
📍Bandara Internasional Juanda
Tasya menarik napasnya panjang. "Oh gini ya rasanya udara Surabaya."
"Gini gimana? Lebih enak di Bandung ya?" Tanya Al.
"Iya sih bener, lebih sejuk di Bandung. Cuma ada perasaan lain gitu waktu nginjekin kaki di Surabaya. Berasa beban gue hilang separuh," jawab Tasya sambil tersenyum.
"Bagus lah kalau lu ngerasa kaya gitu, biar lu gak banyak beban juga. Emang agak sedikit panas sih, tapi ya lu rasain aja nanti sendiri," ucap Al.
Setelah sampai di Surabaya, Tasya tidak lupa mengabari Viko dan teman-temannya. Tidak lupa juga meng-upload Insta Story juga dengan caption Halo Surabaya! ✨.
Tasya tersenyum melihat balasan Viko dan teman-temannya, baru beberapa jam terpisah sudah rindu saja.
Mereka pun segera keluar Bandara, ternyata di sana sudah ada Diana dan Haris yang sengaja datang menjemput putra mereka sekaligus menyambut kedatangan mereka.
"Al, Bunda kangen sekali sama jagoan bunda ini," ucap Diana seraya memeluk putranya itu.
Al membalas pelukan Ibunya, dia juga begitu merindukannya. Walaupun menurut Al Diana itu adalah Ibu yang paling cerewet, tapi tinggal jauh darinya membuat Al memahami arti cerewet yang Diana lakukan.
"Al juga kangen, Bund," balas Al sambil tersenyum.
Diana melepaskan peluknya dan beralih memeluk Tasya. "Bunda juga kangen Tasya, pokoknya Bunda sama Ayah Haris sudah mempersiapkan rumahnya dengan bagus dan membuat Tasya nyaman di sini."
Tasya pun membalas pelukan Diana dengan senyum. "Baik kok, Bund. Makasih ya udah repot-repot buat persiapin semuanya."
"Ayok kita kita pulang sekarang, nanti saja ngobrol-ngobrolnya, Bund. Kasian loh mereka baru sampai," ucap Haris.
Mereka pun terkekeh dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Tasya dan Al duduk di paling belakang, bukannya beristirahat, mereka berdua malah main plato.
"Curang lo, Al. Jangan ngajakin gue main pool, gak bisaa!!" Kesal Tasya yang fokus menatap ponselnya.
"Susah apa? Gua udah ajarin dari tadi astagfirullah lu aja yang gak bisa-bisa," balas Al tak kalah kesal.
"Sstt berisik banget anak dua," kesal Radit yang sedari tadi pusing mendengarkan Al dan Tasya berdebat.
"Al tuh masa dia ajakin gue main pool jadi gue kalah terus."
"Ck Al lu sih ajak main plato, kalau adek gua mah ajakin aja main pou. Biar gak nangis," ledek Radit.
__ADS_1
"Apasih Abang, pou pou. Dikira gue anak kecil apa. Gue tuh bisa tau main plato cuma jangan yang susah," kesal Tasya.
"Nyenyenye," ledek Radit.
"Tannn liat tuh Abang nyebelin," adu Tasya pada Amara.
"Huuu ngaduan," ucap Radit semakin meledek.
"Udah heh, berantem terus. Jangan digangguin adeknya, Dit," peringat Amara.
Sementara Tasya tersenyum penuh kemenangan ke arah Radit.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Tasya takjub melihat bangunan mewah itu, rumahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan rumahnya di Bandung.
"Rumah ini, sengaja papa kalian siapkan selama bertahun-tahun dan sengaja dibuat di depan rumah Ayah dan Bunda agar beliau bisa menikmati masa tuanya di sini," ucap Haris.
"Keren sih papa," gumam Tasya.
"Yasudah, sekarang lebih baik kalian istirahat dulu ya. Kasian juga perjalanan jauh, nanti sore baru kita mengobrol lagi," kata Diana.
"Iya, Mba. Sekali lagi makasih ya karena sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," ucap Amara tulus.
Al pun menurut, sudah satu tahun rasanya pergi dari rumah ini dan Al merindukan suasana kamarnya.
...~ • ~...
Tasya sedang menikmati kamar barunya, kamarnya di sini bernuansa biru dongker dan putih bertemakan kupu-kupu kesukaan Tasya. Ya jauh lebih dewasa daripada kamarnya yang dulu. Katanya ini memang sengaja disesuaikan dengan umurnya yang sekarang sudah menginjak 18 tahun.
Drrt ... Drrtt
Tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi. Tertera nama Al di sana. Tasya pun langsung mengangkatnya.
"Halo, Al. Kenapa?" Tanya Tasya saat mengangkat teleponnya.
"Mau gua ajak jalan-jalan, gak? Sekalian kulineran. Kalau mau siap-siap, nanti gua tunggu di luar," tawar Al.
"Mau woii, bentar-bentar gue siap-siap. Jangan ditinggalin," kata Tasya yang langsung mematikan panggilannya.
Al terkekeh mendengar Tasya yang antusias, dia tau pasti Tasya bingung di hari pertamanya menginjak kota ini, jadi dia inisiatif untuk mengajaknya jalan-jalan.
Tasya langsung berlari dan membuka kopernya, dia belum sempat merapikan bajunya di lemari jadi harus mengambilnya di koper. Tidak repot-repot, dia hanya memakai kaos putih polos dan jumsuit biru dongker. Tidak lupa juga sedikit berdandan dan mengambil sling bag miliknya.
__ADS_1
Tasya segera berlari ke bawah, Radit dan Amara heran apa yang akan Tasya lakukan malam-malam begini.
"Mau kemana kamu, Sya?" Tanya Amara lembut saat Tasya sampai di bawah.
"Emm itu, diajakin jalan-jalan sama Al. Kan lumayan bisa liat-liat Surabaya walaupun malem, boleh ya?" Pinta Tasya sembari mendekat ke arah Amara tantenya.
"Boleh, tapi jangan pulang larut malam ya?" Peringat Amara.
"Iya siap," kata Tasya yang langsung berpamitan pada tante dan Abangnya itu.
Setelah berpamitan Tasya langsung berlari ke luar rumah, dilihatnya Al sudah setia di atas motor sport hitam miliknya. Tasya tersenyum dan berlari ke arah Al.
"Ayokkk, kita mau kemana?" Tanya Tasya saat sampai di sana.
"Makan, sekalian ketemu temen-temen gua mau?" Tawar Al.
"Ahh tapi gue malu, kenapa lo gak bilang dulu kalau mau ketemu temen-temen lo. Masa gue kaya gini, tar lo malu bawa gue. Gue ganti baju sama make up dulu aja lagi ya?" Tanya Tasya.
"Lu mau secantik apalagi sih, Sya? Percaya sama gua deh temen-temen gua tuh gak se wow yang lu pikirin. Sama aja kaya lu gini kalau nongkrong," kata Al yang terheran-heran dengan Tasya.
"Masa sih, tar gimana kalau mereka bilang. Oh ini ya cabat Al yang di Bandung, b aja," celoteh Tasya.
"Gak akan Allahu, ayok lu udah cantik gak perlu diapa-apain, yang ada temen gua yang insecure liat lu," ajak Al seraya mengulurkan helm pada Tasya.
"Isshh yaudah." Tasya pun mengambil helm dari tangan Al dan memakainya, setelah itu dia dibantu Al untuk menaiki motor gede itu.
"Udah siap?" Tanya Al.
"Udah, ayokk jalan," jawab Tasya.
Setelah memastikan Tasya aman, Al pun melajukan motornya. Suasana ramai di jalanan Surabaya membuat Tasya tersenyum. Entahlah, suasananya nampak berbeda dari Bandung. Atau mungkin karena semua jalanan Bandung sering dia lewati, jadi dia begitu bosan melihat pemandangan yang itu-itu saja.
"Sumpah sih, ternyata di sini gak kalah bagus dari Bandung," kata Tasya sedikit mengeraskan suaranya.
"Iya dan nanti bakalan banyak hal lebih bagus lagi yang bakalan gua tunjukin," ucap Al sedikit menengok ke belakang.
Tasya mengangguk dan tersenyum, di sinilah Tasya sekarang. Di kota Surabaya yang menjadi awal mula kehidupannya menjadi dewasa. Kota yang katanya mempunyai arti berani mengahadapi tantangan. Dengan filosofi perlambang perjuangan kehidupan darat dan laut dalam simbol patung buaya dan hiunya, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda.
Cukup menarik, mulai hari ini kehidupan yang sebenarnya dimulai. Menjadi Tasya yang jauh lebih dewasa yang siap menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang.
"Halo Surabaya, aku Tasya," ucap Tasya sambil tersenyum.
__ADS_1