Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Al Vs Kakak Ipar


__ADS_3


Al dan keluarganya sedang berada di meja makan, sebenarnya Al ingin membangunkan Tasya, tapi gadis itu masih tertidur nyenyak.


"Tasya mana, Al?" Tanya Diana.


"Masih tidur, Bund. Kasian dia kecapean," jawab Al sembari memakan nasi gorengnya.


"Ya ampun anak itu, kasian sekali. Oke nanti Bunda buatkan jamu supaya badannya juga enakan. Kamu tuh harusnya lebih perhatian loh Al sama Tasya. Seharusnya bilang sama Bunda dari semalam," ucap Diana.


"Bunda kan lagi sibuk," jawab Al realistis.


"Tapi kan Bunda pasti akan menyempatkan waktu untuk bicara sama kamu. Pokoknya kamu harus perhatian sekali sama Tasya ya."


Al mengangguk lalu tersenyum. Sepertinya Ibunya ini malah jauh lebih perhatian pada calon menantunya. Al senang saja mendengarnya, itu artinya jika dia dan Tasya menikah, Tasya akan nyaman bersamanya karena memiliki mertua yang menyayangi dia juga.


Beberapa jam pun berlalu, dengan langkah gontai dan mata yang masih tertutup Tasya keluar dari kamar Al. Ya kebiasaan dia di rumah kalau masih mengantuk ya begitu, dia harus segera mencari wastafel untuk mencuci mukanya, memang dia pelupa atau bagaimana padahal di kamar Al juga ada kamar mandi.


"Aww, Aaalll! Sakit!" Tasya meringis dan mengusap keningnya saat menabrak dada bidang Al yang kini memeluk pinggangnya sambil terkekeh. Tasya terlihat lucu saat seperti ini.


Tapi sepertinya salah, itu bukan Al tapi Fadil. Iya dia memang ikut pulang ke sini dan akan tinggal selama 2 Minggu di rumah itu sebelum pindah ke rumah barunya dengan Zea. Al yang melihat itu langsung menarik Tasya dengan lembut ke dalam pelukannya dan berusaha menahan emosinya.


Tasya memang sedang setengah sadar, tapi Fadil? Apa maksudnya dia malah betah berlama-lama memeluk tunanganya. Apalagi statusnya kini adalah kakak ipar.


"Salah orang, ini aku," ucap Al sambil menarik hidung Tasya pelan.


Tasya mengerjapkan matanya dan melirik ke samping, ternyata itu Fadil. "Hah, Ohh emmm maaf ya, Kak aku gak tau."


Fadil tersenyum ke arah Tasya. "Santai." Setelah mengatakan itu dia berjalan ke arah kamar Zea dengan senyuman yang tak lepas dari sudut bibirnya. Mimpi apa dia semalam sampai bisa memeluk Tasya pagi-pagi begini.


Tasya mengembuskan napasnya kasar. "Maaf ih aku gak tau itu kak Fadil. Maaf ya," ucap Tasya menyesal.


Al tersenyum lalu mengelus pipi Tasya dengan lembut. "Iya aku tau, ayok cuci muka dulu." Al menggenggam tangan Tasya dan mengajaknya ke kamar untuk cuci muka.

__ADS_1


Saat Tasya sedang mencuci muka, Diana datang ke kamar mereka membawakan nasi goreng dan juga segelas jamu buatannya beserta air putih.


"Bunda, padahal jangan repot-repot, Tasya bisa ke bawah sendiri dan makan di sana." Tasya mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil lalu menghampiri Diana.


Diana mengelus punggung Tasya dengan lembut. "Kamu kan lagi gak enak badan kata Al. Jadi gapapa, kamu juga kan anak Bunda. Bunda juga udah bikin jamu buat kamu, biar badannya enakan. "


Tasya terharu sekali sebenarnya, karena meskipun dia ditelantarkan oleh Ibu kandungnya, tapi dia memiliki Diana yang menyayangi dia seperti Ibu kandungnya sendiri. "Makasih ya, Bund." Tasya memeluk Diana.


"Sama-sama, yaudah makan ya sekarang. Nanti maghnya kambuh loh," peringat Diana.


Tasya pun mengangguk. Setelah Diana pergi Al yang membawa nampan makanan Tasya dan mengajak Tasya duduk di sofa luar kamar mereka untuk menonton. Tasya menurut saja. Fadil dapat melihat dari kamarnya yang terbuka kalau Tasya dan Al duduk di sana.


Al menyendokkan nasi goreng dan menyuapkannya pada Tasya. "Makan."


"Aku bisa makan sendiri, Al," tolak Tasya.


"Buka mulutnya," perintah Al.


Tasya kalau sudah begitu ya menurut saja. Ada angin apa juga Al menyuapinya, tapi yasudah dia nikmati saja. Tasya mengganti chanel televisi ke acara kesukaannya. Apalagi kalau bukan untuk menonton film anak-anak, sekarang dia malah menonton Frozen.


"Loh kemarin aku nonton film action di bioskop malah kamu tutup matanya. Yaudah berarti lebih bagus aku nonton Frozen."


"Yaiya juga sih, bayi kan nontonnnya film bayi juga. Yaudah suka-suka kamu aja lah."


Tasya terkekeh mendengarkan ucapan Al. Setelah itu dia lanjut menonton dengan serius. Tiba-tiba Fadil menghampiri mereka. "Boleh ikut?" Tanya Fadil.


Tasya yang polos malah mengangguk mengiyakan, ya memang tidak ada yang salah sih. Toh sekarang Fadil sudah menjadi bagian dari keluarga Al. Jadi tidak ada salahnya jika mereka menonton bersama.


Fadil duduk di sebelah Tasya dan akhirnya membuat Tasya malah diantara keduanya. Al kesal sekali dengan kakak iparnya, namun dia tidak mungkin juga mengusirnya jadi dia fokus kembali menyuapi makanan pada Tasya.


"Kamu tau gak sih Al, kayanya kalau ada frozen 3, 4, 5 pasti seru. Aku gak bosen soalnya nonton filmnya."


"Kata yang buat gak ada rencana buat sequel kedua," ucap Al.

__ADS_1


"Ada saya pernah dengar kalau rilisnya 2023," sambung Fadil.


"Gak ada, coba cari di google. Saya udah pernah cari penulisnya bilang gak ada minat buat sequel," balas Al.


"Ada, cari saja sekarang," balas Fadil lagi.


Tasya melirik ke arah keduanya, kenapa mereka malah seperti bertengkar. Tasya pun akhirnya memindahkan chanel dan mengganti filmnya agar tidak menjadi perdebatan.


"Yahh, yaudah deh lupai Frozen, temenin aku nonton cocomelon aja," ucap Tasya.


Fadil kembali tersenyum melihat kelakuan Tasya. Baru kali ini dia menemukan gadis seusia Tasya yang lebih suka menonton film anak-anak. Dia sudah gila kalau dipikir-pikir karena menyukai Tasya. Bahkan setiap apa yang dia lakukan terasa menarik di mata Fadil


Zea keluar melihat itu, dia tidak marah sih biasa saja. Tapi Al menatap Zea seolah meminta bantuan agar menjauhkan suami Zea dari Tasya. Zea awalnya tidak mengerti, namun dia paham sekarang dari lirikan mata Al pada suaminya.


Zea menghampiri mereka. "Geser dong, Sya. Gatel banget pingin benerin cepolan kamu."


Tasya terkekeh, Al menggeser duduknya dan akhirnya Tasya mengikuti arah geser Al. Zea duduk di sebelah Fadil dan Tasya dia juga membantu Tasya membenarkan rambutnya.


Zea sengaja membelakangi Fadil yang ada di sampingnya. Memang terlihat aneh untuk ukuran pengantin baru. Tapi Al paham juga sih jadi dia tidak protes atau berkomentar.


Al menaruh piring makanan yang sudah habis, setelah minum air putih Al memberikan jamu yang dibuatkan oleh Diana pada Tasya. "Minum dulu, kata Bunda biar gak pegel-pegel badannya. Biar enakan."


"Ini pahit gak?" Tanya Tasya.


"Ga pahit, itu dalam dunia media juga memang bagus untuk kesehatan," jawab Fadil tiba-tiba.


Al menghela napasnya, kenapa Fadil malah semakin leluasa mendekati Tasya sekarang? Kalau tidak ingat Fadil senior di rumah sakit, Al sudah pasti akan bicara terus terang. Tasya melihat ke arah Al, tentunya dia akan lebih mendengarkan Al.


"Pahit dikit aja, jangan dirasain minumnya habis itu minum air putih."


Tasya mengangguk, setelah menarik napas panjang Tasya langsung meneguk jamu itu. Al, Fadil dan Zea memusatkan pandangannya pada Tasya. Aneh, dia seperti bahan tontonan.


Sudah habis Tasya langsung mengambil gelas air putih yang ada ditangan Al lalu meminumnya. "Pahit banget."

__ADS_1


Al terkekeh, bisa dia rasakan dari ekspresi wajah Tasya kalau jamu itu benar-benar pahit. "Yaudah gapapa, yang penting gak muntah. Biar badannya enakan juga nanti."


Tasya mengangguk. Setelah itu mereka kembali fokus menonton. Namun sepertinya hanya Tasya saja yang fokus karena yang lainnya kini sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2