akan melebar. Walaupun begitu tetap saja kalau prosen mengejannya tidak benar akan sobek dan harus dijahit. Perjuangan seorang Ibu memang bukan main-main.


Setelah beberapa kali proses mengejan, akhirnya suara tangisan bayi terdengar. Seorang bayi perempuan cantik telah lahir ke dunia. Sang Ibu merasa terharu sampai menitikan air mata. Tasya merasa terharu melihat itu.


...~ • ~...


Di ruangan hanya ada Al dan Tasya. Tasya membantu Al melepas jas koassnya dan melihat ke arah lengan Al yang banyak bekas luka cakaran. Jadi sedikit kasihan melihat Al, tapi itu sudah menjadi salah satu tugas mereka saat di rumah sakit.


"Kamu totalitas banget tadi." Tasya terkekeh dan mengambil kapas serta antiseptik agar luka Al tidak infeksi.

__ADS_1


"Namanya juga pasien, kasian juga gak ada suaminya," ucap Al. Ya mereka bebas mengobrol, tapi tetap harus profesional jika banyak orang di sana.


"Aku terharu tau tadi liatnya, cantik juga anaknya. Aku selalu terharu kalau liat orang melahirkan. Kaya ngerasain juga sakitnya, ngerasain juga kebahagiaanya. Apalagi liat anak yang baru lahir skin to skin sama orang tuanya. Gemes."


Al tersenyum sambil memperhatikan wajah Tasya yang sedang fokus mengobati lukanya. Dia benar-benar beruntung memiliki Tasya yang memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Kalau Tasya tidak mengingatkannya ya mungkin dia tidak akan ingat ada luka di sana.


"Nanti kalau misalnya aku hamil kau kaya gitu juga gak ya?" Tanya Tasya random.


Al terkekeh mendengar pertanyaan Tasya. "Kenapa tiba-tiba bahas itu?"


"Ya soalnya aku tadi liat kamu tuh kaya suami siaga buat Ibunya."


"Cemburu?" Tanya Al sembari mendekatkan diri pada Tasya.


"Engga, bukan cemburu maksudnya. Tapi kaya aku ngerasa kamu kaya gitu. Yang tadi aku bilang kaya suami siaga. Kamu telaten, sabar juga. Nguatin ibunya pas mau lahiran, buat ukuran cewek melankolis kaya aku itu tuh manis banget," ucap Tasya.


"Kayanya kalau kamu yang melahirkan bakalan lebih dari itu, rasa khawatir, cemas, takut. Aku gak akan ninggalin kamu kaya ibu-ibu tadi dan biarin kamu berjuang sendiri ngelahirin anaknya."


"Tapi kamu dokter kan nanti? Dokter itu sibuk banget dan pasien itu nomor 1," kata Tasya.


"Aku pasti lakuin yang tebaik buat kamu sama anak kita nantinya. Selalu di samping kamu walaupun aku sibuk dan aku mau jadi orang pertama yang skin to skin sama anak kita terus aku adzanin depan kamu."


Tasya terkekeh sejenak. "Harus kaya gitu, biar yang dia liat pertama kali ke dunia itu mama papanya. Aku ngebayangin kamu nemenin aku lahiran, terus aku kaya Ibu tadi jambak kamu, cakar kamu, terus kamunya pasrah aja."


"Kalau sama kamu lebih rela lagi kayanya, biar sakitnya sama-sama. Walaupun aku gak tau rasanya melahirkan setidaknya aku bisa bantu kamu biar salurin rasa sakitnya ke aku."


Tasya tertawa. "Kenapa bahasan kita jadi ke sana ya? Kenapa gemes banget?"

__ADS_1


"Gapapa, persiapan buat masa depan kan gak salah. Bukan bahasan aneh-aneh juga, biar kita ada gambaran ke depannya mau gimana, mau apa, dan bakalan kaya gimana."


Agak lucu sebenarnya mereka membahas soal anak, padahal menikah saja belum. Masih ada 1 bulan untuk koass dan setelah itu baru mereka memikirkan pernikahan. Bahkan Zea yang sudah lama menikah pun masih belum mau membahas anak sepertinya. Selain suaminya yang cuek Zea memang tidak mau, lebih tepatnya dia belum ada kepikiran ke sana.


__ADS_2