
Tasya menuruni mobil dan memasuki rumahnya bersama Radit. Terlihat ada Viko, Arka, Reza dan Bagus sedang berbicara dengan Tantenya.
Tasya perlahan masuk dan langsung menghampiri Tantenya.
"Assalamualaikum," ucap Radit dan Tasya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Gimana tadi lancar?" tanya Amara sambil memeluk dan merapikan helaian rambut Tasya.
"Lancar, Tante. Kalian beneran kesini?" tanya Tasya pada keempatnya.
"Iyalah, di kelas gak ada lu gak asik," kata Bagus.
"Bener, biasanya suara melengking khas ibu ketos selalu menghiasi hari-hariku," kata Arka dramatis.
"Ohh satu lagi, kangen dimarahin bu ketos," timpal Reza.
"Berlebihan kalian," ucap Tasya pelan.
"Bener, gak ada lu sepi." Giliran Viko bersuara.
"Harusnya seneng gak ada yang marah marah lagi," ucap Tasya.
"Gapapa deh gua kena amuk, yang penting lu balik sekolah," seru Arka.
"Iyaa apalagi ada yang galau gak ada lu, Sya. Kasian. Tiap hari mukanya udah kaya kresek borma." Reza memancing keributan di antara mereka dan Viko, tentunya dia dihadiahi tatapan tajam Viko.
"Waduh siapa yang galau?" tanya Radit menggoda Viko.
"Ada, Bang. Tiap hari stalk adek lu tuh sambil mellow khas remaja galau," celetuk Bagus sambil tertawa.
"Ohhh Tasya ada secret admirer?" tanya Amara yang sudah paham kalau yang digoda adalah Viko, sementara Viko mulai gelisah dan ingin sekali memukuli teman-temannya yang tidak berakhlak itu.
"Apaan dah," kesal Viko.
"Lohh kok lu ngamok? Ohh elu yang galau, Ko?" tanya Reza dan itu membuat mereka tertawa puas karena Viko masuk dalam jebakan mereka.
"B-bukan, anjirr. Ngaco lu semua,"elak Viko.
"Itu, Tan. Kerjaan Viko galau terus, mantengin sosmednya Tasya, muka murung. Kasian temen saya, Tan," ucap Arka dramatis.
"Tuh Tasya ada yang galauin," ucap Amara menggoda Tasya dan Viko.
"Galau? Kenapa galau?" tanya Tasya polos.
Namun, Tasya tetaplah Tasya. Si remaja labil, lemot dan tidak pekaan. Rasanya Viko ingin berkata di depan muka Tasya kalau dia merindukan gadis itu.
"Engga, Sya. Ya lu kan temen berantem gua, gak ada lu gak ada yang gua ajak cari masalah." Viko membuat alasan sedemikian rupa.
"Wahh kasian emang udah galau gak dipekain bro," celetuk Radit sambil menepuk-nepuk punggung Viko.
__ADS_1
"Apa anjir, Bang. Gua mulu," kata Viko mencoba untuk menghentikan godaan mereka.
"Apaaa, orang gua menceritakan kisah gua," kata Radit yang semakin puas telah menggoda Viko.
"Udah-udah anjir, gini gua mau bujuk lu kesini," kata Viko pada Radit.
"Bujuk apaan?" Ngajak gua ngedate?"
"Yeuu si gila, bukan anjirr, Bang. Gua mau bujuk lu buat izinin—"
"Udah, itu jadi urusan kita. Mending sekarang lu bicara sama Tasya, tadi katanya mau ngobrol berdua, 'kan?" potong Bagus.
"Yoi katanya mau ngobrol berdua, sana buru. Bang Radit biar urusan gua," sambung Arka.
"Iya gih, Sya sama Viko. Kasian dia udah gundah gulana kangen pujaan hati," kata Reza.
Viko menatap mereka penuh pertanyaan, namun sepetinya mereka telah menyusun rencana tanpa Viko. Dengan sumpah serapah Viko pun akhirnya pasrah dan mengajak Tasya ke taman belakang.
"Iya, gua mau bicara sesuatu. Boleh?" tanyanya pada Tasya.
Tasya pun hanya mengangguk dan mengikuti Viko ke taman belakang.
...~ • ~...
Tasya dan Viko duduk di pinggir kolam renang. Suasana di sini sejuk, hingga cocok untuk mereka membicarakan hal-hal yang mungkin cukup berat.
"Sya," ucap Viko sambil melirik ke arah Tasya.
"Gimana keadaan lu?"
"Seperti yang lo tau, tanpa gue cerita juga lo pasti tau, 'kan?"
"Bang Radit udah kasih tau lu?"
"Semua orang peka kali ketika mereka di bawa ke psikiater."
"Sya, tapi—"
"Dan ya, kenyataannya emang kaya gini. Gue dan skizofrenia. Lo serem gak sih ketemu gue?" Tasya tertawa miris pada dirinya sendiri.
"Kenapa harus serem?"
"Kenapa? Bukannya gue bisa ngelukain lo kapan aja? Bukannya gue bisa histeris kapan aja?"
"Sya bagi gua, lu tetep Tasya. Gak ada bedanya, jangan mikir kemana-mana," ucap Viko berusaha memberi pikiran positif kepada Tasya.
"Vik, apa yang bisa diharapkan dari orang yang nyaris gila kaya gue? Hidup dengan obat-obatan dan itu pun belum tentu sembuh. Gue gak tau kapan bakalan kambuh, kapan gue bisa melakukan hal-hal diluar kendali gue. Meskipun gue udah bilang sama bang Radit gue bakalan coba, tapi masih banyak pertanyaan, banyak pemikiran yang gak bisa gue temui jawabannya dan gue ngerasa gak akan mampu. Gue—"
Viko memegang tangan Tasya, berusaha menghentikan pembicaraan mereka. Viko menyilakan kakinya dan menghadap ke Tasya.
"Sya, semua orang ada buat lu. Mereka udah tau dan mereka tetep dukung lu, mereka mau selalu ada buat lu. Tapi, kalau dari lunya aja udah pesimis, gimana kita bisa bantu lu?"
"Gimana gue harus optimis di saat gue aja ngerasa hopeless sama semuanya?"
__ADS_1
"Sya, kasih kepercayaan sama diri lu kalau dia bisa. Kalau dia mampu lewatin semua ini. Kasih kepercayaan buat diri lu sendiri biar dia bisa semangat buat bangkit."
Tasya terdiam memikirkan kata-kata Viko. Dia benar, kalau dirinya saja sudah menyerah bagaimana dengan orang sekitarnya?
"Yang gua tau, Tasya itu orang yang gak pantang menyerah. Dia bakalan selalu lewati masalahnya dengan baik. Dia bisa percaya diri di saat semua orang raguin dia dan satu lagi. Dia itu bertanggung jawab, dia bisa bertanggung jawab untuk orang lain. Jadi dia juga pasti bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri."
"Susah, gue gak akan bisa," ucap Tasya perlahan sambil menundukkan kepalanya.
"Sya, ini baru awal. Gimana lu udah nyerah di saat lu belum berjuang? Gimana bisa lu tau hasil finalnya saat lu masih diam di tempat dan belum melakukan apa-apa. Gue di sini, gue ada buat lu."
Tasya menatap manik mata Viko yang nampak memancarkan ketulusan di dalamnya. Tatapannya selalu sama, hangat dan membuat Tasya tenang.
"Inget gua di sini," ucap Viko sambil memeluk Tasya erat.
Viko pun memejamkan matanya, merasakan kerinduannya kepada gadis yang ada di dekapannya saat ini. Nyaman, itulah yang dirasakan keduanya.
"Vik," ucap Tasya perlahan.
Viko melepaskan pelukannya, ditatapnya Tasya yang menatapnya lekat.
"Kenapa?"
"Makasih ya."
"Makasih buat apa?"
"Makasih karena lo udah jadi salah satu orang yang peduli sama gue."
Viko menggenggam tangan Tasya sambil tersenyum.
"Jangan bilang makasih, udah tugas gua buat selalu jagain lu. Kaya bang Radit yang gak mau lu kenapa-kenapa, gua juga begitu. Gua sayang lu," ucap Viko tanpa sadar.
Tasya sedikit kaget dengan penuturan Viko dan melepaskan genggamannya perlahan. Dia takut jika perasaannya semakin tidak karuan.
Hening, tidak ada percakapan lagi setelahnya. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
'Apa lu gak suka gua ya, Sya?" batin Viko.
'Maaf, Vik. Buat sekarang kita gak bisa lebih dari ini. Gue gak mau lo terjebak sama cewek kaya gue," batin Tasya.
...~ • ~...
Tasya memejamkan matanya, hari ini membuat sedikit tenaganya terkuras. Dia melihat gelang yang dia pakai, rasanya bersama Viko membuatnya sedikit membaik.
Viko selalu bisa membuatnya merasa aman dari apapun. Laki-laki itu selalu bisa membuatnya nyaman dengan cara yang dia punya. Rasanya Tasya semakin menyukai Viko. Meskipun sekarang dia harus berpikir ulang untuk lebih jauh dengan Viko.
Insecure, overthinking, semuanya tidak bisa dia kendalikan. Semuanya terkadang bersatu dan entah kemana pikiran itu bermuara. Rasanya lelah sekali memikirkan hal yang sama berulang kali tanpa akhir.
Tasya mengambil obat-obatan yang harus dia minum sekarang. 7 butir obat, rasanya dia jenuh dengan obat-obatan seperti ini. Tapi, untuk sekarang semua pikiran yang mengganggu di dalam kepalanya hanya bisa dituntaskan dengan semua obat-obatan ini.
Diteguknya air minum dan Tasya pun merebahkan dirinya di kasur. Berharap esok hari dia bisa terbebas dari pikirannya yang kalang kabut. Dan satu lagi, semoga dia besok bisa menghadapi semua orang di sekolah, karena Radit dan Tante Amara sudah mengizinkan permintaan teman-teman Tasya.
"Vik. Tapi lo gak bisa sama gue. Lo pantes dapetin yang lebih baik," gumam Tasya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1