
Tasya memasuki ruang guru dengan tergesa-gesa. Dia tidak enak sudah tidak masuk 1 Minggu dan otomatis menambah ketidak hadirannya.
"Assalamualaikum," ucap Tasya saat memasuki ruang guru.Dia langsung menuju ke meja Bu Beti dan salam pada bu Beti.
"Waalaikumsalam Tasya, ada apa? Kamu sudah sembuh, Nak?" Tanya Bu Beti penuh perhatian. Beliau sudah tau kalau Tasya tidak masuk pasti akan langsung meminta tugas untuk dia selesaikan.
"Alhamdulillah sudah, Bu. Gini, Bu saya mau minta maaf, soalnya gak masuk seminggu." kata Tasya pada Bu Beti.
"Tidak apa-apa, pihak sekolah sudah mengerti dengan kondisi kamu. Yang terpenting, kamu tidak tertinggal pelajaran dan secepatnya mengejar ketertinggalan ujian dan tugas ya.."
"Iya, Bu, Tasya usahain gak akan tertinggal pelajaran dan segera menyesaikan tugas," ucap Tasya sambil tersenyum
"Ibu percaya sama kamu, apalagi kamu murid yang cepat tanggap dalam pelajaran," ujar Bu Beti.
"Terima kasih, Bu. Kalau gitu Tasya izin pamit ke kelas," pamit Tasya.
"Iya."
"Assalamualaikum, Bu," ucap Tasya sambil salam ke Bu Beti.
"Waalaikumsalam," balas Bu Beti.
Tasya langsung menuju ke kelasnya, tumben sekali teman-temannya belum datang.Terlihat hanya ada Dera dan Rosa di sana, si biang gosip kelas yang sangat menyebalkan.
"Ketua OSIS kok banyak gak hadirnya," Celetuk Dera yang sudah pasti menyindir ke arahnya.
"Perasaan gue udah kirim surat, 'kan?" Balas Tasya santai.
"Udah sih, tapi gak malu apa sama jabatan? Harusnya lo jadi contoh yang baik, eh malah jadi tukang mangkir. " Tanya Rosa.
"Maaf, sakit bukan kemauan gue ya. Mana ada orang mau sakit," kata Tasya kesal.
"Gue heran, orang kaya lo bisa jadi ketua OSIS. Banyak ketidak hadirannya. Kalau panutan sekolah ini kaya lo, gimana mau maju ini sekolah di bawah pimpinan ketua OSIS kaya lo," ceplos Dera.
"Terserah apa kata kalian. Gue terima kritik dan saran, gak menutup diri. Sekalian lapor pembina OSIS, kesiswaan juga gue gak peduli." Tasya lalu duduk di bangkunya. Percuma beradu argumen dengan orang seperti itu. Lagi pula, ini sudah resiko dia menjadi ketua OSIS.
Tiba-tiba Nadin datang dengan teman menghampiri Dera dan Rosa. "Ternyata dia udah masuk girls," nyinyir Nadin.
Tasya berusaha tak acuh pada mereka. Dia hanya terfokus pada bukunya. Dia lebih takut tertinggal pelajaran daripada takut jadi bahan gosip tidak bermutu.
"Nadin, coba lo yang jadi ketua OSIS. Gue mah setuju banget," kata Rosa.
"Ya harusnya sih gitu, tapi kayaknya uang lebih berkuasa tuh," timpal Bella, temannya Nadin.
"Udalah ya, gue udah ikhlasin," kata Nadin.
__ADS_1
"Padahal waktu pemilihan gue pilih lo, loh," kata Dera.
"Oh iya? Kenapa gak pilih temen sekelas lo? Gitu ya lo, nusuk temen sendiri," kata Nadin.
"Karena gue liat lo lebih pantes sih," kata Rosa.
"Gak boleh gitu, itu ada ketua OSIS nya, nanti sakit hati," ucap Bella sambil tertawa.
Tasya masih diam, Nadin tak ada gunanya dilawan. Dia cukup mendengarkan walau sebenarnya sakit. Sakit ketika teman sekelasnya pun tak berpihak padanya. Tiba-tiba Viko dan kawan-kawan masuk ke dalam kelas. Ternyata ada Sherli, Sarah, dan Niken bersama mereka.
"Tasyaaaaaa, lo udah masuk?" Tanya Niken yang berlari dan langsung memeluk Tasya.
"Udah, gue udah mendingan kok," jawab Tasya sambil tersenyum.
"Bagus deh, kasian Sherli jomblo duduk sendiri," kata Sarah. Mereka pun terkekeh.
"Eh Viko, selamat pagi," sapa Nadin dengan nada Manja.
"Kenal?" ketus Viko.
"Lo ketus aja gue suka, apa lagi lo manis sama gue, Vik," balas Nadin sambil terkekeh.
"Ngaca!" teriak Arka. Mereka pun duduk di bangkunya masing-masing. Nadin masih bergosip ria di bangku Dera dan Rosa.
"Nad, lo kenapa keluar dari OSIS?" Tanya Dera yang sengaja mengencangkan suaranya agar Tasya mendengar.
Sontak Tasya kembali terkejut. Kenapa rasanya masalah ini tidak pernah selesai. Nadin yang memutuskan keluar dan ujungnya dia lagi yang disalahkan.
"Apa-apaan sih itu orang! Nyinyir banget," kesal Sherli.
"Udah biarin aja, dari tadi gue anggap angin lalu kok," ucap Tasya mencoba melerai sahabatnya yang sudah emosi.
Sementara di belakang Sarah menyenggol-nyenggol kursi Tasya tanda kode karena percakapan si biang gosip.
"Gak apa-apa, biarin aja," kata Tasya melirik ke belakang.
...~ • ~...
Pulang sekolah, Tasya memilih untuk berjalan-jalan sendiri. Dia meminta Radit agar tidak menjemputnya, padahal Radit sudah melarangnya habis-habisan. Tasya ingin menjernihkan pikirannya. Kebetulan, Mall tidak jauh dari sekolah Tasya. Dia akan menghabiskan waktu ke bioskop.
Viko melihat Tasya berjalan sendirian. Sebenarnya dia ingin menemani Tasya. Tapi sepertinya Tasya membutuhkan waktu untuk sendirian. Jadi, Viko memutuskan untuk mengikuti Tasya secara diam-diam.
Tasya memasuki gedung bioskop dan membeli tiket. Viko pun ikut membeli tiket yang sama dengan apa yang dibeli Tasya. Darimana Viko tau? Tentu dia yang menanyakannya pada pramugari penjaga tiket bioskop. Sungguh cerdik memang untuk seorang Viko Narendra.
Pintu theater dua telah dibuka, bagi penoton yang sudah memiliki tiket, bisa memasuki ruangan theater.
Begitulah bunyinya. Tasya mendengar itu pun langsung memasuki ruangan itu. Ternyata sesuai harapan, bioskop ini sepi. Tasya sangat suka jika di dalam bioskop sepi.
__ADS_1
Viko mengikuti Tasya masuk, Viko sudah menebak Tasya duduk di mana saat melihat kursi penonton di kasir tadi. Dia duduk di belakang Tasya. Sehingga dia bisa bebas melihat apa yang dilakukan Tasya.
Film telah dimulai, Tasya sibuk dengan pikirannya sendiri. Bioskop adalah tempat rehat yang paling ampuh untuk Tasya. Di mana, dia bisa menumpahkan segala perasaan di sini. Menangis, tanpa ada yang tau dan bertanya kenapa.
"Gua bingung sama cewek kaya lu, ini film gak ada sedih-sedihnya. Tapi lu malah nangis," gumam Viko sambil memperhatikan Tasya.
Tasya masih terfokus pada filmnya. Tapi pikirannya entah di mana. Yang dia lakukan hanya menangis, menumpahkan segala kekesalannya yang dia pendam sejak tadi di sekolah. Masalah keluarga yang tak kunjung usai, ditambah dengan masalahnya sebagai ketua OSIS yang menimbulkan banyak perpecahan diantara dia dan orang-orang yang dulunya sangat dekat.
"Andai gue bisa milih, gue gak mau terlahir jadi gue. Gue gak mau hidup kaya gini, dipikir gue bahagia bahagia aja kali ya. Emangnya gue menginginkan apa yang terjadi di hidup gue?" Batin Tasya.
Viko terus memperhatikan Tasya, sambil memakan popcorn dan meminum soda. Sepertinya Tasya lebih menarik daripada film yang diputar. Melihat paras Tasya yang cantik dan sedang menangis. Menurut Viko itu sangat menggemaskan, ingin rasanya Viko memeluk Tasya sambil menarik hidung dan pipinya, lalu menenangkan agar dia tidak menangis lagi.
"Kebiasaan ini cewek itu ya memendam semuanya sendiri. Jadi gampang stress, 'kan? Untung abangnya gak masukin ke rumah sakit jiwa," gumam Viko.
...~ • ~...
Setelah film selesai, Tasya langsung pulang. Tapi tak sengaja, matanya melihat Viko di depan mall. Tasya langsung menghampiri Viko.
"Lo di sini? Ngapain?" Tanya Tasya keheranan. Untung saja dia sudah mencuci mukanya. Sehingga tak terlihat seperti habis menangis.
"Gua? Jadi satpam," jawab Viko asal.
"Ih seriusan, Viko," kesal Tasya.
"Gua abis makan, lu sendiri ngapain di sini?" Tanya Viko pura-pura tak tau.
"Gue? Abis nonton," jawab Tasya.
"Setau gua, film yang tayang Minggu ini gak ada yang sedih. Ngapa lu kaya abis nangis?" Tanya Viko memancing.
"Em- tadi itu sedih, biasalah cewek. Makanya gue baper," jawab Tasya asal.
"Iyain aja yang bohong. Lu mau balik?" tanya Viko.
"Iya."
"Dijemput?" Tanya Viko lagi.
"Enggak, gue naik angkutan umum," jawab Tasya.
"Bareng gua, mau?" tanya Viko.
"Lo bukannya masih mau di sini?" tanya Tasya.
"Kata siapa? Sotoy lu emang," ketus Viko.
"Ya kan kirain," kata Tasya.
__ADS_1
"Yok," kata Viko.Tanpa sadar Viko menarik tangan Tasya. Tasya pun melihat ke arah tangannya yang ditarik Viko. Ini membuat jantungnya kembali berdebar.
"Entah ini perasaan apa, tapi setiap dia ada di deket gue, rasanya nyaman banget. Saat gue lagi sedih atau terpuruk, dia selalu muncul dengan tiba-tiba. Entah kesenganjaan atau ketidaksengajaan pasti dia selalu ada. Apa gue suka sama dia? Gue gak tau. Yang gue tau, gue cuma suka sama dia yang lain, dan cuma dia. Bukan Viko." Batin Tasya.