
Tasya dan Al turun dari mobil. Al sengaja langsung memarkirkannya di depan rumahnya. Karena mereka semua kumpul di sana sekarang. Mereka berdua saling menatap karena melihat sebuah mobil yang tidak asing di sana, tapi milik siapa ya? Mereka lupa.
Akhirnya mereka berdua masuk ke rumah dan terlihat sudah banyak orang yang menyambut mereka di sana. Tunggu, mata mereka tertuju pada satu orang. "Kak Daffa?" Tanya mereka serempak.
"Ini ada apa?" Tanya Al pada yang lainnya.
"Sana kalian bersih-bersih dulu, nanti kita bicarakan kalau sudah kumpul semua," ucap Diana.
Amara memberikan paper bag, dan juga pouch make up pada Tasya. "Siap-siap di sini aja, udah tante bawain semua."
Tasya yang masih bingung menurut saja, apa Zea akan menikah dengan Daffa? Atau apa? Kenapa mereka juga harus ikut repot? Ada-ada saja. Radit dan Amanda tersenyum melihat muka bingung Tasya seperti itu, adik mereka gemas sekali.
Al pun menarik tangan Tasya dan mengajak Tasya ke kamarnya. "Kenapa mukanya bingung gitu?"
"Aneh aja, apa kak Zea bakalan nikah sama kak Daffa? Atau mereka mau tunangan?"
"Kita liat aja nanti, bersih-bersih sana. Biar aku di kamar Zea. Yang cantik, biar gak malu-maluin," ucap Al.
"Loh jadi selama ini aku gak cantik terus malu-maluin?" Tanya Tasya tak terima.
"Engga, kamu cantik kok. Maksudnya biar lebih cantik dari biasanya. Sana, aku ngambil baju doang gak akan ngintip," kata Al sambil terkekeh.
Tasya tersenyum dan mengangguk, setelah itu dia menerima handuk dari Al dan masuk ke kamar mandi. Dia sih sudah tidak canggung lagi, toh sedari kecil dia sering keluar masuk kamar Al.
Beberapa menit menghabiskan waktu di kamar mandi Tasya pun keluar dan memulai ritualnya. Seperti skincare, mengeringkan rambut, make up, dan terakhir menatap rambutnya. Tidak perlu terlalu tebal, hanya di rumah saja, kan? Jadi Tasya hanya berdandan tipis-tipis.
Setelah selesai Tasya memakai dress berwarna biru langit yang dibawakan Amara dan beberapa perhiasan yang simpel dan elegan. Sementara rambutnya dijepit setengah degan menggunakan jepitan pita Korea dan sisanya dibiarkan terurai dan menyisakan poni tipis di pelipisnya.
Al sudah menunggu Tasya di depan kamarnya, menggunakan celana kain dan kemeja berwarna biru langit yang sudah disiapkan oleh Ibunya, saat Tasya keluar Al sadar kalau mereka memang dibuat senada.
"Bisa gak jangan buat repot?" Tanya Al.
"Hah?" Tanya Tasya sambil menatap Al tak mengerti.
__ADS_1
"Udah cantik, pinter, gemesin, lucu, bikin nyaman, semuanya diborong. Maruk banget," kata Al sambil terkekeh.
"Apasih, Al. Gombal banget, ayok ah ke bawah. Udah ditungguin itu."
Al mengusap pipi Tasya dengan lembut. "Iya bawel, ayok."
Mereka berdua turun dari tangga, terdengar suara-suara itu seperti sudah berpindah ke meja makan. Jadi mereka berdua berjalan ke arah sana. Al terus menggenggam tangan Tasya sampai akhirnya mereka tertuju pada seseorang yang sudah berada di sana.
"Dokter Fadil?" Gumam mereka bersamaan.
"Kalian?" Tanya Fadil yang juga tidak menyangka kalau mereka berdua ada di sini. Ah dia malah menjadi salah tingkah begini. Apalagi pandangannya tidak terlepas dari Tasya yang terlihat cantik malam ini.
"Kalian sudah saling mengenal? Perkenalkan, ini anak bungsu Tante. Namanya Aldo, dan ini tunangannya Tasya."
"Ahh, iya saya sudah mengenal mereka, Om, Tan. Mereka junior saya," jawab Fadil lugas.
Fadil menatap ke arah mereka berdua, ternyata mereka berdua memang sedekat ini. Entah kenapa perasaannya tidak karuan. Tapi seharusnya dia tidak boleh seperti ini, kan?
Tasya dan Al tersenyum, setelah itu mereka duduk bersebelahan dan berseberangan dengan Fadil, Dafa beserta keluarganya. Tiba-tiba Zea duduk bersebelahan dengan Fadil. Al memperhatikan wajah Zea yang sedikit murung, ada apa sebenarnya?
"Sebelum acara makan malam dimulai, Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan. Jadi tujuan makan malam ini adalah, untuk penyatuan keluarga."
Al menyerngitkan dahinya. Sementara Tasya menatap ke arah Zea. Jangan-jangan benar kalau Zea akan menikah dengan Daffa.
Haris menatap ke arah Al yang menatapnya seolah meminta penjelasan. "ayah mau menjodohkan Zea dengan Fadil, anak dari rekan bisnis ayah yaitu Pak Hutomo."
Uhukk ...
Fadil mendadak tersedak. Pasalnya dia belum diberitahu maksud kedua orang tuanya mengajak ke sini. Dia hanya tau kalau hari ini mereka akan makan malam di rumah rekan bisnis ayahnya. Berbeda dengan Zea yang sejak awal sudah diberitahu, itu kenapa dia terlihat murung. Terlebih lagi mantan pacarnya adalah adik dari pria yang dijodohkan dengannya. Laku Daffa bagaimana? Dia terlihat biasa saja karena memang sudah lama mengetahui itu.
"Ekhm, Yah. Maaf Al nyela, tapi apa Zea - Kakak sudah setuju dengan ini? Sepertinya juga Dokter Fadil baru mengetahui ini, terlihat jelas dari responnya," ucap Al. Bagaimana pun perannya di sini harus ada, kan? Ini mengenai masa depan kakaknya sendiri.
"Justru itu kami mengumpulkan semuanya di sini, termasuk untuk menanyakan kesiapan dari Zea dan Fadil," ucap hutomo - Ayah Fadil.
"Tapi Ayah, alasan kak Zea dijodohin kenapa? Maaf Tasya bertanya," cicit Tasya.
__ADS_1
"Kami berdua akan menjalankan bisnis besar, Sayang. Ayah dan juga Pak hutomo. Jadi kami berpikir kalau kerja sama ini bisa bertahan lama juga dengan menjodohkan anak kami berdua."
Tasya hanya mengangguk, sebenarnya dia ingin mengutarakan kalau Zea seperti tertekan dengan ini. Tapi tadi mereka bilang akan menanyakan kesiapan juga, kan? Jadi Tasya membiarkan saja keputusannya pada Zea, begitu juga dengan Al.
"Jadi apakah kalian bersedia dijodohkan?" Tanya Haris pada keduanya.
Zea dan Fadil terdiam. Zea sebenarnya tidak tau harus menjawab apa. Orang tuanya tidak memaksa memang, tapi entah kenapa dia merasa tidak punya pilihan selesai menerima. Sedangkan Fadil, dia tidak mempunyai pilihan, keputusan yang diambil orang tuanya selalu mutlak. Tidak bisa diganggu gugat.
Sinta mengelus bahu anaknya dan tersenyum, seolah mengisyaratkan kalau dia tidak boleh menolak. "Saya menerima, Om."
Zea terkejut, bagaimana mungkin pria ini bisa langsung mengiyakan? Padahal Zea yakin kalau dia baru mengetahuinya hari ini.
"Zea?" Tanya Haris.
Zea menghela napasnya. "I-iya, Ayah. Zea juga."
Mereka tersenyum bahagia, begitu juga dengan Daffa. Dia senang akhirnya Zea bisa melupakan dirinya, padahal Daffa tidak tau saja kalau sampai saat ini Zea masih memikirkannya.
"Baik kalau begitu nanti kita atur tanggal pernikahannya. Karena berbeda dengan Al dan Tasya. Zea dan Fadil ini akan langsung menikah karena umur mereka yang sudah matang," ucap Haris.
Zea memejamkan matanya, memikirkan keputusan yang bru saja dia buat barusan, apakah dia sudah memilih jalan yang benar. Diusianya yang sudah 25 memang seharusnya dia siap menikah, tapi kenapa harus dijodohkan. Dengan pria 30 tahunan menurut dia agak aneh, apalagi dia memang lebih menyukai daun muda. Apakah dia siap menjadi kakak ipar dari mantannya?
Tasya dan Al saling menatap. Mereka seolah berkomunikasi lewat telepati dari gerakan matanya.
Kak Zea terima, kamu yakin gak sih?
Aku juga gak yakin, tapi mukanya gak meyakinkan.
Masa kita diem aja?
Nanti aku bicara sama Zea.
Haris menatap Al dan Tasya yang terlihat aneh. "Al, Tasya? Kalian kenapa?
"Hahahaha, gapapa Ayah," jawab mereka terkekeh sambil menghela napasnya.
__ADS_1
Fadil menatap Tasya, kenapa tidak Tasya saja yang dijodohkan dengannya? Dia benar-benar tersiksa dengan keadaannya kali ini. Tapi itu juga tidak mungkin terjadi, kan? Karena Tasya adalah tunangan dari calon adik iparnya sendiri. Benar-benar keadaan yang rumit dan hanya diketahui oleh masing-masing pemerannya.