
Semakin lama, hubungan Viko dan Tasya semakin dekat. Tasya pun sepertinya mulai tumbuh rasa pada Viko. Sepertinya. Namun keduanya masih saling ragu dan terkadang menyangkal.
Terlihat hari ini, Viko dengan sengaja menunggu Tasya di parkiran. Tasya seperti biasa, dia ada jadwal kumpul rutin OSIS hingga sore hari. Kegiatan yang cukup melelahkan namun dia sangat menyukainya. Ketika berkumpul bersama teman-temannya, perasaan senang Tasya jauh lebih meningkat.
Namun, pemandangan tak menyenangkan terjadi. Tasya terlihat sedang berjalan bersama Chandra. Hanya berjalan berdampingan? Tidak. Mereka saling bertukar canda dan tawa entah membicarakan apa. Ada rasa tak enak yang terjadi pada diri Viko.
Viko yang melihat itu pun mulai panas. Padahal Viko tak tau apa yang terjadi sebenarnya. Chandra dan Tasya hanya membicarakan soal mangatoon yang mereka baca.
"Enggak dia tuh cocoknya sama ini," kekeh Tasya.
"Bagusan sama ini. Ganteng, Sya. Cewek kan suka yang dingin-dingin," balas Chandra sambil tertawa.
"Aishh ya gak semua gitu, cowok humoris lebih disukain tau. Soalnya cowok humoris pasti bisa bikin ceweknya ketawa terus setiap hari." Tasya masih teguh pada pendiriannya.
"Iya gua ngalah." Chandra pun pasrah dan mengacak-ngacak rambut Tasya pelan.
Mereka memang nyambung jika berbicara soal komik dan manga-manga jepang. Selain suka k-pop, Tasya juga menyukai hal yang berbau anime jepang.
Tanpa sadar, mereka sudah sampai di parkiran. Tasya terlihat bingung saat melihat Viko yang masih ada di Sekolah. Tidak biasanya dia berlama-lama di Sekolah sampai jam segini.
"Viko, tumben lo masih di sini? Tanya Tasya keheranan.
"Gua sengaja," jawab Viko menggantung.
"Sengaja?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Iya, gua nungguin lu balik OSIS. Karena kalau sore kasian lu harus nunggu lama buat pesen online atau naik angkutan umum." jawab Viko frontal.
Chandra menatap Viko tak suka. Bagaimana bisa, seorang Viko Narendra menunggu seorang gadis pulang. Ini pasti ada apa-apanya. Chandra mulai curiga kalau Viko menyukai Tasya.
"Bah, kok gak bilang? Gue kan jadi gak enak, udah bikin lo nunggu." Jika tahu Viko menunggu, Tasya pasti akan menyuruhnya pulang lebih dulu, karena kumpul OSIS lumayan lama.
"Nggak apa-apa, yodah. Balik?" tanya Viko dingin, sesekali dia bertatapan dengan Chandra yang sedari tadi terlihat ketus padanya.
"Bentar. Chan, kayaknya gue gak jadi balik bareng lo. Kasian juga kan Viko udah lama-lama nungguin gue," ucap Tasya pada Chandra. Sebenarnya dia tidak enak, tapi akan lebih tidak enak lagi jika dia menolak ajakan Viko.
"Hm, oke." Chandra berusaha tak acuh dengan keadaan ini. Walaupun sebenarnya dia tak suka.
"Oke deh, makasih buat tawarannya. Gue balik duluan, bye," kata Tasya yang langsung menyusul Viko ke dalam mobil.
Baru kali ini Tasya melihat Viko membawa mobilny, biasanya dia lebih suka menggunakam si merah motor kesayangannya itu.
"Tumben lo bawa mobil," ucap Tasya saat sampai di dalam mobil.
"Sengaja."
"Sengaja apaan? Suka gak jelas lo kalau ngomong," kata Tasya sembari memasang seatbell nya, lalu kembali menatap ke arah Viko.
"Sengaja biar gak kehujanan, musim hujan." Viko menjawabnya dengan tak acuh.
Tasya menyadari kalau wajah Viko tidak bersahabat. Aneh sekali, apa dia kesal karena menunggu Tasya yang kelamaan ya? Pikir Tasya. Tasya kembali cuek, melihat sikap Viko yang seperti itu. Mungkin ada masalah atau dia sedang mendadak tidak ada mood.
Viko pun lalu melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan. Baik Viko maupun Tasya, sama-sama terdiam. Lebih tepatnya Tasya tidak berani menyapa Viko. Terlihat cuek dan menyeramkam.
'Viko aneh banget deh, mau ngajak ngobrol pun gue jadi takut,' batin Tasya.
'Ini cewek gak peka apa, gua cemburu woyy!! Masa gak peka,' batin Viko.
Tasya pun menyalakan radio. Namun Viko langsung mematikannya. Tasya kembali menyalakannya lagi, lalu Viko mematikanmya lagi, kejadian itu berulang hingga lima kali sampai membuat Tasya kesal.
__ADS_1
"Ihhhh kenapa kenapa dimatiin terus sih?" Tanya Tasya kesal, Tasya tidak suka dicuekin seperti itu, dia lebih suka jika seseorang marah dan bilang langsung padanya.
"Berisik," ketus Viko.
"Daripada anyep, 'kan? Gak asik banget. Mana lo cuekin gue lagi."
"Enak sunyi, jangan brisik."
"Lo PMS ya? Ketus amat, kalau gitu mending gak usah ajak gue pulang bareng. Gerah gue liatnya." ucap Tasya.
"Ga."
"Serah deh ahh, kesel lama-lama. Kalau marah itu bilang, apa-apa tuh bilang. Asal main cuekin orang aja, emang dipikir enak kali ya dicuekin kaya gitu." Tasya berbicara pada Viko entah untuk dirinya sendiri yang sering melakukan hal yang sama.
Tasya mengambil ponselnya. Sambil menunggu sampai ke rumah, Tasya memilih untuk membaca novel online saja daripada melihat muka kusut Viko yang sama sekali tidak bersahabat.
"Astaga, soo sweet. Andai aja ada cowok kaya Samudra, pasti bahagia banget deh," guma Tasya tanpa beralih dari ponselnya.
Viko yang melihat Tasya mulai kambuh dengan khayalannya pun hanya melongo. Sudah biasa lagi Viko melihat Tasya bergumam tak jelas dengan cowok-cowok dalam cerita yang dia baca.
"Ihhhh Anya gak peka banget jadi cewek. Itu tuh tandanya suka, dia suka sama lo tau. Ihh greget masa bacanya. Kalau gue sih jadi lo udah langsung aja ladenin," gumam Tasya heboh.
"Heh? Emang lu sendiri peka?" tanya Viko spontan.
Tasya pun melirik ke arah Viko. Dia menatap Viko dengan tatapan tak mengerti. Aneh, tadi mendiamkan Tasya, sekarang marah-marah.
"Hah? Maksudnya?" tanya Tasya tak mengerti. Tasya menatap Viko aneh, orang yang ada di sampingnya ini sangat tidak jelas.
"Gakk, gua lagi latihan tugas drama aja." Elak Viko sambil kembali Fokus dan merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Ohh drama."
Tasya sama sekali tak sadar, bahkan dia juga tak sadar kalau tak ada tugas drama di kelasnya.
Viko memberhentikan mobilnya di parkiran taman. Dia langsung ke luar tanpa mengajak Tasya terlebih dahulu. Perasaan yang tidak karuan ini membuat Viko serba salah, dia membutuhkan udara segar untuk menjernihkan pikirannya.
Namun, entah kenapa Tasya justru mengikuti Viko. Hingga akhirnya mereka duduk di kursi taman. Karena tak ada pembicaraan, terpaksa Tasya yang memulainya. Dia tak betah dengan kondisi ini.
"Vik, lo kenapa sih? Ada masalah? Kok muka lo kusut gitu, udah kusut makin kusut aja tuh muka." Tasya menghadapkan tubuhnya ke Arah Viko sambil memperhatikan wajah Viko.
"Gakk, biasa aja." Viko masih malas untuk bicara, perempuan yang di hadapannya ini entah tidak peka, polos, atau bego. Dia tidak mengerti.
"Ah lo mah kaya cewek aja. Ditanya gapapa padahal ada apa-apa. Kode-kodean gitu," kesal Tasya.
"Lu kan cewek, lu juga gitu berarti. Viko membalikkan ucapan Tasya. Tasya geram dibuatnya, pria ini memang sangat amat menjengkelkan sama seperti Abangnya.
"Tau ah. Gue mau beli eskrim aja." Tasya pun membuka Tasya dan mengambil dompet, namun Viko menahannya.
"Mana eskrim?" tanya Viko.
"Itu," tunjuk Tasya pada sebuah gerobak ice cream dekat pohon rindang di ujung taman.
"Gua aja yang beli, lu mau rasa apa?" tanya Viko.
"Coklaaattt," jawab Tasya antusias.
"Bentar," kata Viko.
Viko langsung menghampiri penjual ice cream. Sementara Tasya menunggu Viko di kursi taman. Tiba-tiba, seorang anak berusia 5 tahun menghampiri Tasya. Seorang anak laki-laki menggemaskan dan pintar bicara.
"Kakak, main yuk!" Ajak anak itu pada Tasya yang sedang merapikan Tasnya.
__ADS_1
"Ayokk, nama kamu siapa jagoan?" Tanya Tasya lalu mengelus puncak kepala anak itu sambil tersenyum manis.
"Aku Leo, kakak namanya siapa?" Tanyanya balik sambil melempar senyum ke arah Tasya.
"Nama kakak, Tasya. Mamah kamu kemana, sayang?" tanya Tasya.
"Itu Bunda," tunjuknya yang ternyata sedang melihat ke arah Tasya dan anaknya.
"Oh itu, yaudah sini duduk deket kakak," ajak Tasya sambil mendudukkan Leo di sebelahnya.
Viko yang melihat Tasya bermain dengan anak kecil, gemas dibuatnya. Sedangkan Tasya memang menyukao anak kecil, dia selalu menginginkan adik, tapi sepertinya itu tidak akan tercapai.
'Lu itu kadang jadi moodbraker gua, tapi lo juga yang bikin mood gua balik dan jadi moodboster,' batin Viko.
Viko memutuskan untuk membeli 3 ice cream coklat. Lalu, Viko kembali ke tempat gadis itu berada.
"Nih," kata Viko sambil memberikan ice cream pada Tasya.
"Makasih." Tasya pun mengambil ice creamnya.
"Halo, nama kamu siapa?" tanya Viko pada Leo.
"Nama aku Leo, Om," jawab Leo polos.
Tasya pun tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Leo memanggil Viko om, Viko juga terlihat aneh saat dirinya dipanggil om. Apa dia terlihat begitu tua di mata anak kecil?
"Kenapa lu?" tanya Viko kesal saat melihat Tasya menertawainya.
"Ternyata anak kecil pun tau, kalau lo kayak om-om." Tasya terus menertawakan Viko, dia tidak bisa berhenti untuk tertawa. Baginya itu lucu sekali.
"Sialan. Em, Leo. Panggil kakak aja ya," ucap Viko pada Leo.
"Oke Kakak."
"Anak pinter, ini buat Leo," kata Viko, lalu memberikan ice cream kepada Leo.
Tasya memakan ice creamnya. Dia sangat menyukain ice cream, tanpa sadar bibirnya belepotan sekarang.
"Sya lu kek anak kecil aja, udah mirip Leo itu bibir."
"Hah? Belepotan? Masa sih?"
Viko lalu mengeluarkan sapu tangannya.
'Astagfirullahh, ini pasti bakalan kek di novel-novel. Sweet banget masa,' batin Tasya.
"Nih, bersihin," kata Viko, lalu memberikan sapu tangannya ke tangan Tasya.
Oke, ekspetasi memang tak sesuai realita. Sudah berkhayal jauh, ternyata jatuh juga. Memang ya, karakter fiksi itu tidak akan benar-benar ada di dunia nyata. Tasya mengelap bibirnya kesal. Viko yang melihat itu sedikit gemas.
'Gue kira lo romantis, ternyata lo cuma bikin gue greget doang,' batin Tasya.
"Kenapa lu, Sya?" tanya Viko yang sebenarnya paham alasan Tasya cemberut.
"Gatau ah," kesal Tasya.
"Dih, tadi kan gua yang kesel. Kenapa sekarang lu yang kesel?" Viko masih menahan tawanya, Tasya lucu jika sedang kesal seperti itu. Ditambah pipinya yang sedikit merona.
"Tau ah, nyebelin banget lo jadi orang." Tasya tidak tau kenapa dirinya bisa kesal seperti itu, padahal ekspetasinya lah yang menjatuhkan dirinya sediri.
"Lah, gua salah apa coba?" tanya Viko pura-pura tak mengerti.
__ADS_1
"Bodo."
Viko pun kembali terkekeh melihat sikap Tasya yang seperti ini. Ingin rasanya dia memeluk gadis yang ada di hadapannya ini, namun dia tidak berani.