Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Berpisah Sementara


__ADS_3


Kini Tasya dan Al harus berpisah sampai hari pernikahan mereka. Selain untuk liburan, ya memang sengaja saja dipingit di Bandung. Karena sudah pasti kalau di Surabaya mereka akan melakukan berbagai cara untuk bertemu.


Tasya masih memeluk Al dengan erat, dia nampak enggan berpisah dengan Al. Mana bisa dia dijauhkan dengan Al yang hampir setiap hari wajahnya dia lihat.


"Udah kek pelukannya, nanti juga ketemu lagi," ucap Radit.


Tasya menaikan bahunya. "Kenapa sih harus ada pingit-pingitan. Kan udah gapapa kalau gak pake sistem kaya gituan," protes Tasya.


"Ehh itu demi kebaikan kalian. Itu agar kalian bisa melatih kesabaran dan memupuk rasa percaya-"


"Tasya percaya sama Al kok, Kak," potong Tasya saat Amanda menjelaskan.


"Iya tau tapi selain itu juga agar kalian terhindar dari marabahaya. Gitu konon katanya."


Tasya menghela napasnya, sementara Al hanya terkekeh. Ini juga berat untuknya, tapi yang namanya tradisi ya harus mereka jalankan. "Jangan rewel, nanti kita ketemu lagi Minggu depan." Al mengusap rambut Tasya dengan lembut.


"Oh aku ada ide gimana kalau pingitnya 2 hari aja, aku baca di google boleh," usul Tasya.


"Gak, gak ada. Udah-udah, Al udah ditungguin sama Bunda," ucap Radit sembari menarik lengan Tasya.


Tasya memberengut. "Kamu kok diem aja, kamu gak aka kangen aku emangnya?"


"Gimana mau bicara kalau kamunya dari tadi ngoceh?" Tanya Al sambil sedikit tertawa.


"Mau ikutt pulang!" Ucap Tasya setengah berbisik.


Al menangkup pipi Tasya dengan lembut. "Nanti Minggu depan ya, gak lama kok. Kamu jangan lupa makan, jaga kesehatan, minum vitamin, di sini udaranya dingin jadi inhaler harus selalu ada di deket kamu. Jangan rewel, jangan nangis."


Radit menghela napasnya, benar-benar dramatis sekali pasangan bucin ini. Sementara Tasya mengangguk menuruti perkataan calon suaminya itu. "Kangen."


"Ya Allah, belum juga ditinggal Tasya Aurell!" Sudah, Radit tidak kuat dengan kelebayan Tasya sementara Amanda hanya terkekeh sembari menggendong putra kecilnya.


"Kenapa sih, Abang!" Sungut Tasya.


Al memeluk Tasya lalu menciumi puncak kepalanya. "Jangan marah-marah, nanti cepet tua. Yaudah aku tinggal dulu ya."

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan Tasya, Al pun memasuki mobil. Dia tidak tega melihat wajah Tasya yang masam begitu, tapi dia tetap tersenyum agar Tasya juga kuat menghadapinya satu Minggu kedepan.


Setelah kepergian Al Tasya jadi tidak karuan sendiri, dia merasa aneh saja jika biasanya mereka selalu, menghabiskan waktu berdua tiba-tiba sekarang harus berpisah. Kini Tasya ikut bersama Abangnya menginap di rumah orang tua Amanda. Ya sekiranya Tasya jadi banyak teman, karena di sana sedang ada perkumpulan keluarga besar karena Amanda pulang.


Tasya menggendong keponakannya yang bernama Kafeel. Amanda dan Radit juga membiarkannya, daripada Tasya bersedih karena dipisahkan dengan Al. Gadis itu masuk ke rumah sambil berceloteh bersama Kafeel. Radit tidak bisa membayangkan adiknya ini masih kecil bahkan dia sangat akrab dengan anaknya. Mereka seperti anak seumuran di mata Radit. Lucu memang.


"Wajar kalau berat ditinggal sama calon suami, tapi itu nantinya akan memupuk rindu diantara kedua mempelai. Jadi hari pernikahannya bisa dirasakan betul-betul," nasehat Nenek Amanda yang kini duduk di sebelah Tasya.


Tasya tersenyum, ya dia menghargai setiap orang yang memberi wejangan padanya, keluarga Amanda ini sangat baik dan juga ramah. Tasya yang tidak memiliki keluarga besar sekarang jadi bisa merasakannya.


...~ • ~...


Beberapa hari berlalu, Tasya dan Al memang tidak saling berhubungan. Mereka sama-sama dibuat sibuk sampai tidak ada waktu berkomunikasi via telfon.


Seperti sekarang, Al dibantu teman-temannya sedang mengecek persiapan mereka sejauh apa dan lagi besok akan ada acara pengajian dan siraman yang akan dilakukan di sana.


Sebenarnya Al merindukan Tasya, tapi ya dia benar-benar mematuhi adat ini agar tidak berkomunikasi diam-diam dengan Tasya. Hampir gila rasanya ketika jauh dari Tasya seperti ini.


"Kenapa sih? Kangen Tasya ya?" Tanya Belva saat melihat Al sedikit melamun.


"Kangen lah, tiap hari gua bareng dia," jawab Al.


"Otak lu, bukan unboxing-unboxing. Ya gua kangen aja sama Tasya," sungut Al.


"Auya Yoda mesum banget heran," kesal Monik.


"Kalau gak mesum, gak normal," bela Angkasa.


Monik dan Belva bergidik ngeri, memang resiko berteman dengan pria ya begini. Pasti ada satu masa mereka berfantasi liar yang jarang sekali dilakukan oleh wanita.


Disisi lain, Tasya menghabiskan waktu di Bandung dengan menemui teman-temannya. Dia memutuskan mengundang semuanya meskipun meminta bantuan pada Niken. Dia juga telah menyerahkan kotak berisi gaun dan jas bride untuk Niken juga Arka.


Ya dia berharap sekali kalau mereka berdua bisa mendampinginya saat nanti di pernikahan. Setelah bertemu Niken, dia juga memanjakan dirinya. Dia melakukan perawatan spa dan kecantikan, setelah itu dia juga ke salon. Besok dia harus pulang ke Surabaya karena keesokan harinya akan ada acara pengajian dan siraman. Sengaja dibuat berbeda hari dengan Al karena mereka memiliki rekan dan kerabat yang sama.


Selesai memanjakan dirinya tiba-tiba seseorang memanggil Tasya dari arah belakang. "Tasya."


Tasya berbalik dan mendapati seseorang yang dia kenal di sana. Pria itu menghampiri Tasya dengan sedikit terengah-engah karena mengejarnya tadi. "Chandra?"

__ADS_1


"Hai, Sya. Lama gak ketemu," balas Chandra sambil tersenyum.


"Eh iya, ini baru balik lagi ke Bandung."


"Bukannya lo di luar negeri ya?" Tanya Tasya.


"Udah balik setelah lulus, sekarang lanjutin bisnis bokap. Btw kayanya gak enak kalau di sini, ngopi sebentar mau?" Tawar Chandra.


Tasya berpikir sejenak, ya mungkin tidak ada salahnya juga. Mereka juga cukup dekat dulu sebagai ketua dan wakil. Jadi Tasya menganggukkan kepalanya.


Di sinilah mereka berada, di sebuah caffe dalam mall. Keduanya nampak bingung harus memulai percakapan dari mana. Setelah kejadian terakhir kemarin itu jujur saja masih membuat Chandra merasa bersalah.


"Gimana kabar lu?" Tanya Chandra membuka percakapan.


"Baik, cuma emang lagi gak ada kerjaan aja karena nunggu intership bulan depan. Lo sendiri apa kabar? Tanya Tasya.


"Baik kok, sejauh ini masih aman. Lu menetap di sini lagi atau ... "


"Engga, gue emang kemarin mau ke makam papa. Sekalian dipingit katanya, kalau di Surbaya nanti malah cari kesempatan buat ketemu. Gak paham lah gue, jadi nurut aja."


"Pingit?"


"Oh iya gue lupa. Minggu depan gue mau menikah, di Surabaya sih. Tapi kali aja lo bisa datang," Tasya mengeluarkan undangan dari dalam Tasnya.


"Gue pikir lo udah menetap di Jerman. Maaf kalau gak gue kasih nama penerima," ucap Tasya sembari mengulurkan undangan pada Chandra.


Chandra menerima undangan itu. "Sama Viko?"


Tasya menggeleng. "Bukan, sama Aldo Prayoga."


"Al sahabat kecil lu? Kok bisa? Lu sama Viko kenapa putus?" Ya hal yang wajar untuk seorang Chandra jika tidak mengetahuinya. Dia jarang membuka sosial media bahkan hampir jarang sekali.


"Panjang kalau diceritain soal Viko. Bisa lo tanya sama yang lain aja mungkin ya. Dia juga udah punya istri. Kalau gue sama Al ya emang karena terbiasa aja kali ya, terus kita juga dijodohin jadi ya why not?"


Chandra cukup kaget sih, karena dia tau bagaimana perjalanan kisah Tasya dan Viko. Mungkin setelah ini dia akan bertanya pada teman-temannya. Mungkin ada hal yang memang sudah Tasya kubur dalam-dalam.


"Oh oke. Gua usahain datang sama anak-anak yang lain. Selamat buat pernikahan lu sama Al ya."

__ADS_1


Tasya mengangguk, dia tidak percaya sih akan bertemu Chandra di sini. Dia senang, karena bagaimana pun pernah ada kisah juga diantara mereka walaupun sebagai rival.


__ADS_2