Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Mengembalikan Mood Tasya


__ADS_3


Tasya terdiam melihat dosennya yang mencoret beberapa kalimat di sana. Napasnya terasa berat karena ada beberapa koreksi yang membuatnya sedikit down, di bimbing oleh dosen terbaik memang ada kesenangan tersendiri, tapi menurutnya tidak sehat untuk perasaan, kata-katanya terkadang pedas dan terlalu perfeksionis.


Setelah selesai Tasya mencoba menetralkan perasaannya yang tidak karuan, Al pasti akan merasa khawatir kalau melihat Tasya dengan wajah seperti ini. Tapi jujur saja di tidak bisa menyembunyikan ekspresinya sekarang.


Tasya keluar dari ruangan dosen pembimbingnya dengan wajah lesu. Al yang sudah menunggu di luar pun menatap wajah tunangannya itu gemas.


"Kenapa itu wajahnya?" Tanya Al sambil menghampiri gadisnya itu.


"Revisi lagi." Tasya membenamkan wajah di tumpukan skripsinya.


"Sama dong, jangan-jangan jodoh," goda Al.


Tasya terkekeh dan memukul lengan Al pelan. "Kamuu ihh aku lagi bete malah bilang kaya gitu. Jadinya kan gak bisa bete, malah mau ketawa tau."


"Oh tunangan aku lagi bete, bilang dong. Wajahnya kaya bukan bete sih, kaya minta dipeluk itu mah." Tak perlu butuh lama Al pun memeluk Tasya.


Tasya pun membalas pelukannya sambil sedikit tersenyum. Dia merasa cape sih, tapi di saat seperti itu Al selalu membuatnya semangat lagi. "Iya mau dipeluk, soalnya kamu hangat banget." Tasya pun membalas pelukan Al, untuk sejenak dia merasa kalau perasaannya jauh lebih baik.


"Mau minum boba? Sehari ini kita lupain dulu skripsi, baru malem kerjain lagi. Pulihin dulu perasaan sama mood kamu, mau gak?"


Tasya mengangguk. "Hmm boleh. Tapi yang lain pada kemana?"


"Mereka masih bimbingan, masih lama katanya," jawab Al.


"Oh yaudah kalau gitu ayok." Tasya tersenyum.


Al langsung menggenggam tangan Tasya dan mengajaknya ke mobil. Mereka pun sekarang sedang dalam perjalanan menuju toko boba, namun saat sampai di sana tokonya tutup.


"Yah tutup, tapi gak ada yang enak lagi selain di situ," ucap Tasya kecewa. Moodnya yang tadi sedikit membaik, malah buruk kembali.


Al menatap gadisnya itu sambik tersenyum. "Aku ada boba yang lebih enak dari itu, mau gak?"


"Di mana?" Tanya Tasya sambil menatap ke arah Al.


"Ada, tapi senyum dulu dong. Masa mukanya begituz nanti aku pastiin ini lebih enak dari boba mana pun," kata Al membujuk Tasya.


Tasya perlahan tersenyum, ya memang sedikit. Tapi Al senang melihatnya, sekiranya masih ada setitik senyum di wajah Tasya. Perlahan Al kembali melajukan mobilnya, sementara Tasya hanya diam menatap jalanan. Benar-benar buruk sekali hari ini. Sudah begadang beberapa hari, dapat kata-kata pedas dan harus revisi lagi. Memang benar teryata kalau orang kurang tidur akan lebih buruk moodnya dan itu benar-benar Tasya rasakan.

__ADS_1


.


.


.


Mereka sampai di depan rumah Al. Tasya heran, bukannya pria ini akan mengajaknya minum boba? Tapi kenapa pulang begitu cepat?


"Katanya mau minum boba?" Tanya Tasya pada Al.


Al keluar dari mobil dan membukakan pintu Tasya, Tasya pun turun dan menerima uluran tangan Al. Setelah itu Al menggenggamnya dan masuk ke dalam rumah. Rumah ini sepi karena semua orang memang tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


Al mengajak Tasya ke dapur dan memasangkan apron pada tubuhnya. Tidak lupa juga memasangkannya pada Tasya. "Bobanya bikin ala chef Aldo prayoga. Rasanya bakalan lebih enak dari toko sebelah."


"Emang kamu bisa bikinnya?" Tanya Tasya tidak yakin.


Perlahan Al mengeluarkan ponselnya dan mencari resep boba. Setelah mendapatkan yang meyakinkan dia tunjukkan pada Tasya. "Ada google."


Tasya terkekeh kenapa pria itu selalu memberi effort besar yang membuatnya melting sendiri? "Yaudah buktiin lah kalau emang bisa."


"Siap, My Queen." Al mencium puncak kepala Tasya lembut, setelah itu berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa di sana. Sesekali dia memastikan barang bawaannya sudah benar atau belum.


Setelah yakin dia membawanya ke pantry. Pertama dia menuangkan tepung tapioka ke dalam wadah dan juga coklat bubuk. Setelah itu dia panaskan air ke dalam panci. Tasya melihat Al yang fokus membuatnya gemas sendiri.


"Nakal ya kamu." Al tidak tinggal diam, kini dia melakukan hal yang sama. Al hasil kini mereka kejar-kejaran di dapur dan saling melempar tepung. Ya hiburan untuk mereka yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan skripsi.


Al memeluk Tasya dengan erat lalu mencolek kembali pipi Tasya dengan tepung di sana. "Nahkan kena sendiri kan, makanya jangan jahil hahahaha."


"Aaaahh hahahaha curang kamu ihh, mentang-mentang tenaganya kuat, liat aku jadi cemong sama tepung."


"Salah sendiri badannya kecil, gampang di culik kalau kaya kamu gini. AIRNYA." Teriak Al yang sadar kalau mereka sedang memanaskan air.


Mereka tertawa, saking asiknya mereka sampai membuat air dalam panci benar-benar surut. "Udah-udah, kita masak lagi. Jangan nakal kali ini!" Peringat Al.


Tasya hanya menurut, tapi sebenarnya tangannya gatal sekali ingin mengganggu Al. Ya bagaimana pun mereka sudah berteman sejak kecil, jadi kegiatan saling mengganggu itu akan terasa kurang jika tidak di lakukan.


Setelah air matang, Al menuangkan perlahan pada tepung yang sudah mereka siapkan lalu menguleninya hingga kalis. Dengan semangat mereka berdua membulat-bulatkan tepung itu agar mirip dengan boba.


Dan kini mereka memasukan boba itu ke dalam air panas yang sedang mereka didihkan. Sambil menunggu, Tasya menatap ke arah Al.

__ADS_1


"Ini kalau Bunda dateng pasti marah dapurnya kita berantakin," kata Tasya pada Al.


"Kamu sih bandel mainin tepung. Hayolohhh ... "


"Tapi kan kamu ladenin juga, ihhh jangan kaya gitu! Nakut-nakutin aja, nanti bunda marahnya sama aku," ucap Tasya panik.


"Hahahahaha kenapa gemes banget sih?" Al menarik hidung mungil Tasya pelan, dia benar-benar tidak kuat melihatnya.


"Aaaalll idung keramat aku! Ih kamu mah, mentang-mentang idungnya mancung. Gapapa deh tapi kalau nanti kita nikah kan bisa memperbaiki keturunan, nanti anaknya jadi mancung kaya bapaknya," ucap Tasya asal.


"Dih nikah-nikah, masih kecil. Jangan polosin Al, Tante," goda Al.


"Aldoo Prayogaaaaa!!!" Rengek Tasya sembari memukul lengan Tasya.


Al tertawa, sangat suka sekali jika membuatnya merengek seperti itu. "Utututu, iya iya nanti kita nikah ya."


"Gak tau ah, aku mau nikah sama oppa korea aja. Soalnya kamu nyebelin," kesal Tasya.


"Aku kan juga oppa-oppa, Oppa Al."


Tasya tertawa. "Gakk, kamu cowokku."


"Jangan bikin salting!" Peringat Al.


Tasya memeluk Al gemas, memang Al ini mesin mood boosternya. Ya buktinya sekarang moodnya kembali penuh akibat ulah Al.


Setelah jadi Al menaruh boba di gelas dan menuangkan es serta susu full cream di sana. Ya memang tidak secantik di toka, tapi dia yakin ini bisa di makan.


"Nih, boba spesial pake perasaan, cobain," kata Al sembari memberikan gelasnya pada Tasya.


Tasya tidak mengambil gelasnya, dia menarik sedotan dan mencobanya pelan-pelan. Setelah itu dia terdiam dan tersenyum ke arah Al.


"Enak gak?" Tanya Al.


Tasya mengambil gelas itu dan meminumnya lagi. "Enakk, kayanya aku bakalan lebih suka boba yang ini sekarang. Jadi rajin-rajin aja buatin aku kaya gini."


"Ogah, itu karena kamu aja bete. Kalau gak bete juga gak akan dibuatin."


"Ih jahat banget kamu, bete lagi nih," ancam Tasya.

__ADS_1


Al langsung menangkup pipi Tasya dan mengunyel-unyel seperti squishy. Memang selain moodyan, gadisnya itu juga ngambekan. Membutuhkan ekstra kesabaran.


"Iya-iyaa nanti dibuatin lagi, ngambekan."


__ADS_2