
"Oke, buat kalian yang udah resmi jadi OSIS, saya ucapkan selamat. Maaf saya baru masuk pada hari ini. Karena minggu kemarin saya berhalangan hadir." Akhirnya Tasya bisa kembali memimpi pertemuan OSIS.
Semua anggota sebenarnya kewalahan, ditambah Chandra yang hobi mengatur membuat mereka kadang kesal sendiri. Meskipun Tasya cerewet, dia tidak suka memerintah, dia lebih suka mengerjakannya bersama. Itu kenapa mereka lebih menyukai Tasya dibandingkan Chandra yang egonya tinggi.
"Iya, Kak," teriak mereka serempak.
"Pertemuan kali ini, cukup sampai di sini. Jika ada yang ingin ditanyakan bisa hubungi saya atau akang dan teteh yang lainnya. Tasya tersenyum, dia bangga. Sekarang dia memiliki tanggung jawab untuk dia bina. Ya, para anggota OSIS junior. Tasya berharap kalau organisasi yang dia pimpin, ke depannya akan jauh lebih baik lagi dari sekarang.
Tasya keluar dari ruang osis. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Mungkin dia harus segera sampai rumah untuk beristirahat. Namun, seseorang tiba-tiba menarik tangannya.
"Ikut gua," perintahnya.
"Apa-apaan sih, Chan. Ada apa?" tanya Tasya bingung.
Namun Chandra tidak mendengarnya dan terus menarik Tasya. Tasya berusaha untuk melepaskan tangannya, namun percuma karena tenaga chandra lebih kuat darinya. Hingga mereka berhenti di belakang sekolah.
"Lepasin, sakit," ucap Tasya melepaskan tangganya dari tangan Chandra.
Chandra terdiam menatap Tasya dengan tatapan emosinya.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Tasya.
"Lu lagi deket sama Viko?" tanya Chandra dengan ketus.
"Kalau iya kenapa? Kalau enggak juga kenapa?" tanya Tasya balik.
"Jangan deket sama dia lagi, gak penting!" perintah Chandra.
"Loh, kenapa? Dia baik kok sama gue. Gak ada urusannya juga kan sama lo?" Tasya yang bingung dengan sikap Chandra pun mulai emosi. Tidak ada angin apa-apa tapi dia bersikap seperti itu. Aneh sekali.
"Pokoknya jangan."
"Iya, gue tanya kenapa? Setiap perkataan ada alasannya, 'kan? Lo ini ck gak jelas tau gak?!"
"Ya pokoknya jangan! Lu gak bisa diperingatin banget ya jadi orang, Tasya!" Kesal Chandra.
"Peringatin apa? Viko gak bawa pengaruh buruk kok buat gue. Bahkan dia bikin gue seneng. Dia juga yang sering nengokin gue di Rumah Sakit kemarin, dia juga yang selalu dengerin gue ketika lo selalu menghindar dari gue."
"Mulai sekarang, gua bakalan sama lu terus. Jadi berhenti deket sama Viko. Ngerti?"
"Gue bakalan jauhin Viko, kalau lo kasih alasan yang tepat, gak kaya gini. Seenaknya larang dan marah-marah tapi alasan lo gak jelas. Gue gak paham kalau lo gak jelasin secara detail. Alasannya apa, kenapa dan karena apa." kini Tasya yang teguh pada pendiriaanya.
"Pokoknya kalau gua bilang jangan ya jangan! Lu tuh kenapa sih?!" Bentak Chandra.
Tasya terdiam, salah satu kelemahannya tidak bisa dibentak. Dia tidak mengerti kenapa Chandra bersikap seperti itu kepadanya.
"Gua gak suka! Paham!?" Lanjut Chandra.
"Gak! Gue gak akan pernah paham sama jalan pikiran lo. Lo terlalu sulit untuk gue tebak," ucap Tasya yang menahan emosinya.
"Gu-gua-"
"Apa? Lo cemburu? Buat apa? Apa peduli lo sama gue, hah? Berhenti ikut campur sama hidup gue, Chan. Gue udah cape sama sikap lo yang kaya gini!"
"Gua suka sama lu! Puas?!" ucapan itu dengan susah payah keluar dari mulut Chandra.
__ADS_1
"Lo suka sama gue? Gue juga! Tapi kalau sikap lo masih kaya gini, gue gak tau apa masih bisa gue suka sama lo? Gue selalu ragu buat suka sama lo, gue selalu mikir buat berhenti suka sama lo. Karena apa? Karena sikap lo yang selalu bikin gue bingung! Gue gak tau lagi harus bilang apa." Tasya pun pergi meninggalkan Chandra yang mematung.
Rumit, saling mencintai pun tak menjamin akan bersatu dengan mudahnya. Tasya selalu bingung dengan sikap Chandra. Chandra pun selalu bingung dengan sikapnya. Dia mencintai Tasya, tapi ada hal yang melarangnya untuk menyukai Tasya. Harga dirinya terlalu tinggi.
...~ • ~...
Tasya terburu-buru keluar dari gerbang sekolah. Tak tau kenapa dia gelisah sekarang. Dia seperti orang linglung yang entah harus kemana. Chandra merusak mood-nya hari ini, menyebalkan sekali.
Suara klakson berbunyi, Tasya meliriknya. Ternyata itu Viko, dia tersenyum sembari memperhatikan wajah kusut Tasya.
"Mau balik lu?" tanya Viko.
"Menurut ngana aja liat?" ketus Tasya, semua oag baginya terasa sangat menyebalkan sekarang.
"Dih jutek amat mbak," gurau Viko sambil tertawa.
"Gue lagi PMS," ucap Tasya asal.
"Ikut gua aja mending," ajak Viko sambil menaik-naikkan alisnya, mengkode agar Tasya naik ke motornya.
"Kemana?" tanya Tasya bingung.
"Tempat di mana lu gak bakalan marah-marah dan bete mulu," kata Viko sambil mengangkat alisnya.
"Serius?" Tasya mendekatkan wajahnya dan menatap Viko untuk melihat, apakah ada kebohongan dari raut wajahnya.
"Iya, buruan naik," ajak Viko sembari mengulurkan tangannya agar Tasya berpegangan sebelum naik. Takut-takut dia jatuh karena kesusahan.
Tasya pun menaiki motor Viko. Entah setan apa yang mengiyakannya untuk ikut dengan Viko.
Di sisi lain, selama perjalanan, Tasya tak henti-hentinya bercerita. Beda dengan pada saat pertama kali dibonceng Viko. Menurut Viko Tasya terlihat lucu sat banyak bicara seperti itu, bikin gemas saja.
"Iya, terus tadi tuh anak-anak bilang acara kita gak ngebosenin," lanjut Tasya.
"Ya bagus, berarti lu sukses bikin acara." Viko melirik ke arah spion dan memberikan senyum pada Tasua dari sana.
"Pokoknya gue seneng." Tasya begitu bahagia mengucapkannya. Dia tidak tahu saja kalau jantung Viko berdebar akibat senyumannya. Bikin repot.
Tak lama kemudian, mereka turun di sebuah pasar malam. Ini sih sebenarnya masih sore, tapi tak apa. Sama ramainya seperti malam hari, pikir Viko.
"Pasar malam, whaaaa." Tasya menatap sekeliling dengan takjub, sudah lama sekali dia tidak kesini. Tempat penuh keajaiban yang selalu diceritakan Radit dulu sewaktu dia masih kecil.
"Kenapa? Lu gak suka ya?" tanya Viko perlahan.
"Suka, banget malahan." Tasya mengangguk antusias, dia senang. Bahkan badmood-nya saja sepertinya sudah tidak dia pikirkan.
"Gua kira, cewek kaya lu sukanya main di mall doang," kata Viko.
"Dih, berarti lo salah nilai gue, Vik. Gue bukan cewek yang kaya gitu."
"Iya-iya." Viko tersenyum sambil mengusak rambut Tasua perlahan.
"Ayok!!" Tasya pun menarik tangan Viko.
Mereka pun memasuki arena pasar malam. Hal yang paling pertama mereka kunjungi adalah tempat permen kapas.
"Bang, dua ya," pinta Viko pada penjual permen kapas berwarna-warni. Sedari tadi ini menarik perhatian Tasya dan Viko peka dalam hal itu.
__ADS_1
Tasya pun mengeluarkan uang dari sakunya. Tapi Viko sudah membayarnya terlebih dahulu.
"Biar gua aja," kata Viko sambil tersenyum.
"Gue masih ada uang kok, Vik," ucap Tasya.
"Anggap aja ini traktiran pertama lu dari gua," kata Viko.
"Gak usah ngerepotin ih," tolak Tasya perlahan.
"Gua yang ajak lu kesini, jadi selama lu di sini biar gua yang bayar," kata Viko.
"Bener gapapa?" tanya Tasya perlahan.
"Iya, yok."
Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil memakan permen kapas mereka masing-masing.
"Dulu, gue sering banget diajak ke pasar malam sama bang Radit. Tapi, makin kesini dia juga sibuk, jadi gue jarang deh ke sini lagi deh," kata Tasya sambil memakan permen kapasnya.
"Gua sih emang suka aja ke sini, tempat yang menurut gua banyak keajaiban."
"Gue juga suka. Apalagi sama permen kapas ini. Dulu gue selalu ngerengek minta permen kapas ke bang Radit, dan dia gak tegaan."
"Lu deket banget ya sama Abang lu?" Viko pun berhenti sejenak dan menatap Tasya.
"Ya bisa dibilang kaya gitu, Vik. Yang gue punya cuma bang Radit. Lo tau sendiri kan gue sama bokap gue kaya gimana?" Tasya pun berbalik menatap Viko sambil memakan permen kapasnya dan tersenyum manis.
"Tapi gua yakin, bokap lu sebenernya sayang banget sama lo," kata Viko membenarkan helaian rambut Tasya.
"Seandainya aja dia gak ngelakuin kesalahan ya gue juga sayang." Tasya kini bicara sambil merasakan jantungnya berdebar dua kali lipat.
"Lu pernah tau gak sih alasan bokap lu nyakitin nyokap lu?"
"Enggak, mereka selalu bilang kalau gue gak usah tau," kata Tasya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya berarti lu harus cari tau," nasehat Viko.
"Gue gak bisa, gue terlalu takut. Gue terlalu takut buat nerima kenyataan, yang pasti gue benci bokap." ujar Tasya.
"Dih jadi curhat gini. Kita kan di sini buat seneng-seneng." Viko pun perlahan mulai mencairkan suasana.
"Iya sih, mau main apa?" tanya Tasya.
"Komedi putar?" tanya Viko.
"Ayo deh, tapi emang lo berani?" tanya Tasya ragu.
"Berani lah, emang lu takut?" tanya Viko balik.
"Gue paling gak mau naik yang pusing-pusing."
"Gak akan apa-apa. Cuma muter doang itu," ucap Viko.
"Yaudah ayok," kata Tasya sambil menarik tangan Viko.
Mereka pun menaiki komedi putar. Senang, itulah yang dirasakan Tasya sekarang. Hanya Viko yang bisa membuatnya tersenyum sekarang. Chandra? Entahlah, Tasya juga bingung dengan perasaannya. Apa dia benar-benar mencintai Chandra atau sudah tidak mencintainya saat ini.
__ADS_1