Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Temenan Kok


__ADS_3


Malam ini Sherli dan Sarah sudah berada di Rumah Sakit.  Mereka sedang menunggu orang. Sepulang sekolah tadi mereka memang sudah sepakat untuk menengok Tasya.


"Kalian berdua aja, 'kan?" tanya Sherli memastikan pada Bagus dan Arka yang baru saja sampai.


"Iya. Viko sama Reza gak akan tau, kok." Bagus memang sengaja tidak mengajak kedua temannya itu, karena pasti Viko dan Reza akan curiga.


Mereka pun masuk ke ruang inap Tasya. Tapi mereka kaget karena di sana sudah ada Viko di samping ranjang Tasya. Bukan akan jadi masalah, tapi pasti akan terjadi masalah. Apalagi Viko tau kalau Bagus menyukai Tasya. Dia pasti akan mencurigai mereka.


"Ko, lu–lu di sini juga?" tanya Arka kaget.


"Ngapain lu pada pasang-pasangan kaya gitu? Kok Reza kagak ikut? Curiga nih gua." Viko menatap mereka menyelidik. Biasanya jika ada acara apapun, Arka dan Bagus tentu akan mengajaknya juga.


"Ki-kita itu tadi e-emang mau nengok Tasya berduaan tadinya. Tapi ketemu mereka, jadi bareng gitu." Sarah mencoba mencari alasan, tapi karena gugup sudah pasti ketauan kalau Sarah sedang berbohong.


"Kok gua gak percaya ya," ucap Viko sambil menyipitkan matanya. Viko memang orang yang cukup peka dengan situasi. Baik Arka, Bagus maupun Reza tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.


"Kenapa kagak percayaan sih lu, kampret! Seriuss, kan lu tau kalu kita gak bisa bohong sama lu." Arka berusaha meyakinkan Vikk yang masih menatapnya curiga.


"Kita kan serangkai, kok lu gak ngajak gua sama Reza di grup? Biasanya nih kalau mau kemana pun lu selalu bilang dah di grup. Ini gak ada anjirr." Viko menyelidik sambil melihat chat di ponselnya.


"Ya kan kita tau, lu ada di sini. Jadi gak gua kasih tau lagi." Giliran Bagus yang mencari-cari alasan, padahal Viko sudah tau kalau mereka pasti ada apa-apa.


"Perasaan tadi lu nanya deh, 'lu ada di sini juga?' berarti lu gak tau gua ada di sini," kata Viko yang sengaja ingin meng-skak mereka.


"Ya basa-basi aja itu mah, Ko," elak Arka sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Terus kalau lu pada tau gua di sini, kenapa Reza kagak ngikut?" Viko melihat ke sekeliling mencari Reza, dia tidak akan puas sebelum teman-temannya mengaku.


"Emm-anu, duh ya gitu," kata Sherli gugup.


"Kalian lagi deket? Lu sama Arka? Sarah sama Bagus?" tanya Tasya menyelidik.


"Gak," sanggah mereka berbarengan.


"Enggak kok, Sya. Kita cuma temenan. Iya kan, Ka?" tanya Sherli pada Arka.


"Iya kita temenan aja kok," kata Arka.


"Kita juga temenan ya kan, Gus?"


"Iya temenan," kata Bagus.


"Kok gua mengendus sebuah kebohongan," kata Viko.


"Endus-endus, kek anjeng lu," kata Bagus.


"Pala lu," ucap Viko tak terima.


Seringai kecil muncul di sudut bibir Arka. Mencari celah agar semuanya berbalik. Dia bukan tidak ingin memberitahu Viko, tapi dia akan memberi tahu semuanya di saat yang tepat.


"Btw lu ngapain di sini?" tanya Arka dengan intens.

__ADS_1


"Gua ya nengok orang sakit, masa iya gue ngedugem di sini. Mikir!" jawab Viko santai. Dia tidak curiga kalau Arka sedang mengalihkan pembicaraan.


"Sejak kapan kalian deket? Biasanya berantem mulu?" tanya Bagus mulai menyelidik dan ya sekarang posisi berbalik kepada Viko dan Tasya.


"Apa jangan-jangan," lanjut Bagus dengan nada-nada curiga.


"Jangan-jangan apa? Gak ada kek gitu-gituan," sanggah Tasya.


"Kalian jadian ya?" Atau lagi pdkt?"Sarah melipat kedua tangannya di dada dan mendekat ke wajah Tasya. Mencoba mencari kebohongan dalam raut wajah Tasya.


"Gak ih, kita temenan. Gue, sama Viko kita temenan," tegas Tasya. Tasya melirik ke arah Viko agar membantunya dari serangan pertanyaan teman-temannya.


"Mengalalihkan pembicaraan lu pada." Viko menggeplak kepala bagus dan dibalas ringisa dari bagus. Setelah itu mereka tertawa.


Mereka pun duduk di sofa, sementara Sherli dan Sarah duduk di ranjang dan menatap Tasya dengan tatapan tajam. Tasya ini memang teman mereka yang susah diatur dan keras kepala, selalu saja ada alasan ketika dinasehati.


"Btw kenapa lo bisa sampe masuk sini lagi, Sih? Bandel banget kalau dibilangin. Udah gue bilang lo harus jaga kesehatan. Lo jaga diri sendiru aja susah, gimana kalau punya pacar coba?" Sherli geram melihat Tasya yang menatapnya sok polos. Padahal mereka sudah khawatir dibuatnya.


"Gak kenapa-kenapa, kecapean aja gue habis camping. Baru kerasanya sekarang. Gak bandel gue tuh, seriusss. Kali ini karena kecapean aja. Lo nihh ya, temen sakit malah dimarahin." Tasya mengerucutkan bibirnya gemas kepada Sherli, kalau sudah begitu dia mana bisa marah lagi.


"Makanya lo harus sadar kesehatan, lo OSIS aja terus diurusin. Badan lo sendiri gak diurusin. Jadi gini, 'kan? Kita khawatir pas tau lo ada di rumah sakit." Sarah memeluk Tasya dan dibalas peluk oleh Tasya.


"Ya gak juga sih gak gitu, gue nya aja yang pelupa. Maaf ya udah bikin kalian khawatir. Ululuu cabatku ini gemas sekali." Tasya tertawa sambil memeluk keduanya.


"Katanya lo pingsan, emang lo pingsan di mana?" tanya Sarah.


"Di gedung, terus gue di bawa Viko ke sini," jawab Tasya polos.


"Jadi lo lagi sama Viko pas lo pingsan? Pas pulang kerja kelompok kalian langsung ngedate?" kaget Sherli.


"Diam-diam apaan?" tanya Viko bingung.


"Diam-diam pdkt sama si Tasya. Kenapa kagak bilang-bilang?" tanya Bagus.


"Kagak, gua cuma nemenin dia doang. Tanya aja sama orangnya," ujar Viko yang masih mengunyah makanannya dan berduduk santai.


"Iya, bokap gue kemarin tiba-tiba pulang dan di sana cuma ada Viko jadi gue ajak dia aja pergi gitu daripada di rumah," bisik Tasya pada Sarah dan Sherli.


Mereka berdua paham sih, tapi tidak dengan Arka dan Bagus. Sherli dan Sarah tau kalau hubungan Tasya dengan orang tuanya tidak baik. Mereka jadi sedikit merasa bersalah karena tidak ada di saat-saat Tasya membutuhkan seseorang, untung saja ada Viko.


"Oh oke, i know." Sarah dan Sherli tersenyum tipis sambil mengelus lengan Tasya. Mereka sangat menyayangi Tasya, makanya mereka se-khawatir itu.


"Gua baru tau, macan ternyata bisa masuk rumah sakit juga." Arka nyeletuk sambil meminum cola yang dia bawa tadi.


"Heh, ngomong apa lo? Dasar pecicilan. Gak gue restuin sama Sherli baru tau rasa." ancam Tasya.


"Dihh, mainannya ngancem, jangan gitu dong. Gue tau lu jomblo, tapi jangan menghalangi percintaan dua sejoli yang indah ini," protes Arka.


"Suka-suka gue wlek," ledek Tasya sembari menjulurkan lidahnya.


"Btw bener, kalian gak pacaran?" tanya Sarah lagi pada Vilo dan Tasya.


"Ngga dah, demi dewa. Capek gua jelasin sama lu pada." Viko mulai frustrasi, yang awalnya dia memojokkan, sekarang malah dia yang terpojokkan.

__ADS_1


"Iya enggak, kok. Kita temenan aja kebetulan juga kemarin adanya Viko. Kan kalian pulang duluan," jelas Tasya.


"Oh iya, lo mah masih sukanya sama Chandra, ya, 'kan?" kata Sarah.


"Ukhukkk." Viko tersedak.


"Ngapa lu, Ko?" tanya Bagus.


"Lu suka sama si Chandra?" tanya Viko sambil tertawa terbahak-bahak. Bukan bagaimana, tapi Viko tau kalau Tasya dan Chandra sangat tidak akur, bagaimana mungkin Tasya bisa menyukai Chandra?


"Dih, ngapa lo? Salah ya emang?" Tasya bertanya balik, aneh Viko menertawakannya begitu puas. Padahal Tasya menyukai Chandra sepertinya sudah menjadi rahasia publik.


"Jadi maksud lu pemendam rasa yang handal itu gini? Suka sama si Chandra? Lawak." Viko masih terbahak-bahak menertawakan Tasya, sementara sudah cemberut dibuatnya.


"Di mana lawaknya coba. Gue cewek, dia cowok. Gue suka sama dia-"


"Dianya nggak," potong Viko sambil meledek.


"Bisa gak kalau ngomong jangan terlalu jujur? Ya gini maksudnya, gue suka sama dia, walaupun dia gak suka sama gue. Tapi lo ketawa kaya seakan-akan aneh banget giti gue sama Chandra," kesal Tasya


"Iya lah, orang kalian berantem mulu," ceplos Viko.


"Ya suka kan gak ada salahnya, kaya lo tau gak sih cinta itu ketulusan. Jadi lo bisa mencintai seseorang dengan tulus walaupun dia gak sebaliknya. Itu baru namanya cinta." Tasya tersenyum bangga dengan argumennya.


"Ya gak salah, cuma .... "


"Cuma apa?"


"Cuma hidup lu gak nentu amat aja, cinta diam-diam. Dia taken lu galau sendirian, dianya gak. Lu nangis, dia gak tau. Yang terakhir nih, lu patah hati, dia malah bahagia sana-sini. Makan tuh diam-diam," ucap Viko asal.


"Betul, mendingan juga sama lu ya, Ko," kata Arka sambil merangkul Viko.


"Iya lah mendingan sama gu- lah, kok gua, sih," kata Viko meneloyor kepala Arka.


"Lah ketauan, lu suka sama Tasya." Arka mulai kompor dan Bagus lun mendukungnya. Mereka memang setuju jika Viko dan Tasya menjadi pasangan. Dua orang yang dulunya sering bertengkar, lalu jatuh cinta. Itu akan lucu pastinya.


"Engga, kita temenan aja ya, Sya. Lu semua emang doyan aja mojokin gua karena tadi gua ngeskak kalian," ucap Viko.


"Iya ih, temenan." bela Tasya.


"Lagian taken juga gak apa, lu jomblo, Tasya juga. Gak ada yang salah, kan lucu Tom and Jerry jadi pasangan. Hahaha." Bagus tertawa puas melihat ekspresi Viko.


"Iya Tasya cantik, Viko ganteng, udah emang paling cocok," sambung Sherli yang mendukung argumen Arka dan Bagus.


"Dih, temenan kita tuh. Gak taken-taken. Taken mulu, idup aja udah ribet malah ngurusin taken," kata Tasya.


"Dih betah amat ngejomblo," kata Sarah.


"Ribet amat lo ngurusin orang taken. Nanti kalau ada saatnya juga taken," kata Viko.


"Lu sama Tasya yang taken pada saatnya?" tanya Arka.


"Ya kagak. Sama pasangannya masing-masing lah," kata Viko gugup.

__ADS_1


Mereka pun tertawa, menjahili Viko dan Tasya sangat asik menurut mereka. Sama-sama si jomblo dari lahir yang tidak memahami makna perasaan.


__ADS_2