
Perjalanan pulang ke Bandung tidak seperti hari pertama, semuanya ricuh dalam bis karena semangat. Sementara sekarang kebanyakan dari mereka tepar karena kelelahan.
Viko duduk di samping Tasya, memperhatikan setiap jengkal wajah Tasya membuatnya tenang. Gadis itu tertidur pulas karena kurang tidur. Jadi Viko harus terjaga dan memastikan kalau Tasya tidur pulas tanpa terbentur apapun. Mereka berdua sedang menjadi pembicaraan orang-orang karena beberapa hari ini terlihat sangat dekat.
Apalagi sekarang mereka duduk bersama sambil mendengarkan musik dengan satu headset yang sama. Siapa yang tidak iri melihatnya, apalagi Nadin, Dera dan Rosa. Mereka menatap Tasya dengan tatapan jijik karena tak terima Viko dekat dengannya. Viko biasa saja dengan tatapan yang lainnya, yang terpenting dia bersama Tasya dan menjaga Tasya dengan baik.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai di kota Bandung dengan selamat. Tasya dan Al pulang bersama karena dijemput oleh Radit, sementara Viko pulang sendiri karena dia menitipkannya di rumah pak Adung penjaga sekolah sekaligus tukang siomay langganannya.
Viko memasuki rumahnya, terlihat kedua orang tuanya sedang asik berbincang di ruang keluarga. Beginilah jika Ayahnya berada di rumah, Rena akan menghabiskan waktu bersama suaminya dengan anak-anak mereka yang sibuk dengan rutinitasnya.
"Assalamualaikum," ucap Viko sambil menyalami kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam, eh anak mama yang paling ganteng udah pulang, gimana seru study tournya?" Tanya Rena penuh perhatian.
Viko pun duduk di samping Ibunya seraya memeluk erat. Kelakuan Viko jika di rumah memang seperti itu, seperti bayi koala yang tidak mau lepas dari induknya.
"Seru, Ma. Keren banget acaranya," jawab Viko.
"Oh iya papa ada kabar bagus untuk kamu," ucap Beni- Ayahnya.
"Apa, Pa?" Tanya Viko yang langsung membenarkan posisi duduknya.
"Papa selama di Tokyo itu bolak-balik ke Amerika, selain menemui kolega, Papa juga mencari Universitas terbaik di sana, kebetulan relasi papa menawarkan untuk kamu melanjutkan study di sana. Jadi papa harap kamu bisa belajar dari sekarang, meskipun tidak menggunakan test, kamu harus menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran di sana," jelas Beni.
"Papa terima tawarannya?" Tanya Viko kaget.
__ADS_1
"Oh tentu, lagi pula itu baik untuk masa depan kamu, setelahnya kamu bisa mengurus perusahaan papa."
"Pa, Viko gak mau. Viko mau kuliah di Indonesia aja. Papa kenapa gak tanya Viko dulu mau atau engga? Viko gak mau!" Tegas Viko.
"Tidak ada bantahan, Viko Narendra! Kamu itu penerus keluarga ini, apa jadinya kalau kamu terus di Indonesia dengan kemauan belajar yang semaunya. Papa akan mengurusnya dari sekarang!" bentak Beni.
"Pa Viko punya kehidupan sendiri yang sudah Viko tata. Viko punya impian di sini dan papa gak berhak atur Viko!"
Viko masuk ke dalam kamarnya, tak sengaja juga dia membanting pintu cukup keras. Viko sangat tidak suka diatur mengenai hidupnya, apalagi dipaksa melakukan hal yang bukan menjadi pilihannya.
Viko berusaha mengatur napasnya, dia emosi ditambah lelah karena perjalanan jauh. Tanpa basa-basi dia mengambil ponsel dan mencari kontak Tasya. Namun seketika dia menghentikannya.
"Gak, ini gak tepat. Gua harus berusaha yakinin papa dulu buat gak pindahin gua ke Amerika. Baru setelah semuanya beres gua cerita sama Tasya," gumamnya.
Viko membantingkan tubuhnya di kasur dan memandang langit-langit kamarnya. Sejak dia bersama Tasya, dia mempunyai impian akan selalu bersama gadis itu selama dia mampu. Tapi baru saja dia berikrar kabar buruk itu datang. Menghancurkan semua angan dan cita-cita yang sudah dia buat.
...~•~...
Sepasang suami istri turun dari pajero hitam yang terparkir di area pemakaman elite. Pakaian serba hitam dengan bouquet bunga ditangannya menandakan kesedihan mendalam yang mereka rasakan.
Mereka berdua berjalan melewati sisi sisi pemakaman dan tertunduk di salah satu makam bertuliskan : Jonathan Adibawa
"Jo bagaimana kabarmu? Maaf kalau aku dan istriku baru bisa ke sini. Aku senang jika makam-mu terawat dan bersih. Akan ku pastikan tempat peristirahatan nyaman dan lebih bagus dari ini," ucap pria jangkung itu.
"Jo, kami akan menepati janji kami untuk merawat Radit dan Tasya. Aku juga berjanji akan ikut serta dengan Amara membiayai kebutuhan anak-anakmu hingga mereka sukses. Aku pastikan itu akan terjadi," kini sang Istri yang berbicara sambil menatap sendu nisan itu.
"Berkat kamu kami bisa menjadi seperti sekarang, aku akan selamanya berhutang budi padamu. Tentang rahasia kita mungkin aku perlu waktu untuk membicarakan ini dengan Tasya. Tapi pasti akan aku tuntaskan," lanjutnya yang kini sudah mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Sudahlah, Diana. Jangan ditangisi kepergian Jo, dia tidak akan senang jika kita menangisinya. Yang perlu kita lakukan adalah menepati janji padanya," Haris memeluk istrinya dan mencoba menenangkannya.
Iya, mereka adalah Haris dan Diana. Orang tua dari Al, saat mereka collapse Jonathan lah yang memberikan perusahaan cabang miliknya di Surabaya untuk mereka urus. Hingga sekarang mereka bisa bangkit kembali. Itu kenapa mereka merasa berhutang budi pada Jonathan. Selain itu, semasa hidupnya. Mereka semua bersahabat, banyak kebaikan yang dirasakan mereka dari sosok Jonathan.
Setelah selesai dari pemakaman, mereka lanjut untuk kembali ke rumah milik mereka yang berhadapan dengan rumah Tasya. Mereka memang sengaja tidak menjualnya karena mereka tau kalau suatu saat akan kembali ke sini atau sekedar tempat singgah saat sedang berada di kota itu.
"Kamu sudah memberitahu Al bahwa kita akan kesini?" Tanya Haris pada sang Istri.
"Belum, Al sudah pasti tidak akan mengizinkannya. Pesanku saja kadang dia abaikan," jawab Diana seraya memperlihatkan ponselnya.
"Jadi kamu sama sekali belum.bicara pada Al?" Dia pasti kaget saat melihat kita di rumah nanti," ucap Haris.
"Namun aku sudah memberitahu Tasya kalau kita akan pulang ke Bandung. Tapi aku tidak memberitahunya juga kalau kita pulang hari ini. Lagi pula kalau aku bilang sama Al, dia pasti menyuruhku agar tidak menemuinya. Entah apa yang dia pikirkan, padahal selain permasalahan ini aku juga ibunya. Aku tentu khawatir jika jauh dari putraku."
"Kamu jangan terlalu menekan Al, dia juga sudah memberi alasan kenapa kita tidak boleh membicarakan tentang ini pada Tasya. Kondisinya masih belum stabil, biarkan kita memberitahunya secara perlahan. Ini pasti tidak mudah, Al pernah bilang padaku. Kalau dia sangat takut kehilangan Tasya. Itu kenapa dia takut jika Tasya mengetahui hal ini sekarang nanti Tasya akan kembali down. Bersabarlah," ucap Haris memberi pengertian.
"Kamu benar, sepertinya aku terlalu keras dan malah menekan Al yang tidak tau apa-apa. Aku juga jadi merasa bersalah padanya, kemarin-kemarin aku bersikukuh dengan keputusanku," sesal Diana.
"Tidak apa-apa, aku tau niatmu baik. Tapi kita juga harus tau mana waktu yang tepat dan tidak. Sudah jangan menyalahkan dirimu, kita lakukan bersama dan pelan-pelan." Haris mengelus rambut Istrinya penuh perhatian. Mencoba memberikan istrinya ketenangan.
Wanita terkadang memang selalu tergesa dalam mengambil keputusan. Untung saja Haris bersama Diana. Kalau tidak mungkin Al perlahan akan menjauh dan menghindari Ibunya terus menerus.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di depan rumah mereka. Diana melihat ke sekeliling rumah itu nampak tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Rumah ini adalah rumah hasil jerih payah dia bersama Haris. Penuh air mata dalam memperjuangkannya.
Diana memijit bell rumah itu karena terkunci. Tak selang beberapa lama pintu pun terbuka.
Al kaget saat melihat kedua orang tuanya berada di sini. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya karena dia baru terbangun. Tapi ini bukan mimpi.
__ADS_1
"Kalian di sini?" Al memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam, dia telat menahan orang tuanya agar tidak kesini.