
Malam minggu, apalagi yang akan dilakukan para jomblo selain menongkrong. Viko dan teman-temannya sekarang sedang berkumpul. Kali ini di rumah Viko.
Di saat teman-temannya sedang asik bermain gitar, Viko justru larut dalam lamunannya.
Tasya, entah sejak kapan wanita itu memasuki pikirannya. Semenjak kejadian di pasar malam, Viko selalu terbayang-bayang dengan wajah manis Tasya. Ada perasaan senang, bahagia, deg-degan, semuanya menjadi satu.
"Ko, lu ngapa dah?" Tanya Bagus yang sedari tadi melihat Viko sepertinya sedang gusar.
"Kagak tau, gua juga bingung gua kenapa," jawab Viko asal sembari mengetuk-ngetuk ponselnya.
"Lu sakit, Ko?" Bagus memegang kening Viko, namun tidak panas.
"Enggak, eh tapi bisa juga iya. Gak tau dah gua kenapa haha." Tatapannya tak lepas dari langit-langit kamarnya sambil terus melengkungkan senyumnya.
"Senyum-senyum mulu lu, kenapa bazeng? Kesambet apaan sih lu, Bujang?" Bagus tak mengerti dengan Viko, seperti orang kesambet menurutnya.
"Lagi jatuh cinta ya lu? Ngaku gak lu?!" Tebak Bagus asal namun tidak meleset. Sepertinya itu yang sedang dirasakan oleh Viko.
"Gak tau, iya dah kayaknya, eh nggak dah," jawab Viko lagi membuat teman-temannya mengerutkan keningnya. Begini nih kalau jomblo lahir dikasih perasaan.
"Tumben, biasanya lu jawab gak aja. Berarti lu lagi jatuh cinta beneran ya, Ko? Sama siapa weh? Bisa-bisanya buat bujang satu ini senyum-senyum kaya orang gila," kata Arka yang antusias dengan pembahasan mereka kali ini.
"Gak tau, iya kali eh gak tau. Jangan tanya gua, gua juga gak paham gua kenapa."
"Etttdahhh bocah, gak tau mulu. Gini nih, kelamaan jomblo jadi gak bisa bedain perasaan, mana yang suka dan mana yang gak," kesal Arka sambil melemparkan bantal pada Viko.
"Dih, suka-suka gua. Kok kalian yang repot dah," Viko menjawabnya sambil terus tersenyum memikirkan Tasya.
"Lu suka sama siapa?" Tanya Reza sembaru menatap Viko penuh selidik. Temannya ini selalu mengelak jika tidak diintimindasi.
"Gak tau dibilang. Gua gak tau gua kenapa, heran kepo banget anjir." Viko malah mengambil bantal yang Arka lempar lalu memutar-mutarnya seperti bola basket.
"Biar gua tebak." Bagus membenarkan posisi duduknya.
"Siapa?" Tantang Viko dengan wajah songongnya menatao Bagus.
"Tasya? Lu suka sama Tasya 'kan?"
"Mungkin," jawab Viko.
"Udah gua tebak, pasti akhirnya lu suka juga sama dia," celetuk Reza.
"Siapa yang gak bakal suka, kalau dianya manis gitu, cantik juga, bikin stress anak orang aja," ucap Viko sambil mengacak rambutnya frustrasi.
"Anjerrrrr sejak kapan lu muji-muji cewek, Ko. Wahhh sakit nih orang. Panggil ambulan buat si bulol ini," panik Reza.
"Lebay amat lu pada. Gua cuma suka sama cewek. Salah? Lagian gua sukanya bukan sama om bewok perempatan jalan, 'kan?" ucap Viko santai.
"Woyy! Yakali om bewok. Aaa suka gua sama lu, Ko," kata Reza sambil memeluk Viko.
"Eh anjirrr anjirr, gua masih normall." Viko melepaskan pelukan Reza lalu bangkit dari tidurnya.
"Anjirr khilaf aing." Reza nyengir kuda, dia terlalu senang karena akhirnya dia bisa tau kalau Viko selama ini masih normal dan menyukai lawan jenis.
"Najis."
"Kalau lu suka sama Tasya, gua dukung seratus persen," cetus Arka. Dia memang menginginkannya agar bisa mendapat restu bersama Sherli pujaan hatinya.
"Tapi gua bingung." Viko menatap ponselnya, sesekali dia melirik ke arah teman-temannya.
"Bingung kenapa lu?" tanya Arka.
"Kagak usah bingung-bingung. Pepet aja teross jan sampe kendor," ucap Reza penuh semangat.
"Pepet palalu. Dia kan suka sama si Cadar."
"Ehh busettt Chandra bego," kesal Arka sambil meneloyor kepala Viko yang dihadiahi gebukan pada lengannya.
"Ya pokoknya dia lah."
"Eh, Ko denger ya. Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa saling tikung-menikung," cetus Reza.
"Kalau dianya kagak suka gimana?"
__ADS_1
"Sekiranya lu coba dulu lah. Mana mungkin dia kagak suka cogan bentuk lu gini," kata Bagus.
"Yeehh dia mah beda. Kagak liat tampang keknya."
"Bullshit. Di mana-mana dari mata turun ke hati," sambung Arka.
"Heh. Dia itu tipe-tipe dari hati naik ke mata."
"Lah emang ada tipe begituan?" Bagus menatap Viko keheranan.
"Ada lah, ketika seseorang merasa nyaman, di situlah hati bertindak. Mengalir melewati denyutan nadi dan langsung ke mata. Terus nyadar, ternyata yang bikin nyaman itu indah." Viko bersabda.
"Banyak berkilah lu, Ko. Intinya lu mau kita bantuin kaga?" tanya Reza.
"Seriusan lu pada mau bantuin gua?"
"Serius, Nyet!" Ucap Reza sembari mengacak-ngacak rambut Viko.
"Alhamdu, bener ye?"
"Iya kalem." Mereka pun tertawa bersama. Merayakan kalau salah satu teman mereka akhirnya bisa jatuh cinta.
...~ • ~...
Menyendiri di kamar, apalagi yang bisa Tasya lakukan sekarang. Semua ini membuat otaknya terus berpikir. Padahal dia tidak boleh terlalu stress. Jika dia stress akan berdampak buruk pada kesehatannya.
Bunyi ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara Radit. Tasya masih malas bicara dengan Abangnya itu. Radit membuatnya seolah tidak terjadi apa-apa, padahal isi pikiran Tasya telah merontak minta dikeluarkan.
"Dek, gua mau ngomong. Buka," ucap Radit dari luar kamar Tasya.
Tasya hanya terdiam, bergeming tanpa suara. Hubungannya dengan Radit, akhir-akhir ini renggang. Hanya karena masalah yang sama dan tak kunjung selesai. Masalah yang tidak pernah ada jalan keluarnya dan stuck di satu tempat. Andai Radit memilih untuk menceritakan semuanya pada Tasya, masalah ini tidak akan pernah terulang.
Viko, satu nama yang terlintas di pikirannya. Tasya mengambil ponselnya, mencari sebuah kontak yang dia butuhkan sekarang.
...Viko Narendra...
^^^Vik^^^
^^^Viko^^^
Banyak amat. Kenapa? Tumbenan chat duluan.
^^^Gue gabut, mau temenin gue main?^^^
Main apa nih? Jangan aneh-aneh lu. Udah malem juga, gue walaupun bandel tapi gak pernah aneh-aneh.
^^^Gila. Makan nasi goreng di simpang. Mau gak?^^^
Tapi gua lagi sama temen-temen gua. Gimana dong?
^^^Hmm. Yaudah deh gak usah, gue sendiri aja. Gue kira lo lagi free. Makasih ya, maaf ganggu waktu lo.^^^
Tasya langsung mematikan data ponselnya. Dia pusing jika terus berada di rumah, lebih baik dia makan nasi goreng dekat simpang. Ditambah dia memang belum makan sejak kemarin. Tasya bukan tipe orang yang mogok makan lama-lama, karena akan membuatnya drop dan lapar juga tentunya.
Tasya membuka pintu kamarnya. Terlihat Radit masih setia mematung di depan pintunya. Tasya melihatnya dengan tatapan datar. Dia masih belum berminat untuk bicara dengan Radit.
"Mau ke mana lu, Dek?" Tanya Radit keheranan. Melihat Tasya sudah memakai hoodie oversize seperti itu dia sudah hafal kalau Tasya akan pergi ke luar rumah.
"Cari makan," singkat Tasya tanpa berniat menjelaskan apa-apa.
"Mending makan sama gua di bawah, yuk," ajak Radit penuh perhatian.
"Nggak dulu, gue lagi pingin nasi goreng. Minggir," ketus Tasya.
"Marah mulu lu, keriput ntar." goda Radit. Biasanya Tasya akan meluluh dan melupakan pertengkaran mereka.
"Nggak mood bercanda gue."
Tasya menuruni anak tangga dan meninggalkan Radit di depan kamarnya, lalu keluar rumah. Dia memilih untuk berjalan kaki ke simpang, karena tidak jauh juga dari rumahnya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya dia pun sampai di tempat nasi goreng. Tasya memasuki tenda itu. Namun dia kaget karena melihat Viko ada di sana sambil memainkan ponselnya.
"Viko, lo di sini?" tanya Tasya heran. Pasalnya Viko tadi sudah bilang kalau di rumah sedang bersama teman-temannya.
"Katanya mau makan nasi goreng simpang, 'kan?" Viko bertanya balik. Dia memang mendapat restu dari teman-temannya untuk pergi sebentar menemani Tasya. Karena mereka juga akan menginap di rumah Viko.
__ADS_1
Tasya pun duduk di sebelah Viko. Menatap pria itu lekat-lekat, pria aneh. Tapi dia begitu perhatian dan tau kalau Tasya memang sedang butuh teman.
"Katanya lo gak bisa. Katanya lo main sama temen-temen lo. Katanya udah malem," ucap Tasya bertubi-tubi.
"Gua juga laper ternyata. Temen gua udah pada balik, gua usir. Kalau dipikir-pikir ternyata nasi goreng pan adanya emang malem," kata Viko terkekeh, dia berbohong karena takut jika Tasya berpikir yang tidak-tidak.
"Dasar, tapi makasih ya. Gue jadi ada temen, mumet banget gue di rumah. Sherli, Sarah, sama Niken jauh soalnya."
"Gampang, santai aja kali sama gua mah. Mau pesen sekarang?" tanya Viko.
"Yaudah pesenin lah," jawab Tasya.
"Mas, nasi goreng spesial 2 ya. Sedeng aja pedesnya," teriak Viko pada penjual nasi goreng.
"Siapp," teriak mang penjual nasi goreng sembari bergegas membuatkan 2 porsi nasi goreng untuk mereka.
"Kenapa lu tiba-tiba ajakin gua ke sini?" Tanya Viko pada Tasya yang sedaei tadi diam sambil memutar-mutar ponselnya di meja.
"Kan udah dibilang gue gabut." Tasya melihat ke arah Viko dengan wajah yang ditekuk. Sungguh dia tidak bisa senyum untuk sekarang.
"Iya, tau. Kan gabut ada alasannya."
"Biasalah berantem sama abang," kata Tasya malas. Dia memang gampang marah tapi dia juga tersiksa jika sedang memusuhi orang lain, terlebih Abangnya.
"Yee, lu jadi adek jangan galak-galak sama abang lu. Dia sayang tau sama lu. Sayang banget, dia selalu protect lu dengan baik. Kalau dia ada salah, atau berlebihan. Itu karena dia sayang lu."
"Ini susah banget dijelasin. Gak mungkin lah gue gak marah sama dia. Abang gue itu keras kepala, gue juga. Terus kalau kita marahan dia selalu berusaha gak terjadi apa-apa. Padahal belum tuntas di gue."
"Yaudah yaudah, jangan dulu bahas itu. Sekarang makan aja lah. Lu kan kesini buat ilangin gabut sama kesel, bukan mau nambah kesel."
"Thanks udah ngertiin gue ya." Tasya tersenyum ke arah Viko. Dia merasa sedikit lega bisa menceritakannya pada Viko walaupun tidak semua.
"Sama-sama, kapan pun lu butuh gua, gua bakalan selalu ada buat lu."
"Kenapa lo care sama gue? Padahal gue sama lo dulu gak akur."
"Karena gua suka sama lu," ucap Viko spontan.
"Hah?"
"Eh maksudnya tuh karena emang gua pikir-pikir lu baik. Makanya gua baik juga," kata Viko meralat ucapannya.
'Lu bego banget dah, Vik.' Batinnya.
"Oh gitu. Ya soalnya lo yang sekarang sama lo yang dulu beda banget."
"Beda gimana?"
"Ya beda aja."
Pesanan mereka pun datang. 2 piring Nasi goreng spesial kesukaan Tasya. Tasya sudah lapar sekali karena dia belum makan beberapa hari.
"Makasih, Mas."
"Siap, Den."
Mereka pun memakan pesanan mereka. Entahlah, kini mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tasya sibuk memikirkan masalahnya dan Viko masih merutuki perkataannya tadi.
"Oh iya, Senin berangkat bareng gua, yuk?" ajak Viko.
"Ke mana?"
"Ya ke sekolah bego," kata Viko sambil meneloyor kepala Tasya.
"Emm ayok deh, awas jangan telat tapi."
"Iya elah, kesannya kek gua tukang telat tau gak."
"Iya-iya maaf deh."
"Yaudah abisin makanan lu."
"Hm."
Setelah itu mereka pun sibuk membicarakan hal random untuk mencairkan suasana. Tentunya agar Tasya tidak sedih lagi memikirkan masalah pertengkarannya dengan Radit.
__ADS_1