Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Konseling Bersama Calon Kakak Ipar


__ADS_3


Tasya turun ke bawah untuk ikut makan malam, Radit sedikit heran melihat wajah adiknya yang terlihat kusut. Sudah bisa dipastikan kalau dia kenapa-kenapa. Amara dan Amanda masih belum buka suara juga, karena melihat Tasya yang tidak ada suara. Namun Radit gerah sendiri melihat Tasya makan bersama mereka tapi dia tidak bicara sama sekali.


"Kenapa?"


"Gapapa," jawab Tasya singkat.


Amanda sedikit menyikut lengan Radit agar dia tidak bertanya lebih jauh. Namun Radit tentulah berbeda dengan Amanda yang bisa sabar kalau melihat adiknya itu seperti memendam sesuatu. Kondisi mental Tasya yang mempunyai riwayat ODS tentulah membuat Radit harus lebih waspada.


"Kalau diceritain pasti bakalan lebih enak," kata Radit lagi.


"Nanti aja." Tasya tetap fokus pada makanannya dan menyuapkan nasi pada mulutnya.


Radit berpikir, ya mungkin Tasya tidak ingin bercerita di depan banyak orang, jadi Radit membiarkan Tasya menyelesaikan makannya dulu.


Setengah jam berlalu, Tasya memilih untuk meninggalkan meja makan dan keluar rumah. Dia duduk di sebuah kursi taman sambil mendengarkan musik dan memandang langit yang nampaknya bertaburan bintang malam ini. Sesekali dia menarik napasnya dalam, lalu mengeluarkannya. Dia melakukan itu beberapa kali.


Tasya melepas satu heatsetnya saat mendapati Radit yang kini duduk di sebelahnya. Ya untuk apalagi dia kalau bukan untuk bicara dengan Tasya.


"Kenapa?"


"Berantem sama Al," jawab Tasya.


"Berantem kenapa sampai betenya lama? Biasanya kalau berantem suka cepet baikannya?" Tanya Radit.


"Ya lo pikir aja, Bang. Dia marahnya sama siapa tapi cuekin gue juga seharian. Uring-uringan, gue tanya gue salah gak? Dia bilang engga marah sama gue. Udah tau gue gak suka dicuekin," kesal Tasya.


"Udah bilang sama Al?"


"Ya udah tapi tetep aja kesel, lagian juga mau gimana pun gue gak akan sama dokter Fadil. Gak suka om-om, orang dokter Fadil juga udah sama kak Zea," ucap Tasya bablas.


"Hah?!?


Tasya memejamkan matanya dan menutup mulut rapat-rapat, bagaimana dia bisa keceplosan seperti tadi? Tasya diam, berusaha mencerna kejadian barusan.


"Heh, kenapa jadi dokter Fadil?" Tanya Radit yang merasa tidak mendapatkan jawaban.


"Udah lupain ajalah, gak usah dibahas," ucap Tasya.

__ADS_1


"Jawab atau gua yang tanya langsung sama dokter Fadil?"


Tasya menghela napasnya, kenapa orang di sekitarnya sering sekali mengancam seperti itu? Dia kan jadi bingung bagaimana harus menjelaskannya bagaimana pada Radit.


"Dia suka sama gue," jawab Tasya cepat.


"Sejak kapan?"


"Sejak sebulan gue koass di sana," jawab Tasya lagi.


"Terus kenapa bisa bikin berantem? Dia udah nikah sama Zea kan?" Tanya Radit tak mengerti.


"Tapi dia tetep deketin gue, gak tau gimana konsep pernikahan dia gue gak paham. Itu bikin Al gak suka, tapi dia gak bisa negur dokter Fadil karena ngerasa adik ipar dan kita juga junior di rs."


"Bentar, gua masih cerna ini semua."


"Gak tau ah, Bang. Intinya dia uring-uringan tapi sama semua orang. Itu makanya gue kesel banget sama Al. Dia kan tau gue gak suka didiemin apalagi kalau posisinya gue gak salah apa-apa," ucap Tasya.


"Gua perlu ngomong ini sih sama Zea," kata Radit.


"Buat apa? Kak Zea juga tau. Dia tau kelakuan suaminya yang om-om itu."


"Yaiya sih, tapi gak enak juga kalau ditanyain. Merekaitu baru nikah."


"Kalau posisinya dia gak tau baru gak enak, ini dia tau. Biar gua aja yang urus kalau soal itu. Jadinya kalian sekarang belum baikan?"


"Belum, masih mau marah."


"Yaudah marah dulu aja, tapi jangan sampai lama-lama. Lu soalnya kalau ngediemin orang gak kira-kira, bisa berminggu-minggu," nasehat Radit.


"Ya gimana moodnya aja."


Radit hanya menggeleng, setelahnya mereka melanjutkan pembicaraan lagi sampai tidak sadar kalau kini Al sedang menghampiri mereka.


"Sya," panggil Al.


Tasya tidak menjawab dan memalingkan wajahnya. Radit yang melihat itu pun paham kalau sekarang Tasya tida ingin bicara pada tunangannya itu.


"Lu apain bayi monyet gua dah?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Ya gua ngelakuin kesalahan, tapi ini mau dibujuk," jawab Al.


"Wahh kalau adek gua udah mukanya begitu susah sih," ucap Radit sambil menggaruk-garuk dagunya.


Tasya tidak peduli sementara Al mencuri-curi pandang ke arahnya. "Iya susah, tapi harus diusahain, jadi boleh gak Bang gua bicara sama adek lu?"


"Boleh aja sih, tapi dianya mau gak?" Tanya Radit berbalik.


Tasya beranjak dari tempatnya dan memasuki rumah, diam di sana hanya akan membuatnya goyah. Dia tidak mau dibujuk, dia hanya masih ingin marah saja.


"Wah marah besar gitu mah," gumam Radit.


Al hanya pasrah, ya mau bagaimana lagi. "Ya marah, gua harus bujuk lagi nanti kalau begini." Al duduk di kursi dan dia sepertinya memang membutuhkan konseling dari calon Abah iparnya ini.


"Gapapa, dia butuh ruang aja. Tapi jangan berhenti buat bicara duluan, karena udah pasti Tasya kalau didiemin malah bakalan semakin lama diemnya. Ya soal itu lu udah paham lah tanpa perlu gua jelasin," ucap Radit.


"Paham, cuma bingung aja gimana caranya. Nanti dah gua pikirin sebelum tidur. Kayanya kalau sekarang gua emang harus biarin dia dulu, puas-puasin marahnya."


"Lu itu pengatur emosi yang bagus setau gua, tanpa gua ingatin juga lu pasti paham. Tapi kenapa sekarang lost? Gua bukan marah karena lu apa-apain adek gua, karena hubungan kan pasti gak mulus-mulus aja, tapi gua mau tau aja kenapa bisa begitu?"


"Gua nahan emosinya dari sebelum Zea nikah. Gua yakin Tasya udah cerita sama lu. Tapi kakak ipar gua emang udah incar Tasya dari lama. Selalu ambil kesempatan, gua gak suka aja."


"Lu bukan marah sama Tasya tapi marah sama kakak ipar lu itu? Tapi berimbas ke Tasya?"


Al hanya mengangguk. Radit menghela napasnya. "Menurut gua abaikan aja, Tasya risih loh. Itu artinya dia juga gak suka dan pasti bakalan abaikan dia juga."


"Gua gak mau masalah kaya gini jadi masalah yang terus keulang di hubungan kalian. Kalian ini udah punya komitmen, gua gak mau kalian rusak itu cuma karena orang gak penting. Kalian bakalan menikah dan itu rintangannya gak main-main. Yang paling utama itu kepercayaan. Mau sebanyak apa orang yang deketin lu atau Tasya. Kalian bakalan bodo amat kalau saling menjaga itu."


"Gua cuma kesel, Bang. Bukan gak percaya Tasya."


"Tau, lu kesel juga karena takut kehilangan Tasya, kan? Ya itu sama aja lu gak percaya sama hubungan kalian. Kalian itu udah bagus dalam menjalani hubungan, tinggal dimatengin lagi aja."


"Berarti gua salah banget?"


"Gak salah banget, cuma kadang kodratnya laki-laki itu adalah diposisi penengah. Penengah diri sendiri sama pasangan kita. Diri sendiri pasti punya ego dan kita sendiri yang harus redain itu."


Al mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mengerti apa yang Radit ucapkan. Memang benar sih mereka belum benar-benar matang. Masih harus banyak belajar untuk menghadapi hubungan mereka dan Al di sini sebagai nahkodanya. Dia harus bisa mengontrol apapun.


Dia harus kembali mencoba mendapatkan maaf dari Tasya.

__ADS_1


__ADS_2