Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Pertemuan dan Sebuah Rahasia


__ADS_3


Pulang sekolah tadi, Al mengantar Tasya untuk melakukan psikoterapi rutinnya. Sebenarnya Tasya tidak mau, tapi Al memaksanya karena demi kebaikannya sendiri. Bahkan Al harus mengeluarkan berbagai cara agar Tasya menurut.


Setelah sampai di rumah Tasya, mereka berdua langsung merebahkan diri di sofa. Radit yang melihat itu pun tersenyum, rasanya seperti melihat Al dan Tasya sewaktu masih kecil. Bedanya dulu Radit lah yang selalu mengacaukan mereka berdua sampai terkadang membuat mereka menangis bersama. Dulu itu adalah suatu kesenangan tersendiri untuk Radit.


"Gimana tadi lancar terapinya?" Tanya Radit pada Tasya dan duduk di sebelah adiknya itu.


Tasya mengangguk dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. "Lancar, tadinya gak mau tapi dipaksa Al. Padahal kayanya udah gak kenapa-kenapa."


"Bagus, jangan bandel. Biar cepet sembuh, kan?" Radit mengelus puncak kepala adiknya dengan lembut.


"Iya-iyaa, obatnya juga udah dikasih lagi." Tasya mengacungkan paper bag kecil yang berisikan obat-obat yang tadi dia tebus.


"Iya, nanti minum ya. Btw lu gimana, suka sama sekolah baru lu?" Tanya Radit pada Al.


"Aman, gua mah. Lancar-lancar aja, enak kalau temenan sama ketua OSIS semuanya diperlancar dan jadi mudah buat bergaul," jawab Al sambil tertawa.


"Apasih, Al tuh dia seleb tau, Bang. Semuanya udah pada kenal dia dengan sendirinya. Bukan karena gue," sanggah Tasya.


"Gayaan seleb." Radit tertawa mendengarkan cerita dari keduanya.


"Gak, Sya. Kan wajar aja kalau ada murid baru suka heboh. Lu tuh berlebihan," kata Al terkekeh.


"Gak berlebihan, serius deh baru kali ini heboh gara-gara murid pindahan. Biasanya juga biasa aja."


Tiba-tiba ponsel Al berbunyi. Menandakan ada pesan masuk. Al melirik sekilas pada ponselnya, tertera pesan dari bundanya di sana. Perlahan dia menarik napas panjang dan melirik Tasya sekilas. Padahal kemarin dia sudah bisa melupakan masalah ini, tapi bundanya malah mengungkit ini kembali.


"Kenapa?" Tanya Tasya yang melihat Al terlihat gusar.


"Gapapa, bunda marah karena uang jajan gua abis padahal baru minta 2 hari lalu." Al menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Makanya jangan boros, lu sih boros. Lu kan di sini ceritanya lagi merantau," ucap Radit.


"Gak lah, orang rumah gua di sini. Kalem-kalem marah bentar doang nanti juga reda."


Tasya menggelengkan kepalanya pelan. Al memang orang yang selalu berusaha santai dalam menghadapi masalahnya. Tasya mengangguk tanda kalau dia percaya pada Al lalu berdiri untuk mengganti baju ke kamarnya.


"Bentar ya, gue mau ganti baju," kata Tasya melirik keduanya.

__ADS_1


"Iyaa, sana. Gihh cepetan, abis itu turun kita makan." Radit tersenyum dan mengusak rambut adiknya pelan.


Setelah Tasya pergi ke kamar, Radit menatap Al yang kini menatapnya serius. Begitu juga dengan Al.


"Bunda udah bilang lu, Bang?" Tanya Al.


Radit mengangguk, Radit sudah tau kalau Al pasti akan menanyakan hal ini. "Ikut gua, kita ke ruangan tante Amara. Ada yang mau gua bicarain juga."


Al mengangguk lalu mengikuti Radit menuju ruangan kerja Amara untuk membicarakan beberapa hal.


Sementara itu Tasya yang sudah mengganti baju menatap kamarnya yang sudah ditata ulang oleh Radit dan tantenya. Dia senang, kamarnya sesuai dengan kesukaan nya yang didominasi warna pink dan ungu. Seperti princess yang selalu dia tonton filmnya, dia berharap kalau kehidupannya juga akan berakhir happy ending.


Tasya membuka ponselnya sebentar, dilihatnya beberapa pesan dari Viko. Sedikit tersenyum karena Viko tidak pernah lupa untuk mengingatkan Tasya sesuatu atau bertanya hal-hal kecil. Meskipun belakangan ini Tasya berusaha mengabaikannya, tapi pria itu tidak pantang menyerah.


Setelah membalas pesan, Tasya kembali turun ke bawah untuk makan siang. Namun, Al dan Radit tidak terlihat ada di sana.


"Kemana ya?" Gumam Tasya, lalu mengitari seisi rumah untuk mencari Radit dan Al.


"Mereka kemana sih? Kok gak ada, apa keluar ya?" Tasya melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruang tamu. Namun samar-sama dia mendengar percakapan di ruangan kerja tantenya yang baru.


Tasya memegang knop pintu, namun sebelum dia masuk, ternyata Al membuka pintunya. Al sedikit kaget namun bisa dia samarkan saat melihat Tasya ada di depan pintu.


"Bantuin tante Amara pasang lukisan," jawab Radit.


"Ohhh dikirain kenapa. Yaudah ayok makan," ajak Tasya dan dihadiahi anggukan oleh mereka.


Radit menepuk-nepu bahu Al, dia berharap kalau Al benar-benar akan menepati janji yang dia berikan pada Radit.


...~ • ~...


Beberapa hari berlalu, mereka sudah saling menyesuaikan diri. Bahkan Al sudah memasuki club basket di SMAVEN. Setelah kumpul untuk rapat dan membuat proposal tim basket Al menunggu Tasya di depan ruang OSIS.


Tadi Tasya menunggu Al, lalu setelahnya meminta Al untuk menemaninya ke ruang OSIS. Karena jas OSIS miliknya tertinggal di sana.


Sekolah nampak sepi, terlalu lama memperhatikan ruangan itu mereka sampai lupa waktu. Hari ini tidak ada jadwal OSIS, tidak ada juga jadwal ekstrakulikuler kecuali kumpul mendadak club basket, wajar saja jika sepi.


"Ini gak ada yang ekskul, tumben banget gak kaya biasanya?" tanya Al.


"Gak ada, hari ini emang sengaja gue buat free dan gak izinin ekskul atau organisasi apapun kumpul," jelas Tasya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Waktunya istirahat lah, biar mereka fresh gitu gak muter-muter di sekolah terus pikirannya," ucap Tasya.


"Iya juga sih, lu bener. Selain baik hati lu emang memikirkan semua orang ya," kata Al bangga sambil mengelus puncak kepala Tasya.


Tiba-tiba langkah Tasya terhenti. Dilihatnya Lidya sedang menemui Chandra di loby sekolah.


"Iya makasih, Ma. Chan lupa tadi buru-buru," ucap Chandra sembari menyunggingkan senyum ke arah mamanya.


Lidya mengelus rambut anaknya lembut, dia sudah hafal sekali kalau Chandra sering ceroboh dalam beberapa hal, termasuk lupa membawa barang. Seperti sekarang, Chandra lupa membawa buku lesnya padahal dia ada jadwal les. Jadi karena tidak ada kegiatan ia sengaja mengantarkannya langsung ke sekolah Chandra.


"Yaudah mama—" Lidya cukup terkejut saat melihat Tasya ada di sana. Termasuk Chandra, dia paham kalau Tasya masih sensitif soal ini. Chandra takut kalau Tasya akan berpikir jauh melihat Chandra begitu dekat dengan ibu kandungnya sendiri.


"Tasya." Lidya tersenyum sambil berjalan ke arah Tasya.


Namun Al langsung berdiri di depan Tasya dan menghalangi jalan Lidya. Ya, Al sudah tau semuanya dari Tasya, termasuk dia tau kalau orang yang di hadapannya ini adalah ibu kandung Tasya. Ibu yang sudah tega membiarkan Tasya sendirian dan sekarang kalut karena masalah yang dia perbuat pada Jonathan ayah Tasya.


"Jangan sentuh dia lagi," ucap Al dingin dengan tatapan tajam yang menusuk.


"Loh siapa kamu? Saya mau ketemu anak saya, saya ini ibunya," kata Lidya tak terima.


"Stop panggil diri anda sebagai ibunya. Anda tidak pantas mendapat julukan itu nyonya Lidya." Al kali ini benar menegaskan omongannya.


"Gak sopan ya kamu sama orang tua, apa hak kamu bilang begitu sama saya?" bentak Lidya.


"Hak atau tidak, anda yang lebih paham kenapa saya berbuat demikian. Jadi stop ganggu hidup Tasya lagi."


"Siapa lu sampai berani bilang gitu ke mama gua." Chandra gerah melihat kejadian yang ada di hadapannya ini. Chandra sudah mengetahui kepindahan Al ke sekolahnya. Tapi dia tidak tau ada hubungan Al dengan Tasya. Meskipun dia anak baru, Chandra tidak akan segan jika seseorang memperlakukan mamanya seperti itu.


"Kenapa? Gak terima?"


"Jelas, karena mama gua bermaksud baik buat memperbaiki hubungan sama Tasya dan lu larang itu?" Al tertawa remeh, ternyata orang yang dihadapannya ini entah bodoh atau memang mudah dipengaruhi.


Begitu pun juga dengan Tasya yang tersenyum miris, bahkan Chandra tidak tahu kalau dia hampir mati karena mama tersayangnya ini. Benar-benar kalau Lidya adalah wanita jahat yang akan melakukan segala cara untuk menutupi kesalahannya.


"Memperbaiki lu bilang? Buka mata lu dah, lu harusnya bisa bedain mana benar dan salah," ketus Al.


Tanpa mempedulikan perdebatan mereka, Tasya pun langsung meninggalkan tempat itu, tidak ada yang sadar karena Al dan Chandra masih terus beradu argumen.

__ADS_1


__ADS_2