Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Amara dan Amarahnya


__ADS_3


"Jujur, apa yang udah mama lakuin sama Tasya?!" Bentak Chandra.


"Engga sayang mama gak ngelakuin apa-apa, kamu tau sendiri kalau Tasya jiwanya terganggu. Jadi dia belum bisa menerima semuanya. Percaya mama, Sayang," ucap Lidya yang berusaha lembut pada anak tirinya ini.


"Ma, gak mungkin orang-orang di sekitar Tasya marah kalau mama gak ngelakuin apa-apa!"


"Sudahlah kalian ngapain ributin permasalahan ini lagi? Chan, mamamu mungkin sudah jujur jadi jangan dibahas lagi. Papa sudah menasehati mama kamu untuk memperbaiki hubungan dengan anak-anaknya dan mereka semua perlu waktu. Semuanya butuh proses gak ada yang instan," ucap Dibrata- ayahnya.


Chandra menarik napasnya kasar, dia merasa seperti tidak berdaya dengan semua ini. Bahkan dia tidak tau apa-apa tentang kebenaran atau tidak.


Ding ... Dong


Bell berbunyi, Dibrata langsung menuju ke ruang tamu dan membukakan pintu. Matanya membulat ketika melihat Amara ada dihadapannya. Bersama dua orang pria dan anggota kepolisian.


"A-amara ... "


"Iyaa, aku Amara. Tolong suruh istrimu itu keluar, Dib! Kali ini saya gak akan biarin dia lepas!" Ucap Amara dengan luapan emosi yang hampir meledak-ledak.


"Tunggu, ada apa?! Kenapa harus ada polisi, apa yang Lidya perbuat?" Tanya Dibrata tak mengerti.


Tanpa menjawab pertanyaan Dibrata, Amara masuk ke dalam rumah itu mencari keberadaan Lidya, "LIDYA KELUAR KAMU!!"


Lidya yang mendengar teriakan Amara gemetar, orang yang selama ini dihindarinya kini ada di sini.


Amara yang melihat Lidya mematung langsung menarik tangan Lidya untuk keluar. Tanpa ampun, kali ini emosinya sudah tidak bisa dia tahan. "Ikut saya!"


"Heyy anda apa-apaan masuk tanpa izin," cegah Chandra.


Amara menatap Chandra dengan tajam. Kasian sekali anak ini tidak tau kelakuan ibu tirinya. "Jangan ikut campur, saya gak ada urusan sama kamu."


"Lepaskan saya, Amara! Apa-apaan kamu?!"


Amara langsung mendorong Lidya ke hadapan polisi. Dibrata yang tidak mengerti menatap Lidya seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Amara, tahan emosi kamu. Kenapa kau menyeret istri saya seperti itu?!" Dibrata tidak terima melihat istrinya di perlakukan seperti itu.


"Kenapa?! Benar-benar bodoh kamu, Dib. Setelah kamu memutuskan hubungan pertemanan kita karena Lidya kamu juga bodoh karena menjadikan seorang pembunuh ke rumah ini." Amara maju selangkah dan menatap Dibrata tajam.


"Pembunuh? Pembunuh apa?!"


"Lidya yang udah bunuh istri kamu setelah melahirkan anak kamu! Dan suamiku menyaksikan semuanya, lalu dia juga menabraknya sampai tidak bernyawa! Kamu terlalu tutup mata karena mencintai dia sampai kamu tidak mencari kebenarannya, Dib!"


"Amara, jangan mengada-ngada. Alena meninggal karena kehabisan darah saat melahirkan anakku! Gak bisa kau nuduh Lidya tanpa bukti!"


Amara mengeluarkan amplop coklat dari tasnya dan memberikan pada Dibrata. "Bukti yang kamu pinta."


Amara kembali menatap Lidya semntara Dibrata mencoba memeriksa isi amplop itu.


Amara melangkahkan kakinya menghampiri Lidya. "Selama belasan tahun aku diam Lidya, tapi kamu sudah keterlaluan. Apa kamu tidak puas dengan apa yang kamu lakukan pada kakakku? Pada suamiku?!  Sekarang kamu menghancurkan hati Tasya sampai dia mencoba mengakhiri hidupnya berkali-kali, dimana rasa kemanusian kamu? Naluri keibuan kamu di mana hah?!"


"Amara, cukup dengan omong kosong kamu ya. Mas jangan percaya sama dia, dia itu-"


Plak


Satu tamparan mendarat di wajah Lidya. Chandra kali ini tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bingung dengan semua yang terjadi. Bingung dengan hal yang Amara ucapkan.


"Belasan tahun lalu kamu merenggut suamiku, kamu juga merenggut sahabatku, lalu kamu meghancurkan hati kakakku bersama Radit yang masih kecil, dan sekarang kamu juga meyakiti Tasya. Di mana hati kamu Lidya!" Amara mencengkram kedua lengan Lidya, tatapannya jelas penuh amarah dan kebencian.


Chandra menghampiri papanya yang mematung karena melihat isi amplop itu. Chandra mengambil alih berkasnya. Di sana tertera kalau ibu kandungnya meninggal karena kontraindikasi saat melahirkan, karena ibunya mempunyai riwayat asma. Dan di sana ada photo-photo saat Lidya mencabut selang pernapasan milik Alena yang mengakibatkan Alena kekurangan oksigen dan meninggal.


"Belasan tahun kamu bohongi kami semua Lidya!! Kenapa kamu tega berbuat seperti itu pada Alena?!"


Plakk ...


Dibrata kali ini yang menampar Lidya. Bagaimana bisa dia menikahi pembunuh istrinya sendiri, ibu kandung Chandra.


Lidya menangis, dia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Semuanya benar, bahkan dia yang memalsukan dan membayar dokter untuk memanipulasi data. Entah darimana Amara bisa mendapatkan bukti-bukti itu.


"Tidak mass, itu semua manipulasi. Aku tidak mungkin membunuh Alena, dia juga sahabatku. Aku tida mungkin melakukan hal seperti itu." Lidya memeluk kaki suaminya dan menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"CUKUP!! Saya tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut kamu yang penuh kebohongan. Polisi, tolong bawa saja dia!" Perintah Dibrata.


Polisi langsung menangkap dan memborgol tangan Lidya. Kali ini dia berontak, dia tidak ingin masuk penjara.


"Mas tolong jangan bawa aku ke polisi, Mas. Pak saya tidak bersalah, LEPASKAN!" Teriak Lidya.


"Sebaiknya Ibu jelaskan di kantor polisi. Ayok bawa dia," perintah pentinggi polisi pada anggotanya.


Lidya pun dibawa dan dimasukan kedalam mobil polisi. Chandra dan Dibrata  saling memeluk. Kini bukan hanya rasa kecewa saja tapi rasa bersalah mereka juga sama. Dibrata merasa bersalah pada Alena dan Amara, sedangkan Chandra merasa bersalah pada Tasya. Karena selama ini dia tidak menyadari kalau Tasya diperlakukan seperti itu oleh mama tirinya yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya.


Radit dan Al mencoba menenangkan Amara. Dia tau kalau sekarang tantenya itu sedang membuka luka lamanya sendiri. Luka yang sudah dia pendam selama belasan tahun.


"Tenang, Tan. Percayakan semua sama polisi, yang terpenting sekarang kita cari keadilan buat semuanya," ucap Radit sambil mengusap-usap punggung Amara.


"Tante seharusnya sudah melakukan ini dari lama. Seharusnya dia juga sudah mendekam dipenjara, biar Tasya tidak menjadi korban. Tante gak bisa liat Tasya seperti itu, Dit. Tante sayang sekali sama kalian berdua," ucap Amara yang masih terisak.


"Al tau tante sekarang lagi menggali luka lama tante sendiri. Tante yang kuat ya, Tasya bakalan baik-baik aja. Yang terpenting sekarang tante Lidya udah ditangkap. Al sama bang Radit bangga sama tante." Al kini memeluk Amara, dia dapat merasakan kalau Amara benar-benar terluka.


"Amara," panggil Dibrata.


Amara melepas pelukan Radit dan Al, lalu dia berbalik menatap Dibrata.


"Aku minta maaf, aku benr-benar bodoh karena terhasut oleh Lidya dan memutuskan persahabatan kita. Aku benar-benar bodoh," ucap Dibrata yang tertunduk sambil menangis.


"Aku sudah memaafkan kamu, Dib. Aku hanya ingin kamu terbebas dari wanita jahat itu. Yang selama ini membohongi kamu dan Chandra."


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Lidya benar-benar melakukan hal seperti itu. Terima kasih karena telah membongkar semuanya aku harap kita bia bersahabat seperti dulu," kata Dibrata tulus.


Amara mengangguk, Dibrata memang tidak bersalah. Dia hanya dibutakan oleh perasaannya pada Lidya.  Setelah sekian lama mencoba mengikhlaskan kepergian suaminya, kini dia kembali teringat. Tapi Amara lega karena bisa membongkar segalanya dan mendapatkan sahabatnya kembali.


Chandra melangkahkan kakinya menghampiri Radit dan Al. "Gua ... Gua minta maaf. Gua gak tau kalau selama ini gua dibohongi. Gua bener-bener minta maaf atas kejadian tadi dan apa yang terjadi sama Tasya."


"Lu gak salah, lu cuma terlalu percaya sama orang sampai emosi lu gak ke kontrol. Lain kali lu harus lebih cermat buat menilai keadaan." Al menepuk bahu Chandra lalu tersenyum tipis.


"Gimana keadaan Tasya? Dia coba buat bunuh diri lagi?" Chandra memberanikan diri untuk bertanya. Karena tadi saat marah Amara bilang kalau Tasya mencoba untuk bunuh diri.

__ADS_1


"Dia di rumah sakit, udah aman. Ada Viko juga yang jagain. Jadi gak usah khawatir," jawab Radit.


Chandra mengangguk dan sedikit lega mendengar Tasya suda baik-baik saja. Setelah ini dia harus menemui Tasya untuk meminta maaf secara langsung atas apa yang terjadi sebelum-sebelumnya.


__ADS_2