Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
PRA KKN


__ADS_3


Beberapa bulan berlalu. Hari ini Tasya dan teman-temannya sedang berkumpul di pinggir danau. Mereka sengaja membawa papan tulis kecil agar bisa membahas tentang KKN yang akan mereka jalankan sebentar lagi.


Mereka terdiri dari 12 orang dan tentunya dengan anggota genk yang lengkap dan sisanya mereka merekrut siapa saja yang ingin mereka tunjuk :


Tasya, Al, Belva, Yoda, dan Angkasa dari Fakultas Kedokteran.


Monik dari Fakultas Kedokteran Gigi.


Zevan dan Rea dari Fakultas Ilmu Bahasa.


Rajendra dan Anna dari Fakultas Hukum.


Shilla dan Bian dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.


Mereka sengaja memilih Al sebagai Ketua karena menurut mereka Al memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Karena sudah dipercaya Al pun menerimanya dengan menunjuk Tasya sebagai sekretaris.


Tasya dan Al kini duduk dan berada di depan yang lainnya. Tasya tentu menulis di papan dan Al yang memimpin rapat.


"Oke proker kita secara garis besar itu ada 4. Pertama di bidang pendidikan, kedua di bidang ekonomi, ketiga di bidang kesehatan, dan yang terakhir di bidang lingkungan." Al menjeda kalimatnya.


"Dari yang kita ketahui dari hasil survey kemarin, bagaimana keadaan di sana, apa yang warga butuhkan, dan apa nih kira-kira yang bisa kita bantu untuk memajukan desa tersebut, apa ada yang punya ide untuk masuk di dalam point-point dari proker utama?"


Tasya mengangkat tangannya. "Gue ada usul."


"Iya silahkan kemukakan," ucap Al.


"Dari yang gue liat di sana banyak anak-anak dan warga desa yang masih belum tersentuh sama tangan-tangan medis. Warga di sana cenderung mempercayai obat herbal sebagai ramuan karena cukup jauh dari rumah sakit. Dan karena gizi yang cukup buruk anak-anak di sana kebanyakan menderita karies."


"Itu kenapa gue mau usul buat proker kesehatan. Kita adain poling sama miniso," lanjut Tasya.


"Hah gimna maksudnya? Pocong keliling? Miniso kan toko," kata Belva tak mengerti.

__ADS_1


"Bukan, poling itu. Posyandu keliling, jadi kita ke rumah-rumah warga untuk test kesehatan mereka. Dari mulai tensi darah, gula darah dan sebagainya itu buat orang dewasa dan buat anak-anak kita bisa adain pemeriksaan gigi atau vaksin. Cuma kalau ke rumah-rumah agak rempong juga ya, jadi kalau gak mau repot kita adainnya di setiap dusun," jelas Tasya.


"Ide bagus, kalau miniso apa?" Tanya Al.


"Miniso itu Milk Nutrition socialization, atau kita sosialisasi tentang pentingnya minum susu buat anak-anak, agar pertumbuhan gigi dan gizinya juga bagus," jawab Tasya sambil tersenyum.


"Keren, gue setuju sama usul Tasya. Biar masuk juga sama proker individu gue," kata Monik.


"Boleh, yang lain gimana?" Tanya Al.


Mereka pun mengangguk setuju, setelah itu giliran Yoda yang yang mengangkat tangannya. Al pun langsung menunjuk Yoda. "Iya silahkan."


"Gua mau usul proker buat ekonomi. PUBG!" Ucapnya bangga.


"Apaan lu mah sesat, anak kecil disodorin PUBG. Gak bener, skip skip." Angkasa sudah yakin, jika Yoda yang bicara sudah pasti tidak akan benar.


"Beneran kali ini. Di sana kan banyak petani beras gambut yang pemasarannya masih manual dan lagi masih belum tau bagaimana cara mengembangkan usahanya. Jadi kita adain PUBG. Promosi Beras Gambut, jadi desa itu bisa maju karena ada upaya yang kita lakukan dengan harapan desa itu punya penghasilan utama dari sana," jelas Yoda.


"Wah tumben otaknya, gimana yang lain?" Tanya Al.


...~ • ~...


Tasya dan Al sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebagai sekretaris Tasya juga harus memastikan kalau tidak ada satupun yang terlewat. Sementara Al memeriksa hasil kerja masing-masing anggotanya.


"Ahhh gila pegel banget," ucap Tasya sembari merenggangkan otot-ototnya, dia juga sudah merasa pusing kalau memakai kacamata terlalu lama.


"Udah selesai?" Tanya Al sambil melirik gadis yang ada di sampingnya itu.


"Udahh, pegel banget berjam-jam duduk kaya gini." Tasya memejamkan matanya seraya menyandarkan diri ke sofa.


"Istirahat jangan diforsir, yang ada lu gak akan bisa ikut KKN nanti," peringat Al yang kembali fokus pada laptopnya.


Tasya menguap, jam memang sudah mnunjukkan pukul 9 tepat. Matanya sedikit agak berat jadinya. "Lo belum beres?"

__ADS_1


"Belum dikit lagi," jawab Al.


"Yaudah selesain habis itu lo bisa istirahat juga. Kalau mau nambah kopi ke kulkas aja. Gue mau tidur sebentar, nanti bangunin yaa," ucap Tasya.


"Hmm."


Tasya mulai memejamkan matanya, sementara Al masih berkutat dengan kertas-kertas dan juga laptopnya. Karena pekerjaannya sebagai ketua tentunya lebih banyak. Dia juga harus mengecek ulang agar pada saat pelaksanaan tidak ada yang tertinggal atau belum dikerjakan.


Satu jam berlalu akhirnya pekerjaannya pun selesai. Al melirik Tasya yang sudah tertidur di sofa. Sepertinya dia memang kelelahan karena beberapa hari ini kurang tidur. Al menggelengkan kepalanya, gadis itu memang ceroboh. Dia tertidur dengan memegang laptop yang sedang dicharger, alhasil sekarang dia yang terlilit kabel.


Al mematikan laptop Tasya dan menyingkirkan kabel-kabel dari tubuhnya. Sedikit tersenyum melihat Tasya tertidur, dia seperti bayi yang tidak memiliki beban kalau seperti itu. Al pun menyelipkan tangannya di antara lengan dan lutut Tasya lalu menggendongnya ke kamar Tasya. Kalau tidak dia pindahkan, Tasya kan sakit badan karena tertidur di sofa.


Al membaringkan tubuh Tasya dan tidak lupa menarik selimut untuknya. Tasya sedikit terusik dan malah memeluk lengan Al sampai dia hampir saja menindih Tasya. Al tersenyum, dia sangat suka memandangi wajah Tasya, ada ketenangan dalam dirinya jika melihat Tasya. Perlahan dia mengelus pipi Tasya lalu melepaskan pelukan pada lengannya. Bisa gila kalau dia lama-lama menatap Tasya.


Al pun berbalik dan mendapati Radit yang sedang menatapnya. Al cuek saja toh dia tidak melakukan apa-apa. Al pun keluar dan menutup kamar Tasya.


"Sampai kapan?" Tanya Radit pada Al.


"Sampai kapan apanya?" Al bertanya balik.


"Sampai kapan mau sembunyi dibalik persahabatan dan bohongin perasaan lu sendiri? Padahal kalau gua bilang soal perjodohan ini juga Tasya pasti mau," ucap Radit.


Al terkekeh. "Gua mau dapetin dia karena dia ngerasain hal yang sama, bukan karena terpaksa menerima perjodohan."


"Ada aja alasan lu. Terus gimana bisa dia suka sama lu kalau lu diem di zona aman? Sampai kapan diem terus? Sampai ada orang yang dia sukai lagi dan ujungnya ngalah?"


"Sampai gua siap dan dianya juga siap. Kalau dia gak mau kan gua gak bisa maksa. Kalau ujungnya gua jadi canggung sama dia juga itu butuh persiapan. Yaudah biarin gini aja dulu," ucap Al.


"Pergerakan kalian lambat, kalau gini orang tua kaya gua harus turun tangan biar cepet," kata Radit.


"Kalau jodoh gak akan kemana, lagian juga kita mau KKN. Lebih banyak hal yang harus dipikirin bukan masalah cinta-cintaan. Dia juga baru pulih dan baru move on setelah 1 tahunan ini dia gagal move on. Lu lebih paham dia daripada gua, Bang.


Radit terdiam, benar juga apa yang dikatakan Al. Nyatanya justru Al yang lebih paham tentang Tasya. Tapi dia juga gemas dengan pergerakan mereka yang lambat, karena bagaimana pun mereka berdua sudah dijodohkan, hanya saja Tasya yang belum mengetahuinya.

__ADS_1


"Persiapin aja dulu pernikahan lu sama kak Amanda. Gue sama Tasya itu mudah kalau udah waktunya. Jangan diambil pusing," lanjut Al.


__ADS_2