
Pukul 4 pagi, Tasya menunggu Al di depan gerbang seperti biasanya. Namun yang berhenti di depannya malah mobil Fadil. Tasya menatap pria yang kini membuka jendelanya sembari menatap Tasya.
"Mau bareng?" Tanya Fadil.
Tasya menggeleng dan tersenyum ramah. "Gak usah, Kak. Lagi nungguin Al."
"Dia belum bangun," kata Fadil.
Tasya membulatkan matanya. "Hahh serius, Kak?" Ya bukan apa-apa, bisa-bisanya Al belum bangun segini hari, padahal tadi dia sudah mengatakan kalau akan beranjak mandi.
Namun tiba-tiba sebuah klakson berbunyi dari motor Al. "Jangan ngambil kesempatan, udah beristri. Ayok naik, Sya."
Tasya melirik Fadil, sepertinya dia cukup bahaya juga untuk hubungannya dengan Al. Tasya tidak ambil pusing, dia pun mengambil helm dari tangan Al dan segera menaiki motor sport putih itu.
Setelah memastikan Tasya aman, Al langsung melajukannya sedikit kencang karena kesal. Tasya pun sampai kaget dibuatnya. Tapi dia paham juga kenapa Al melakukannya demikian.
"Kamu marah sama aku?" Tanya Tasya saat mereka di jalan, pasalnya tidak ada percakapan diantara mereka.
"Engga, Sya. Kenapa kamu selalu memposisikan kamu yang salah dalam permasalahan apapun? Aku marah tapi bukan sama kamu," ucap Al.
Tasya mendengar jelas apa yang Al ucapkan, karena ini juga masih pagi jadi tidak banyak juga kendaraan yang berada di sana. Tasya memilih diam saja, biasanya kalau Al sedang marah dia harus dibiarkan beberapa saat agar dia pun bisa kembali mengontrol emosinya.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka masuk ke ruangan dan menghampiri yang lainnya. Tanpa bertanya Al langsung mengambil lembar pekerjaannya dan menyelesaikannya, sementara Tasya bingung karena mendapat tatapan bertanya-tanya dari ketiga temannya.
"Kenapa?" Ucap Belva dengan isyarat.
Tasya hanya menghela napasnya sambil menggeleng. Belva, Angkasa dan Yoda paham. Mereka langsung mengajak Tasya keluar ruangan saat sudah menyimpan tasnya. Al sudah pasti tidak mau diajak kemana-mana kalau sudah seperti itu.
Mereka terus menuntun Tasya dan mengajak ke ruang status 1 pemeriksaan gigi. Di sana biasanya Monik masih sendirian dan mereka bisa bebas mengobrol sekiranya sampai jam 6 pagi.
__ADS_1
Tasya duduk di kursi pemeriksaan gigi, sementara yang lainnya duduk di sisi bilik pemeriksaan itu yang memang terbuat dari ubin.
"Jadi Al kenapa? Lu sama dia marahan?" Tanya Angkasa.
"Engga marahan, tapi kita emang dalam bahaya sih," ucap Tasya sambil menopang dagunya.
"Bahaya gimana?"
"Dokter Fadil."
"Loh dia kan udah nikah sama kak Zea?" Tanya Monik keheranan.
"Gue gak ngerti sama jalan pemikiran dokter Fadil. Kemarin, setelah acara pernikahan mereka, besoknya mereka pulang ke rumah. Tapi gue kebiasaan kalau bangun tidur suka cari wastafel, mata gue masih merem gitu. Tiba-tiba nabrak orang, dia meluk gue. Dikirain gue Al taunya dokter Fadil."
"Terus?" Tanya Yoda.
"Ya ada Al di situ, gue takut ya dia marah. Tapi dia bilang dia paham, karena dia juga tau kebiasaan gue, tapi dia juga pasti marah lah sama dokter Fadil. Cuma ya Al menghargai kak Zea juga jadi dia diem. Gue juga sebenernya agak risih gitu kalau boleh jujur."
"Parah sih, maksud gue lo tuh kan gak sadar. Tapi dia sadar loh. Terus gimana lagi?" Tanya Belva.
"Ini bisa bikin hubungan lo bahaya sih. Aneh lagian itu om-om, kenapa jadi kaya obsesi. Serem juga," ucap Monik.
"Gak tauuu, gue pusing serius. Gue tuh gak suka digituin tapi dia senior, nilai gue dipertaruhkan." Tasya membenamkan wajah di kedua telapak tangannya.
"Tapi menurut gue lo harus tegas sih, Sya. Kalau dia mainnya nilai ya gak profesional banget lah gila. Kita bisa aduin ke dekan."
"Gak heran sih Al marah, keterlaluan kalau kaya gitu. Itu baru beberapa hari, apalagi kedepannya?" Kesal Yoda.
"Gak tau ah, gue bener-bener bingung."
...~ • ~...
__ADS_1
Seharian Tasya benar-benar membatasi diri dari Fadil. Terkecuali kalau memang benar-benar penting. Dia lebih banyak bertanya dengan dokter senior lain karena benar apa kata teman-temannya kalau sekarang dia yang harus bertindak dan tegas dengan sikap Fadil.
Tasya dan Al sebenarnya sudah di parkiran, namun ada barang yang tertinggal dan harus Al ambil. Pria itu memang sudah biasa saja, tapi Tasya tau kalau di hatinya masih banyak rasa kesal.
Tiba-tiba Fadil menghampiri Tasya, namun Tasya tidak menoleh. Dia pikir ini sudah di luar jam kerja jadi dia tidak perlu berinteraksi lebih.
Tasya berpindah untuk mendekat pada motor Al, namun lengannya di tahan oleh Fadil. "Kamu menghindari Tasya karena tadi pagi?"
Tasya membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Fadil, dengan perlahan dia melepaskan tangan Fadil dari lengannya. "Masih di lingkup rumah sakit, saya pikir tidak seharusnya dokter melakukan ini?"
"Tapi kamu menghindari saya, kenapa?"
Tasya menghela napasnya. "Karena saya tidak suka dengan apa yang akhir-akhir ini dokter lakukan. Saya tidak suka dokter selalu mendekati saya."
"Tapi kenapa? Saya juga tidak bisa merebut kamu dari Al dan sebaliknya. Saya juga memiliki Zea. Jadi apa salahnya saya mendekati orang yang saya cintai?"
Tasya menyerngitkan dahinya, pemikiran konyol macam apa ini? "Dokter gak salah bilang seperti itu? Ahh oke lupakan soal prinsip dokter atau yang lainnya. Saya mau menegaskan kalau saya gak suka."
"Tapi saya suka."
"Dok, saya gak mau hubungan saya dan tunangan saya jadi berantakan. Tolong, hargai Al sebagai adik ipar dokter sekarang. Dokter lebih dewasa seharusnya dokter paham soal itu tanpa harus saya beri tau. Tolong, saya gak mau berurusan lebih sama dokter. Saya menghargai dokter karena suami kak Zea. Jadi tolong jangan ubah pandangan saya ke dokter."
Tasya membalikan tubuhnya dan meninggalkan Fadil, namun dia kaget saat ternyata Al ada di sana. Tanpa mempedulikan tatapan Al dia mengajak Al untuk ke taman rumah sakit dan tidak mempedulikan soal Fadil atau apapun.
Di sinilah Al dan Tasya berada, di kursi taman sambil menatap langit sore. Al melirik Tasya, entah ada keberanian apa dia mengatakan itu pada Fadil. Padahal Al sendiri menahannya mati-matian karena masa koass mereka.
"Kamu gak takut setelah bicara kaya tadi?"
"Engga, aku lebih takut kita kenapa-kenapa. Kamu gak berani bilang, yaudah aku yang bilang. Lagian aku juga risih, aku gak paham juga pemikiran dokter Fadil gimana."
"Iy-"
__ADS_1
"Diem, giliran aku yang marah. Aku gak suka dicuekin, kamu bilang aku gak salah tapi kamu cuekin semua orang termasuk aku. Padahal kalau kamu bilang sama dia juga gak akan kenapa-kenapa, kamu kan adik iparnya. Kamu harus tegas juga dong. Kalau misalnya aku doang kan aku gak bisa nahan dokter Fadil sendirian."
Al terdiam, dia hanya mendengarkan Tasya dan membiarkan gadis itu mengeluarkan isi hatinya Dia juga sadar sih kalau mendiamkan Tasya hari ini. Tapi maksudnya adalah agar dia tidak emosi. Karena kalau dia emosi bukankah akan memperburuk keadaan? Itu yang ada dipikiran Al tadi.