Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Video Call


__ADS_3


Pulang sekolah, Tasya dan Al tidak langsung pulang. Karena Tasya membantu Al mengambil beberapa buku paket yang yang dia perlukan, selain itu Tasya membantu Al untuk mengambil seragam khas SMAVEN.


Melihat Tasya dan Al tidak pulang membuat Sarah, Sherli, Niken dan Viko dkk tidak ikut pulang. Mereka beralasan ingin mengobrol sekalian lebih dekat dengan Al. Karena mulai sekarang mereka berteman. Padahal mereka hanya penasaran saja dengan Al dan Tasya.


"Gimana hari pertama lu di sekolah ini?" Tanya Arka.


"Betah kok, berkat kalian gua juga bisa menyesuaikan diri," jawab Al sambil tersenyum.


"Tapi kayanya sekolah lo di Surabaya lebih elite gak sih? Maaf tadi gue liat Instagram lo gila sih keren banget anak-anak sana," ucap Sarah antusias.


"Sebenernya biasa aja. Sama aja kaya murid-murid di sini. Keliatan wow karena kalian gak ketemu mereka setiap hari. Aslinya bobrok dah asli." Al terkekeh.


"Masa sih? Anak sana tuh keliatan kaya cool-cool gimana gitu," kata Bagus.


"Asli, lu liat aja gua. Gak ada cool-cool nya. Ya mungkin ada beberapa yang mikir gitu karena belum kenal aja gua sebobrok apa. Iya gak, Sya?" Al melirik Tasya yang ada di sampingnya, lalu Tasya pun mengangguk.


Memperhatikan mereka berbincang akrab membuat Tasya merasa senang. Semua orang yang dia sayang ada di sini sekarang.


"Kok lu pindah ke Bandung, Al? Padahal kehidupan lu di sana udah enak. Maksud gua siapa coba yang gak seneng jadi selebgram ternama di sana?" Tanya Bagus keheranan.


"Nihh, karena bocah ini, kalau gua di sana bakalan kepikiran terus. Jadi gua mutusin buat balik ke Bandung. Biar Tasya seneng," ucap Al sambil menarik pipi Tasya.


Tasya tersenyum, Al memang selalu perhatian padanya. Bahkan akan melakukan apapun demi Tasya. Seperti saat ini, dia pindah karena mengikuti kemauan Tasya.


"Emang ini bocil suka bikin khawatir," sambung Viko yang mencoba mengikuti alur pembicaraan sambil mengusak rambut Tasya pelan. Meskipun dia sebenarnya malas bicara dengan Al, tapi melihat Tasya senang dia juga ikut senang


"Ihh rambut gue, Vik. Tapi gue mau bilang makasih sih dan maaf yaa gue udah repotin kalian semua. Mau tetep sama gue meskipun keadaan gue kaya gini," ucap Tasya.


"Makasih kaya ke siapa aja, jangan makasih," kata Al menggeleng.


"Btw btw, kalian berdua tuh temenan?" Niken memberanikan diri untuk bertanya. Rasanya kali ini mereka semua ingin mengacungkan jempol pada Niken. Karena itu yang sebenarnya mereka ingin tau tapi tak berani untuk bertanya.


Tasya dan Al tertawa mendengar pertanyaan Niken. Semuanya jadi terlihat bingung karena tingkah mereka berdua yang keliatan santai, padahal mereka semua penasaran.


"More than friend, right?" Tanya Al seraya menatap Tasya.


"Mmm i'm not sure, Al." Jawab Tasya yang mengangkat bahunya.


"Why?"


"Hahaha just kidding. Iyaa, Al iyaa."


"Jadi?" cicit Niken.


Ponsel Al berdering, dilihatnya notifikasi video call. Al tersenyum, karena ini adalah hal yang dia tunggu-tunggu sejak tadi.


"Bentar, bentar. Temen gua vidcall, gua udah janji sama Tasya mau kenalin mereka," ucap Al meminta izin, mereka pun mengangguk dan mendadak hening.


"Woii bro!" Seseorang dari seberang sana menyapa dengan hangat.

__ADS_1


"Akhirnya, lama banget lu pada," sahut Al.


"Biasa, pak Bernard cerita dari keturunan Nabi Adam. Mana Tasya?" Tanya Angkasa.


"Yang temen lu pada siapa sih? Yang ditanyain Tasya, nih anaknya." Al mengarahkan ponselnya pada Tasya.


"Hai, Syaa. Salken gua Angkasa, gu-"


"Gua Yoda. Hai, Sya?" Yoda melambaikan tangan dari samping Angkasa.


"Haii gue Tasya," balas Tasya sambil melambaikan tangannya ke arah ponsel Al. Tak lupa dia tersenyum saat melihat mereka, menurutnya Angkasa dan Yoda sangat lucu.


"Ohh jadi ini yang suka Al ceritain, jauh lebih cantik dari yang dibayangin haha," kata Yoda.


"Oh Al suka ceritain gue ya sama kalian, ketauan suka ghibah," kata Tasya pada keduanya.


"Engga, bukan ghibah jatuhnya. Lebih ke topik pembicaraan aja. Soalnya-"


"Soalnya hidup kalian flat, makanya gua ceritain kehidupan gua yang berwarna," potong Al dengan cepat saat Angkasa ingin bicara.


"Hahahaha, anak babi. Untung lu jauh ya," kata Yoda sembari tertawa.


Tasya terkekeh mendengar ucapan Yoda, ternyata Al benar, kalau dia selalu menceritakan dirinya di depan teman-temannya. Yang lain pun ikut tersenyum melihat tingkah mereka, terkecuali Viko yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Sya, jangan lupa follback gua ya." Yoda. menaik-naikan alisnya.


"Jangan digodain, gua hajar lu," ancam Al.


"Kapan-kapan ajak Tasya ke Surabaya dong, Al. Nanti kita ajak keliling kota." Angkasa terkekeh.


"Iya kapan-kapan ya, btw kenalin ini temen-temen baru gua." Al mengarahkan kamera ke arah mereka.


"Haii," sapa mereka bersamaan dan dibalas oleh Angkasa juga Yoda.


"Haii, salkenn. Jagain temen gua ya di sana. Hati-hati sedikit liar," ucap Yoda sambil tertawa.


"Amann boss amann," ucap Bagus.


Al mengarahkan kembali kamera pada dirinya. Teman-temannya ini begitu berbahaya, mata keranjang lebih tepatnya.


"Sekali-sekali lu balik sini lah ketemu anak-anak. Jangan betah di sana, kita kan trio, Bro," kata Yoda.


"Iya kapan-kapan. Kalau nanti gua keterima UNESA tahun depan kayanya gua balik," ucap Al.


"Belajar biar lulus, lu. Pokoknya harus balik," ancam Angkasa.


"Iya-iya anjir."


Angkasa dan Yoda memang merasa kehilangan setelah Al memutuskan untuk pindah ke Bandung. Namun sebelum Al pergi, dia sudah berjanji untuk kembali ke kota itu jika dia bisa masuk Universitas Negeri Surabaya impiannya.


"Yaudah gua tutup dulu ya, nanti gua kabarin lagi. Jagain Shelter selama gak ada gua," kata Al yang dihadiahi kesanggupan mereka. Setelah itu Al memutuskan sambungannya.

__ADS_1


Al memiliki genk motor di sana yang cukup ternama, itu kenapa dia dibutuhkan karena Al adalah pemimpinnya.


"Shelter tuh apa?" Tanya Tasya.


"Genk motor, gua ninggalin tanggung jawab di sana. Jadi sementara waktu biar dipegang Angkasa sama Yoda. Tar kalau gak dijagain bisa bubar."


Tasya mengangguk, pantas saja Al menjadi seleb. Dia benar-benar mempunyai banyak kegiatan yang melibatkan banyak orang.


...~ • ~...


Viko menatap langit-langit kamarnya. Beberapa hari ini dia mulai membiasakan diri untuk berpikir positif tentang Tasya dan Al. Meskipun dia tidak suka dengan kedekatan mereka.


Tapi setelah kejadian di sekolah tadi, dia tau satu hal : Kalau Tasya benar-benar membutuhkan Al dalam hidupnya. Terbukti dia jauh lebih semangat ketika Al datang.


Viko jadi sedikit kurang percaya diri untuk mendekati Tasya. Sepertinya Al jauh lebih unggul darinya. Tapi dia juga tidak bisa menyebutnya bersaing, untuk sekarang Tasya pasti tidak memikirkan soal perasaan karena sibuk dengan kesembuhannya.


Rena memasuki kamar anaknya yang terlihat sedang banyak pikiran itu. "Abang, kok gak keluar? Siap-siap yuk, papa pulang hari ini lalu jemput di bandara."


"Pulang? Gak ngabarin."


"Iya papa pulang buat sementara waktu, karena papa ada urusan bisnis."


"Dikirain pindah tugas ke Indonesia." Raut wajah Viko sedikit kecewa, sudah beberapa tahun ini ayahnya pindah tugas ke Tokyo-Jepang.


"Engga, Bang. Ya walaupun menurut mama berat, kita harus temani papa terus dan medukungnya, kan? Yang terpenting sekarang keperluan Abang sama Ghizan terpenuhi."


"Iya, Ma. Nanti abang jemput ke bandara."


"Ngomong-ngomong, udah beberapa hari ini mama liat muka kamu masam gitu, ada masalah di sekolah?" Tanya Rena seraya mengelus puncak kepala putranya.


"Galau, Ma."


"Kenapa-kenapa, sini cerita sama mama kali aja bisa bantu."


"Mama tau kan keadaannya Tasya, tau juga perasaan Abang ke Tasya?"


Rena mengangguk, putranya memang selalu menceritakan apapun padanya, sehingga dia bisa tau apa yang sedang dirasakan putranya itu.


"Laluu?"


"Ada murid baru namanya Al. Dia deket banget sama Tasya. Abang gak tau hubungan mereka apa. Mau temen, pacar, atau sahabat tapi Abang ngerasa gak percaya diri buat lanjut suka sama Tasya."


"Abang, mama yakin kalau Tasya saat ini belum stabil buat memikirkan masalah percintaan dan sebagainya. Kenapa insecure? Cinta itu mengalir dengan semestinya, jangan dibawa beban, tapi dinikmati. Lakukan apapun yang terbaik menurut versi Abang. Walaupun Al terihat baik, mungkin itu versinya. Jangan gak percaya diri gitu dong."


"Iya ma tapi ... "


"Menurut mama sekarang lebih baik Abang lakuin yang terbaik buat Tasya, but suport dia, buat bantu dia sembuh. Karena cinta itu gak memaksa, dengan ngelakuin hal-hal yang bikin dia bahagia terkadang itu jauh lebih dari cukup untuk membuat kita juga bahagia."


"Jadi maksudnya buat sekarang Abang mending lakuin hal sesuai kata hati, tanpa mikirin soal akhirnya bakalan sama Tasya atau engga?"


"Iya, kalau misalnya kalian ditakdirkan bersama pasti bakalan ada jalan. Kuncinya cuma satu, sabar." Rena tersenyum pada putranya. Baru kali ini Viko menceritakan soal wanita, jadi dia memaklumi kalau Viko tidak pengalaman dan bekum bisa memaknai soal perasaan.

__ADS_1


Tidak salah Viko menceritakan pada mamanya. Memang ahli cinta tidak bisa diragukan. Viko pun kini mengerti tentang sebuah makna perasaan. Perasaan yang memang belum tentu berujung bahagia namun dalam setiap prosesnya bisa dinikmati dengan rasa bahagia.


__ADS_2