
Setelah sama-sama menyatakan perasaan, entah kenapa mereka malah terus senyum-senyum. Bukan karena canggung, tapi mereka sama-sama tidak menyangka kalau persahabatan yang dijalin 20 tahun lamanya berakhir seperti ini. Lebih manis dari yang mereka duga.
Al memakaikan kemejanya kepada Tasya. "Baju lo basah, nyetak dalemnya. Jangan sampe diliat siapa-siapa."
Tasya tersenyum dan mengangguk lalu memakainya. "Makasih ya, Al."
Al terkekeh melihat Tasya yang gemas seperti itu. Al pun menggenggam tangan Tasya dan mereka kembali ke mess. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling melirik, setelah itu tertawa. Mereka melakukannya berulang-ulang, seperti tidak ada kerjaan saja.
"Kenapa sih ketawa terus?" Tanya Tasya.
"Gapapa, lega aja udah utarain semuanya ke lu," jawab Al santai.
"Jangan bilang Angkasa, Yoda, Monik, sama Belva tau soal perasaan lo ke gue?" Tanya Tasya lagi.
"Bella juga tau, itu kenapa gua ngerasa bersalah banget sama lu. Dia benci lu karena gua lebih milih bertahan sama perasaan gua ke lu. Maaf baru akuin sekarang, tapi gua terlalu ciut kalau soal perasaan," ucap Al dengan sungguh.
Tasya memang kaget, tapi tidak berimbas apa-apa untuknya sekarang. Beberapa bulan terakhir dia pergunakan waktunya untuk melupakan dan belajar memaafkan semuanya. Jadi tidak masalah dengan pengakuan Al sekarang.
"Gapapa, kayanya kalau lo gak nolak Bella gue bakalan terjebak sama cowok tukang selingkuh dan gue gak bisa tau perasaan lo yang udah lo pendam sejak lama," balas Tasya sambil tersenyum.
"Gua pikir lu bakalan marah karena Viko cinta pertama lu," kata Al.
"Engga, kemarin-kemarin gue udah banyak berpikir. Kalau dilanjut pun hubungan gue gak akan baik-baik aja. Udah LDR, kepercayaan gak ada, udah rusak juga. Lo sadar sendiri gue udah gak pernah bahas Viko lagi, kan?"
Al mengangguk. Memang benar, bahkan Tasya pernah bilang di tepat satu tahun kehilangan Viko dia benar-benar sudah bisa melupakannya dengan total. Mungkin kenangannya tidak benar-benar hilang, tapi itu hanya pemanis di kehidupan Tasya. Bukan untuk dikenang, melainkan untuk dijadikan pembelajaran.
"Berarti mereka sekongkol juga ya nutupin sesuatu dari gue. Parah banget Monik sama Belva aja gak ngasih tau gue soal ini. Payah kalian," kesal Tasya.
"Loh, itu gua yang minta. Gua cuma nunggu waktu yang tepat aja, Sya. Bunda aja kesel karena gua tahan-tahan terus. Dia maunya lu jadi menantu dia, aneh. Padahal bayi monyet abangnya ini berisik banget, gak tau aja bunda," ucap Al.
"Alahhh, lo ledekin gue kaya gitu padahal suka sama gue sampe bertahun-tahun. Nyenyenye, yang penting lo suka sama gue," ledek Tasya.
"Dih, nyesel bilangnya," balas Al.
"Oh nyesel, yaudah gue ngambek." Tasya melepaskan genggaman mereka lalu berjalan mendahului Al.
__ADS_1
Al tertawa melihat tingkah gadis itu, rasanya dia ingin melamarnya hari ini juga. Al menyusul Tasya lalu memeluk leher Tasya dengan tangan kanannya. Al pun menatap gadis yang kini mengadahkan wajah padanya.
"Ngambekan, gak boleh ngambek. Jelek," ucap Al sambil terkekeh.
"Lo sih nyebelin, mana bilang nyesel. Kesel banget, gak boleh gitu tau!" Kesal Tasya.
"Iya tau!" Balas Al mengikuti cara bicara Tasya.
Tasya tertawa mendengarnya. Al itu memang menyebalkan, sangat menyebalkan, tapi selalu mampu membuatnya tertawa.
Mereka pun sampai di mess, terlihat Yoda dan Rajendra sedang mencuci motor pinjaman mereka dari pak RT. Belva dan Angkasa yang sedang berdiskusi di kursi depan, terakhir Monik yang sedang memeriksa laporan miliknya.
Mereka nampak bingung melihat Tasya dan Al yang senyum-senyum dengan keadaan baju mereka yang basah. Aneh sekali.
"Kalian kenapa senyam-senyum gitu? Kaya dapet duit di jalan aja," celetuk Yoda.
"Engga nemu duit, nemunya kebahagiaan. Iya kan, Al?" Tanya Tasya pada Al.
Al pun mengangguk dan terkekeh. "Hmm, kebahagiaan."
"Prik banget anjir persahabatan kalian ini. Cocok lu berdua sama-sama prik," timpal Angkasa.
"Lu emang masokis ya, lu kaya minta gua bully mulu," kesal Angkasa.
Tasya terkekeh, dia hanya senang saja mengganggu ketenangan Angkasa. Itu merasa membuatnya bahagia.
Al mengusap wajah Tasya perlahan. Gadis itu memang sangat jahil. "Jangan gangguin Angkasa, ribut terus kalian heh. Udah sana lu masuk, terus mandi. Nanti masuk angin, udah basah semua itu badannya."
"Lo juga mandi terus ganti baju. Ngingetin orang terus tapi sendirinya gak suka lakuin," cibir Tasya.
"Iyaa, bawel. Gua lakuin, udah sana cepetan keburu sakit. Gak mau jauh dari gua ya lu? Ngaku!" Tuduh Al.
"Apasihh engga, gr banget. Yaudah gue mandi, jangan kangen awas aja!" Tasya pun berlalu meninggalkan mereka dan masuk ke dalam.
Al hanya terkekeh, lalu masuk ke dalam kamar untuk mandi juga. Untungnya kamar mandi di sini ada dua, jadi dia tidak perlu menunggu Tasya. Mungkin menurut mereka biasa saja, tapi kejadian barusan membuat mereka yang di luar bertanya-tanya.
"Lo aneh gak sih sama mereka?" Tanya Monik.
__ADS_1
Yoda yang masih mematung pun hanya mengangguk. "Cringe banget anjir gak kaya biasanya."
Bukannya apa-apa, mereka memang sering melihat Tasya dan Al saling menggenggam. Tapi kali ini mereka nampak begitu sumringah, ditambah kata-kata manis yang mereka lontarkan. Bukan manis, tapi sedikit menggelikan.
"Kesambet tuh dua bocah," celetuk Angkasa.
"Bodo amat lah, capek anjir gue liat kelakuan mereka. Bener kata angkasa, mereka prik banget. Untung dua-duanya temen gue," balas Belva.
Satu jam berlalu, kini Tasya dan Al sedang duduk di karpet dengan posisi Al yang sedang mengerjakan laporan dan Tasya yang sedang bersender pada dada bidang Al sambil memainkan ponselnya. Tangan Al mengalung pada leher Tasya, tapi mereka sama-sama fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Tasya membuka kameranya dan berphoto dengan posisi seperti itu, tak jarang Al juga sadar kamera dan menciumi puncak kepala Tasya sampai membuat mereka tertawa sendiri. Membuat yang lainnya semakin merasa aneh dengan sikap keduanya.
"Ini cantik gak?" Tanya Tasya pada Al seraya memperlihatkan ponselnya.
"Jangan tanya soal cantik atau engga, udah gua bilang lu paling cantik di mata gua. Lupa?" Al bertanya balik.
Tasya tertawa, memang sih Al pernah bilang. Tapi dia suka saja menanyakannya, ada kepuasan tersendiri. "Ya mau nanya aja kenapa sih."
"Kalian seneng banget hari ini," ucap Belva yang terlihat begitu penasaran.
"Seneng lah," jawab keduanya tanpa berpaling dari aktivitasnya.
"Seneng kenapa? Kenapa seseneng itu? Coba ceritain kenapa?" Tanya Monik kepo.
"Yaaa karenaaaaa, kita jatuh ke sawah. Hahahahahaha," jawab Tasya sambil tertawa.
"Betul," timpal Al.
Yoda menyerngitkan dahinya. "Terus istimewanya jatuh ke sawah apa anjirr sampe kayanya lu berdua seneng banget?"
Tasya menatap Al sambil menahan tawanya. "Kasih tau jangan?"
Sementara Al juga sama jadi dia hanya mengelus pipi Tasya sambil terkekeh. "Gak usah biar kepo."
"Apasih kalian gak jelas. Aneh tau gak, gue curiga kalian kesambet penunggu sawah," kesal Belva.
Al dan Tasya hanya terkekeh, mereka memang belum mau saja menceritakan tentang hari ini kepada teman-temannya. Mereka berdua hanya fokus menikmati hubungan baru meskipun belum ada status yang jelas.
__ADS_1
Bukan tidak ingin berpacaran, tapi Al ingin langsung membawa Tasya kehadapan kedua orang tuanya untuk dilamar. Menurutnya di umur mereka ini bukan waktunya untuk main-main. Meskipun mereka tidak berencana menikah muda, tapi setidaknya mereka bertunangan dan mempunyai ikatan yang lebih serius dari sekedar pacaran.