
Tasya sedang mempersiapkan untuk acara besok. Ya, setelah sekian banyak proses yang harus dilewati, akhirnya besok acara camping pun diselenggarakan. Dia harus menyiapkan segalanya agar tidak ada yang terlewat. Dari perlengkapan sampai kesiapan mentalnya juga menghadapi kegiatan esok hari.
"Apa lagi ya, oh iya. Makanan," gumam Tasya.
Tiba-tiba seseorang masuk ke kamar Tasya. Radit, iya dia yang memasuki ruangan itu dan melihat Tasya yang sedang sibuk merapikan isi tasnya. "Dek, lu mau kemana?" tanya Radit.
Tasya hanya terdiam tanpa berminat menjawab pertanyaan Radit. Sudah hampir dari dua Minggu Tasya belum memaafkan Radit. Menurutnya, Radit sudah keterlaluan karena telah menamparnya seperti itu. Dia tidak akan marah sampai meledak-ledak, tapi akan mendiamkan orang sampai orang itu kewalahan dan menyadari kesalahannya pada Tasya.
"Lu masih belum maafin gua?" Tanya Radit mencoba bersikap lebih lembut dan mengelus rambut Tasya. Meskipun dia marah, tapi Tasya adalah adiknya. Adik satu-satunya yang sangat dia sayangi.
Tasya beranjak dari tempat tidur dan mengambil kunci mobilnya, selain untuk membeli makanan, Tasya benar-benar sedang tidak mau berbicara pada Radit.
"Mau kemana?" Tanya Radit lagi yang merasa tidak mendapat jawaban dari adiknya itu. Radit sering bingung kalau Tasya memilih diam begitu.
Tasya tak menjawab dan langsung keluar kamar. Jika Tasya sedang marah pada Radit, dia akan diam seribu bahasa. Itu sangat membuat Radit bingung, pasalnya dia jadi lebih sulit untuk mendapatkan maaf dari Tasya. Radit menyesal telah bersikap kasar pada Tasya, tapi Radit tak mau membuat Tasya semakin bersikap buruk terhadap orang tuanya sendiri.
Tasya melajukan mobilnya. Sebenarnya dia tidak bisa terus-terusan marah pada abangnya itu, tapi entahlah egonya terlalu tinggi untuk memaafkannya.
"Gue mau ke mana ya? Ke mall aja kali ya cari makanan," Tasya langsung belok ke kanan, tapi di tengah jalan tiba-tiba berubah pikiran.
"Eh, gue ke mini market aja deh. Sama ini harganya lebih deket lagi." Lalu dia memilih untuk putar balik, namun pikirannya berubah lagi.
"Tapi di mini market gak lengkap, oke. Gue ke mall aja," Tasya kini memutar balik lagi.
Sifat labilnya mulai kumat. Ya begitulah Tasya si Ms. Labil.
...~ • ~...
Sesampainya di Mall dia langsung mencari market. Setelah sampai, dia langsung memilih makanan apa yang akan dia bawa. Tasya tak akan begitu banyak membawa makanan, karena pasti sudah tersedia konsumsi panitia. Tapi susu kotak dan roti sandwich tak boleh ketinggalan dan harus selalu ada dalam tasnya. Setelah selesai berbelanja dia menuju cafe, rasanya lapar sekali.
Tiba-tiba notif ponsel Tasya berbunyi. Ternyata itu adalah notif pesan dari Chandra..Tumben.
...Chandra Aditya....
Chandra Aditya : P
^^^Apaan?^^^
Chandra Aditya : bisa kita ketemu?
^^^Mau ngapain, gue lagi belanja.^^^
Chandra Aditya : lu dimana?
^^^Di cafe almond.^^^
__ADS_1
Chandra Aditya : gua kesana.
^^^Ngapain?^^^
Chandra Aditya : ini penting.
^^^Oke.^^^
Chandra Aditya : On the way.
Tasya memilih untuk memesan pancake dan minuman dulu. Tak lupa dia juga memesankan minuman kesukaan Chandra. Meskipun mereka tak pernah akur, tapi Tasya tau betul soal Chandra. Begitu pun sebaliknya. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Chandra pun datang.
"Sorry telat, macet," kata Chandra yang terengah-engah setelah berlari tadi.
"Minum dulu, udah gue pesenin," kata Tasya santai sembari memindahkan minuman ke depan Chandra.
"Thanks." Chandra pun tersenyum lau meminumnya. Tidak munafik dia cape karena terburu-buru.
"Hm. Ada apa lo?"
"Gua cuma mau bilang, kaya tahun kemarin. Senior dan alumni pasti udah bikin acara di dalam acara kita. Arga, dia kan gak suka sama lu setelah lu nolak dia. Lu paham, 'kan?"
"Ya paham dan gue udah persiapin semuanya. Lagian, gue gak takut kok. Lo tau kan, pas kemarin gue diospek abis-abisan sama kak Arga? Gak ada apa-apanya dia mah," jawab Tasya enteng.
"Ini beda kasusnya, mereka pasti cari-cari kesalahan kita."
"Lu gak akan, tapi anak-anak?"
"Mereka pasti bakalan usaha yang maksimal."
"Gua takut lu di ospek lagi sama Arga."
"Kita panitia kok, ngapain harus takut? Kita yang punya acara, alumni? Mereka tamu undangan kita. Lemah lo, udah menyerah sama keadaan."
"Gua cuma ingetin."
"Wkwkwk iya, udah lama ya kita gak ngafe bareng. Btw lo mau pesen apa?" Tanya Tasya sambil terkekeh.
"Gua udah kenyang, lagian gua harus pulang buat prepare," tolak Chandra yang tidak ingin lebih lama dengan Tasya.
"Oh yaudah," kata Tasya mengiyakan.
Chandra pun beranjak pergi dari tempat itu. Sementara Tasya masih heran. Sikap Chandra berubah-ubah, seperti bunglon saja. Kadang dia baik, kadang dia jutek, kadang dia tidak bisa dibaca pikirannya.
...~ • ~...
Tasya memasuki rumah, ternyata Radit sudah menunggunya di sana. Sedikit malas melihat abangnya untuk hari ini, jika sudah marah Tasya akan sulit untuk mereda.
__ADS_1
"Udah pulang lu?" Tanya Radit saat Tasya memasuki rumah.
Tasya tak menjawabnya, dia justru bergegas menaiki tangga. Namun tangannya di tarik oleh Radit.
"Gua minta maaf, gua salah udah nampar lu dan gua bener-bener nyesel." ucap Radit tulus.
"Minta maaf buat apa? Gak ada gunanya juga. Sekali lagi gue tanya buat apa lo minta maaf, Bang? Gue gak butuh maaf, gue cuma perlu dingertiin."
"Gua gak mau lu terus bersikap gitu sama papa, Sya. Gimana pun dia orang tua kita. Coba lu pahami itu," pinta Radit.
"Maaf gue gak bisa. Jangan paksa gue kenapa sih? Lo selalu maksa gue, selalu bilang a b c tapi lo gak gak pernah kasih tau apa alasannya."
"Lu gak tau apa-apa. Lu harus minta maaf sama papa sekarang juga! Sya, gua gak mau marahan sama lu ya, tapi sikap lu kaya gini bikin gua jengah."
"Kalau gue gak tau apa-apa, tolong buat gue untuk tau semuanya! Lo cuma bilang gitu terus tapi lo selalu bungkam. Lo mau gue berubah tapi gak kasih gue fakta yang logis. Lo kenapa sih?"
"Gua gak bisa bilang, Tasya."
"Bang, gue benci sama dia. Kalau lo masih anggap gue adek lo, tolong ngertiin gue. Tolong lo bisa ngerti perasaan gu–"
Radit langsung memeluk adiknya itu. Dia sakit mendengar Tasya berbicara sepeti itu. Radit tau, Tasya hanya ingin mendapatkan sosok ibu. Tapi keadaannya lain.
"Gua tau perasaan lo, gua tau apa mau lu. Tapi tolong maafin gua. Coba buat lebih lembut sama papa. Gua gak minta hal lain."
Tasya terus menangis dalam dekapan Radit. Kenapa rasanya dia menjadi orang bodoh yang tidak tau apa apa yang terjadi dalam keluarganya sendiri?
"Tasya butuh mama, Bang. Tasya bahkan gak tau wajah mama itu kaya apa. Tasya gak tau mama itu seperti apa. Tasya juga sama kaya temen-temen Tasya. Tasya pingin ngerasain disuapin sama mama. Tasya pingin ditemenin tidur. Tasya pingin bisa numpahin keluh kesah Tasya. Apa Tasya salah?"
"Gak, lu gak salah. Gua minta maaf," kata Radit sambil menghapus air mata adiknya itu dengan ujung ibu jarinya.
"Jangan paksa gue buat bersikap baik lagi sama orang itu. Gue mohon sekali lagi. Jangan paksa gue, gue gak akan pernah bisa. "
Radit berpikir sejenak. Dia masih memegang pipi adiknya itu. Dia tak tau harus apa, sekeras apa pun dia memaksakan Tasya, tetap saja tak bisa. Entah harus dengan cara apa Radit membuat Tasya mengerti.
"Gua janji, gak akan maksa lu lagi. Gua janji, itu terakhir kalinya gua nyakitin adek gua ini," ucap Radit. Itu sanggup membuat Tasya melengkungkan senyumnya.
"Janji?" tanya Tasya sambil mengacungkan kelingkingnya.
"Iya janji," jawab Radit sambil menautkan kelingkingnya.
"Btw maaf aja ga cukup! Mana salam tempelnya?" kata Tasya yang terkekeh walaupun tangisannya masih ada.
"Nih, gua udah tau kalau lou ngambek," katanya sambil memberikan dua batang coklat. "Yaudah lanjut prepare camping sana," kata Radit.
"Itu lo tau kalau gue mau camping, kenapa tadi nanya-nanya?"
"Ya itu mah basa-basi aja elah. Yaudah gue ke kamar dulu. Besok jangan lupa dateng ke LDKS." Tasya berlari ke kamarnya.
__ADS_1
Radit lumayan sudah lega. Pasalnya dia tak bisa terus-terusan melihat Tasya pergi dengan wajah kusut akibat dirinya. Dia akan merasa cemas jika didiamkan Tasya terus menerus.