Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Tasya dan Perfeksionis-nya


__ADS_3


Setelah selesai sholat maghrib, peserta diarahkan untuk memasak makan malam sendiri. Sementara Tasya sedang terdiam sejenak di depan api unggun kecil yang dibuat tadi untuk memasak air.


"Nih, makan dulu." sebuah tangan memberikan nasi kotak pada Tasya.


"Makasih, Chan," ucap Tasya pada Chandra dan mengambil nasi kotaknya.


Chandra tau benar, Tasya tak akan ingat makan jika tidak diperingatkan. Dia terlalu sibuk mengurusi hal lain, sedangkan tubuhnya sendiri tak dipikirkan. Tasya dan Perfeksionisnya kadang membuat dia berambisi agar tujuannya tercapai, tentunya harus sesuai dengan apa yang sudah dia rencanakan. Itulah Tasya.


"Gua cek peserta dulu, lu istirahat aja. Dari tadi lu mondar-mandir terus," perintah Chandra.


"Hem."


Setelah kepergian Chandra, datang Viko duduk di sebelah Tasya.


"Lu gak makan?" tanya Viko.


'Kok gua jadi perhatian gini sih, bego!' batin Viko.


"Nanti aja, gak lapar," jawab Tasya santai.


"Lu belum makan apa-apa padahal dari pagi," kata Viko.


"Iya nanti aja," kata Tasya.


"Boss gebetan baru?" teriak Bagus.


"Cie cie, jadi ini mah," teriak Reza.


"Ekhem," Arka tak kalah meledeki keduanya.


Tasya tak menanggapinya. Entahlah, semuanya terasa bercampur aduk dalam pikiran Tasya. Lelah, letih, pusing, cemas, semuanya tercampur begitu saja. Yang dia pikirkan sekarang adalah melakukan semuanya dengan maksimal dan tidak boleh melakukan kesalahan.


"Gimana acara ini bakalan sukses, kalau ketuanya aja mojok kaya gini." Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar.


Tasya melirik sekilas. Dugaannya benar, dia adalah Arga.


"Kak Arga."


"Saya heran sama OSIS, makin kesini angkatannya makin jelek bukannya makin bagus," katanya dengan angkuh.


"Maksud anda apa, ya?" tanya Tasya.


"Ngapain kamu mojok di sini, ini acara kamu. Orang-orang kerja dan kamu asik pacaran. Ketua macam apa?"


"Maaf kalau saya lancang, ini sudah memasuki jam istirahat. Apa saya harus tetap bekerja? Apa lagi? Semuanya sudah selesai. Anda tamu undangan kami, sebaiknya kalau tidak tau apa-apa, lebih baik anda diam," kata Tasya berusaha menahan emosinya.


"Oh, jadi kamu mulai berani sama saya? Mentang-mentang saya alumni dan kamu adalah ketua pelaksana di sini?"


"Maaf, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi, anda yang memaksa saya untuk melakukan ini, jadi alumni saya persilakan ke tempat yang disediakan, nanti saya akan jelaskan sistem yang kami buat. Terima kasih," kata Tasya lalu pergi meninggalkan Arga.


Arga mengepalkan tangannya. Dia berpikir harus membuat perhitungan pada Tasya. Gadis itu selalu merendahkan harga dirinya. Dia tidak bisa menerima diperlakukan seperti itu.


Tasya berjalan menuju tenda utama, dia lebih baik mengerjakan apapun. Itulah adalah salah satu alasan, mengapa dia tak berhenti bekerja sejak tadi. Karena dia sorotan disini. Dia tidak mau, karena ulahnya semua panitia terkena imbasnya.

__ADS_1


"Sya, tunggu." suara Viko menghentikan Tasya.


"Kenapa?" tanya Tasya.


"Lu belum makan, makan dulu aja," kata Viko.


"Lo gak liat tadi? Gue gak bisa diem. Acara ini gak boleh ada kesalahan sedikit pun, apalagi kalau gue sorotan utama mereka di sini," kata Tasya, lalu kembali menuju tenda panitia.


Namun, baru beberapa langkah kepala Tasya mulai pusing dan hampir terjatuh. Dengan sigap Viko menahan tubuh Tasya. Tatapan mereka bertemu, tapi tidak lama. Tasya langsung mengubah posisinya kembali.


"Thanks," ucap Tasya.


"Udah gua bilang, lu gak usah keras kepala. Mereka pasti ngerti kok," kata Viko.


"Gue gapapa," kata Tasya sambil melanjutkan ke tenda utama.


...~ • ~...


Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tasya tak bisa tidur, sebagian panitia berjaga di luar agar peserta tidur. Sebagian lagi ada di tenda utama.


Tenda alumni, sedikit membuatnya deg-degan melihatnya. Sepertinya mereka sedang becanda riang di dalam, karena masih terdengar gelak tawa dari dalam tenda.


Tasya mulai memasuki tenda, terlihat sebagian dari mereka tertidur pulas. Karena sistem jaga bergantian, mereka juga butuh tidur.


Tiba-tiba napas Tasya terasa sesak. Dia kesulitan bernapas. Dia mencoba mengambil inhaler dalam tasnya. Tapi sepertinya tertinggal.


"Lo kenapa, Sya?" tanya Linda panik.


"As-asma gu-gue kam-buh kayaknya," katanya dengan napas yang terpenggal-penggal.


Viko dan Chandra tiba-tiba masuk dengan panik.


"Sya, lu kenapa?" tanya Viko.


Tasya dengan cepat mencengkram lengan Viko.


"Ga- gapapa. Cu-ma kam-buh doang biasa. Ja-jangan sa-sampe alumni tau," kata Tasya yang masih mencoba mengendalikan napasnya.


Viko tak tau harus berbuat apa, dengan spontan dia mengelus rambut Tasya.


"Lu tahan sebentar ya," kata Viko sambil tetap mengelus rambut Tasya dan memegang tangannya.


"Sya, maaf ya." kata Chandra sambil melonggarkan ikat pinggang Tasya.


Tak lama Linda datang membawa tabung. Dengan sigap Viko memasangkan selang oksigen itu pada Tasya. Karena dia juga tadi sudah melihat cara Tasya menggunakan alat itu.


Tasya menghirup oksigen demi oksigen. Sekali lagi, tabung oksigen yang menyelamatkannya. Dia mencoba menghirup setiap oksigen yang masuk melalui rongga hidungnya.


"Gua udah bilang kan, Sya. Lu harus istirahat. Lu dari tadi gak ada hentinya. Lu gak percaya sama kita?" kesal Chandra.


"Bukan gitu, Chan. Gue gak mau buat masalah. Sorotan alumni itu gue," kata Tasya dengan lemah.


"Kalau lu kena ospek, kita gak akan tinggal diem kok. Lu gak usah susah-susah nyiksa diri lu!" sekarang giliran Viko yang berbicara.


Tiba-tiba seseorang datang.

__ADS_1


"Gua mau ngasih – Tasya!" omongan Radit terpotong saat melihat Tasya dengan keadaan seperti itu.


"Lo kenapa?"


"Biasa, Bang. Adek lu keras kepala," kata Viko.


"Lu mah, udah gua bi–"


"Iya iya, gue lupa. Gue udah gapapa kok, Bang," kata Tasya mencoba menenangkan Radit.


"Udah makan lu?" tanya Radit.


Tasya bingung harus menjawab apa.


"U-udah tadi," jawab Tasya terpaksa berbohong.


"Kapan lu makan? Itu dua kotak punya lu aja belum kesentuh," frontal Viko.


Satu jitakan mendarat di kepala Tasya. Inilah yang Radit khawatirkan dari adiknya. Dia selalu memforsir dirinya sendiri sampai menomor sekiankan kesehatannya sendiri.


"Aww, sakit, Bang!"


"Bandel amat jadi orang! Sekarang lu harus makan!"


"Gak mau, gak lapar ih."


"Lu mau makan, atau gua panggilin alumni yang lainnya biar kesini?" ancam Radit.


"Oke fine, fine itu lima. Gue makan," kata Tasya dengan pasrah.


"Five itu mah bego!" kata Radit.


"Suapin," pinta Tasya dengan manja.


"Lo ih malu, ketua OSIS manja kaya gini," kata Radit.


"Ya udah kalau ga mau, gue ga jadi maafin lo nya," ancam Tasya.


"Anjirr, sialan. Buka mulut lo, aaa," kata Radit sambil memegang sendoknya.


Tasya pun menerima suapan dari Radit dengan senang hati.


"Ihh jangan kegedean, lo kaya nyuapin anak gajah aja, Bang," protes Tasya.


"Salah sendiri lu minta disuapin gua. Gua mah sekali suapan gede."


"Ya itu kan lo, mulut gue kan masih unyu-unyu gini," kata Tasya.


"Adek durhaka ya lu, udah minta disuapin, menghina segala," kata Radit kesal.


"Gue tuh gak durhaka, Bang. Gue ngomong apa adanya," kata Tasya.


Sementara teman-teman Tasya hanya terkekeh melihat peperangan antara adik dan kakak itu. Ada pula yang iri, karena adik kakak goals kalau kata kids jaman now mah.


Radit melakukannya hanya karena dia sangat menyayangi Tasya. Dia akan sebisa mungkin merawat dan menjaga Tasya. Karena Tasya memang masih dalam masa 16 tahun yang sedang labil-labilnya.

__ADS_1


__ADS_2