
Beberapa hari berlalu, kini Tasya menjalani rutinitasnya dengan baik di sekolah. Guru matematika sedang ke kantor, akhirnya mereka disuruh merangkum buku yang tebalnya melebihi kamus bahasa Inggris.
Viko memperhatikan Tasya sejak tadi, sebenarnya dia dan yang lainnya masih penasaran tentang Al. Tapi mereka memilih untuk mencari tahunya sendiri. Karena mereka fokus untuk penyembuhan Tasya dibanding harus menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan.
"Fokus banget, mau gue bantuin gak?" tanya Sherli.
"Engga, Sher. Lagian nyatat doang, mending kerjain punya lo," jawab Tasya enteng.
"Kenapa ya gue suka kalau liatin lo belajar," kata Sarah sambil menopang dagu.
"Iyaa kaya GF-able gitu," sambung Niken.
"Ya Allah, kalian kesurupan apa hari ini?" Tasya tertawa melihat tingkah teman-temannya.
"Ya gimana ya, kangen sih," kata Sherli menggoda Tasya.
Sorak sorai terdengar dari luar kelas, ya memang kelas Tasya saja yang sepertinya taat aturan. Mereka kebanyakan memilih diam di kelas daripada di luar kelas. Meskipun tidak selalu belajar, ada yang sibuk bergosip, ada yang sibuk mengerjakan tugas dan juga ada yang sibuk bermain ponsel.
"Itu kok rame banget sih," celetuk salah satu dari anak kelas mereka.
"Iya ada apa ya, eh eh liatt itu mereka ngapain." Salah satu dari mereka mengintip dari balik jendela.
Semua penasaran dan langsung ke berkumpul di depan pintu, terkecuali Tasya Viko and the genk. Mereka terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing dan tidak mempedulikan yang lain.
Ganteng banget.
Dia selebgram gak sih?
Puji Tuhan nambah satu orang ganteng di sekolah kita.
Weh weh dia murid baru kelas kita weh.
Anjirr anak baruu woyy.
Masuk-masuk ada Pak Badi.
Semua pun kembali masuk dan duduk di tempatnya. Tiba-tiba Pak Badi masuk membawa seseorang ke dalam kelas. Tasya memicingkan matanya, lalu berubah menjadi senyum mengembang. Ternyata dia benar-benar melakukannya.
"Iya anak-anak, kelas kalian kedatangan murid baru. Ayok kenalkan diri kamu," perintah Pak Badi pada seseorang di sampingnya.
"Hai guys, kenalin gua Aldo Prayoga. Kalian bisa panggil gua Al. Gue pindahan dari Surabaya," Al menatap ke arah Tasya sambil mengedipkan matanya.
Tasya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Al. Benar-benar tidak pernah berubah. Selalu saja tebar pesona. Sarah dan Niken pun saling menatap seolah berkata, "Mampus". Sementara Arka mengusap punggung Viko sambil menahan Tawanya. Melihat Viko panas adalah hal lucu baginya.
"Yasudah kamu bisa duduk di bangku yang kosong, oh iya kalau butuh bantuan untuk wisata sekolah, bisa tunjuk salah satu teman untuk minta antar ya," ucap Pak Badi.
Sama aku aja Al, jangankan keliling sekolah, anter kamu ke mama aku juga boleh.
Aku Al, tunjuk aku.
Aku gak sihh, aku ajak kemana aja.
Satu kelas ricuh, Al hanya tertawa dalam hatinya. Memang pesonanya ini tidak main-main, membuat kepedean Al meningkat.
"Saya ditemenin Tasya saja boleh, Pak?" tanya Al.
"Ohh pilihan yang tepat, Tasya ini Ketua OSIS di sini. Lebih tepat untuk menemani kamu memahami sekolah ini. Tasya, setelah ini tolong antar Al berkeliling sekolah ya?"
__ADS_1
"Iya pak, siap," ucap Tasya sambil tersenyum ke arah keduanya.
Al langsung memilih duduk di belakang Tasya dan Sherli, karena bangku itu kosong. Tasya senang Al benar-benar memenuhi keinginannya untuk satu sekolah.
"Yasudah, kalau gitu bapak kembali ke ruang guru. Ingat, jangan berisik," peringat Pak Badi dan berlalu meninggalkan kelas mereka.
Banyak yang berbisik-bisik kagum karena Al, ada juga yang penasaran tentang hubungan Al dan Tasya, terakhir ada juga yang panas karena kedatangan Al.
"Ekhmm ada yang hutang janji nih sama gua," sindir Al dari bangkunya. Tasya dan Sherli pun langsung melihat ke belakang.
"Iya-iya, ayokk gue anterin lo keliling," ucap Tasya sambil berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya pada Al.
"Apa, Sya?" tanya Sherli penasaran, Sherli tidak mengerti arah pembicaraan mereka berdua.
"Gue janji kalau dia sekolah di sini gue ajak keliling," jelas Tasya.
"Ohhh, yaudah sana anterin. Mumpung udah dapet izin dari Pak Badi. Btw salken Al, semoga betah." kata Sherli.
"Yoi thanks yo, tar ngobrol lagi," ucap Al sambil tersenyum ke arah Sherli dan lainnya. Mereka sedikit melirik Viko yang tak lepas tatapannya sejak Al datang.
"Yaudah gue keluar dulu ya," ucap Tasya sambil tersenyum.
Tasya dan Al pun keluar kelas, Tasya tak henti-hentinya tersenyum setelah kedatangan Al. Sementara Viko kini masih duduk di bangkunya sambil digoda habis-habisan oleh ketiga temannya.
...~ • ~...
Sepanjang jalan mereka tak luput dari pandangan orang-orang yang mungkin sedang jamkos. Ada yang menatap kagum dan juga ada yang menatap iri. Banyak dari mereka yang tau kalau Al adalah anak hits Surabaya.
"Gini ya rasanya jalan sama Ketua OSIS di sekolahnya," kata Al sambil terkekeh.
"Engga juga, itu karena lo seleb kali. Biasanya gak heboh banget," ucap Tasya tak acuh.
"Nah kalau ini, kumpulan piala sekolah kita. Jadi setiap siswa atau siswi yang berprestasi, pialanya bakalan dipajang di sini, namanya juga bakalan dipajang. Jadi memicu semangat yang lainnya buat ikut serta dalam kegiatan apapun."
"Wihh Tasya Aurel, Tasya Aurel, Tasya Aurel, ini lemari piala koleksi lu kali." Al pun tertawa sembari mengabsen list pemilik piala di sana.
"Ishh jangan bikin idung gue terbang, ya lo tau sendiri gue suka nulis, makanya gue selalu diikut sertakan buat lomba menulis."
"Selain itu karena lu emang hebat." Mengacak rambut Tasya perlahan.
"Dahlah jangan bikin gue salting, ayok jalan lagi."
Mereka pun melanjutkan mengelilingi sekolah. Menurut Al ini jauh lebih bagus daripada sekolah lamanya. Apalagi penataan yang rapi juga aturan yang ditaatin semua muridnya membuat Al kagum.
"Btw kenapa bisa kebetulan kita satu kelas?" tanya Tasya penasaran.
"Gua yang minta, tadi Radit yang anterin gua dan bantu bilang kalau gua harus jagain lu," kata Al nyengir.
"Bisa gitu ya? Bilang aja lo gak bisa jauh dari gue, yakan?"
"Kalau iya kenapa?" Al melihat ke arah Tasya dan menggodanya. Tasya begitu gemas menurut Al, bahkan teman-temannya di Surabaya mengatakan kalau Tasya memang lucu.
"Ya gapapa berarti gue bener."
Mereka pun tertawa bersamaan. Mereka berdua sama-sama senang, mulai hari ini dan seterusnya mereka akan terus bersama-sama.
Di satu sisi di kelas Viko dan kawan-kawan menghampiri bangku Sherli. Mereka sekarang mendadak menjadi stalker karena penasaran tentang Al.
"Eh dia ganteng anjirr, gue baru tau kalau anak hits Surabaya itu ganteng-ganteng," kata Sherli sambil memperlihatkan ponselnya kepada mereka.
__ADS_1
"Bener, gak heran sih kalau tadi banyak yang ngenalin," lanjut Sarah.
"Gak heran juga dia ganteng," sahut Niken.
"Tapi dia siapanya Tasya sih gua penasaran dah," celetuk Bagus.
"Gua mikir mereka berdua deket, kaya HTS gitu," kata Arka.
"Tapi masa iya gak cerita sama kita." Niken menekukkan dahinya, dia bingung dan tak bisa membaca gerak gerik Tasya dan Al saat ini.
"Bisa aja dia malu kalau bicara soal perasaan," ucap Reza sambil berpikir.
"Tapi dia sempet kaya nolak gua gitu waktu gua ngedeketin dia, apa jangan-jangan itu karena dia ada pacar?"
"Serius lu?" tanya Bagus.
"Iya anjir makanya gua ovt," katanya frustrasi.
Setelah selesai berkeliling, mereka berdua pun kembali masuk ke kelas, Tasya dan Al bingung pasalnya bangku Tasya kini dikerumuni oleh Sarah, Niken, Viko dan lain-lain. Mereka nampak sibuk sambil sesekali berdebat.
"Kalian ngapain?" tanya Tasya heran.
"HAHH." Mereka nampak kaget dan menyembunyikan ponsel mereka segera. Napas mereka nampak tersenggal-senggal
"Ngagetin aja lu, Sya," kata Bagus panik.
"Astagfirullah, kaget gue," kata Sherli.
"Emang kalian lagi ngapain sih?" tanya Tasya.
"Emmm anuuu kita lagi apa sih ituu, Apasihh??!" ucap Sarah seolah meminta bantuan penjelasan.
"Liat kucing bertelur! Iyaaaaa ituuu," kata Bagus.
"Nahhh iya bener kita lagi liat video kucing bertelur." Sarah mencoba memperjelas.
"Beranak," kata Al meluruskan.
"Nah iya itu, pinter lu anak baru," ucap Reza sambil cengengesan.
"Owalah dikirain ada apa, oh iya temenan sama dia juga ya. Kasian gak ada temen," pinta Tasya sambil melirik ke arah Al.
"Oh siapp, lu bisa jadi temen kita kok. Selamat datang di SMAVEN," kata Arka.
"Makasih, Bro. Gua harap kita bisa jadi temen baik."
"Gii hirip kiti bisi jidi timin biik, halah," batin Viko mengejek, entah kenapa Al begitu menyebalkan di matanya. Rasanya dia tidak ingin berteman namun tidak enak dengan Tasya.
Mereka pun ber-tos sebagai tanda pertemanan yang baru terjalin. Tasya tersenyum karena melihat mereka bisa menerima Al dengan baik. Jadi Tasya tidak khawatir Al akan merasa tidak nyaman.
"Vik, lo sakit ya? Kok diem aja?" tanya Tasya.
"Emm iya anu si Viko mencret, jadi dia banyak diem," kata Bagus yang dihadiahi tatapan tajam dari Viko.
"Ngga, Sya. Biasa gua ngantukk. Btw welcome, Bro. Semoga betah," ucap Viko pada Al.
"Yoii, thanks broo," sahut Al sambil tersenyum.
Mereka pun duduk di bangku masing-masing, bel pelajaran kedua sudah berbunyi. Jadi obrolan itu terpaksa harus disudahi.
__ADS_1