Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Bersosialisasi


__ADS_3


Al memarkirkan motornya di salah satu cafe. Banyak yang melihat ke arah mereka, karena siapa yang tidak mengenal Aldo Prayoga? Dan sekarang dia membawa gadis yang sering dipostingnya di instagram. Pastinya akan jadi bahan perbincangan.


Tasya menarik-narik baju Al. "Al ..."


"Kenapa?" Tanya Al yang sedikit heran dengan kelakuan Tasya.


"Kok pada liatin gue? Emang gue aneh ya? Atau make up gue ketebelan? Atau muka gue terlalu sunda gitu jadi aneh?" Tanyanya pelan dan beruntun.


"Udah cuekin aja, itu karena lu cantik. Dah jangan nanya lagi," jawab Al menegaskan.


"Ihh serius, Al," geram Tasya.


"Serius Tasya Aurell. Udah yuk mending kita masuk aja sekarang." Al pun menggenggam tangan Tasya.


Tasya pun hanya bisa pasrah dan mengikuti Al masuk ke sana. Namun dipertengahan jalan Tasya menghentikan langkahnya.


"Anu, Al. Gue mau ke toilet dulu. Mau pipis," cicitnya.


Al mengangguk. "Yaudah mau gua tungguin atau nanti nyusul?"


"Nanti gue nyusul," kata Tasya tersenyum dan langsung berlari mencari toilet.


Di dalam toilet Tasya merapikan penampilannya dan memoleskan sedikit liptint. Teringat dengan teman-teman perempuan Al yang terlihat cantik, membuat Tasya sedikit tidak percaya diri. Jadi tentunya dia tidak boleh malu-maluin.


Setelah selesai Tasya keluar dari kamar mandi, namun baru beberapa langkah ....


Brukk.


Seseorang menabrak tubuh Tasya dan ponsel miliknya terjatuh. Tasya sontak mengambil ponselnya.


"Eh sorry, gua tadi gak liat-liat jalan. Sorry banget," ucap pria itu panik.


Tasya menoleh menatap pria itu. "Oh iya, gapapa. Gue juga salah gak liat-liat dulu." Tasya tersenyum kikuk.


"Oh oke, kalau gitu gua duluan," katanya dan Tasya pun hanya tersenyum. Lalu pria itu pergi dari sana.


Tasya hanya mengangguk kecil, lalu melangkahkan kaki mencari meja Al dan teman-temannya. Matanya tertuju pada Al yang melambaikan tangannya dari ujung sana. Tasya dan Al saling menghampiri, digenggamnya tangan Tasya dan kembali ke meja yang tadi Al tempati. Bukan apa-apa, dia tau kalau Tasya pasti ragu menemui teman-temannya.


"Guys kenalin dia-"


"Tasya, kan?" Tebak Monica sambil tersenyum ke arah Tasya.

__ADS_1


Al mengangguk dan mengajak Tasya untuk duduk di sebelahnya.


"Hai, gue Tasya," cicitnya sambil tersenyum.


"Hai, Sya gue Monica," ucap Monica.


"Akhirnya ya kesini juga, gue Belva." Belva melambaikan tangan karena posisi mereka yang cukup jauh.


"Lu tau gua lah, Angkasa," ucap Angkasa sambil terkekeh.


"Apalagi gua yakan? Yoda si tampan," kata Yoda percaya diri.


"Hahaha iya gue inget kok," jawab Tasya sambil terkekeh.


"Sumpah ya lo lebih cantik dari difoto. Emang cewek-cewek Bandung high quality," kata Belva.


"Gak, Kok. Sama aja," ucap Tasya merendah.


"Mereka ini satu kampus sama kita, yang beda cuma Monik aja karena dia anak FKG," kata Al.


"Kok beda sendiri?" Tanya Tasya pada Monica.


"Kenapa ya? Jadi gue tuh dulu sering banget ke rumah sakit gigi dan mulut. Lo tau kenapa? Karena dokternya itu ganteng. Jadi kalau gue sakit gigi sedikit nih ya, langsung aja gue ke sana. Kadang gue mainin kursinya gitu kan yang bisa turun naik. Jadi ya lo bisa simpulin lah kenapa," kata Monica.


Mereka tertawa mendengar penjelasan Monica. Dia memang friendly jadi paling bisa membangun suasana, Tasya pun jadi bisa sedikit beradaptasi karena itu.


"Engga lah gila, itu tuh dokter koas. Gue dikenalin sama Abang gue, dia kaya lagi cari pasien gitu kan. Yaudah gue kan suka gratisan jadi gue ke sana tuh. Eh ganteng, sekarang gue gak tau dia udah jadi dokter gigi apa belum, tapi kalau tau dia praktek di mana gue mau lepas pasang gigi," balas Monik.


"Gila gabut banget lu lepas pasang gigi demi ke dokter gigi, emang gak ada obat," timpal Angkasa.


"Yeuu selain menata masa depan gue juga harus menata soal jodoh juga. Itu namanya berpikir ke depan," kata Monica bangga.


"Tapi kadang emang gitu sih. Kadang cita-cita itu emang ada yang dibentuk sendiri, ada yang termotivasi, ada juga yang dari pengalaman terus kita jatuh cinta sama passion itu. Jadi gak aneh juga," ucap Tasya yang mulai memberanikan diri menyambung obrolan.


"Cakep, udah mukanya cakep otaknya juga cakep. Fix kita harus temenan," cetus Monik.


"Kalau gue sih kayanya termasuk ke termotivasi deh, soalnya gue suka aja liat anak FK. Kaya aura pinter gitu, apalagi bawaan buku mereka tebel-tebel kan ya, gue jadi pingin pinter juga," kata Belva.


"Kalau gua karena apa ya, karena si Al tuh ngajakin bareng terus. Gua rasa dia homo," celetuk Yoda.


"Jangan gila, gak gitu bodoh!" Timpal Al.


"Tapi asli kita masuk kedokteran karena termotivasi sama Al. Diantara kita bertiga yang otaknya encer cuma dia. Kebayang gak sih kalau gua sama Yoda beda jurusan sama Al. Gak ada yang bisa dipintain jawaban," kata Angkasa.

__ADS_1


"Tapi sekarang udah jadi cita-cita. Ya sekiranya gua ada cita-citalah lah begitu," ucap Yoda sedikit bangga pada dirinya.


"Ya sedikitnya kalian punya cita-cita yang waras lah karena gua. Jangan kaya Tasya, cita-cita kok berenang di bawah patung Surabaya," sindir Al.


"Anjir serius? Hahahaha ngapain lu, Tasya?" Angkasa tertawa mendengar pernyataan Al.


"Cantik-cantik cita-cita lu aneh juga ya, Sya." Yoda pun ikut tertawa.


"Apasih, Al! Lo mah ember banget. Ya maksud gue kaya seru aja gak sihh, itu gue sampe kebawa mimpi tau," jelas Tasya.


"Tasya, yang ada tar lo ditangkap sama satpol pp atau sama bu wali kota karena merusak cagar budaya," ucap Monica yang masih tertawa.


"Eh tapi setelah gue pikir-pikir kayanya seru juga, jadi pingin," celetuk Belva.


"Ini nih, stress. Malah mau ikutan, nyerah deh gue temenan sama kalian," kata Al.


"Emang kenapa sih? Rasis banget, belom aja gue gebuk," kesal Tasya sembari memukul lengan Al.


"Satu lagi, yang kalian harus tau. Love language Tasya itu physical attack, jadi awas aja kalau lagi sama dia tiba-tiba kena pukul," kata Al.


"Hahaha itu bener tapi, gak gitu ih. Gue tuh geregetan aja apalagi sama lo. Kaya enak aja gitu mukulnya." Tasya tertawa sambil memukul lengan Al sekali lagi.


"Kalian ini kaya kucing sama anjing tau gak?" Ucap Belva.


"Gue tuh sama Al temenan dari kecil, jadi udah sering kayanya kalau ribut. Tapi misalnya kalau jauhan saling kehilangan iya kan, Al?" Tanya Tasya sambil melirik ke arah Al.


"Lu kali yang kangen gua, gua sih engga," ledek Al.


"Al!! Gue ngambek ya!" Kesal Tasya.


Al pun memeluk leher Tasya agar membuat gadis itu diam. Tentu saja Al sangat merindukannya, bahkan teman-temannya pun tau.


"Gak, Sya. Gengsi aja dia bilangnya, padahal sering cerita sama kita kalau galau kangen lo," ceplos Monica.


"Bener, kalau misalnya lo gak ada kabar dia bakalan kepikiran. Lo tau? Kayanya setiap orang yang kenal Al pasti kenal lo juga walaupun gak pernah ketemu lo," ucap Belva.


"Kenapa gitu?" Tanya Tasya penasaran.


"Ya karena kalau gak ngomongin lu, orang juga liat kali Instagram Al isinya kebanyakan sama lu," kata Angkasa.


"Makanya jangan heran kalau nanti mendadak banyak yang kenal lu, karena lu udah gak asing buat mereka," timpal Yoda.


Tasya pun tertawa, ternyata Al tidak bohong dengan ucapannya waktu itu. kalau dia selalu menceritakan Tasya kepada teman-temannya.

__ADS_1


"Bongkar aja terus bongkar, Tuhan menutupi aibmu, tapi temanmu adalah kalian," ucap Al pasrah.


Mereka pun tertawa bersama. Mereka cukup cepat dalam menyesuaikan diri dan mulai sekarang mereka semua berteman. Terlebih lagi mereka senang kalau Tasya dan Al kini bisa dekat. Mereka tau betul cerita Al dari A-Z.


__ADS_2