
Satu Minggu berlalu, pagi ini Tasya masih setia tertidur di balik selimutnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat itu adalah panggilan video dari Viko. Tasya meraba setiap sisi kasurnya, mencari benda pipih itu. Setelah itu dia mengangkatnya walaupun dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa seseorang dari seberang sana.
"Ihhh aku masih ngantuk tau, selamat pagi juga gantengku," balas Tasya yang justru malah semakin tenggelam dalam selimutnya.
"Bangun gih, sarapan. Jangan sampe telat, nanti maghnya kambuh," peringat Viko.
"Heemm, nanti aku sarapan. Kamu kok rapi banget mau kemana? Itu kamu lagi di mana?" Tanya Tasya.
"Aku kan hari ini berangkat ke Amerika, Sayang. Gini nih kalau bangun tidur masih lemot."
"Oh iya aku lupa, kok cepet sihh. Perasaan baru kemarin aku pindah ke Surabaya," kata Tasya cemberut.
"Iya, karena ada beberapa berkas juga yang harus aku urus. Jadi harus dari sekarang. Jangan sedih gitu dong mukanya," ucap Viko perhatian.
"Kamu ... Jangan cari cewek lain ya di sana," ucap Tasya pelan.
Viko tersenyum mendengar ucapan kekasihnya barusan. "Engga, Sayang. Kan aku sayangnya sama kamu, saling percaya oke?"
Tasya pun mengangguk dan perlahan tersenyum. "Huum iya, kamu jangan lupa sarapan dulu. Beli roti atau apa, nanti kalau udah sampai di sana kabarin aku ya."
"Iya nanti aku kabarin kamu, udah sekarang kamu bangun, cuci muka terus kamu sarapan. Minum obat jangan lupa!"
"Iya-iya, ini aku mau bangun. I miss you," ucap Tasya pelan namun masih terdengar oleh Viko.
"I miss you too so much, tunggu aku ya. Aku pasti datang ke kamu. Aku matiin dulu ya, Sayang. Udah waktunya berangkat. " kata Viko.
"Iya, hati-hati yaa. Safe flight," ucapnya sambil tersenyum.
"Oke, i love you."
"I love you more." Tasya tersenyum lalu mematikan panggilannya.
Sudah satu Minggu mereka hanya bicara lewat ponsel, sebenarnya Tasya sangat merindukan pria itu, biasanya jika rindu dia akan langsung memeluk Viko dengan erat.
Tapi seperti apa kata pepatah, tidak ada hubungan yang lurus-lurus saja, pasti suatu saat akan ada jalan berliku atau berkelok. Tasya hanya mengandalkan kepercayaannya, karena itu satu-satunya kunci agar hubungan mereka baik-baik saja.
"SYAAA," teriak Al dari luar kamar Tasya.
Tasya yang mendengar itu bukan segera beranjak, dia malah menyimpan ponselnya dan kembali bergelut dengan selimutnya.
Pintu terbuka, Al berdecak melihat Tasya yang masih tertidur. Padahal ini sudah jam 8 pagi.
"Syaa, bangun," Al mencoba menarik selimut Tasya, namun gadis itu malah menariknya lagi dengan kuat.
__ADS_1
"Tasya gila ya lu udah jam segini, ayok bangun!" Kini Al menepuk-nepuk pipi Tasya.
"Eungh gue masih ngantukk, emang apa yang dilakukan pengangguran sementara kaya gue kalai bukan tidur sampai siang," kesal Tasya yang masih setia memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada guling.
"Sya, sekarang kita ada jadwal ke kampus, nyerahin berkas sama pengukuran. Lu lupa apa pikun? Buruan bangun atau gua duluan sama yang lain."
Tasya membulatkan matanya, melihat jam sudah jam 8 lebih, padahal jam 10 mereka sudah harus ke kampus. "OH IYA GUE LUPA."
"Ck, remaja jompo. Yaudah lu siap-siap, atau gua tinggal nih," ancam Al.
"Iya-iya, bentar yaa. Gue mandi paling cuma sejam. Lo jangan ninggalin gue, pokoknya tungguin! Tasya pun segera bangkit dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi.
Al menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tasya, untung saja dia kesini, kalau tidak mungkin dia akan bablas tidur sampai siang."
...~ • ~...
📍Universitas Airlangga Surabaya
Tasya sedang menunggu Al yang masih berada di dalam ruangan bersama yang lainnya untuk pengukuran baju. Tiba-tiba seseorang keluar dari ruangan di sebelahnya dan menatap ke arah Tasya.
Tasya pun menatapnya balik, rasanya orang itu tidak asing.
"Lo yang waktu itu di cafe, kan?" Tanya Pria itu.
"Oh i-iyaa inget. Iya yang waktu itu di cafe," jawab Tasya sambil tersenyum tipis.
Dia melihat berkas yang ada ditangan Tasya yang bertuliskan namanya. Pria ini nampak begitu cuek, berbeda dengan pertama kali mereka bertemu.
"Iyaa," jawab Tasya singkat.
"Oh gitu, salam kenal. Gua Dafa, nanti kita ketemu diospek," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Tasya.
Satu kalimat biasa, namun entah kenapa Tasya malah bergidik ngeri.
"Hah? Apa dia kating ya?" Gumam Tasya pelan.
Tasya, Al, Angkasa, Yoda, Monica dan Belva sudah selesai menyerahkan berkas-berkas dan juga mengukur baju.
Kini mereka sedang berjalan mengelilingi kampus.
"Eh lo tau gak, tadi ada kating cakep banget," celetuk Monik.
"Lu mah soal yang ganteng aja gercep," kata Angkasa sembari menoyor kepala Monik.
"Sensi banget, wajar lah berarti mata gue masih normal," balas Monik.
"Btw, kita mulai Minggu depan udah ada jadwal matrikulasi tau," kata Belva.
__ADS_1
"Masih lama, sebelum ospek kita stay cation dulu yuk!" Ajak Yoda.
"Boleh, kemana tapi?" Tanya Monik.
"Pantai?" Tawar Angkasa.
"Mauuu!!! Mau ikut," kata Tasya semangat.
Al mengusap wajah Tasya gemas. Soal jalan-jalan Tasya juaranya. "Gini aja cepet."
"Ishhh kan biar gue mainnya jauh, kalau Bandung kayanya semua tempat pernah gue kunjungin," kata Tasya.
"Yaudah kita ke Bandung. Katanya akang Bandung ganteng-ganteng," ajak Belva.
"Itu namanya gue pulang kampung dong, kejauhan. Itu kapan-kapan aja gue ajak. Sekarang ajak gue keliling Surabaya," kata Tasya.
"Yaudah, ke pantai aja yang deket. Mau gak? Nanti biar gua urus," tawar Al.
"Ayokk gue ikut sih, lumayan juga otak gue yang masih berasap karena ujian sekolah bisa dapet hiburan," sahut Monik.
"Oke kalau gitu tar kita jadwalin."
Mereka pun kembali mengelilingi kampus dan tidak lupa mengambil beberapa photo di sana untuk diposting di sosial media masing-masing.
Tasya tersenyum melihat ke sekeliling kampusnya. Benar-benar penataannya yang sangat cantik membuat mahasiswanya betah berlama-lama di kampus. Apalagi sebelum ke kampus, ada danau. Dia membayangkan hari-harinya kuliah di sini dan bisa belajar dipinggir danau. Mungkin itu cita-cita baru Tasya.
Tanpa sadar Tasya terkekeh. Al melirik Tasya yang tiba-tiba tertawa. "Kenapa lu?"
"Gue punya cita-cita baru," ucapnya sambil tersenyum senang.
"Jangan bilang sekarang lu mau naikin patung Surabaya," tebak Angkasa.
"Gak lahhh, gakk bukan itu," sanggah Tasya.
"Jangan aneh-aneh, cita-cita apalagi yang lu mau?" Tanya Al sambil menghela napasnya.
"Gue rasa ini Tasya agak minta ditabok ya anaknya?" Kata Monik.
"Gakk ihh, gak aneh. Kayanya seru gak sih kalau misal kita kuliah di sini terus kerkom atau ngejain tugas di pinggir danau? Seruu kan? Kali ini kalian pasti setuju sama gue," cetus Tasya.
"Iya abis itu gue ceburin lo ke danau, Sya," kata Belva yang heran dengan kelakuan teman barunya ini.
"Jangan gila, lu mau liat apaan anjir di danau? Kecebong?" Al benar-benar frustrasi dengan cita-cita Tasya yang aneh.
"Loh boleh, kan gemes," kata Tasya antusias.
"Astagfirullah, mending lu bawa dia lagi dah ke Bandung, Al. Lama-lama gua hipertensi liatnya," ucap Yoda pasrah.
__ADS_1
"Ck maunya gua lempar langsung ke danau, tobat deh gua sama lu, Sya," ucap Al sambil menggelengkan kepala karena tak habis pikir.
Tasya pun tertawa melihat tingkah teman-temannya. Menurut Tasya mereka sangat lucu dan Tasya senang membuat mereka frustrasi seperti itu karena kelakuannya.