
Viko terdiam menatap layar laptopnya, 1600 detik yang lalu dia sudah mengirim berkas untuk kuliahnya di Amerika. 8 bulan ini dia mencoba membuat ayahnya mengerti, namun tidak pernah berhasil. Yang ada hanya pertengkaran saat ayahnya pulang ke Indonesia.
"Haduhh, kenapa gua kirim? Gimana caranya gua jelasin ke Tasya?" Gumamnya frustrasi seraya mengusak rambutnya gemas.
Memang masih ada beberapa bulan lagi untuk menghabiskan waktu bersama Tasya dan teman-temannya, tapi tetap saja waktu akan terasa lebih cepat datang jika tidak diinginkan.
Viko membuka salah satu folder di laptopnya, sekilas dia tersenyum melihat kebersamaannya dengan Tasya. Dia tidak mungkin tega untuk meninggalkan Tasya. Viko tidak berani menyakitinya, itu kenapa mereka awet sampai sekarang, karena mereka tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil.
Rena melihat putranya dari atas sana lalu beranjak menghampirinya. Rena duduk di sofa seraya menyandarkan kepala putranya dalam pangkuannya. Perlahan, Rena mengelus rambut putra sulungnya itu dengan lembut.
"Keputusan kamu kali ini sudah benar, Sayang. Tidak ada gunanya terus berdebat dengan papamu," ucap Rena pelan.
"Tapi Abang udah janji sama Tasya buat selalu sama dia. Bukan cuma Tasya, semua temen-temen Abang ada di sini." Viko pun memeluk lutut Rena. Entahlah rasanya begitu berat jika memikirkan harus jauh dari orang-orang tersayangnya.
"Bang, terkadang kita harus melangkah dan meninggalkan beberapa orang untuk sesaat. Karena ketika Abang sudah dewasa nanti, Abang akan di tahap paham kalau kita semua berjalan masing-masing. Semua orang punya proses dan progres yang berbeda-beda. Nah ini saatnya Abang buat keluar dari zona nyaman."
"Saat kita Dewasa mungkin rasanya gak enak, kehilangan banyak orang, mengalami kegagalan dan akhirnya kita memaksakan diri untuk bisa bertahan hidup," lanjut Rena.
"Lagian papa kenapa mau Abang kuliah di Amerika sih, Ma? Masih ada kesempatan Abang buat ikut SNMPTN ke Universitas Negeri terbaik dan pendaftarannya udah dibuka. Kalau gak lulus bisa jalur SBMPTN."
"Yakin kamu bisa fokus kuliah? Sekarang aja malas-malasan. Alasan papa masukin Abang ke Universitas di luar negeri biar lebih teratur. Setelah itu bisa mencapai karir yang memumpuni buat membangun hubungan. Hubungan yang lebih serius sama seseorang juga butuh masa depan yang bagus juga," ujar Rena.
"Abang paham, Ma. Tapi .... "
"Tasya, kan? Abang mikirin itu?" Tebak Rena dan Viko pun mengangguk pelan.
"Itu tergantung keputusan kamu sama Tasya dan semakin cepat dia tau malah akan semakin bagus untuk dia juga bersiap-siap dalam masa depannya. Mau tetap sama-sama atau pun engga, kalau pun jodoh gak akan kemana, anggap aja ini ujian buat hubungan kalian."
"Maksud mama kita LDR gitu?" Tanya Viko.
Rena mengangguk. "Jalani aja, kehidupan itu harus dinikmati bagaikan air. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Mama yakin Tasya juga pasti punya impiannya sendiri. Biar kalian juga lebih fokus buat menata masa depan kalian. Setelah matang baru kalian melanjutkan hubungan ke jejang yang lebih serius. Asalkan kalian punya komitmen."
Viko hanya mengangguk, walaupun sebenarnya masih banyak yang dia pikirkan saat ini. Rena sebenarnya paham dengan kondisi putranya, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika suaminya sudah membuat keputusan.
__ADS_1
...~ • ~...
Radit memperhatikan Tasya dan Al yang sedang fokus pada laptop masing-masing, mereka sedang membuat akun LTMPT yang sudah bisa dibuat untuk pendaftaran SNMPTN yang sebentar lagi akan dibuka.
Sebelumnya Al dan Radit sudah berdiskusi untuk memberitahu Tasya sesuatu, namun kini mereka bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Tasya.
Al dan Radit saling melirik, mereka saling melempar peran untuk menyampaikan hal itu pada Tasya. Al yang lelah karena berkelanjutan akhirnya mengalah. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberitahu Tasya.
"Ekhm, Sya," pangggil Al pelan.
Tasya pun melirik ke arah Al. "Kenapa?"
"Udah selesai buat akun lu?" Tanya Al basa-basi.
"Udah, pendaftarannya tanggal 14 kan ya?" Tanya Tasya balik.
Al mengangguk. "Hmm, iya. Lu udah nentuin mau masuk PTN mana?"
"Emmm belum sih, tapi kayanya gue mau masuk UNPAD deh. Gue masih bingung antara masuk Kedokteran atau Psikolog. Kalau gue masuk psikolog udah pasti gue jadi psikolog, tapi kalau gue masuk kedokteran gue bisa jadi psikiater karena nantinya bisa ambil spesialis kejiwaan," ucap Tasya.
"Kenapa lu jadi tertarik sama ilmu psikolog?" Tanya Al heran.
"Waw keren tapi misal lu ambil kedokteran. Lu harus lewatin S1 dulu selama 4 tahun, setelah itu lu harus jalanin masa koas kurang lebih 2 tahunan, habis itu ujian sertifikasi, baru lu lulus dan dapet gelar dokter umum. Nah kalau lu mau ambil spesialis butuh waktu 4 sampai 6 tahun lagi, jadi sekurang-kurangnya butuh 12 tahun sampai ke sana. "
Tasya mengangguk. "Heem, gue udah pikirin semuanya sampai lulus kayanya dan keputusan gue udah bulet. Tapi gue takut."
"Takut kenapa?" Tanya Al.
"Gue takut gak lulus karena punya riwayat penyakit mental sedangkan gue kan orang dalam skizofrenia," ucapnya pelan
"Setau gua itu nanti ada testnya lagi, walaupun lu punya riwayat tapi lu pinter dan masih mampu menggunakan nalar dan logika. Kalau lu bisa lewatin itu semua mana mungkin ada Universitas yang menolak mahasiswa emas kaya lu?" Kini Radit pun ikut serta dalam pembicaraan, dia selalu khawatir jika Tasya sedang insecure atau tidak percaya diri.
"Iyakah? Masa sih? Kok gue baru tau," kata Tasya.
"Di kampus gua juga gitu. Selama lu bisa lewatin test, lu mau rajin minum obat buat meminimalisir kekambuhan, terus lu rajin bersosialisasi, percaya sama gua lu pasti masuk," ucap Radit.
__ADS_1
"Heem yaudah, iyaa gue akan coba. Gue yakin bisa dan percaya sama pilihan gue ini," kata Tasya yakin.
"Bagus, gua bangga lu bisa merencanakan masa depan lu dengan baik. Tapi, Sya sebenernya ada yang mau gua sampein," ucap Al.
Radit pura-pura menonton dia takut jika reaksi Tasya akan kecewa dengan hal ini.
"Apa? Sampein lah biasanya juga langsung, Kan?"
"Maaf kalau gua harus buka luka lama lu, tapi kalau gua pendem juga lu pasti suatu saat bakalan ngehadapin ini ... " Ucap Al menggantung.
"Kenapa? Bilang aja, gue siap kok dengernya. Kenapa?" Tanya Tasya penasaran.
"Lu tau? Sebelum om Jo meninggal dia ada sempet ke Surabaya, kan?"
Tasya mengangguk, meskipun samar-sama tapi Tasya ingat kalau ayahnya sempat ke luar kota untuk perjalanan bisnis.
"Om Jo nemuin nyokap sama bokap gua di sana. Termasuk gua pun ada di sana."
"Terus?"
"Entah firasat atau bukan, om Jo nitipin lu sama Bang Radit ke mereka. Papa lu mau masa depan anak-anaknya terjamin. Jadi di sana dia buat surat wasiat supaya Bang Radit bisa mengurus bisnisnya di Surabaya. Terus ninggalin sebuah rumah untuk kalian tinggalin," ucap Al ragu.
"Hah? Gimana-gimana gue masih gak nyampe," ucap Tasya mencoba mencerna perkataan Al.
"Setelah lulus sekolah lu, Bang Radit, sama tante Amara harus pindah ke Surabaya." Satu kalimat yang membuat Al lega karena berhasil menyampaikannya pada Tasya.
"Pindah?" Tanya Tasya sambil melihat ke arah Radit.
Radit mengangguk pasrah, dia tau akan sulit bagi Tasnya meninggalkan kota ini.
"Tapi ... Dunia gue ada di sini," ucapnya yang masih tampak syok.
"Sebenernya gua pindah kesini sekalian mau kasih tau itu, tapi gua tau lu gak akan siap kemarin-kemarin. Jadi gua menunggu waktu yang tepat," ucap Al.
"Sya, gua juga sebenernya gak mau. Tapi, mau gak mau kita harus pindah. Karena perusahaan papa yang di sini udah dijual demi membangun perusahaan utama di Surabaya. Bunda Diana bilang sama Abang, semuanya papa lakukan demi kita. Demi masa depan kita, itu yang ngebuat Abang yakin buat menjalaninya. Kasian juga sekarang Ayah Haris kewalahan karena harus mengurus perusahaan utama dan cabang sekaligus," terang Radit.
__ADS_1
Tasya menghela napasnya, dia tidak tau harus menolak atau tidak. "Tolong kasih gue waktu buat pikirin semuanya ya?"
Radit dan Al mengangguk, mereka lega sudah bisa membicarakan ini dengan Tasya. Sementara pikiran Tasya sudah berantakan. Bagaimana hubungan dia dengan teman-temannya dan bagaimana hubungannya dengan Viko?