Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Menjadi Lebih Dewasa


__ADS_3


Al membawa Tasya ke mobil, dia memposisikan Tasya untuk duduk di pangkuannya. Membiarkan gadis itu agar lebih tenang. Al benar-benar cemas melihat kondisi Tasya dia terus memeluknya erat sambil menciumi puncak kepala Tasya.


Monik dan Belva datang mengampiri Al dan Tasya. Belva juga membantu mengelus punggung Tasya dan tetap membiarkan pintu mobil terbuka agar sirkulasi udaranya juga baik.


Tasya melepaskan pelukannya pada Al. "Tas aku mana?"


Monik mengambil Tas Tasya di kursi depan dan memberikannya pada Tasya. "Nih."


Tasya menerima tas itu dan mengeluarkan beberapa obat dari dalam sana. Perlahan dia meminum obat-obat itu dan Al membantunya untuk minum. Sejenak dia mengatur napasnya, membiarkan obat itu agar cepat bekerja, dia tidak mau jika telat ditangani akan membuat kekambuhan pada skizofrenia yang diidapnya. Itu pasti akan menganggu sekali.


Sudah lama Tasya mulai menghentikan obat-obat itu dan menjalani kehidupan normalnya, tapi sekarang dia memerlukan obat itu lagi agar membuatnya tenang. Beberapa menit berlalu, Tasya berhasil menenangkan dirinya. Dia terus memeluk Al dengan erat seolah tidak ingin jauh dari pria itu.


"Aku takut," ucap Tasya pelan, memang samar-samae namun masih bisa didengar oleh Al.


Al mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Kamu gak perlu takut, ada aku. Sekarang kamu tidur,habis minum obat, kan? Aku jagain kamu."


Al mengelus punggung Tasya dan setelah mendengar itu Tasya memejamkan matanya. Hal yang sering terjadi ketika dia kembali meminum obat itu adalah mengantuk.


Al mengangkat tubuh gadis itu lalu membaringkannya di jok, Belva berlari ke pintu satunya untuk menaruh bantal di kepala Tasya. Dengan perhatian Belva pun mengelap keringat yabg bercucuran dari pelipis sahabatnya itu. Ah sungguh, dia kesal sekali pada Viko.


Angkasa dan Yoda menghampiri mereka. Mereka sudah mengurus Viko, tadinya mereka berniat untuk menjebloskannya ke penjara, tapi mereka mengingat Tasya. Gadis itu pasti akan dimintai keterangan dan mereka tidak mau Tasya tertekan.


Al turun dari mobil. "Gimana?"


"Udah diurus bokap sama nyokapnya, ada Arka sama Niken juga di sana. Gua gak bisa liat Tasya diintrogasi sama polisi, yang terpenting dia punya efek jera aja," jawab Angkasa.


"Tasya giman?" Tanya Yoda.


"Dia tidur, dia harus minum obat-obatan itu lagi. Tapi kondisinya udah jauh lebih baik, tidur anaknya, efek obat," jawab Al.


"Sumpah kalau kita telat datang apa yang bakalan terjadi sama dia. Gila itu orang, untung aja dia belum ngapa-ngapain," timpal Monik.

__ADS_1


Al juga berpikir seperti itu, apa yang akan terjadi kalau dia benar-benar terlambat. Pasti dunia gadis itu akan hancur. Al menghela napasnya, dia tida henti mengucapkan syukur karena masih bisa menyelamatkan Tasya.


Tiba-tiba Rena datang menghampiri mereka. "Di mana Tasya?"


Tidak ada yang menjawab, mereka hanya melirik Tasya yang tertidur di mobil dan membuat Rena melihatnya. Rena tertegun sesaat, putranya hampir saja merampas kehidupan perempuan baik seperti Tasya.


"Tasya harus minum obat anti depresan untuk menenangkan dirinya, jadi dia sedang tidur," ucap Al.


"Dia baik-baik aja, kan? Tante benar-benar meminta maaf atas kejadian ini. Tante tidak tau kalau Viko akan bertindak sejauh itu," ucap Rena menyesal. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu untuk putranya.


Monik berusaha menenangkan Rena. Ya meskipun dia kesal pada Viko tapi orang tuanya tidak bersalah, kan? "Udah, Tante. Yang terpenting Tasya gak kenapa-kenapa. Kalau untuk maaf mungkin nanti sama Tasya aja kali ya. Monik soalnya liat gimana keadaan Tasya tadi. Jadi lebih baik dibicarin nanti."


...~ • ~...


Tasya terbangun dari tidurnya. Dia langsung mengecek keadaan diri sendiri saat mengingat kejadian tadi malam. Bajunya sudah terganti, apa mungkin Belva dan Monik yang memakaikannya?


Dia menenggelamkan wajah di telapak tangannya. Dibayangi rasa takut, cemas, memang sudah biasa untuknya. Seharusnya kali ini dia bisa biasa saja, kan?


Tanpa sadar Al sudah berada di kamarnya, pria itu sedari tadi menatapnya yang sedang menangis. Dia paham apa yang Tasya rasakan, bagaimana pun dia seorang wanita. Meskipun dia kuat, tapi perlakuan seperti itu pasti membuat dia sedikit trauma. Ditambah Tasya memang pengidap skizofrenia yang mentalnya bisa saja tiba-tiba down dan membuatnya unfall.


Al duduk di tepi ranjang dan menatap Tasya. Perlahan dia menyingkirkan tangan Tasya dari wajahnya. Tasya mengadahkan wajahnya menatap Al. Perlahan dia menyeka air matanya karena takut membuat Al khawatir padanya. "Maaf, aku gak sadar kalau kamu ke sini. " Ucap Tasya sambil tersenyum.


"Kalau mau nangis ya nangis aja, aku liatin sampai kamu lega," balas Al sembari menghapus sisa air mata Tasya dengan ibu jarinya.


"Engga nangis, aku cuma mimpi buruk aja." Tasya menggenggam tangan Al dengan kedua tangannya. Tangan Al hangat, berbeda dengannya yang sekujur tubuhnya dingin karena cemas.


"Laper gak? Ayok kita sarapan," ajak Al.


Tasya mengangguk dan perlahan tersenyum. Meskipun rasanya masih berat, tapi dia bukan Tasya yang dulu. Tasya yang sangat lemah. Dia tidak mau membuat orang sekitarnya khawatir lebih lama padanya.


Tasya terus menggenggam tangan Al dan Al terus memandang Tasya. "Ada yang sakit? Sekarang apa yang kamu rasain?" Tanya Al.


"Gak kenapa-kenapa, Al. Aku mau makan, mau sarapan. Semalem lupa belum makan," jawab Tasya menenangkan.

__ADS_1


"Beneran?" Tanya Al memastikan dan Tasya pun mengangguk.


Tasya dan Al pun mengambil tempat di meja makan, hari ini Diana sengaja memasak untuk mereka. Diana sudah tau tentang kejadian semalam, itu kenapa nanti siang dia akan membicarakan ini dengan orang tua Viko, Amara dan juga suaminya. Mereka sengaja tidak memberitahu Radit dulu yang sekarang sedang menikmati bulan madu.


"Gimana tidurnya, Sayang? Nyenyak?" Tanya Amara.


Tasya mengangguk. "Nyenyak kok, Tante. Kaya biasanya," jawab Tasya sambil tersenyum.


Al mengecek suhu tubuh Tasya dengan tangannya, sesekali tetap menatap Tasya. Meskipun dia bilang tidak apa-apa, tetap saja Al khawatir. Diana terkekeh melihat sikap protektif Al yang seperti itu, anaknya memang sudah dewasa rupanya.


"Kamu kenapa? Aku gak sakit, kenapa khawatir banget?" Tanya Tasya sedikit terkekeh.


"Mastiin kamu gak kenapa-kenapa emang gak boleh?" Tanya Al balik.


"Ya boleh, tapi aku gak kenapa-kenapa. Aku masih bisa makan, bisa lakuin hal lain. Don't worry," ucap Tasya.


"Hari ini kalian rencananya mau kemana?" Tanya Diana.


Tidak ada yang menjawab, mereka memang tadinya akan keliling Bandung. Tapi mengingat keadaan Tasya rasanya tidak mungkin. Jelas Tasya lebih penting.


"Mau renang, kita mau ke waterboom. Kemarin pada mau renang soalnya. Iya kan, guys?" Tanya Tasya.


"Emm, Sya. Lo kan-"


"Gapapa, gue juga mau berenang kok. Tapi sebelum ke sana, anterin gue dulu ke suatu tempat," ucap Tasya memotong ucapan Belva sembari memakan makanannya.


"Mau kemana?" Tanya Al.


"Ke dokter Anna, udah lama gak ke sana. Boleh?" Tanya Tasya pada Al.


"Boleh, nanti aku anter," ucap Al sembari mengusap puncak kepala Tasya.


Mereka cukup salut sih dengan Tasya, dalam hidupnya seperti banyak masalah yang datang terus menerus tapi dia mampu bertahan. Bahkan sekarang dia sudah berubah menjadi gadis dewasa yang bisa menghadapi masalah dan ketakutannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2